(REVIEW BUKU) Srimenanti: Selamat Menunaikan Ibadah Novel Joko Pinurbo

(REVIEW BUKU) Srimenanti: Selamat Menunaikan Ibadah Novel Joko Pinurbo

. 4 min read

Srimenanti adalah novel perdana Joko Pinurbo. Demikian keterangan di punggung buku. Di atasnya terdapat empat paragraf potongan isi novelnya, alih-alih sinopsis singkat cerita maupun keterangan lain soal isi novelnya.

Jokpin, demikian ia biasa disapa, selama ini dikenal sebagai penyair. Ia telah menerbitkan buku puisi sejak 1999 berjudul Celana. Buku puisinya yang lain di antaranya, Baju Bulan, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, Malam Ini Aku Akan Tidur di Matamu, Buku Latihan Tidur, serta Surat Kopi.

Prosa bukan jagat baru bagi Jokpin. Beberapa cerpennya telah dimuat di media. Namun baru kali ini ia menulis novel.

Penyair menulis prosa, entah cerpen atau novel, bukan hal istimewa betul. Belum lama ini penyair senior Goenawan Mohamad menerbitkan novel Surti + Tiga Sawunggaling. Contoh lain, Sapardi Djoko Damono. Ia bereksplorasi menulis cerpen-cerpen mini serta menovelkan puisinya, Hujan Bulan Juni yang terbit 2015 lalu.

Srimenanti yang Joko Pinurbo Banget

Membaca novel Srimenanti rasanya memang karya yang khas ditulis seorang penyair. Lebih khusus lagi, penyair tersebut adalah Jokpin. Bagi yang akrab dengan puisi-puisiya, novel ini "Jokpin banget".

Dimaksud Jokpin banget, karena seperti puisi-puisinya, novelnya banyak bicara tentang hal-hal remeh sehari-hari seperti celana, kamar mandi, hingga kopi. Bahasanya sederhana, sering nakal, tapi tak luput kaya imajinasi.

Tidak lupa pula, ia menyelipkan banyak kalimat-kalimat jenaka yang satiris. Selain itu, buat yang pernah baca cerpen Jokpin seperti “Laki-laki Tanpa Celana”, “Sebotol Hujan untuk Sapardi”, atau “Ayat Kopi”, novel ini dikembangkan dari cerpen-cerpen Jokpin yang sudah terbit.

Kamu bisa menduga-duga, apakah Jokpin menulis cerpennya dahulu baru dikembangkan ceritanya jadi lebih luas dalam bentuk novel? Atau, ia sedari dulu sudah menulis cerita novel ini, namun beberapa fragmen cerita di novel ia angkat dan dijadikan cerpen?

Novel dari Seorang Penyair

Yang jelas, saat seorang penulis puisi menulis prosa, ekspektasi pembaca besar pada karya tersebut. Sebagai perawat bahasa, seorang penyair akan memainkan bahasa tulis dalam novel selayaknya seorang anak kecil di taman bermain.

Kita juga berharap tak akan menemukan cerita yang biasa. Cerita tak disusun konvensional mengikuti alur kronologis, bab per bab mirip formula drama tiga babak film Hollywood.

Kabar baiknya, Srimenanti memenuhi harapan sebuah prosa yang lahir dari tangan penulis puisi. Penulis puisi sehari-hari bekerja dengan memeras kata hingga terpilih kata-kata terbaik di tiap bait.

kebiasaan itu tampaknya juga terbawa saat menulis novel. Umumnya, novel yang ditulis penyair jarang yang teramat tebal--yang termasuk pengecualian untuk hal ini di antaranya Remy Silado. Ia banyak menulis Puisi Mbeling pada 1970-an dan juga banyak menulis novel berlatar sejarah yang tebal-tebal.

Goenawan Mohamad menulis novel pendek sekali, sekitar nyaris seratus halaman dengan kalimat-kalimat dipenggal seperti bait-bait puisi. Sedang Hujan Bulan Juni-nya Sapardi sekitar 140-an halaman. Novel Srimenanti Jokpin tamat di halaman 135.

Cameo Sastrawan Ternama

Dari segi format, Jokpin tak membagi novelnya dalam bab per bab. Cerita dituturkan oleh dua tokoh yang bercerita lewat sudut pandang orang pertama secara bergantian. Awalnya sedikit membingungkan, karena keduanya menggunakan kata ganti "saya", tapi lama-lama pembaca terbiasa dan bisa mengidentifikasi siapa yang sedang bercerita.

Penutur pertama seorang penyair yang bisa kita tebak tak lain adalah Jokpin. Di suatu pagi yang basah ia melihat seorang perempuan muda lewat di depannya sambil menunduk. Matanya memancarkan duka persis yang digambarkan puisi Sapardi berjudul "Pada Suatu Pagi Hari”.

Rasa penasaran akan polah perempuan muda itu membawanya ingin bertemu Sapardi. Kemudian tak hanya Sapardi yang ia temui, tapi juga Faisal Oddang, Aan Mansyur dan Paman Yusi yang hampir pasti mengacu pada Yusi Avianti Pareanom. Deretan nama itu adalah sastrawan dan penyair yang ada di dunia nyata. Ibarat film, mereka hadir sebagai cameo memerankan diri sendiri.

Pembaca belakangan tahu, perempuan muda itu bernama Srimenanti, seorang pelukis. Oleh Joko Pinurbo tokoh Srimenanti diberi suara. Kisah saling berganti antara penuturan si penyair dan si pelukis perempuan. Kedua tokoh ini dihinggapi keresahan masing-masing.

Namun, jangan bayangkan kamu bakal ketemu cerita seperti biasa, dengan awal, tengah, dan akhir disertai konflik dan klimaks. Di sini bukan tempatnya untuk cerita model begitu. Jadi teringat mendiang Roger Ebert saat mengulas film Kill Bill: Volume I (2003). Di sana ia merangkum dengan pas gaya penyutradaraan Quentin Tarantino, sineasnya: “The movie is all storytelling and no story.”

Rumusan di atas berlaku juga buat Srimenanti-nya Jokpin. Sebuah novel boleh jadi tak butuh sebuah cerita yang utuh maupun kuat, atau tak punya karakter yang kuat, atau pula tak punya pesan apa-apa. Cerita boleh saja mengalir dalam secuplik fragmen-fragmen yang tak saling berkaitan, selayaknya kita menjalani hari demi hari: hari ini ketemu si A dan mengalami kejadian B, besoknya ketemu si C mengalami peristiwa D.

Yang menyatukan tokoh Srimenanti dengan si penyair lagi-lagi bukan hal besar, melainkan Eltece alias laki-laki tanpa celana, sesosok hantu yang bisa muncul kapan saja, di mana saja, dengan kelamin berdarah sambil merintih “Sakit, Jenderal! Sakit, Jenderal!”

Yang sangat terasa di novel Srimenanti adalah harkat puisi yang diangkat setinggi langit. Puisi ibarat mantra, bisa menangkal hantu. Bahkan di novelnya ada anak muda yang terserang virus puisi dan kopi yang membuat resah warga. Si penyair diprotes dianggap menyebar ajaran sesat yang berintikan “Rayakanlah setiap rezeki dengan ngopi agar bahagia hidupmu nanti.” (hal. 80)

Atau, kala ia menyamakan membaca puisi sama dengan beribadah. Di halaman 106, kita menemukan narasi begini: “Dari mandi yang sunyi, saya masuk ke ruang kecantikan. Saya berdandan sembari menunaikan ibadah puisi.”

Tentu saja, Jokpin tak berniat menyepelekan ajaran agama maupun ayat-ayat sucinya. Namun, itulah kritik bernada satir pada sekelompok orang yang menggunakan ayat-ayat suci demi mencapai tujuan politik tertentu dan kepentingan kelompoknya semata.

Lewat Srimenanti, Jokpin telah berhasil menyuguhkan novel yang “Jokpin banget.” Bagi penggemar Jokpin, ini buku wajib baca. Bagi yang belum akrab dengan puisi-puisinya yang sederhana nan jenaka, ini sarana yang pas untuk berkenalan. Buat semuanya, selamat menunaikan ibadah membaca novel Joko Pinurbo.

SRIMENANTI

Penulis: Joko Pinurbo
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit: Cetakan pertama, April 2019
Jumlah Halaman: 138 halaman

Novel

Dapatkan e-book-nya di sini >>