Randang Bundo: Menguak Rahasia Rendang yang Selalu Jadi Primadona

“Saya tidak pernah bosan makan masakan Padang,” aku seorang pengemudi mobil yang mengantarkan kami dari lokasi pertemuan untuk kembali ke kantor. Ada dua asumsi alasan ia mengatakan hal itu. Pertama, ia keturunan Minang yang sudah memiliki indra pengecapan yang cocok dengan masakan daerah asalnya. Kedua, masakan Padang memang seenak itu.

Kalau bicara soal masakan Padang khas Minang, pasti tak lepas dengan hidangan yang sudah mendunia: rendang. Pada 2017, CNN Travel membuat voting di akun Facebook-nya untuk menemukan makanan paling enak sedunia. Setelah 35.000 suara terkumpul, mereka membuat daftar 50 makanan dan menempatkan rendang dari Indonesia di nomor satu sebagai makanan terbaik di dunia mengalahkan fettucini alfredo dari Italia dan pad thai dari Thailand. (Sebagai informasi tambahan: nasi goreng menempati terbaik kedua.)

Walaupun CNN Travel menyebutkan rendang berasal dari Indonesia, argumen tentang negara mana yang menjadi asal rendang masih jadi pertikaian: Indonesia dan Malaysia masih mengaku rendang adalah milik mereka. Lantas, siapa pemilik sebenarnya? Pertanyaan tersebut muncul di Quora dengan jawaban yang paling banyak disetujui adalah: “Tidak keduanya.”

Si penjawab menjelaskan tentang suku Minangkabau yang memang berasal dari bagian barat pulau Sumatra dan orang-orang Minang yang memiliki tradisi merantau. Kebanyakan dari mereka pergi ke segala penjuru maritim Asia Tenggara termasuk daratan Malaysia dan membawa mewahnya hidangan Minang termasuk rendang. Untuk lebih lengkapnya, silakan simak penjelasannya di sini.

Apa yang bikin rendang amat digemari sampai-sampai diperebutkan dua negara serumpun?

Saat bertanya kepada beberapa orang tentang kenapa mereka suka dengan hidangan rendang, jawabannya kurang lebih sama: tekstur dagingnya yang empuk. Kuncinya di situ. Hal tersebut tentu saja itu berhubungan langsung dengan cara memasak rendang.

Randang Bundo karya Wynda Dwi Amalia

Baru-baru ini, sebuah buku tentang rendang liris dengan judul Randang Bundo—dalam bahasa Minang berarti rendang milik ibu. Sang penulis sekaligus penyusun buku ini adalah Wynda Dwi Amalia yang berdarah Minang kental. Randang Bundo adalah buku pertamanya yang berawal dari tugas akhir kuliahnya dan mengirimkannya ke penerbit Gramedia Pustaka Utama.

Dari keseluruhan isi buku, berikut tiga trivia tentang rendang yang terdapat dari buku Randang Bundo karya Wynda Dwi Amalia.

1. Sejarah Rendang

Wynda membuat lini masa untuk menjelaskan tentang sejarah rendang. Pada awal lini masa tersebut, Wynda menyebutkan bahwa tidak ada yang tahu secara tepat kapan dan di mana rendang tercipta, tetapi peneliti mengatakan rendang sudah ada sejak abad ke-16. Sebuah catatan harian Kolonel Stuers pada tahun 1827 tentang kuliner menyebutkan deskripsi kuliner secara implisit yang diduga mengarah pada rendang. Ada juga dugaan masakan kari khas India yang dibawa ke Minang pada abad ke-15 menjadi dasar dari rendang.

2. Menambah Cita Rasa Rendang

Mau tahu apa resepnya? Orang Minang kerap menggunakan kacang merah dan kentang kecil ke dalam rendang. “Selain rasanya yang menjadi semakin beragam dan tidak monoton, ketika daging rendang telah habis dimakan bumbunya masih bisa dinikmati dengan kentang ataupun kacang merah yang ditambahkan ke dalam olahan rendang.” (hlm. 67)

3. Variasi Rendang

Hayo, selain rendang daging sapi nan empuk, apa lagi ragam masakan rendang lain? Wynda menyebutkan beberapa tetapi ada dua masakan yang tak kalah sedap: rendang paru dan randang tumbuak. Masing-masing memiliki penjelasan bahan, cara, dan trik memasaknya. Pengin tahu?


Ada penjabaran tentang filosofi rendang dan trik agar membuat daging empuk untuk dimasak rendang di buku Randang Bundo karya Wynda Dwi Amalia. Temukan di Gramedia.com!


Sumber gambar header: Instagram @randangbundo.id