Contek 5 Prinsip Penting Investasi Saham ala Warren Buffett

. 3 min read

Nama Warren Buffett memang terdengar tak asing, terutama dalam dunia ekonomi dan bisnis. Buffett merupakan miliarder asal Amerika Serikat yang dikenal sebagai investor tersukses.

Pengusaha kelahiran Nebraska, Amerika Serikat ini bahkan menempati peringkat ketiga dalam daftar orang terkaya di dunia versi Forbes pada tahun 2018 kemarin.

Lalu, bagaimana bisa Warren Buffett sukses dalam melakukan investasi saham? Dalam buku Nabung Saham Sekarang yang ditulis Ellen May, terungkap sepuluh prinsip penting investasi saham yang dipegang oleh Warren Buffet.

Dari sepuluh prinsip yang ada, berikut adalah lima prinsip penting investasi saham ala Warren Buffett. Sangat cocok untuk kamu yang sedang belajar cara berinvestasi saham.

1. Beli bisnis, bukan beli saham

pexels-photo-802024Sumber: Pexels.com

Dalam berinvestasi, Warren Buffett selalu memegang prinsip bahwa ia tak sekadar membeli saham, tetapi juga membeli bisnis.

Saham yang dibeli pun perlu dipandang oleh investor sebagai bukti kepemilikan bisnis. Dengan kata lain, seorang investor termasuk salah satu pemilik perusahaan apabila telah membeli saham perusahaan tersebut.

Melalui pola pikir seperti itu, kamu bukan hanya melakukan kegiatan jual beli saham, melainkan turut menyisipkan pandangan jangka panjang selaku salah satu pemilik perusahaan tersebut.

2. Beli bisnis yang mudah dipahami

pexels-photo-351264Sumber: Pexels.com

Satu lagi prinsip Warren Buffett dalam berinvestasi, yaitu membeli saham alias bisnis dari suatu perusahaan yang mana kamu kenali dan pahami betul.

Misalnya, kamu dapat melakukan investasi di perusahaan perbankan karena memang bekerja di bank. Ini dilihat dari cukup luasnya pengetahuan dan pemahaman kamu dalam industri perbankan ketika memiliki pekerjaan di sebuah bank.

Pun apabila ingin menanamkan modal di perusahaan yang sektor industrinya kurang dikenali, kamu dapat memelajari seluk-beluk seputar perusahaan tersebut terlebih dahulu.

Salah satu contoh yang bisa dilakukan adalah membaca sejumlah analisis dari laporan keuangan perusahaan sehingga memeroleh gambaran kinerja perusahaan tersebut.

3. Kinerja yang konsisten

pexels-photo-241544Sumber: Pexels.com

Tentunya kita tidak ingin kehilangan uang yang telah diinvestasikan. Oleh karena itu, selaku investor perlu menanamkan modal pada perusahaan yang memiliki kinerja dan penghasilan laba yang konsisten.

Dengan begitu, perusahaan yang menghasilkan laba secara konsisten akan memiliki kemampuan untuk membagikan dividen kepada para pemegang saham.

Seperti pada prinsip nomor dua, kita dapat memelajari perolehan laba dari analisis laporan keuangan suatu perusahaan.

4. Beli saham untuk jangka panjang

pexels-photo-955447Sumber: Pexels.com

Sebagian investor mungkin beranggapan satu, lima, atau sepuluh tahun adalah jangka waktu yang tepat untuk menuai laba dari penanaman saham.

Namun, tidak bagi Warren Buffett. Buffett memiliki prinsip bahwa “selama-lamanya” merupakan durasi yang ideal untuk berinvestasi. Keuntungan yang didapat pun kian baik saat kita semakin lama memegang saham di perusahaan yang tepat.

Selama laba perusahaan yang dihasilkan terus konsisten, kamu tidak perlu menjual saham yang tertanam di perusahaan tersebut.

5. Jangan tergiur saham murah

pexels-photo-210607Sumber: Pexels.com

Menurut buku Nabung Saham Sekarang, Warren Buffett menyarankan untuk membeli saham yang terdiskon nilai/valuasinya. Dalam hal ini, nilai merupakan harga saham yang dibandingkan dengan kemampuan perusahaan menghasilkan laba.

Maka walaupun nilai saham rendah alias terdiskon dan harganya cukup mahal, saham tersebut bisa dikatakan berpotensi menghasilkan keuntungan bagi investor jika memiliki laba (earnings per share) yang tinggi.


Selain lima prinsip di atas, masih ada lima lagi prinsip penting investasi saham ala Warren Buffett yang terungkap dalam buku karya Ellen May berjudul ***Nabung Saham Sekarang***.

Untuk mendapatkan bukunya, kamu dapat langsung mengunjungi Gramedia.com atau Gramedia Digital ya.

BUKU BISNIS & EKONOMI


Sumber header foto: Time Magazine