Puisi Indah Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau Meraih Penghargaan Sastra

Puisi Indah Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau Meraih Penghargaan Sastra

. 6 min read

Buku kumpulan puisi indah dari M. Aan Mansyur mendapatkan Penghargaan Sastra dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), dalam memperingati Bulan Bahasa dan Sastra pada bulan Oktober 2021. Buku Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau ditetapkan sebagai penerima penghargaan ini untuk kategori puisi.

Penghargaan Sastra sendiri memiliki 5 kategori yang dikompetisikan. Sejak bulan Mei 2021 lalu, proses penyeleksian dimulai untuk memilih 25 karya novel, puisi, cerpen, naskah drama, esai, dan kritik sastra yang patut diberi penghargaan.

Bersama Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (BPPB) Kemdikbudristek, karya-karya tersebut dipilih berdasarkan proses penjurian dari dewan juri yang mumpuni di bidang literasi dan sastra, seperti Seno Gumira Ajidarma, Joko Pinurbo, Oka Rusmini, Putu Fajar Arcana, Yanusa Nugroho, Happy Salma, dan 14 juri lainnya.

Tak hanya itu saja, Aan juga kembali memenangkan penghargaan Kusala Sastra Khatulistiwa 2021 dalam kategori puisi. Dengan begitu, buku Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau dinobatkan sebagai karya puisi terbaik tahun 2021.

Penghargaan bergengsi ini kerap ditunggu-tunggu oleh penulis maupun sastrawan di Tanah Air. Aan berhasil menyisihkan 9 karya puisi lainnya yang telah lolos seleksi sebagai nominator. Nama-nama penulis yang masuk juga tak kalah mahir dan sudah malang melintang di industri sastra Tanah Air seperti Joko Pinurbo.

Dikalangan penikmat sastra dan puisi, nama Martan Aan Mansyur atau dikenal dengan nama pena Huruf Kecil, tentu sudah tidak asing lagi. Penulis asal Makassar ini selalu menuliskan tulisan-tulisan yang luar biasa.

Jika kamu mendengar puisi-puisi indah dari tokoh Rangga pada film Ada Apa Dengan Cinta 2, itu sebenarnya adalah M. Aan Mansyur, karena puisi-puisi tersebut merupakan karyanya yang menggetarkan hati. Semua tulisannya untuk mendukung film AADC 2 terpatri dalam buku berjudul Tidak Ada Newyork Hari Ini.

Bukan hanya itu, M. Aan Mansyur sudah diakui kepiawaiannya dalam merangkai kalimat-kalimat indah yang menyejukkan hati pembaca, seperti Melihat Api Bekerja, Kukila dan Perjalanan Lain Menuju Bulan. Pada penghujung tahun 2020, ia kembali meluncurkan kumpulan puisi terbaru setelah tiga tahun tak kembali mempublikasikan karyanya. Setelah buku kumpulan puisi Cinta yang Marah, barulah Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau lahir.

Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau dianalogikan seperti kepedihan yang abadi. Buku ini akan membuat pembaca terenyuh saat membaca diksi-diksi indah memilukan dalam sebuah ironi yang cukup ciamik. Ada cinta, rindu, luka, dan kecewa, baik untuk pasangan, keluarga, bahkan negara. Karena selain mengangkat keresahan atas pikiran dalam dirinya sendiri, beliau juga menyampaikan kegetiran akan isu atau fenomena isu yang sering terjadi pada seseorang, dan sebagai warga Indonesia.

Total ada 41 puisi dan terbagi dalam 5 babak atau bab. Di bagian awal, kamu akan merasakan sajak manis untuk sang istri tercinta. Mungkin, buku ini semacam hadiah yang diberikan penulis kepada istri dan anak-anaknya, karena di awal buku terdapat tulisan "untuk Anna & anak-anak kami–".

"malam alangkah raya. segala perkara sudah tidur, kecuali namamu & pikiranku. namamu kaki-kaki hujan. pikiranku sungai yang tidak lelah berjalan." (halaman 37)

Ada juga tentang kehidupannya sebagai suami dan ayah dari kedua putri kembarnya.

"terpejamlah, anakku, atau tersenyumlah! ibu sebentar lagi pulang – & sore ini aku akan mulai belajar minum kopi tanpa mengotori bajuku sendiri." (halaman 41)

Puisi berjudul "Kami Masuk Kantor DPR & Kami Hilang & Kami Belum Ditemukan" pun menjadi salah satu puisi yang penuk makna.

Aan juga menggandeng Lala Bohang dengan ilustrasinya yang begitu unik, sehingga menjadikan buku ini sebuah karya yang luar biasa. Nah, udah nggak sabar untuk menikmati buku ini? Kamu bisa dapatkan sekarang di Gramedia.com atau klik di bawah ini ya.

bukuMulai Baca Sekarang!

Buku ini juga ada versi e-booknya >>> Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau

Oh ya, buku kumpulan puisi Mengapa Luka Tidak Memaafkan Pisau ini menjadi salah satu dari 16 karya yang dikirimkan oleh penerbit Gramedia Pustaka Utama (GPU). Dalam proses seleksi untuk Penghargaan Sastra, total ada 564 karya yang diseleksi berdasarkan usulan dari penerbit, komunitas, dan kantor atau balai bahasa, hingga terpilih menjadi 25 nominasi.

Berikut buku-buku dari GPU yang juga masuk nominasi Penghargaan Sastra

1. Kokokan Mencari Arumbawangi

Menceritakan anak yang dibawa oleh burung kuntul atau Kokokan dari dan jatuh di kebun bawang merah milik Nanamama. Datang dengan kotor, namun sangat lucu, anak itu dilihat oleh Kakaputu dan membawanya pulang, sehingga Nanamana memberi nama anak itu Arumbawangi.

mencariMulai Baca Sekarang!

Mereka bertiga hidup penuh gembira, hingga suatu saat seorang pengusaha yang hendak mendirikan hotel di tengah sawah merubah kegembiraan. Tanah jadi denyut nadi Nanamama, maka dari itu ia bersama anak-anaknya berusaha gagah berani mempertahankan tanah mereka.

2. Lebih Senyap dari Bisikan

Fokus pada dunia perempuan, buku ini berisi pergolakan batin yang terjadi dalam rumah tangga Amara dan Baron. Mereka kerap dipertanyakan mengapa belum dikaruniai anak hingga membuatnya terusik. Apalagi dengan saran-saran untuk mendapatkan buah hati. Tapi hanya Amara yang sering jadi sasaran atas kenapa mereka tak kunjung diberi keturunan.

lebihMulai Baca Sekarang!

Akhirnya Amara pun hamil, tapi posisinya masih tak kunjung bagai keluarga ideal. Baron tak ikut penuh mengasuh anak. Berisi tentang pergolakan mental dan batin Amara, kamu bisa baca versi e-booknya di sini >>> Lebih Senyap dari Bisikan

3. Debu dalam Angin

Khusus yang satu itu merupakan buku terbitan dari Kepustakaan Populer Gramedia (KPG). Berkisah tentang kehidupan para buruh, kelembutan hati dari orang-orang terpinggirkan, pedihnya kehilangan keluarga, dan pencerahan dari seorang lelaki tua yang belajar dari kealpaannya sendiri. Juga tentang pergulatan manusia agar hidupnya bermakna.

debuMulai Baca Sekarang!

Baca versi e-booknya di sini >>> Debu dalam Angin

4. Empedu Tanah

Buku kumpulan puisi dari Inggit Putria Marga ini telah memenangkan 20th Kusala Sastra Khatulistiwa. Penulis mengaku butuh waktu 8 tahun, yaitu dari tahun 2011 hingga 2019 untuk menyelesaikan buku ini.

Berisi pesan tentang konflik dan hubungan-hubungan yang hancur, entah dengan keluarga, Tuhan, alam, atau dengan diri sendiri. Empedu tanah adalah tanaman yang mempunyai rasa pahit, namun bisa dijadikan obat. Maka dari itu, Inggit berharap buku ini mampu menjadi penyembuh walau pahit.

empeduMulai Baca Sekarang!

Kamu bisa juga baca lewat versi e-book di sini >>> Empedu Tanah

5. Selama Laut Masih Bergelombang

Puisi-puisi dari Mariati Atkah di buku ini banyak yang bertemakan Indonesia Timur. Kamu akan menemui beberapa bahasa Bugis, yang kamu bisa lihat artinya di tiap catatan kaki. Kosakata tersebut membuat puisi yang tersaji semakin terasa membumi, mulai dari cinta, kegelisahan, putus asa, hingga budaya adat Sulawesi.

selamaMulai Baca Sekarang!

Baca e-booknya di sini >>> Selama Laut Masih Bergelombang

Buku-buku di atas bisa kamu dapatkan di Gramedia.com. Dan kamu bisa cek berbagai promo spesial dengan klik gambar di bawah ini.

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!

Kamu juga bisa upgrade akun Gramedia Digital kamu loh, dengan membeli paket Premium di bawah ini. Saatnya baca buku sepuasnya, di mana saja dan kapan saja!

premiumBebas Baca Semua Buku Sekarang!


Sumber foto header: Dok. Gramedia Pustaka Utama