Potret 1965: Gerakan 30 September, Wabah Cacar, dan Gejala yang Sering Kita Abaikan
Tahun 1965.
Grameds, kalau mendengar tahun tersebut, kita mungkin langsung teringat pada ketegangan politik, Gerakan 30 September (G30S), dan perubahan besar yang mengikutinya.
Tapi ada satu hal yang mungkin tidak langsung muncul dalam ingatan kita: wabah cacar.
Ya, penyakit dengan bintil-bintil yang dulu begitu ditakuti itu ternyata masih menjadi persoalan kesehatan serius di Indonesia pada tahun yang sama. Bukan karena vaksinnya tidak ada, tetapi karena memberantas penyakit tidak sesederhana memberikan vaksin.
Bahkan, 56.359 kasus cacar tercatat sepanjang 1965.
Dan dari sini, cerita tentang G30S membawa kita ke sebuah cerita lain yang jarang ikut disebut: jejak cacar yang bertahan di tengah Indonesia yang bergolak.
Lantas, bagaimana sebuah wabah tetap merayap, ketika perhatian seluruh negeri sedang teralihkan? 💭
Ketika Variola Bertamu pada Tahun 1965
Penyakit cacar yang disebabkan virus variola sudah lebih dulu menjadi masalah di Indonesia. Berbagai program vaksinasi dijalankan untuk menekan penyebarannya, tetapi pemberantasan penyakit ternyata membutuhkan lebih dari sekadar vaksin.
Ada petugas yang harus bergerak, wilayah yang harus dijangkau, kasus yang perlu ditemukan, dan masyarakat yang menunggu perlindungan sampai ke tempat mereka.
Lalu datanglah tahun 1965.
Di tengah ketegangan politik yang semakin memanas hingga Gerakan 30 September (G30S), Indonesia memasuki masa yang penuh perubahan. Sementara itu, pekerjaan pemberantasan cacar tetap harus berjalan di lapangan.
Karena ketika keadaan di sebuah negara mulai berubah, bahkan perjalanan sebuah vaksin pun bisa ikut punya cerita.
Lalu, seberapa besar sebenarnya persoalannya?
Jawabannya ada pada beberapa angka dan fakta yang mungkin selama ini luput ketika kita membicarakan 1965.
Sebuah Vaksin dan Perjalanan yang Tidak Sederhana
Kalau mendengar program pemberantasan penyakit, kita mungkin membayangkan sesuatu yang sederhana: ada penyakit, juga vaksin.
Sayangnya, dunia nyata tidak sesederhana itu.
Agar vaksin sampai ke masyarakat, banyak hal harus ikut bergerak. Petugas perlu mendatangi wilayah yang membutuhkan, kasus harus ditemukan, dan informasi harus dicatat. Semua itu membutuhkan biaya, tenaga, perjalanan, dan akses yang memadai.
Di Indonesia pada 1960-an, semuanya bukan perkara mudah.
Wilayah yang luas membuat petugas harus menempuh perjalanan panjang untuk menjangkau masyarakat. Penelitian mengenai pemberantasan cacar di Indonesia juga menunjukkan bahwa kondisi geografis kepulauan menjadi salah satu tantangan dalam menjalankan kampanye pemberantasan penyakit.
Namun, tantangannya ternyata tidak hanya datang dari jarak.
Di sebagian masyarakat, cacar juga dikaitkan dengan kepercayaan terhadap makhluk gaib yang disebut jurig kuris. Sosok seram ini menjadi bagian dari ingatan masyarakat mengenai penyakit dan turut memengaruhi bagaimana vaksinasi dipandang.
Pengalaman vaksinasi pun punya cerita tersendiri.
Dalam sebuah kesaksian dari Pameungpeuk, Kabupaten Garut, anak-anak sekolah dasar mengalami proses yang disebut “dikuris”. Pada tahap awal, vaksinasi dilakukan dengan menggoreskan alat seperti kalam pada lengan. Proses ini cukup membuat anak-anak ketakutan. Ada yang bahkan kabur dari sekolah dan bersembunyi di alun-alun.
Bekas goresan yang kemudian terasa sakit dan disertai demam membuat pengalaman tersebut semakin menakutkan. Apalagi, di tengah kepercayaan tentang jurig kuris, proses vaksinasi bisa terasa seperti menghadapi sesuatu yang selama ini mereka takuti.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa perjalanan vaksinasi bukan hanya soal bagaimana vaksin diberikan, tetapi juga bagaimana vaksin itu sampai, diterima, dan dirasakan oleh masyarakat.
Vaksin mungkin hanya berukuran beberapa mililiter. Tapi perjalanan untuk membawanya sampai ke seseorang bisa jauh lebih panjang.
Dan ketika situasi politik serta keamanan berubah pada periode setelah Gerakan 30 September, pekerjaan di lapangan berlangsung dalam kondisi yang juga ikut berubah. Program pemberantasan cacar tetap membutuhkan tenaga, pengawasan, pencarian kasus, dan kemampuan untuk menjangkau masyarakat.
Di sinilah angka 56.359 kasus pada 1965 mulai terasa berbeda.
Ia bukan sekadar angka tentang berapa banyak orang yang terkena cacar. Di baliknya ada sebuah program yang sedang berusaha mengejar penyakit, sementara keadaan di lapangan membuat pekerjaan tersebut tidak selalu bisa berjalan sesederhana yang direncanakan.
Dan untuk memahami mengapa tahun 1965 menjadi begitu kompleks, kita perlu kembali melihat Indonesia pada tahun yang sama. ⏪
Menyaksikan 1965 Enggan Berjalan Seperti Biasa
Sementara cacar masih harus dikejar dari satu wilayah ke wilayah lain, Indonesia sendiri sedang menghadapi persoalan yang jauh lebih besar.
Menjelang akhir September 1965, ketegangan politik antara berbagai kekuatan di Indonesia semakin memuncak. Pada malam 30 September hingga dini hari 1 Oktober, terjadi peristiwa yang kemudian dikenal sebagai Gerakan 30 September (G30S).
Sejumlah perwira tinggi Angkatan Darat menjadi korban penculikan dan pembunuhan. Kelompok yang terlibat dalam gerakan tersebut juga menguasai Radio Republik Indonesia dan menyampaikan pernyataan politik melalui siaran radio. Pada 1 Oktober, pasukan Angkatan Darat di bawah kendali Mayor Jenderal Soeharto kemudian mengambil alih sejumlah titik strategis di Jakarta.
Setelahnya, Indonesia memasuki periode perubahan politik yang sangat besar.
Dan seperti banyak peristiwa besar dalam sejarah, dampaknya tidak berhenti di tempat peristiwa itu berlangsung. Situasi politik dan keamanan berubah. Kekuasaan bergeser. Kehidupan masyarakat memasuki masa yang penuh ketidakpastian. Termasuk pekerjaan yang kelihatannya tidak ada hubungannya dengan politik: memberantas cacar.
Karena ketika sebuah negara sedang menghadapi pergolakannya sendiri, pekerjaan lain di dalamnya tetap harus berjalan.
Maka persoalannya bukan lagi sekadar, “berapa banyak kasus cacar pada 1965?”
Melainkan, apa yang terjadi pada sebuah program kesehatan ketika negara yang menjalankannya sedang ikut berubah?
Baca juga: Merasa Hampa di Balik Rutinitas: Pelajaran Menemukan Keajaiban Hidup di 'The Life Impossible’
Kala Tunas Mungil Mulai Menjalar 🌱
Mungkin, dari sini kita bisa melihat sesuatu yang lebih besar.
Penyakit punya gejala. Kadang jelas, kadang samar, kadang terlihat seperti sesuatu yang masih bisa kita abaikan sebentar.
Sebuah sistem juga bisa menunjukkan tanda-tanda ketika sesuatu di dalamnya mulai tersendat. Informasi yang tidak sampai. Layanan yang terlambat. Wilayah yang tidak terjangkau. Persoalan yang terus muncul, tetapi selalu terasa bisa dibereskan nanti.
Satu per satu mungkin terlihat kecil. Tapi sesuatu yang dibiarkan terlalu lama bisa tumbuh jauh melampaui bentuk awalnya.
Kisah cacar pada 1965 memperlihatkan bahwa persoalan kesehatan tidak pernah sepenuhnya berdiri sendiri. Ketika keadaan di sekitarnya berubah, pekerjaan yang sebelumnya berjalan rutin pun dapat ikut kehilangan kelancarannya.
Bukan karena satu krisis otomatis menyebabkan krisis lainnya. Melainkan karena dalam sebuah sistem, gangguan pada satu bagian bisa membuat bagian lain ikut kehilangan pijakan.
Dan di situlah sejarah menjadi menarik.
Sebab terkadang, jejak yang paling panjang justru berawal dari sesuatu yang nyaris tidak kita perhatikan. 👣
Lima Rekomendasi untuk Menatap Sejarah Tanpa Lensa Tunggal 📚
Kalau kisah cacar pada 1965 membuatmu ingin melihat sejarah dari sudut yang lebih luas, beberapa buku berikut bisa menjadi pintu masuk untuk menelusuri berbagai cerita di baliknya.
Intip rekomendasinya di sini!
Nyanyian Bisu dalam Orkestra Bayang-Bayang Refleksi 60 Tahun G30S : Sebuah Novel Sejarah — Yusron Ihza
Bagaimana mendefinisikan Indonesia ketika jawabannya ternyata tidak pernah sederhana?
Pertanyaan itu mengikuti Zenius Tafsir, atau Taf, ketika ia kembali ke tanah kelahirannya di Tanjung Pandan setelah bertahun-tahun hidup dan belajar di luar negeri. Dari sana, ia mulai menyusun kembali potongan-potongan cerita, kegelisahan, dan suara-suara yang pernah memilih diam maupun dipaksa untuk diam.
Cocok untuk kamu yang ingin membaca sejarah melalui cerita fiksi dan menikmati kisah yang mengajak melihat Indonesia dari sudut pandang yang lebih reflektif.
Educomics Plant Vs Zombies: Pencegahan Wabah — Xiao Jiang Nan
Menggunakan karakter dari gim Plants vs. Zombies 2, buku ini mengajak anak-anak mengenal berbagai penyakit menular, faktor epidemi, serta cara mencegah dan mengendalikan penyebarannya. Informasi ilmiah dikemas melalui cerita komik ringan, jenaka, dan dilengkapi berbagai fakta menarik.
Cocok untuk kamu yang sedang mencari bacaan edukatif tentang kesehatan dan penyakit menular untuk anak dengan penyampaian yang ringan dan menyenangkan.
G30S & ASIA — Aiko Kurasawa
Bagaimana peristiwa di Indonesia ikut dibaca dan direspons oleh negara-negara lain di Asia?
Buku ini membawa pembaca keluar dari batas Indonesia untuk melihat G30S dalam konteks politik Asia dan Perang Dingin. Pembahasannya mencakup respons pemerintah, masyarakat, hingga pemberitaan media di sejumlah negara seperti Jepang, Korea Utara, Korea Selatan. Tiongkok, Taiwan, Malaysia, Filipina, dan Vietnam.
Cocok untuk kamu yang ingin memahami G30S bukan hanya dari konteks dalam negeri, tetpi juga dinamika politik dan respons negara-negara Asia di sekitarnya.
Wabah dan Pandemi — Meera Senthilingham
Dari cacar, campak, malari, polio, HIV, hingga COVID-19, manusia sudah berabad-abad berhadapan dengan penyakit menular.
Disini kamu akan diajak melihat bagaimana manusia menghadapi wabah dan pandemi dari waktu ke waktu, sekaligus mengenal berbagai istilah seperti wabah, epidemi, pandemi, isolasi, dan kekebalan kelompok. Pembahasannya tidak berhenti pada aspek medis, tetapi juga melihat kaitan penyakit menular dengan sejarah, politik, dan kehidupan sosial.
Cocok untuk kamu yang ingin memahami sejarah wabah secara lebih luas dan melihat bagaimana penyakit dapat memengaruhi kehidupan manusia jauh melampui urusan kesehatan.
1965 Pada Masa Kini — Aboeprijadi Santoso
Enam puluh tahun berlalu, tetapi peristiwa 1965 masih menyisakan pertanyaan tentang ingatan, sejarah, kekerasan, dan bagaimana sebuah masyarakat memahami masa lalunya.
1965 Pada Masa Kini merupakan terjemahan edisi khusus Journal of Genocide Research yang menghimpun sembilan artikel akademis. Pembahasannya menelusuri bagaimana kekerasan 1965 terjadi, bagaimana masyarakat memaknainya, serta mengapa peristiwa tersebut masih relevan bagi Indonesia dan dunia hingga sekarang.
Cocok untuk pembaca yang ingin mendalami peristiwa 1965 melalui tulisan akademis dan melihat bagaimana sejarah terus memengaruhi ingatan kolektif serta kehidupan masyarakt masa kini.
Dari Membaca Gejala, Sampai Membaca Sejarah 📖✨
Pada akhirnya, sejarah selalu punya lebih dari satu lapisan. Ada yang tercatat dalam buku, tersimpan dalam kesaksian, dan baru terlihat ketika kita berani menghubungkan potongan-potongan kecilnya.
Kisah cacar pada 1965 mengingatkan kita bahwa untuk memahami sebuah zaman, terkadang kita perlu melihat hal-hal yang berada di pinggir cerita. Dan buku adalah salah satu cara untuk melakukannya. ✨
Kalau ingin melanjutkan perjalanan membaca tentang sejarah, wabah, dan berbagai sudut pandang baru, ada Promo Payday Sale yang hadir selama periode 25-30 September 2026 untuk buku terbitan Gramedia dengan diskon hingga 70%! 😍
🛒Jangan biarkan rasa penasaran berhenti di sini. Temukan buku pilihanmu dan nikmati promonya sekarang! 📚✨
✨Jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna!