Raymun Fossoway: Ketika Jadi Karakter Sampingan Justru Paling Berani di A Knight of the Seven Kingdoms
Grameds, pernah nggak sih kamu sadar hidupmu biasa saja, lalu tiba-tiba merasa tidak cukup? Karena sekarang bahkan kopi pagi pun harus punya character development sebelum diposting. 🤔
Di era semua orang berlomba punya “main character energy”, rasanya hidup tanpa soundtrack sensasional itu hampir ilegal. Timeline penuh glow up. Caption penuh self-love. Semua orang seolah tokoh utama dalam film produksi imajinasi masing-masing. Padahal kalau jujur, sebagian besar dari kita lebih sering jadi… karakter sampingan. Bukan yang paling jago di kantor, bukan yang paling disorot di keluarga, atau bukan yang kisah cintanya paling sinematik.
Di semesta A Knight of the Seven Kingdoms, novella karangan George R.R. Martin yang diadaptasi jadi serial TV, ada satu karakter yang paling sering lolos dari radar spotlight: Raymun Fossoway. Dia bukan Ser Duncan “Dunk” yang punya idealisme dan sifat setengah nekat, bukan Aegon “Egg” Targaryen yang diam-diam calon raja, juga bukan pula ksatria flamboyan yang haus panggung. Raymun hanya… exist. Dan justru itulah yang bikin dia menarik.
Nah, sudah siap berpetualang menjadi orang ‘biasa’ di dunia penuh ksatria gemerlap, Grameds? 👀⚜️
Sinopsis A Knight of the Seven Kingdoms
Berlatar 100 tahun sebelum Game of Thrones (GoT), A Knight of the Seven Kingdoms adalah serial prekuel GoT yang mengisahkan perjalanan Ser Duncan the Tall a.k.a Dunk, sang ksatria pengembara muda namun naif, dan pengikutnya yang cerdas, Egg, yang sebenarnya adalah pangeran Aegon Targaryen.
A Knight of the Seven Kingdoms masih bermain di genre fantasi dan menampilkan Westeros di masa damai. Berbeda dengan seri nenek moyangnya, GoT, yang lebih menyorot banyak intrik politik skala besar, A Knight of the Seven Kingdoms lebih berfokus pada petualangan road trip dan persahabatan. Dunk adalah ksatria muda polos pemberani dan Egg adalah pengikut kecil yang menawarkan diri untuk melayaninya. Keduanya mengembara ke Westeros, menjelajah dengan petualangan seru, namun tetap penuh dengan takdir besar dan bahaya yang mengancam keduanya.
Novella dengan judul asli “The Hedge Knight” yang ditulis oleh George R.R. Martin, diadaptasikan ke serial TV yang pertama kali rilis pada 18 Januari 2026. Dengan total 6 episode, A Knight of the Seven Kingdoms banyak mendapatkan ulasan positif dari para penonton. Plot ceritanya yang fresh berhasil mendapatkan rating 94% dari Rotten Tomatoes dan sudah tersedia dan bisa kamu tonton di platform streaming HBO Max Asia.
Penasaran dengan trailer-nya, Grameds? Kamu bisa cek di sini!
Kamu pasti juga suka: Upgrade Diri atau Cuma Lari? Rahasia Gelap di Balik 'To a New You'
Ketika Apel Bukan Sekadar Buah
Nah, sekarang kita geser sedikit dari petualangan Dunk & Egg ke POV Raymun Fossoway. Raymun adalah pengawal sekaligus sepupu dari Ser Steffon Fossoway Keluarga Fossoway adalah cabang utama dari House Fossoway of Cider Hall, yang disimbolkan dengan apel merah. Karena murka dan demi mendukung Dunk yang dikhianati oleh sepupunya, Ser Steffon, Raymun membuat cabang baru keluarga Fossoway yang dilambangkan dengan simbol apel hijau.
Cabang apel merah Fossoway dikenal sebagai cabang utama yang terpandang dan berpengaruh. Sedangkan apel hijau Raymun diejek oleh sepupunya, karena masih “terlalu hijau”. Sekilas terlihat sepele, tapi hal ini bermakna dalam. Heraldik itu penting hukumnya di Westeros. Itu adalah identitas, reputasi, dan cara dunia mengenal kamu sebelum kamu buka mulut. Mengganti warna bukan mengganti cerita. Raymun tidak membakar rumah keluarga, tidak membuat pidato panjang tentang kebebasan, dan tidak memulai perang saudara mini. Dia hanya memilih warna yang berbeda. Kadang pemberontakan paling elegan memang tidak berisik.
Side Character Syndrome itu Nyata
Kita hidup di zaman yang mengagungkan spotlight. Semua orang diajak percaya bahwa kalau kamu tidak menjadi protagonis, berarti kamu gagal. Tapi Raymun seperti berdiri santai di sudut arena turnamen sambil bilang, “Gue nggak perlu jadi pusat cerita untuk tetap punya pilihan.” Dia sadar bukan tokoh utama. Dia bukan legenda yang akan diceritakan ulang ratusan tahun kemudian. Dan tetap, dia memilih.
Ini hal yang sering kita lupa. Menjadi karakter sampingan bukan berarti tidak punya naungan. Di dunia nyata, berapa banyak keputusan penting yang dibuat oleh orang-orang yang tidak pernah naik panggung? Orang yang resign diam-diam karena nilai sudah tidak sejalan. Orang yang keluar dari circle lama karena lelah pura-pura cocok. Orang-orang yang memilih jalan berbeda walau tidak menggemborkannya. Dan itu bukanlah pembangkangan besar, melainkan kedewasaan emosional.
Rebranding Tanpa Press Conference
Kadang kita ingin tetap menghormati asal-usul, tapi juga ingin dikenal sebagai versi yang berbeda. Raymun tidak menolak keluarganya sepenuhnya. Dia hanya tidak ingin larut dalam warna yang bukan pilihannya. Dan bukankah itu relatable untuk kita semua, Grameds?
Kalau kamu sekarang juga lagi merasakan apa yang dirasakan Raymun, penulis dengan senang hati merekomendasikan buku-buku sesuai kondisimu saat ini ☺️
1. A Man Called Ove – Fredrik Backman
Penggerutu, kaku, punya rutinitas yang tak bisa diganggu gugat, sumbu pendek pula. Itulah Ove. Orang-orang menyebutnya tetangga pemarah dari neraka. Tapi apa betul Ove pemarah, hanya karena dia tidak terus-menerus memasang senyuman di wajahnya? Namun kehadiran tetangga baru perlahan mengubah mimpinya dan menunjukkan bahwa ia jauh lebih penting dari yang ia kira.
Ove adalah definisi “side character energy”. Ia bukan pahlawan glamor, tapi keputusan-keputusan kecilnya berdampak besar pada orang sekitar. Novel ini membuktikan bahwa orang yang terlihat biasa saja sering kali menjadi pondasi yang tak tergantikan. Sama seperti Raymun, yang tidak perlu jadi pusat arena untuk tetap berarti.
2. Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati – Brian Khrisna
Ale, seorang tokoh utama yang lelah dengan hidup memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Tapi sebelum itu ia ingin menikmati seporsi mie ayam terakhir. Perjalanan sederhana itu justru membuka kembali memori, relasi, dan makna kecil yang selama ini luput ia lihat.
Novel ini menceritakan tentang keputusan kecil yang terasa remeh tapi bermakna besar. Seperti Raymun, yang “hanya” mengganti warna apel, Ale tidak melakukan revolusi besar. Ia hanya berhenti sejenak dan melihat ulang hidupnya. Buku ini mengingatkan bahwa hidup tidak selalu berubah lewat momen menghebohkan, kadang lewat seporsi mie ayam dan keberanian untuk menunda keputusan final.
3. Timun Jelita – Raditya Dika
Setelah ayahnya meninggal dan mewariskan sebuah gitar tua, seorang akuntan berusia 40 tahun menemukan hasrat untuk kembali bermusik. Berdua dengan saudaranya yang seorang mahasiswa yang susah percaya dengan orang baru, mereka membuat sebuah grup, Timun Jelita.
Novel karangan Raditya Dika ini bicara tentang tumbuh di tengah ekspektasi dan dinamika keluarga. Dengan gaya khasnya yang ringan namun emosional, cerita ini membahas relasi, pertumbuhan, dan usaha berdamai dengan masa lalu. Seperti Raymun yang mencoba keluar dari bayang-bayang cabang keluarga besar, tokoh-tokohnya juga berusaha menemukan identitas di luar label yang melekat sejak kecil. Tidak dramatis secara epik, tapi personal dan nyata.
4. The Midnight Library – Matt Haig
Nora Seed merasa hidupnya penuh penyesalan. Di ambang keputusasaan, ia menemukan sebuah perpustakaan ajaib yang berisi berbagai versi hidupnya, berdasarkan pilihan-pilihan yang pernah ia ambil atau ia abaikan. Setiap buku adalah kemungkinan: bagaimana jika ia memilih jalan yang berbeda?
The Midnight Library berbicara tentang tekanan untuk punya “hidup spektakuler”. Nora terus merasa hidupnya tidak cukup hebat. Sama seperti Raymun yang bukan tokoh utama, Nora belajar bahwa makna tidak selalu datang dari hidup paling gemilang, tapi dari pilihan yang ia akui sebagai miliknya sendiri. Buku ini tentang berdamai dengan versi hidup yang tidak viral, tapi tetap valid.
5. Laut Bercerita – Leila S. Chudori
Laut Bercerita mengangkat kisah kekejaman dan kebengisan yang dialami kelompok aktivis mahasiswa tentang kehilangan, penghilangan paksa, dan keluarga yang menunggu kepastian di masa Orde Baru. Cerita bergerak antara perjuangan politik dan luka personal yang tak pernah benar-benar selesai.
Walau skalanya historis dan besar, kekuatan di novel ini ada pada manusia-manusia di balik peristiwa. Mereka bukan tokoh super, tapi individu dengan pilihan, ketakutan, dan keberanian masing-masing. Seperti Raymun, mereka mungkin bukan pusat panggung sejarah, tapi keputusan mereka tetap membentuk arah cerita.
Baca juga: Ramadan Datang, Wishlist Ikut Menggoda: Saatnya Belanja Lewat Promo Berkah Ramadan Gramedia
The Knight of Discount World
Sebagian besar dari kita menjalani hidup tanpa naga, tanpa turnamen, tanpa musik epik saat mengambil keputusan. Kita mungkin tidak juga tumbuh jadi raja seperti Aegon, atau mungkin juga tidak akan menjadi ksatria legendaris seperti Dunk. Tapi kita bisa menjadi ksatria… dunia diskon 😝
Kabar gembira untukmu para ksatria diskon! Gramedia sedang mengadakan Promo Payday Sale lho! Dapatkan diskon hingga 50% untuk produk terbitan Gramedia! Periode promo ini hanya berlaku dari 25 Februari hingga 2 Maret 2026.
Jadi, tunggu apalagi para ksatria pemberani dunia diskon? Siapkah kamu mengemban tugas mulia ini? ✨
Yuk cek promonya di sini sebelum ketinggalan! 🤑🚀
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Promo Payday Sale!