(REVIEW BUKU) The Great Shifting: Menyikapi Perubahan Besar di Era Disrupsi

(REVIEW BUKU) The Great Shifting: Menyikapi Perubahan Besar di Era Disrupsi

. 4 min read

Kamu mungkin pernah dengar ungkapan begini,

Perusahaan angkutan umum terbesar di dunia tak punya mobil satupun, perusahaan media terbesar tak menciptakan konten berita, dan jaringan penginapan terbesar tak membangun satu hotel pun di penjuru dunia yang maha luas ini.

Begitulah zaman kita hidup sekarang. Fenomena itu akrab disebut disrupsi. Di kamus, kata itu berarti tercerabut dari akar. Namun, kini di jagat bisnis maknanya diperluas menjadi perubahan fundamental atau mendasar.

Persis digambarkan ungkapan di atas, yakni Uber, Grab, dan Gojek mendisrupsi bisnis transportasi, Facebook menguasai lanskap media, dan Airbnb menghempaskan jaringan hotel-hotel besar.

Sekarang, hidup rasanya nikmat betul untuk naik angkutan umum, pesan makanan, pesan penginapan, hingga baca berita cukup klak-klik. Padahal, sampai sepuluh tahun lalu banyak dari hal itu baru sebatas angan-angan.

Rhenald Kasali, pakar manajemen yang juga guru besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia kerap ditanya, apa muara dari inovasi disruptif yang kini melanda zaman kita?

Kita menyaksikan kedatangan wirausahawan baru yang lahir dari start-up menggeser para pemain lama. Lalu kita menyaksikan sedikit perlawanan dari pemain lama ini. Kita melihat perdebatan wacana aspek legal dari masing-masing pemain baru yang mendisrupsi cara-cara lama.

Namun, pada akhirnya, abad digital adalah keniscayaan. Para pemain baru itu menjadi bagian tak terpisahkan dari hidup kita. Sebab, mereka membuat hidup kita serba mudah.

Kini, mereka sebetulnya tak layak lagi disebut pemain baru. Gojek, misalnya, telah lahir tujuh tahun lalu. Begitu pula Bukalapak, didirikan pada 2011. Pertanyaan besarnya lalu, what’s next? Apa yang kemudian terjadi di era disruptif ini?

Peralihan gaya hidup

RHENALD KASALI
Source: Rumah Perubahan

Di sinilah kamu perlu baca buku teranyar Rhenald Kasali, The Great Shifting. Disrupsi telah menghasilkan peralihan besar-besaran (great shifting). Yang semula naik ojek pangkalan dan bus, beralih ke ojek online; yang semula belanja baju di mall, sekarang beli di gerai online; yang semula pesan hotel, kini mencari rumah dekat lokasi wisata yang bisa ditumpangi via aplikasi Airbnb.

Masalahnya, banyak perusahaan yang terlambat mengantisipasi shifting besar-besaran ini. Mereka semula menganggap shifting hanya terjadi pada pola penjualan dari offline ke online. Padahal yang berubah tak hanya pola belanja, tapi juga gaya hidup.

Kita menyaksikan brand-brand yang digdaya di masa lalu beralih jadi barang inferior. Dalam ilmu ekonomi, inferior goods berarti barang-barang yang penjualannya malah menurun ketika pendapatan konsumen meningkat.

Contohnya begini, meski pendapatan orang naik, mereka akan memilih menabung untuk travelling ketimbang beli barang-barang tertentu. Karena dengan travelling, mereka bisa mengabadikan momen jalan-jalan itu lalu membagikannya di Instagram atau Youtube.

Rhenald lalu mengingatkan, sia-sia menyalahkan daya beli masyarakat berkurang karena penjualan satu-dua produk berkurang. Bisa jadi di sektor lain ada peningkatan pemasukan.

Misalnya, kita melihat pusat tekstil Tanah Abang dan Glodok sepi. Tapi di saat bersamaan platform toko online tumbuh terus. Di sini, yang terjadi adalah shifting, bukan daya beli menurun.

Dari produk ke platform

RHENALD KASALI

Pada 2014, hanya tiga dari lima perusahaan berkapitalisasi terbesar di dunia berwujud platform based company (Apple, Google, Microsoft). Namun, pada 2017, sudah puluhan perusahaan yang berbentuk platform. Selain tiga tadi, masih ada Facebook, Amazon, IBM, Samsung, Intel, Youtube, Intel dll.

Di bukunya, Rhenald memberi contoh bagaimana Steve Jobs mengubah Apple dari perusahaan berbasis produk menjadi platform. Memasuki dekade 2000-an, Apple merilis pemutar musik iPod dan aplikasi iTunes untuk mengunduh musik. Belakangan, ia membangun ekosistem untuk ribuan aktor baru memasok aplikasi ke platform-nya, Appstore.

Bandingkan dengan Nokia yang fokus pada pendekatan mencipta produk. Lama-lama orang meninggalkannya karena semua yang asyik ada di tempat lain (baca: platform), bukan di produk. Nokia seolah punah, digantikan merek-merek lain.

Perpindahan dari produk ke platform adalah poin penting yang ditegaskan buku ini bila ingin survive di era great shifting. Yang perlu diingat, platform tak berarti sebatas membuat web perusahaan atau aplikasi penjualan online.

Di sini tantangannya. Platform bukan sekadar tempat atau cara. Ia harus digerakkan, bukan sekadar punya (nice to have). Basis dari platform adalah informasi. Sedangkan banyak perusahaan masih berbasis pada output produk. Padahal, dengan basis informasi big data, misalnya, platform memanfaatkan artificial intelligence untuk menganalisis data pengguna yang hasilnya memberikan layanan lebih prima pada konsumen.

Masalahnya di Indonesia

Kita tahu pemerintah tengah menggalakkan revolusi industri 4.0. Siapkah kita menyambutnya? Di awal buku The Great Shifting ini terpapar data begini: Indonesia negeri dengan pengguna digital tinggi, bahkan paling aktif dan ekosistem startup-nya dinamis. Namun dikatakan, kita masih dipandang pemula dalam arti baru pada tahap kelahiran digitalisasi.

Pada 2017, jumlah pengguna internet telah mencapai 143 juta. Namun, kalau internet hanya dipakai sebagai alat komunikasi semata untuk apa? Apa untungnya bila internet hanya dipakai untuk menghibur diri, berkomunikasi, bermain game, nonton video, mengunggah foto/video, serta baca berita?

Kita belum pandai memanfaatkannya untuk peningkatan produktivitas. Alhasil, internet tak memberi dampak pada pertumbuhan ekonomi. Penggunaan internet yang produktif adalah saat kita memanfaatkannya dalam hal internet of things (IOT), cloud technology, dan big data analytics.

Singapura, negeri yang tak punya sumber daya alam itu, menyadari great shifting tengah terjadi. Pemerintahnya menyusun strategi bagaimana menghadapinya. Bagaimana dengan kita?

Di sinilah peran buku The Great Shifting karya Rhenald Kasali. Bukunya komplet merentang secara luas membahas setiap aspek great shifting dari ekonomi hingga budaya, dari transportasi, kesehatan, hingga pendidikan.

Tujuannya seperti tagline yang tertulis di sampul bukunya, “lebih baik pegang kendali daripada dikuasai.”

Dapatkan buku The Great Shifting, hanya di Gramedia.com.