Retak, Luruh, Kembali Utuh: Di Balik Puisi Prilly dan Proses Menata Hati yang Pernah Rapuh
“Yang patah tumbuh, yang hilang berganti, yang hancur lebur akan terobati,” – Banda Neira 🌻
Grameds, sebagai manusia, kamu pasti pernah merasakan betapa getirnya hidup. Ada masa ketika kamu retak, rapuh, dan tetap memaksa diri bertahan meski hati terasa penuh sesak. Kamu sibuk menyelamatkan semua hal di sekitar, sampai lupa menyisakan ruang kecil untuk bernapas. 💔🩺
Namun, di balik gumpalan rasa sakit itu, perlahan kamu belajar meluruh. Mulai mengendapkan kecewa, mengizinkan diri menatap masa lalu tanpa gentar, dan menerima bahwa tidak semua hal harus dipertahankan. Meski awalnya perih, proses itu yang akhirnya membuka celah bagi harapan baru. 🍃✨
Di titik paling sunyi, kamu kembali mendengar suara yang lama hilang. Adalah suara dirimu sendiri. Sebuah pencerahan kecil yang membuatmu sadar, bahwa sebenarnya kamu tak benar-benar hancur; kamu hanya sedang membentuk diri yang baru, yang lebih utuh, yang lebih kuat, dan yang akhirnya berani tumbuh lagi.
Ya, nada serupa itulah yang coba dihadirkan Prilly Latuconsina lewat karya terbarunya, Retak, Luruh, Kembali Utuh. Melalui rangkaian puisi yang ditulis dengan bahasa yang lembut namun tegas, ia merajut kembali luka, cinta, dan keberanian untuk pulih. Sebuah perjalanan batin yang mengajakmu menyelami rasa, menemukan diri, dan memahami bahwa setiap retakan punya alasan untuk ada.
Hmm, kamu penasaran nggak sama isi bukunya, Grameds? Yuk, kita buka celah-celah itu sedikit demi sedikit! 📖🔎
Baca juga: Mengelola Ekspektasi untuk Hidup Lebih Seimbang melalui The Let Them Theory
Retak, Luruh, Kembali Utuh
"Retak itu cara hidup ngajarin kita buat kembali ke diri sendiri"
Retak, Luruh, Kembali Utuh menjadi tiga kata yang merangkum cara Prilly memandang hidupnya. Dari tiga kata ini, lahirlah 40 puisi yang membentang seperti tiga babak besar. Meliputi momen ketika ia retak, fase ketika ia luruh dalam kehilangan, dan titik di mana ia menata kembali hidupnya.
Melalui buku ini, Prilly membuka pintu paling tertutup dalam dirinya. Ia membawa pembaca masuk ke ruang pikiran yang sunyi. Sebuah tempat bagi harapan yang sempat mengeras bersama karang, rasa rindu yang tenggelam, serta tangis yang akhirnya mengkristal menjadi puisi.
Ini jalan yang harus ditempuh.
Rindu, sakit, dan marah tetap harus dilalui.
Dia yang pernah singgah dan menyentuh mimpi indahku, tak selalu jadi
tempat berlabuh yang utuh.
“Aku hanya kain pel yang lusuh di matamu.”
Itu kata yang kuingat sebelum malam benar-benar menelannya…
Perihal Menemukan Kembali Suara Hati
“Kadang, kita baru sadar sejauh apa kita kehilangan diri sendiri setelah berhenti memaksa diri terlihat kuat.”
Buku ini adalah ajakan untuk kembali mendengar suara hati yang selama ini terabaikan. Perihal menerima luka tanpa menyalahkan diri sendiri. Tentang melepaskan sesuatu tanpa menyimpan benci. Tentang keberanian untuk mengakui rasa sakit dan membiarkannya menguap perlahan sampai hati kembali punya ruang.
Puisi-puisi Prilly bukan hanya refleksi, tapi penanda perjalanan. Bahwa pulih tidak selalu dramatis; kadang ia hadir dalam bentuk paling sederhana, seperti memahami bahwa kamu layak dicintai, layak tenang, dan layak kembali utuh.
Buat Kamu yang Ingin Kembali Utuh
Terjebak dalam hati yang retak atau berani mengambil langkah pertama untuk menyembuhkannya?
Dengan harga Rp95.000,- untuk 208 halaman, buku ini jadi teman pulih yang bisa kamu bawa ke mana pun. Di setiap lembarnya, ada kalimat yang mungkin terasa seperti seseorang akhirnya memahami perasaanmu tanpa kamu jelaskan panjang lebar.
Kalau perjalanan menuju hati yang utuh bisa dimulai dari satu halaman, bukankah itu langkah kecil yang layak dicoba?
Mari Utuh Bersama Dengan 3 Opsi!
✨ Opsi 1:
Dapatkan dua buku terbaru Prilly lengkap dengan photocard, polaroid, dan tin case.
Harga: Rp184.000,-
✨ Opsi 2:
Dapatkan Retak, Luruh, Kembali Utuh + bundle polaroid.
Harga: Rp95.000,-
✨ Opsi 3:
Dapatkan Ruang Tengah Ingatan + bundle polaroid.
Harga: Rp89.000,-
Promo ini hanya berlangsung 25 November – 10 Desember 2025, ya Grameds! Pre-order sekarang dan mulai perjalanan pulihmu dari halaman pertama!
Prilly Latuconsina Di Balik Layar
Nama Prilly Latuconsina sudah melekat dalam dunia hiburan Indonesia. Dari pertama kali muncul sebagai pembawa acara Koki Cilik, hingga menapaki karier yang membuatnya meraih Piala Citra FFI lewat film Budi Pekerti (2023). Bakatnya tidak berhenti di sana. Di balik layar, ia juga mendirikan Sinemaku Pictures, rumah produksi yang ikut mewarnai dunia film Indonesia.
Selain berkutat dalam kesibukannya itu, Prilly juga menemukan ketenangan lain dalam menulis. Baginya, menulis adalah tempat untuk menumpahkan rasa, mencatat luka, dan memeluk hal-hal yang tidak bisa diucapkan.
Sebagai penulis, ia telah menghadirkan 5 Detik dan Rasa Rindu, Fatamorgana, Ruang Tengah Ingatan; lalu Hari Ini Kenapa, Naira? hingga karya terbarunya Retak, Luruh, Kembali Utuh.
Rekomendasi Buku Serupa
Selain Retak, Luruh, Kembali Utuh, daftar di bawah ini bisa jadi teman yang menemani perjalananmu untuk kembali utuh. Semua judulnya menawarkan perspektif dan rasa yang sejalan. Yuk, cek satu per satu!
.1. Ruang Tengah Ingatan – Prilly Latuconsina
“Terkadang, kita merindukan yang tidak seharusnya dirindukan dan melupakan yang harus diingat.”
Ruang Tengah Ingatan karya Prilly Latuconsina mengajak pembaca masuk ke ruang paling sunyi dalam diri. Tempat kenangan disimpan, kehilangan dibiarkan bernapas, dan rindu diam-diam tumbuh tanpa permisi. Lewat rangkaian puisi dan prosa pendek, Prilly menelusuri bagaimana manusia kerap merindukan hal yang seharusnya dilepaskan, sekaligus melupakan hal yang semestinya dijaga.
Dalam buku ini, Prilly meramu kegelisahan, cinta, dan proses berdamai dengan diri menjadi bahasa yang lembut. Ia menulis seperti seseorang yang akhirnya berani duduk berhadapan dengan masa lalunya tanpa melawan, tanpa menyangkal, dan hanya memahami. Ruang Tengah Ingatan hadir sebagai pengingat bahwa perjalanan hidup tidak selalu tentang melanjutkan langkah, tapi juga tentang kembali menengok apa yang pernah kita tinggalkan.
2. Hari Ini Kenapa, Naira? – Santy Diliana dan Prilly Latuconsina
Begini banget ya, hidup? Baru sembuh dari trauma karena mencintai orang yang nggak tepat. Eh, malah dipertemukan dengan orang yang bikin nyaman, tapi mustahil sejalan.
Kamu pernah punya masalah? Aku yakin semua orang pasti punya masalah. Dari masalah kecil, sampai besar. Selama bertahun-tahun hidup, rasa-rasanya semua hal telah aku lewati dan aku baik-baik saja. Aku punya segala yang kubutuhkan. Kehidupan yang serba cukup, bibi dengan berbagai masakan enaknya, kedua sahabat yang selalu menemaniku, hingga Reno yang mampu mengisi kekosongan di hatiku.
Hidup sebagai seorang Naira adalah hidup yang paling aku syukuri! Tapi aku lupa kalau ternyata masih ada yang lebih tinggi daripada puncak Everest, dan masih ada yang lebih dalam daripada Palung Mariana. Begitu pula hidupku. Tidak pernah sekalipun tebersit kalau suatu hari aku akan mengalami berbagai masalah yang sebegitu peliknya. Satu per satu yang kumiliki mulai pergi dan masalah demi masalah mulai berdatangan. Terasa begitu mencekik sehingga untuk bernapas sejenak saja, rasanya aku tidak mampu. Menurutmu, apakah aku bisa melewati semuanya?
3. This is What Home Could Feel Like – Anizabella Lesmana
This is What Home Could Feel Like hadir dengan serangkaian cerita pendek karya Anizabella Lesmana. Setiap narasinya diolah sebagai sajian yang menawarkan pengalaman membaca yang unik. Alih-alih memakai tokoh manusia sebagai narator utama, Bella memilih benda-benda di dalam rumah untuk menyampaikan kisahnya. Ini bukan saja membuat setiap halamannya terasa segar, tapi juga akan terasa penuh kejutan.
Dari cerita-cerita itu, buku ini mengajak kita melihat bahwa rumah ternyata hadir tak cuma sebagai ruang fisik, tapi juga kumpulan pengalaman yang tertanam pada benda-benda sederhana. Setiap bab terasa seperti membuka pintu baru untuk memahami arti pulang.
4. A Gentle Reminder – Bianca Sparacino
Buku A Gentle Reminder karya Bianca Sparacino adalah buku puisi dan prosa singkat yang mengingatkan pembaca untuk tidak mudah menyerah dan kalah dengan keadaan. Perubahan yang terjadi, baik dari dalam diri maupun orang lain, merupakan perjalanan hidup yang harus kita lalui sebagai manusia. Sparacino membalut kata demi kata dengan gaya bahasa yang lembut dan tegas.
Buku ini mengangkat beberapa topik utama, seperti percintaan, pengembangan diri, dan penguasaan diri.
5. Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu – M. Aan Mansyur
Waktu yang Tepat untuk Melupakan Waktu adalah kumpulan puisi karya M. Aan Mansyur yang mengajak pembaca merenungi imajinasi hidup bersama. Di dalamnya, Aan menggali pertanyaan-pertanyaan tentang “kita” dalam spektrum yang lebih luas. Tak cuma soal manusia, tapi juga dunia, alam, dan segala sesuatu yang hidup berdampingan. Puisi-puisi ini menyoroti kehilangan, perubahan, dan jarak yang terbentuk di antara berbagai bentuk kehidupan, seraya mengingatkan bahwa manusia hanyalah satu bagian kecil dari keseluruhan itu.
Sebagaimana karya Aan sebelumnya, pilihan katanya tetap hidup, cerdas, dan sering kali menyentuh titik-titik renungan terdalam. Dalam buku ini, ia berkolaborasi dengan Wulang Sunu yang menafsirkan puisi-puisinya secara visual, menghadirkan pengalaman membaca yang lebih kaya. Aan sempat menyinggung metafora gajah—makhluk besar yang sulit menghindar dari moncong senjata—sebagai gambaran kesedihan dan kerentanan yang muncul dalam puisi-puisinya.
Pertanyaan-pertanyaan seperti “Apakah kita adalah kata benda atau kata kerja?” menegaskan kedalaman tema yang digarap. Perihal keberadaan, pergerakan, dan upaya bertahan di tengah dunia yang terus berubah.
Proses pulih adalah perjalanan yang panjang, sunyi, dan sangat personal. Meski begitu, buku seperti Retak, Luruh, Kembali Utuh mengingatkan kita bahwa tidak ada yang benar-benar sendiri di jalan itu.
Selalu ada kata-kata yang bisa menemani, ada cerita yang bisa menuntun, dan ada momen yang membuat kamu perlahan menyadari bahwa retakmu bukan akhir; melainkan awal dari dirimu yang baru.
Akhir kata: Semoga kamu menemukan dirimu lagi di halaman-halaman yang sunyi itu ya, Grameds. 🌻💚
Baca juga: This is What Home Could Feel Like: Temukan Makna Rumah Lewat Benda-Benda di Sekitarmu!
✨ Oya, jangan lupa juga untuk mendapatkan penawaran spesial lainnya dari Gramedia! Cek promonya di bawah ini agar kamu bisa meminang produk impianmu tanpa mengeluarkan banyak biaya! ⤵️
Baca Artikel Lainnya di Sini!
Temukan Di Sini!
Dapatkan Promonya Di Sini!
Temukan Di Sini!
Temukan Di Sini!
Temukan Di Sini!
Temukan Di Sini!
Temukan Di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!