Fakta Unik Pelopor Sumpah Pemuda Muhammad Yamin

Fakta Unik Pelopor Sumpah Pemuda Muhammad Yamin

. 3 min read
“Yamin biasa berjalan paling muka di pematang itu. Seperti pemimpin, ia menggiring barusan temannya untuk mandi di Batang Ombilin. Tampak kepemimpinannya di antara teman sebaya.”

Begitulah kesaksian ibu rumah tangga bernama Ramidi yang tinggal di desa yang sama dengan Muhammad Yamin dikutip dari buku seri Tempo Muhammad Yamin: Penggagas Indonesia yang Dihujat dan Dipuja. Buku biografi yang dibawakan secara jurnalistik itu mengulik tidak hanya masa kecilnya tetapi juga bagaimana ia dianggap sebagai pelaku keonaran dan dipenjara.

Muhammad Yamin punya beberapa peran dalam kemerdekaan Indonesia. Ia yang berasal dari Sumatra Barat mengawali kariernya saat bergabung dengan organisasi Jong Sumatranen Bond. Saat Kongres Pemuda II yang dilaksanakan pada 27 – 28 Oktober 1928, Muhammad Yamin memiliki peran krusial yaitu yang menyusun teks Sumpah Pemuda dan menetapkan Bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional.

Teks Pancasila juga berakar dari rancangan yang diajukan Muhammad Yamin. Saat pelaksanaan sidang BPUPKI pada 29 Mei – 1 Juni 1945, ia mengusulkan lima gagasan dasar negara yang terdiri atas perikebangsaan, perikemanusiaan, periketuhanan, perikerakyatan, dan kesejahteraan rakyat.

Di balik peran krusialnya terhadap Indonesia, tokoh nasional yang dijuluki pelopor Sumpah Pemuda ini memiliki fakta unik yang belum banyak orang tahu. Fakta-fakta berikut disarikan dari buku seri Tempo Muhammad Yamin: Penggagas Indonesia yang Dihujat dan Dipuja.

1. Cepat bosan sehingga pindah-pindah sekolah

Bila kamu sering sekolah karena harus mengikuti orang tua atau kerabaat yang membesarkanmu, Muhammad Yamin pun mengalami hal yang sama. Namun, selain kondisi tersebut, ia juga berpindah-pindah karena cepat bosan.

Dalam buku disebutkan bahwa ia tak cocok dengan pelajaran. Seperti ketika ia mendapat beasiswa untuk belajar di Sekolah Dokter Hewan, ia mengaku tidak tertarik pada binatang dan penyakitnya dan beralih ke Sekolah Pertanian di Bogor untuk mempelajari kehidupan flora. Lalu, ke sekolah mana lagi ia berpaling?


Baca juga:


2. Pernah usulkan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional

Kita tahu bahwa ia berperan dalam memutuskan bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional. Namun, ia juga sempat mengusulkan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional. Sejarawan Restu Gunawan mengiyakannya sambil mengatakan bahwa ia bukan yang pertama.

Sebelumnya, Ki Hajar Dewantara juga mengusulkan hal yang sama dalam Kongres Pengajaran Kolonial di Den Haag, Belanda pada 28 Agustus 1916. Kalau bahasa nasional Indonesia adalah Melayu, mungkinkah Indonesia bakal lebih akur dengan negara tetangga Malaysia karena memiliki bahasa yang sama?

3. Lagu nasional “Indonesia Raya” adalah gubahannya

Di buku-buku pelajaran sejarah sekolah, pencipta lagu “Indonesia Raya” adalah Wage Rudolf Soepratman. Namun, beberapa sumber lain menyatakan syair lagu “Indonesia”—yang sekarang dikenal “Indonesia Raya”—adalah gubahan Muhammad Yamin.

Salah satu sumber tersebut adalah buku Otobiografi A.A. Navis: Satiris dan Suara Kritis dari Daerah. Dalam buku tersebut, A.A. Navis menyebutkan, “Komposisi nadanya disusun W.R. Soepratman dan kata-katanya oleh Muhammad Yamin.” Ada beberapa sumber lain yang disebutkan dalam buku seri Tempo ini.

4. Sempat huni 26 tempat penahanan

Muhammad Yamin disebut-sebut sebagai salah satu pelaku kudeta pertama setelah Indonesia merdeka pada 3 Juli 1946. Sebuah maklumat yang dibuat olehnya dianggap sebagai kudeta dan karena hal itu Yamin harus hidup di 26 tempat penahanan berbeda dalam dua tahun.

Namun, setelah itu ia mendapatkan grasi dari Presiden pertama RI Ir. Soekarno dan kemudian mejadi menteri yang bahkan lebih dari sekali. Saat menjadi Menteri Kehakiman, Yamin membebaskan tahanan politik (tapol) sebanyak 950 orang yang dicap komunis atau sosialis. Jejaknya itu membuat Muhammad Yamin disebut sebagai tokoh nasional yang kontroversial.

Profil
Muhammad Yamin bersama kelompoknya (Sumber Gambar: Wikipedia)

5. Sastrawan yang gemar membaca

Dari semuanya, salah satu hal yang menyenangkan dari Muhammad Yamin adalah dia gandrung membaca sejak kecil. Ia rajin membaca karena begitu haus akan ilmu seperti yang disampaikan dalam buku Muhammad Yamin: Sosok Seorang Nasionalis (2005) karya Momon Abdul Rahman dan Darmansyah. Untungnya ada Komisi untuk Bacaan Sekolah Pribumi dan Bacaan rakyat yang menerbitkan banyak buku berbahasa Melayu sebagai bacaan yang dilahap Yamin.

Muhammad Yamin disebut sastrawan karena dirinya kerap menciptakan sonata-soneta yang dikumpulkan dalam sebuah buku berjudul Tanah Air pada 9 Desember 1922. Ia juga merilis buku kumpulan puisi keduanya berjudul Indonesia, Tumpah Darahku.


Masih banyak fakta lain yang bisa dikulik tentang pelopor Sumpah Pemuda dalam buku seri Tempo Muhammad Yamin: Penggagas Indonesia yang Dihujat dan Dipuja. Untuk merayakan Hari Sumpah Pemuda yang jatuh setiap tanggal 28 Oktober, kamu juga bisa membaca biografi pelopornya dengan mendapatkannya di Gramedia.com.

Seri
Seri Tempo “Muhammad Yamin: Penggagas Indonesia yang Dihujat dan Dipuja”


Sumber gambar header: Kompas.com