Perpustakaan: Arungi Dunia Segala Dunia

Perpustakaan: Arungi Dunia Segala Dunia

. 5 min read

Our school holiday is nearly over and we gotta back to reality soon.

Waktunya para pelajar menyambut tahun ajaran baru! Sebagian dari kamu mungkin merasa gembira karena akan bertemu kembali dengan teman-teman di sekolah. Tidak jarang beberapa dari kamu merasa gugup dan bertanya-tanya, "Banyak yang kukenal nggak ya di kelas baru?" atau "Kira-kira aku sekelas lagi nggak ya dengan sahabatku?". Mungkin ada juga yang malas masuk sekolah karena masih ingin bermalas-malasan di rumah. Apalagi saat hari pertama masuk sekolah, kegiatan belajar-mengajar lazimnya belum diselenggarakan secara efektif. Bahkan para guru kerap tidak berada di kelas seharian.

Agar tetap produktif alias terhindar dari kegabutan, ada kegiatan-kegiatan yang biasanya dilakukan siswa-siswi di kelas. Mulai dari berkenalan dengan teman baru, ngobrol dengan teman lama, hingga bermain permainan seperti kartu remi atau Uno. Jika sudah mulai bosan, kantin menjadi tujuan terakhir untuk menghabiskan waktu sampai jam pulang sekolah. Padahal ada satu tempat yang dapat dimanfaatkan untuk mengisi waktu senggang di sekolah. Tempat itu adalah perpustakaan.

Pada umumnya, perpustakaan menyediakan beragam jenis bacaan, seperti koleksi buku, majalah, dan koran. Namun, seiring dengan perkembangan teknologi, mayoritas perpustakaan kini telah dilengkapi oleh komputer dan jaringan internet. Selain dikelola oleh sekolah, perpustakaan pun dapat dikelola secara pribadi atau perseorangan. Ada juga perpustakaan yang dikelola oleh kota-kota tertentu di sebuah negara.

Berikut lima perpustakaan di dunia yang akan bikin kamu tertarik untuk memasukinya.

1. Deichman Stovner Library – Norwegia

Deichman Stovner Library - Norway
Image source: www.aatvos.com

Norwegia menempati peringkat dua dari 61 negara dalam penelitian The World’s Most Literate Nations Ranked oleh Central Connecticut State University. Tingkat literasi yang tinggi tersebut tentu didukung oleh ketersediaan buku dan ruang membaca di Norwegia. Dilansir dari situs lifeinnorway, terdapat lebih dari 800 perpustakaan yang dibuka untuk publik di Norwegia.

Salah satu perpustakaan tersebut adalah Deichman Stovner Library yang terletak di Oslo, ibukota Norwegia. Saat memasuki perpustakaan, kamu bisa melihat berbagai elemen kayu dan warna hijau yang mendominasi setiap sudut ruangan. Usut punya usut, ternyata desain interior tersebut terinspirasi dari jarak kota Oslo dengan hutan yang dapat ditempuh sekitar 15 menit perjalanan. Selain itu, koleksi buku di Deichman Stovner Library dibedakan menurut usia para pengunjung. Hal ini pun memudahkan pengunjung untuk menemukan buku yang ingin dibaca.

2. Bodleian Library - Inggris

Bodleian Library - England
Image source: www.oxfordtoday.ox.ac.uk

Did you know that the filming of Harry Potter used some real-life places? Well, salah satu lokasi syuting Harry Potter yang dapat benar-benar kamu kunjungi adalah Bodleian Library di Oxford. Bodleian Library merupakan salah satu perpustakaan tertua di Eropa dan kedua terbesar di Inggris. Selain bangunan utama, koleksi buku Bodleian Library juga dapat ditemukan di sebuah bangunan klasik berbentuk bundar bernama Radcliffe Camera. Pada tahun 2015 lalu, Weston Library sebagai ruang akademik baru di Bodleian pun dibuka untuk publik. Hingga saat ini, koleksi karya cetak yang dimiliki Bodleian Library sudah mencapai lebih dari 13 juta buah.

Bodleian Library dibuka pertama kali untuk para pelajar pada tahun 1602. Akan tetapi, kini para turis juga dapat berkunjung dengan mengikuti tur yang ditawarkan oleh pengurus Bodleian Library. Pengunjung harus menitipkan smartphone, kamera, dan tas di lemari-lemari penyimpanan terlebih dahulu. Hal ini dilakukan agar mahasiswa yang sedang belajar tidak terganggu sekaligus menjaga ketenangan. Selain itu, kamu harus bersumpah terlebih dahulu jika ingin membaca di Bodleian Library. Sumpah ini dikenal dengan Thomas Bodley’s Oath. Uniknya, kamu perlu bersumpah dalam bahasa ibu. Tenang saja, kalimat sumpah tersebut sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 100 bahasa kok!

3. Microlibrary Taman Bima – Indonesia

Microlibrary Taman Bima by SHAU Architect - Indonesia
Image source: www.shau.nl

Minat baca di Indonesia masih terbilang kurang. Berbagai upaya untuk mengatasi hal tersebut pun bermunculan. Salah satunya adalah dengan didirikannya microlibrary yang terletak di Taman Bima, Kelurahan Arjuna, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung. Microlibrary Taman Bima ini dibangun oleh SHAU Architect yang bekerja sama dengan Pemerintahan Kota Bandung dan Dompet Dhuafa.

Bangunan ini terdiri dari dua lantai di mana lantai pertama dapat digunakan sebagai ruang multifungsi oleh pengunjung atau warga sekitar. Sedangkan, koleksi buku perpustakaan tersusun rapi dalam rak-rak buku di lantai dua. Bagian luar lantai dua Microlibrary Taman Bima terdiri dari ember-ember es krim bekas. Yang membuatnya makin menarik, ternyata susunan ember es krim tersebut membentuk sebuah pola kode biner. Jika disandikan, maka pola tersebut mengandung makna “buku adalah jendela dunia“. Yuk singgah ke Microlibrary Taman Bima kalau lagi ke Bandung!

4. My Tree House of Central Public Library – Singapura

My Tree House of Central Public Library - Singapore
Image source: www.futurarc.com

My Tree House merupakan salah satu bagian perpustakaan Central Public Library di Singapura yang diperuntukkan bagi anak-anak. Sedangkan, koleksi buku selain buku anak dapat diakses di ruangan lain dari Central Public Library. My Tree House memiliki sekitar 45.000 koleksi buku untuk anak usia 4-12 tahun. Mulai dari buku cerita rakyat, dongeng anak, hingga fantasi. Ada juga buku-buku bertema alam semesta, seperti binatang dan tumbuhan, lingkungan, cuaca, sumber air, dan perubahan iklim. Begitu memasuki perpustakaan ini, kamu akan disuguhi desain interior yang unik. Langit-langit ruangan dilukis menyerupai langit dan awan, ada berbagai ornamen binatang dan tumbuhan, dan tentu saja rumah pohon di tengah-tengah ruangan.

My Tree House diketahui merupakan perpustakaan ramah lingkungan pertama untuk anak-anak di seluruh dunia. Infrastruktur dan desain perpustakaan mengusung konsep berkelanjutan yang mendukung 3R, yakni reduce, reuse, dan recycle. Sebagai contoh, My Tree House memanfaatkan penggunaan rak buku bekas yang diperbaharui atau direnovasi kembali. Selain itu, ternyata ornamen daun pada rumah pohonnya terbuat dari 3.000 botol plastik yang didaur ulang oleh publik setempat. Kreatif dan inovatif sekali ya perpustakaan ini!

5. Thomas Fisher Rare Book Library – Kanada

Thomas Fisher Rare Book Library - Canada
Image source: www.heritage.utoronto.ca

University of Toronto di Kanada memiliki sebuah perpustakaan, yaitu Thomas Fisher Rare Book Library. Seperti namanya, perpustakaan ini merupakan tempat kediaman koleksi buku langka yang sangat berharga. Perpustakaan ini juga menyimpan berbagai manuskrip dan benda langka lainnya, serta arsip resmi University of Toronto. Hingga kini, koleksi Thomas Fisher Rare Book Library mencapai sekitar 700.000 jilid buku dan 3.000 manuskrip langka. Semua itu dapat diakses publik dengan Fisher reader card yang hanya bisa diperoleh dari meja resepsionis.

Lalu, apa saja koleksi-koleksi langka yang dimiliki Thomas Fisher Rare Book Library? Salah satunya adalah jilid pertama karya Shakespeare yang hanya tersisa 232 dari 750 kopi yang dicetak pada 1623. Ada juga beberapa gambar yang merupakan visualisasi Alice in Wonderland dari pelukis terkenal asal Spanyol, Salvador Dali. Kamu juga bisa menemukan catatan-catatan yang dibuat oleh Frederick Banting atas penelitiannya tentang insulin. Masih banyak koleksi langka lain yang bisa kamu temukan di perpustakaan ini. Kalau jalan-jalan ke Kanada, yuk mampir ke Thomas Fisher Rare Book Library!


Menyatukan dua quotes menarik dari Erasmus, seorang akademisi asal Belanda dan Albert Einstein yang merupakan seorang ilmuwan dunia, “your library is your paradise“ so that “the only thing that you absolutely have to know, is the location of the library”. Ayo kunjungi perpustakaan sekolahmu atau perpustakaan terdekat di kotamu!