(REVIEW BUKU) Dilan 1991: Cerita Masa Pacaran, Putus, dan Jadi Dewasa

Dilan Tahun 1991. Tahukah kalian, cerita cinta yang abadi, terus dikenang dan tak lekang dari ingatan kebanyakan tak berakhir bahagia?

Romeo and Juliet-nya Shakespeare berakhir sejolinya mati bersama, Siti Nurbaya dan Samsul Bahri tak berakhir di pelaminan, Jack tewas di Titanic meninggalkan Rose, kekasihnya.

Bahkan film Ada Apa dengan Cinta? (AAdC) berakhir dengan Cinta dan Rangga berpisah di bandara yang bikin generasi 2000-an "menuntut" sekuelnya dibuat untuk menyatukan mereka.

Lalu bagaimana dengan akhir kisah cinta Dilan dan Milea karya Pidi Baiq?

**PERINGATAN: Review buku ini mengandung spoiler atau bocoran cerita novel

Di buku pertama, Dilan: Dia Adalah Dilanku Tahun 1990 (pertama terbit 2014), pembaca sudah dapat petunjuk soal akhir kisah cinta Dilan dan Milea. Lewat suara Milea kita baca begini:

"Selain romantis, sekolah itu adalah tempat yang banyak menyimpan kenangan. Terutama menyangkut seseorang yang sangat aku cintai, yang pernah mengisi hari-hariku di masa lalu..."
(Dilan 1990, hal. 17)

Digambarkan, Milea dewasa menulis kenangan SMA-nya di rumah yang ia tempati bersama suaminya. Dari situ bisa kita tafsirkan, Dilan adalah pacar Milea di masa SMA, namun di kemudian hari Dilan tak menjadi suaminya.

Pidi memberi judul buku lanjutannya Dilan Bagian Kedua: Dia Adalah Dilanku Tahun 1991 (Pastel Books/Mizan, pertama terbit 2015). Sepanjang hampir 30 halaman pertama merangkum kisah buku kesatu dan Milea dewasa menjelaskan kenapa ia memilih Dilan, yang anggota gang motor, jadi pacarnya.

Dia mengatakan walaupun bandel, sering ribut bareng geng motornya, Dilan berbeda. Dilan cerdas. Dilan hatinya baik. Bersama Dilan ia merasa aman dan terlindungi. Dilan berkata pada Milea:

“Senakal-nakalnya anak geng motor, mereka juga shalat pada waktu ujian praktek agama.”
(Dilan 1990, hal. 19)

Milea kemudian menyuguhkan pemikiran Dilan yang tak biasa. Kata Dilan, menjadi anak nakal butuh tanggung jawab. Untuk jadi anak baik, gampang. Tinggal diam. Anak nakal butuh keberanian dan harus tanggung jawab dengan apa yang ia perbuat.

Masa Pacaran

Cerita buku kedua sesungguhnya dimulai saat Milea dan Dilan meresmikan status pacaran mereka pada 22 Desember 1990 dalam sebuah kertas bermaterai yang Dilan namai Dokumen Perasaan.

Sejak itu kita diajak mengikuti masa-masa Dilan dan Milea pacaran. Ini yang membedakan buku pertama dan kedua. Buku pertama fokusnya bagaimana Dilan mendekati Milea dan bagaimana Milea kemudian jatuh hati pada Dilan.

Cara pendekatan Dilan yang tak biasa yang akhirnya bikin hati Milea luluh. Hal itu juga yang bikin hati kita, pembaca bukunya, ikutan luluh.

Seperti Milea, kita ikut tertawa geli melihat polah Dilan dan kagum dengan pilihan kata-katanya yang tak biasa namun romantis. Ketika versi filmnya rilis tahun lalu, orang ikut tersihir dengan kalimat ini:

“Jangan rindu! Berat. Kau gak akan kuat. Biar aku saja.”
(Dilan 1990)

Dari Putus Jadi Dewasa

Karena di buku kedua Dilan dan Milea sudah pacaran, masa bergombal ria berkurang. Maka, yang menyukai cerita ini hanya karena polah tak biasa Dilan pastilah bakal kecewa dengan Dilan 1991.

Tapi sebetulnya kamu harus maklum. Di mana pun, yang namanya masa pedekate alias pendekatan terasa lebih indah. Di masa pedekate ada sesuatu yang ingin dikejar. Berbagai cara romantis dilakukan. Nah, ketika pujaan hati sudah didapat pengejaran berhenti.

Memang romantisme harus dipertahankan biar hubungan langgeng. Tapi gregetnya terasa beda dengan saat pedekate.Jadi, apa yang terjadi dengan Dilan dan Milea di masa pacaran justru sesuatu yang normal.

Di masa pacaran, Dilan tidak perlu lagi datang malam-malam untuk bawa daftar menu masakan kantin atau memanjat dinding kelasnya untuk melihat sang pujaan di kelas lain.

Pidi Baiq sejujurnya malah harus kita puji karena mau mengerem mengumbar permainan kata-kata Dilan yang bikin pembaca jatuh hati pada buku pertama. Sebab, ia sadar betul, di masa pacaran intensitas menggombal ria tak perlu sebanyak masa pedekate.

Bila volumenya sama dengan buku pertama justru patut dipertanyakan karena tak sejalan dengan realitas orang pacaran di dunia nyata. Yang sebetulnya mengecewakan dari buku kedua justru sikap Dilan ketika Milea sudah resmi jadi pacarnya.

Kita melihat, betapa susahnya Milea memertahankan cintanya pada Dilan. Dia harus menghadapi gempuran cowok-cowok yang naksir padanya. Mulai dari Beni, mantan pacarnya yang belum terima diputus, Kang Adi, guru privatnya yang mahasiswa ITB, Yugo, teman masa kecil yang baru balik dari Eropa sampai Pak Dedi, guru magang di SMA Milea.

Semua lelaki itu dia tolak demi Dilan seorang. Namun, apa yang dilakukan Dilan?

Dilan ternyata tak bisa melepaskan diri dari geng motornya. Gara-gara berkelahi dengan Anhar (di buku kesatu), Dilan dikeluarkan dari sekolah. Namun itu tak membuatnya jera. Ia bolak-balik berkelahi sampai harus berurusan dengan polisi.

Puncaknya, salah seorang kawan Dilan tewas dibunuh. Milea yang luar biasa khawatir tak bisa mencegah Dilan keluar dari geng motor. Hingga akhirnya kata itu terucap: putus!  

Yang bikin gregetan di buku kedua ini terletak pada sikap sejoli ini. Milea begitu mencintai Dilan, tak ingin Dilan celaka gara-gara kenakalannya. Di sisi lain, Dilan juga tak bisa begitu saja meninggalkan kawan-kawannya.

Cowok umumnya punya rasa solidaritas dengan kelompoknya. Cowok, biasanya juga, tak suka dikekang ceweknya. Jadi, persoalan cinta Milea dan Dilan ini persoalan khas remaja.

Tidak hanya terjadi pada dekade 1990-an di Bandung yang masih sejuk dan sepi. Itu sebabnya juga kisah cinta mereka terasa akrab dan dekat dengan pembaca.

Tengok, remaja cowok mana yang tidak mengalami dilema antara pacar dan teman? Pada satu kesempatan, Dilan akhirnya bilang kenapa ia tak memerjuangkan Milea tetap jadi pacarnya. “Aku tidak suka dikekang,” katanya.

Akhirnya, kita memang harus terima Dilan dan Milea tak bersatu. Sebagai pengobat hati, kita tahu Milea hingga dewasa masih menyimpan perasaan pada Dilan, bahkan ketika ia punya pria tambatan hati baru dan menikahi pria itu.

Masa pacaran dengan Dilan, seperti masa pacaran remaja di masa SMA adalah bagian dari proses pendewasaan dirinya. Poin utama buku Dilan 1991 justru terletak di situ.

Masa pedekate memang indah. Namun, bukan masa itu yang mendewasakan kita. Justru saat menjalaninya. Putus atau bersatu di pelaminan akhirnya hanya jadi konsekuensi sebuah hubungan.

Proses ke putus atau ke pelaminan itu yang penting dan turut andil membentuk pribadi seseorang.


Judul Buku: Dilan: Dia adalah Dilanku Tahun 1991
Penulis: Pidi Baiq
Ilustrasi sampul dan isi: Pidi Baiq
Tahun Terbit: Cetakan XII, Juni 2016
Penerbit: Pastel Books/PT Mizan Pustaka