Maman Suherman: Menguak Rahasia dengan Karya

Maman Suherman: Menguak Rahasia dengan Karya

. 5 min read

Maman Suherman. Banyak yang mengira ia berasal dari Sunda, padahal ia lahir di Makassar, Sulawesi Selatan tepatnya pada 10 November 1965. Maman adalah penggiat literasi terkenal yang akhir-akhir ini sering kita lihat di layar kaca.

Misalnya, di acara Indonesia Lawak Klub (ILK), Maman menduduki posisi sebagai notulen atau pelapor hasil diskusi dari para panelis. Kehadiran Maman memberikan warna tersendiri bagi program acara televisi tersebut. Maman dianggap mampu membuat acara lawak berbalut diskusi tersebut terkesan serius dan penuh dengan makna kehidupan.

Sebelumnya di awal tahun 1998 Maman juga pernah menjadi seorang jurnalis. Berawal dari reporter hingga menjabat sebagai pemimpin redaksi di Kelompok Kompas Gramedia.

Profil-Maman-Suherman-3source: ultimagz.com

Mengabdi pada dunia tulis-menulis

Pada tahun 2003 Maman berhenti bekerja di perusahaan. Sekarang ini, ia memilih mengabdikan dirinya ke dalam tulisan. Karya-karyanya antara lain Matahati (2012), Bokis 1: Kisah Gelap Dunia Seleb (2012), dan Bokis 2: Potret Para Pesohor (2013), Re: (2014), Notulen Cakeppp (2014), Virus Akal Bulus (2014), Notulen Cakeppp 2 (2015), 99 Mutiara Hijabers (2015), dan peRempuan (2016).

Karya-karyanya memang mengangkat topik yang jarang diangkat, namun sangat menarik untuk diulas dan dibaca, mulai dari kehidupan artis, pelacur, hingga negara Indonesia. Maka, tak heran bukunya sering nongkrong di rak best seller dan menuai banyak pujian.

Tulisan-tulisan satire

Tulisan dan kata-katanya yang bijak, sangat menyentuh hati dan membuat semua orang ingin membaca dan mendengarkannya. Tidak jarang, Maman menggunakan kata-kata satire saat penyampaian notulensinya yang beraroma sindiran kepada pihak-pihak yang dianggap melakukan suatu perbuatan yang tidak baik.

Namun itulah yang menjadikan dirinya terkenal. Saat ini popularitas Maman tak hanya sebatas tulisan dan buku-bukunya saja, namun juga menyentuh sosial media. Ratusan ribu followers bertengger di akun Instagram dan juga Twitter-nya. Lewat akun sosial medianya, Maman sering memposting tulisan-tulisan singkat serta kegiatan sehari-harinya.

Penasaran buku apa saja yang pernah ditulis pria yang juga akrab disapa Kang Maman ini? Berikut beberapa bukunya:

1. Bapakku Indonesia

Jika hanya dilihat dari judul bukunya pasti banyak yang mengira buku ini adalah buku nasionalis mengenai Tanah Air. Salah! Buku ini adalah autobiografi Ayahanda Kang Maman, yang memang dibuat khusus sebagai bentuk rasa sayang dan peghormatan pada mendiang sang ayah.

Buku ini akan mengungkap dan mencerita bagaimana Ayah Kang maman yang seorang TNI, menjadi suami, dan kepala keluarga dapat mendidik dan membesarkan Kang Maman serta keempat adiknya saat masih di Bone, Makassar.

Dalam bukunya Kang Maman bercerita dengan gaya bahasa yang friendly sehingga mudah dimengerti dan membuat pembacanya menjadi lebih dekat dan mengenal mendiang Ayah Kang Maman.

2. Bokis: Kisah Gelap Dunia Seleb

Dengan empati dan rasa humornya, Maman yang pernah berprofesi sebagai jurnalis infotainment kawakan, menyingkap kisah mencengangkan, menyedihkan, bahkan cerita konyol di balik gegap gempita panggung hiburan Indonesia.

Siapa sangka orang tua menghalalkan segala cara demi popularitas anaknya? Kamu yakin suara penyanyi yang kamu dengar adalah suaranya sendiri? Bagaimana pula seorang jurnalis menghadapi rayuan manis narasumbernya?

Dalam 33 artikel yang ditulisnya dengan gaya santai dan kocak di buku ini, kita akan diajak menatap apa yang selama ini tidak kita lihat dan menyimak apa yang belum pernah kita dengar. Di balik gemerlap dunia infotainment tersembunyi aneka kisah menyesakkan calon artis dan keluarganya.

Ternyata, di tengah industri hiburan media yang masif, terjadi persekongkolan agen artis, biro iklan, pejabat, politisi, sang artis, dan tidak terkecuali wartawan.

Semuanya dikupas cerdas oleh Kang Maman di dalam buku berjudul Bokis. Buku ini bisa menghibur karena penuh dengan anekdot lucu, tapi juga bisa menambah ilmu, karena tanpa disadari pembaca, dalam menulis Kang Maman tidak pernah lepas dari intelektualitasnya sebagai Sarjana Sosial.

3. Bhinneka Tunggal Cinta

Jika semboyan bangsa Indonesia adalah Bhinneka Tunggal Ika, Kang Maman memiliki semboyan lain untuk para pembaca, yaitu Bhinneka Tunggal Cinta. Buku ini bukanlah novel romantis mengenai cinta. Namun, sebuah buku kumpulan puisi yang dikarang sendiri oleh Kang Maman.

Puisi pertama dalam buku ini dimulai dengan judul "Iqra" yang terinspirasi dari sahabat sekaligus guru Kang Maman, yaitu Prof. Nadirsyah Hosen. Setelah itu dilanjutkan dengan 76 puisi berikutnya.

Puisi-puisi Maman Suherman ini terdiri dari berbagai tema yang menyangkut ketuhanan, luka, cinta, negara, dan banyak hal lainnya.

4. S(G)undul G(M)an Ba(I)d Day Pasti Berlalu - Edisi Revisi

Judul bukunya memang agak unik, kreatif, dan menarik seperti khas dari seorang Maman Suherman. Buku ini memang merupakan karangan dari Maman Suherman yang bercerita tentang dirinya sendiri selama 30 tahun terakhir.

Dari cerita awal Maman Suherman masih dalam dunia jurnalistiknya, lalu muncul di televisi untuk pertama kalinya, hingga cerita Maman yang fokus pada kegiatan kepenulisan, dan kreativitasnya akan dibeberkan semua dalam buku ini.

Selain cerita yang menginspirasi, buku ini juga dapat membuat kita semakin kagum akan penghargaan, pencapaian, serta sejumlah karya dari seorang Maman Suherman.

5. Re:

Karya Maman Suherman yang satu ini merupakan karya yang diangkat dari kisah nyata mengenai pelacur lesbian. Kisah ini bukanlah kisah biasa.

Berawal dari Herman, seorang mahasiswa kriminologi yang bertemu dengan Re: seorang pelacur lesbian. Herman menjadikan Re: sebagai objek penelitian skripsinya. Semula, herman menganggap Re: hanya sekadar objek penelitian skripsinya. Namun, yang terjadi malah sebaliknya.

Kisah hidup Re: yang berliku menyeret Herman hingga jauh ke dalam. Herman terpaksa terlibat dalam sisi tergelap dunia pelacuran yang bersimbah darah, dendam, dan air mata.

6. peREmpuan

peREmpuan adalah sekuel novel Re:. Buku ini menceritakan Melur, anak dari Re:. yang telah kembali ke Tanah Air dengan gelar PhD tersandang di belakang namanya. Namun sejumlah tanya mengenai hidupnya, ia bawa pulang.

Banyak misteri dalam kehidupannya yang ia ingin ketahui. Siapa sebenarnya ibu kandungnya? Betulkah ibunya diperjualbelikan, dipaksa menjadi pelacur lesbian? Apa penyebab kematian ibunya yang teramat tragis itu? Karena itulah Herman menyambut kedatangan Melur dengan risau.

Haruskah rahasia yang ia pendam lebih dari seperempat abad itu diungkap? Tidakkah hal itu akan memicu Melur untuk membalas dendam? Mengapa buku kehidupan perempuan harus sarat seloka luka?


Baca sinopsisnya saja sudah seru dan bikin penasaran kan, Grameds? Untuk kamu yang mau melihat koleksi buku Maman Suherman lainnya, kamu bisa langsung mengunjungi Gramedia.com ya!

Buat kamu yang sedang belajar meningkatkan minat baca ataupun ingin bertemu langsung dengan Maman Suherman, kamu dapat mengikuti exclusive talk show di The Reader Fest.

Dalam talk show ini Maman Suherman bersama duta baca Indonesia, Najwa Shihab akan berbicara mengenai peka literasi dan kaitannya dengan meningkatkan minat baca (#LebihPeduliDenganMembaca).

Catat tanggalnya ya!

Readers


Header image source: Tempo.co