(REVIEW BUKU) Filosofi Teras: Filsafat Kuno, Panduan Hidup Zaman Now

. 5 min read

Syahdan, pertengahan 2017, Henry Manampiring, selebtwit pemilik akun @newsplatter, praktisi periklanan yang juga penulis buku Filosofi Teras, mendatangi psikiater. Ia memang dikenal teman-temannya sebagai pribadi yang penuh negative thinking.

Ketika dihadapkan pada sebuah keadaan, ia selalu berpikir buruknya dahulu. Pertengahan tahun itu, pikiran buruk, cemas, dan rasa tidak semangat kian terasa menekan.

Ia memutuskan perlu mencari bantuan. Psikiater ia datangi. Hasil diagnosisnya, “Kamu menderita Major Depressive Disorder.”

Vonis itu bagai petir di siang bolong buat Henry. Stigma yang umum di Indonesia kita, menderita gangguan psikis berarti kondisi jiwa terganggu yang sering disamakan dengan gila. Ia bergeming. Terapi obat-obatan membuat mood-nya membaik. Namun, masak sih selamanya bergantung pada obat?

Di tengah masa pengobatan, ia menemukan buku How to Be a Stoic yang ditulis Massimo Pigliucci yang artinya kurang lebih bagaimana menerapkan filsafat stoa atau stoisisme dalam hidup. Hingga saat itu pengetahuannya tentang stoisisme sebatas cabang filsafat zaman Yunani dan Romawi kuno.

Nyatanya, sesudah baca buku Pigliucci, matanya terbuka dan menemukan jalan terapi tanpa obat yang bisa dipraktikkan seumur hidup. Stoisisme sangat membantunya menjadi lebih tenang, damai, dan bisa mengendalikan emosi negatif.

Ia tidak mudah stres dan marah-marah. Ia lalu kian melahap bacaan-bacaan tentang filsafat stoa lewat buku dan internet sambil meresapinya.

Pria yang akrab disapa Om Piring di media sosial ini tak ingin menyimpan pengetahuannya tentang stoisisme sendirian. Ia pun menulis buku Filosofi Teras: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini (Penerbit Buku Kompas, 2019). Ia meng-Indonesia-kan stoisisme jadi filosofi teras agar lebih akrab dengan lidah Indonesia.

Muasalnya sendiri, di Athena masa Yunani kuno 300 tahun sebelum Masehi atau 2300 tahun yang lalu, Zeno, pelopor filsafat stoa, kerap mengajar filosofinya di teras berpilar yang dalam bahasa Yunani disebut “stoa”. Jadilah versi Indonesia-nya, filosofi teras.

Hm, boleh juga.

BUKU FILOSOFI TERAS

Makna Filosofi Teras

Yang jadi tanya lalu, makhluk apakah stoisisme alias filosofi teras ini? Kenapa pula ia dianggap bisa menyembuhkan penyakit akut zaman now: depresi, mudah stres, dan gampang marah?

Saat menyebut filsafat Yunani kuno, nama yang langsung terbit adalah Sokrates, Aristoteles dan Plato. Zeno rasanya terdengar asing. Filsafat juga identik dengan perenungan yang serba berat, abstrak, dan mengawang-awang.

Bicara filsafat, biasanya membicarakan konsep-konsep abstrak seperti eksistensialisme, nihilisme, strukturalisme hingga post-strukturalisme. Menyembuhkan depresi dan stres dianggap bukan ranah filsafat.

Di buku bergambar Filsafat untuk Pemula karya Richard Osborne dan digambar Ralph Edney (edisi Indonesia terbit 2001), stoisisme hanya disinggung sedikit. Stoa ditulis identik dengan kesederhanaan. Menjadi stoa berarti menghadapi nasib dengan berani dan mulia.

Hm, definisi yang kabur dan sumir.

Well, filsafat stoa tak semata menganjurkan hidup sederhana ataupun menerima nasib. Tidak pula serba abstrak dan tidak praktis. Perbedaan mendasar filsafat stoa dengan cabang filsafat lain justru pada sifat praktisnya.

Stoa tak mengangankan masyarakat utopis tanpa kelas sebagaimana dianjurkan Marxisme. Yang dianjurkan stoa lebih personal:

“Hidup dengan emosi negatif yang terkendali dan hidup dengan kebajikan (virtue/arete) atau hidup bagaimana kita hidup sebaik-baiknya seperti seharusnya kita menjadi manusia.”
(hal. 33)

Mempraktikkan Filosofi Teras

Stoisisme alias filosofi teras kian terasa relevan untuk masyarakat masa kini. Di Yunani kuno, ia lahir di masa peperangan dan krisis.

Meski kita tak sedang terlibat perang fisik dengan bangsa mana pun, banyak dari kita sedang “berperang” di media sosial. Berdebat, saling beda pendapat, menyebar hoax dan fake news, bahkan mem-bully sudah jadi kerjaan sehari-hari.

Tidak hanya itu, beban hidup pun terasa kian berat kini. Kita dilanda stres di jalan akibat macet, di kantor beban pekerjaan yang menumpuk, belum lagi harus menghadapi bos dan politik kantor.

Pulang kerja bertemu lagi jalanan yang macet. Istirahat kurang. Quality time dengan keluarga juga kurang. Belum lagi harus menghadapi persoalan ekonomi akibat segala harga kebutuhan pokok naik, sementara gaji tak ikut naik.

Bagi yang berstatus mahasiswa maupun pelajar keadaannya tak lebih baik. Tekanan orangtua untuk mengejar nilai, stres saat mengerjakan sksripsi sampai persoalan pribadi dengan pacar atau teman.

Itu semua persoalan di dunia nyata. Di dunia maya pun masalahnya tak kalah pelik. Menengok medsos teman yang isinya traveling melulu, makan enak di kafe dan restoran juga dapat memicu depresi. Merasa hidup tak bahagia dibandingkan orang lain.

Nah, filosofi teras memberi solusi pada semua permasalahan itu. Epictetus, salah satu pelopor stoisisme zaman kuno berkata begini,

“Ada hal-hal di bawah kendali (tergantung pada) kita, ada hal-hal yang tidak di bawah kendali (tidak bergantung pada) kita.”
(hal. 46)


Maksudnya, bila kita fokus pada apa-apa saja yang dapat kita kendalikan, maka kita akan merasa bahagia. Sedangkan ketakbahagiaan justru berasal dari hal-hal  yang kita rasa bisa (di bawah kendali) kita, padahal bukan.

Di buku ini didedahkan apa-apa saja yang berada di bawah kendali kita dan yang tidak. Yang sudah jelas TIDAK di bawah kendali kita misalnya, kondisi kita lahir, jenis kelamin, etnis, orangtua. Juga cuaca, bencana alam dan peristiwa alam lainnya.

Lalu, ada pula yang kita pikir di bawah kendali kita, ternyata bukan. Misalnya, pandangan orang lain tidak berada di bawah kendali kita (kecuali orang itu di bawah ancaman kita).

Reputasi, kekayaan, serta kesehatan juga tak berada di bawah kendali kita sepenuhnya. Kita bisa berusaha untuk hidup sehat atau menjadi kaya raya. Namun, tak ada apapun yang bisa menjamin kita selamanya bisa sehat dan kaya.

Yang bisa kita kendalikan adalah pertimbangan (judgment), opini kita, keinginan kita, tujuan kita, serta segala sesuatu yang merupakan pikiran dan tindakan kita sendiri.

Bagi filsuf stoa, menggantungkan kebahagiaan pada hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan tidak rasional. (hal. 49)

Contoh kecilnya, bila terjebak di jalanan macet, marah-marah tak ada gunanya. Karena marah tak membuat kita bisa keluar dari kemacetan. Sebelum kenal stoa, Henry kesal dan marah setiap bertemu macet. Tapi kini di tengah kemacetan ia bisa mengisi waktu membaca e-book atau sedikit membereskan pekerjaan kantor.

Filosofi Teras Terasa Akrab

Stoisisme sering disalahartikan dengan pasrah pada keadaan. Padahal, menerima keadaan atas apa-apa yang tak bisa kita kendalikan tidak sama dengan bersikap pasrah.

Berangkat dari hal-hal yang bisa dikendalikan dan yang tak bisa dikendalikan di atas, stoisisme memiliki prinsip bernama indifferent alias nggak ngaruh.

Satu hal lain yang mengasyikkan dari stoisisme adalah apa yang dikemukakan terasa akrab dan kita merasa, “Eh, kayaknya ajaran agama gue juga bilang begini, deh” atau “Pandangan ini kayaknya pernah gue dengar dari orang lain dan gue setuju.”

Itu mungkin sebabnya stoisisme tak mendapat tentangan dari pemuka agama mana pun. Ia tak mengoyak keyakinan seseorang pada agama yang ia percayai, malah bisa lebih saleh karena kebajikan untuk jadi manusia sebaik-baiknya.

Pada akhirnya, Filosofi Teras adalah buku keren untuk mengenal dan memraktekkan langsung stoisisme alias filosofi teras.

Tidak hanya bicara soal ajaran filsafatnya, Henry Manampiring juga menyajikan wawancara dengan psikiater, psikolog anak, serta beberapa orang yang telah memraktikkan stoisisme. Apa yang mereka sampaikan sangat memerkaya buku ini.

Gaya bertutur Henry enak dibaca. Sekali mulai baca susah untuk menaruh buku ini sebelum tandas. Stoisisme dikupas selapis demi selapis, dari soal bersikap di media sosial hingga bagaimana stoa memandang kematian.

Ilustrasinya juga bagus. Membuat buku ini terhindar dari beban buku filsafat yang berat.  

BUKU FILOSOFI TERAS


FILOSOFI TERAS: Filsafat Yunani-Romawi Kuno untuk Mental Tangguh Masa Kini
Penulis: Henry Manampiring
Penerbit: Penerbit Buku Kompas
Tahun Terbit: Cetakan 4, Januari 2019
Jumlah Halaman: 344


Sumber header foto: Jurnal Ruang