(REVIEW BUKU) Off The Record: Cerita di Balik Layar Vlog Ria SW

(REVIEW BUKU) Off The Record: Cerita di Balik Layar Vlog Ria SW

. 5 min read

Pernah dengar istilah the death of expertise? Tren internet masa kini memungkinkan siapa saja mencipta konten. Konten bukan lagi monopoli elite, yakni mereka yang bekerja di media (baca: wartawan, produser acara TV, sineas).

Di era Web 2.0 ini kita bertemu dengan kesimpulan yang dirumuskan Tim Nichols di judul bukunya “The Death of Expertise” alias matinya kepakaran.

Maksudnya, kini siapa saja bisa saja pakar atas sesuatu. Contohnya, kritikus film di media mainstream bukan lagi rujukan orang menonton film. Komentar netizen di Twitter kini lebih didengar.

Pun acara makan-makan di TV. Dulu, yang jadi acuan adalah komentar “maknyus” dari mendiang Bondan Winarno. Kini, Youtuber lebih didengar dan punya penggemar fanatik.
Pada titik inilah kita meletakkan Ria Sukma Wijaya alias Ria SW, vlogger kuliner yang hit saat ini. Sejak Juni lalu Ria merilis buku berjudul Off The Record yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama (GPU).

“Mukbang” ala Indonesia paling hits

Untuk seorang vlogger yang kini akun Youtube-nya dilanggan 1,7 juta akun lain, tentu saja buku Ria langsung laris. Pre-sale-nya langsung ludes dan bukunya kini telah dicetak berkali-kali.

Apa yang bikin video kulineran Ria disukai begitu banyak netizen?

Ria adalah generasi yang lahir kala Hallyu alias Korean Wave, gelombang budaya pop Korea, kian mewabah di negeri kita. Generasinya bukan hanya rela berlama-lama menonton drama Korea seharian dari episode pertama hingga tamat; atau hapal lagu-lagu K-Pop.

Generasi Ria dkk, milenial dan Gen Z, mengadopsi gaya idola mereka. Di sini, Korean Wave bukan lagi tontonan, tapi juga panduan lifestyle. Gaya rambut dan busana ala idol Korea wajib ditiru.

Nah, Ria diuntungkan kulitnya yang putih khas oriental. Jadi, ia tinggal memadu-madankan dengan gaya rambut dan gaya busananya. Penampilan Korean look cewek yang dibilang mirip Agnez Mo ini jadi salah satu keunggulan vlog-nya dibanding vlog kuliner lain.

Di tengah tren tontonan mukbang alias makan besar sambil memvideokannya, bolehlah kita sebut Ria yang paling hit mukbang-nya ala Indonesia.

Ria bersama Perut Karung, Lidah Api, dan Mata Genit

Buku colorful dengan ilustrasi enak dilihat ini seperti ditulis Ria khusus buat penggemar vlog-nya. Tiap bab dibuka dengan tautan berwujud QR Code ke video yang akan dibahas. Ria lalu berkisah kejadian di balik layar drama seputar pembuatan videonya. Dikatakan drama memang Ria piawai bercerita dengan dramatis seperti sebuah cerpen, lengkap dengan tokoh-tokohnya.

RIA SW
Tampilan colourful dalam buku Off the Record (Source: Blog Ria SW)

Tokoh yang dimaksud di sini bukan hanya Ria, saudara kandungnya atau videografer-nya, tapi juga tokoh rekaan unik yang ia ciptakan. Lidah, mata, dan perut Ria adalah tokoh-tokoh yang masing-masing punya curahan pikiran dan perasaan. Di buku ini bertebaran pertengkaran adu mulut antara Perut Karung, Lidah Api, dan Mata Genit.

Baca, misalnya, bagian kala Ria jalan-jalan di Korea. Ketika mampir di sebuah kafe, Ria bercerita Mata Genit-nya mendapati ada cowok Korea ganteng memperhatikannya. Mata Genit ingin Ria fokus pada cowok tersebut. Sementara Lidah Api dan Perut Karung ingin Ria fokus makan sandwich yang sudah dipesannya.

RIA SW
Tampilan colourful dalam buku Off The Record. (Source: Blog Ria SW)

Kali lain, kala ke Singapura, Mata Genit protes karena tak ada pemandangan cowok-cowok ganteng yang memuaskan hatinya seperti di Korea tempo hari. Well, sejatinya, ini cara terbaik untuk bilang, cowok-cowok Korea lebih keren dari cowok-cowok Singapura.

Petualangan Ria bersama tiga tokoh imajinatifnya tersebut bikin bukunya terasa beda dibanding buku memoar Youtuber atau content creator terkenal lain. Karakter lain yang disebutkan di bukunya adalah Curut, boneka imut yang kerap muncul di videonya. Juga cerita tentang planet Zizya, planet khayalan yang ia sebut tempat asalnya.

Kurang terbuka?

Di Goodreads ada yang mengkritik, dara yang mengidolai G-Dragon ini tak cukup terbuka soal pribadinya di bukunya. Bila dibaca sekilas bukunya memang demikian. Pacar-pacar Ria yang diceritakan di buku ini tak disebutkan nama aslinya. Kerap juga ia menghindari topik seputar kehidupan pribadinya.

Namun, penggemar Ria tentu paham, di Instagram-nya ia pernah mengunggah tulisan berbunyi: “Not every part of your life need to be public” untuk menjawab kenapa ia tak mengunggah video bareng pacar atau keluarganya, atau sekadar penampakan rumah dan kamarnya.

Di sinilah Ria pantas jadi panutan. Ia sadar bagaimana menggunakan media sosial dengan bijak. Vlog-nya adalah sesuatu yang berfaedah buat penontonnya. Bukan ajang pamer atau tempat curhat hal-hal privat.

Kendati begitu, bagian terbaik bukunya justru ketika ia mengisahkan soal vlog mukbang masakan Padang. Ia menceritakan momen dramatis saat kencan dengan cowok yang tak disetujui sang ayah. Sebagai remaja, Ria memberontak. Ia mengikuti kata hati alih-alih nasihat ayah. Sampai kemudian di sebuah momen, ia mendapati cowoknya selingkuh.

Yang lebih bikin sedih, Ria tak sempat mengabarkan pada sang ayah kalau nasihat itu benar. Sang ayah mendadak dipanggil Tuhan. Video makan masakan padang ia dedikasikan buat mendiang sang ayah, penyuka berat masakan itu. Coba, masihkah ia kurang terbuka setelah mengisahkan momen teramat personal yang menyedihkan itu?

Bukan vloger amatiran

Di antara cerita-cerita manis, lucu, dan sedih terselip kiat-kiat yang bikin vlog Ria enak ditonton. Pengalaman mengelola acara TV memberinya pelajaran, vlog di Youtube bukanlah produk amatiran.

RIA SW
Aksi Ria SW dalam vlog-nya.

Vlog yang baik dikelola secara profesional layaknya acara TV dengan standar broadcast. Ia menyewa videografer profesional dan mengharamkan istilah “harga teman”. Ia juga peduli dengan penampilan. Menjaga nggak ada video makan berbeda dengan satu outfit yang sama.

Kepedulian printilan begini hanya bisa dipahami seseorang yang telah malang-melintang di dunia broadcast. Orang mengira bikin vlog gampang. Tinggal bermodal handphone plus tongsis. Vlogger sejati memikirkan konten dari mulai perencanaan, bikin skrip, syuting, dan editing.

Di zaman matinya kepakaran siapa saja memang bisa membuat konten lalu mengunggahnya ke Youtube atau Instagram. Tapi content creator sejati tak pernah menganggap remeh kontennya. Di situlah totalitas Ria SW patut ditiru calon vlogger lain.

Dapatkan buku Off The Record hanya di Gramedia.com


Images source: Personal Blog dan IG Ria SW