Puasa Tak Hanya untuk Muslim

Puasa Tak Hanya untuk Muslim

. 2 min read

Ramadan menjadi waktu bagi umat muslim untuk melakukan kewajiban berpuasa. Selama satu bulan penuh, mereka dituntut untuk berlomba-lomba dalam kebaikan sebelum akhirnya merayakan kemenangan dengan berlebaran. Tapi tahukah Anda jika puasa tak hanya diharuskan untuk muslim? Agama lain pun memiliki ajaran berpuasa dengan tata cara yang serupa tapi tak sama dengan yang dilakukan dalam agama Islam.

Buddha

Dalam agama Buddha, puasa disebut Uposatha atau hari pengamalan. Lain halnya dengan puasa dalam Islam, Buddha memperbolehkan umatnya untuk minum pada saat puasa. Dalam ajaran Buddha, adalah wajib bagi seorang bhikku untuk berpuasa seumur hidupnya. Untuk umat yang awam, puasa hanya dianjurkan dua kali dalam sebulan yaitu pada saat bulan terang dan gelap (bulan purnama) ini pun bukan hal yang wajib.

Uposatha memiliki beberapa peraturan untuk kesempurnaan puasanya atau biasa disebut Uposatha-sila antara lain; tidak membunuh, tidak mencuri, tidak melakukan seks, tidak berbohong, tidak makan pada waktu yang salah (hanya boleh makan pada waktu dini hari sampai tengah hari), tidak bernyanyi, menari atau menonton hiburan dan juga tidak memakai perhiasan, kosmetik, atau parfum.

Buddha mengajarkan Uposatha dengan tujuan membuat batin menjadi lebih tenang dan pancaran cinta kasih yang dilakukan umat Buddha dapat berdampak luas, dan tentunya sebagai satu langkah baik agar dapat terbebas dari penderitaan dan mencapai kebahagiaan sejati.

Hindu

Tidak hanya sekadar berdiam diri di rumah, umat Hindu melakukan ritual Nyepi sambil berpuasa. Hal ini tidak wajib dilakukan, namun jika mampu, merasa masih sehat dan sudah tahu manfaat dari puasa, dianjurkan untuk melaksanakannya.

Selanjutnya, Umat Hindu diajarkan untuk Ekadasi atau puasa yang dilaksanakan pada hari ke sebelas setelah bulan purnama setiap dua minggu sekali. Dalam melakukan Ekadasi, umat Hindu pantang untuk memakan jenis masakan yang mengandung biji-bijian, telur, sayuran, ikan, daging binatang, roti, nasi, dan sebagainya. Jadi, hanya boleh memakan buah-buahan dan umbi-umbian.

Ekadasi jadi sarana bagi umat Hindu yang ingin belajar untuk dapat lebih sabar, dapat menahan hawa nafsu, juga bersyukur atas karunia yang didapat setiap harinya. Lebih jauh, pada saat Ekadasi umat Hindu juga dianjurkan untuk menghindari kegiatan yang menimbulkan dosa, dan konon, bertemu sang pacar juga merupakan salah satu hal yang perlu dihindari pada saat melakukan Ekadasi.

Kristen

Beberapa sumber mengatakan bahwa sebenarnya dalam alkitab, puasa bukanlah hal yang diwajibkan bagi umat Kristen. Namun pada saat yang bersamaan, alkitab menjelaskan bahwa puasa merupakan sesuatu yang berguna dan baik untuk dilakukan. Dalam kitab kisah para Rasul, orang-orang berpuasa sebelum mengambil keputusan-keputusan penting.

Pantangan yang harus dijaga umat Kristen pada saat puasa yaitu dengan memilih. Pantang semua makanan ataupun makanan tertentu yang keras maupun lembut, tapi tidak berpantang air. Puasa juga dapat dilakukan dengan membatasi satu jenis makanan sehingga bukan tidak makan sama sekali.

Puasa yang dilakukan umat Kristen bertujuan untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan dan menjadi pribadi yang lebih teladan dalam menjalankan ajaranNya.

Katolik

Dalam agama Katolik, puasa dan pantang dilakukan sebagai tanda pertobatan, tanda penyangkalan diri, dan tanda bahwa diri mempersatukan pengorbanan seperti pengorbanan yang dilakukan Yesus di kayu salib sabagai silih dosa umatnya dan demi mendoakan keselamatan dunia.

Puasa yang dilakukan umat Katolik dilangsungkan pada Rabu Abu dan Jumat Agung. Sedangkan pantang dilakukan pada Rabu Abu dan tujuh kali Jumat selama masa prapaskah sampai Jumat Agung.

Wajib puasa diperuntukkan bagi mereka yang berusia 18 tahun sampai awal umur 60an, namun yang wajib berpantang adalah mereka yang telah genap berusia 14 tahun ke atas. Dalam melaksanakan puasanya, umat Katolik hanya makan sekali dalam sehari. Sedangkan untuk pantang, mereka dapat memilih satu dari hal yang paling mereka sukai atau sering lakukan untuk dijadikan pantangan, dan hal ini dapat berupa makanan atau perbuatan.