Perjalanan Menuju Pulang, Kisahkan Perempuan di Antara Ruang dan Waktu

Perjalanan Menuju Pulang, Kisahkan Perempuan di Antara Ruang dan Waktu

. 3 min read

Lala Bohang, gadis kelahiran Sulawesi ini telah berhasil menuliskan karyanya The Book of Forbidden Feelings dan The Book if Invisible Questions. Dan kini Lala Bohang menerbitkan buku Fiksi dan Sastra yang berjudul Perjalanan Menuju Pulang.

Lulusan Universitas Parahyangan ini juga bekerja sebagai stylist, selain menjadi ilustrator dan penulis. Dalam bukunya yang berjudul Perjalanan Menuju Pulang, ia menceritakan tentang arti dari sebuah perjalanan Menuju Pulang yang sebenarnya. Bahwa dalam hidup, manusia tetap butuh tempat untuk pulang.

Perjalanan Menuju Pulang mengisahkan Perempuan di Antara Ruang & Waktu menghimpun banyak cerita. Ada juga surat, ilustrasi, serta pertanyaan yang dieksplorasi Lala Bohang dan Lara Nuberg, sejarawan dan penulis Indo Belanda, dalam suatu program yang mempertemukan dan membawa mereka dalam penjelajahan batin yang bermakna.

Apakah buku ini merupakan kisah kehidupan, terkait dengan keberadaan Belanda selama 350 tahun di kepulauan Indonesia? Atau sejarah kolonial tersebut nyaris tidak meninggalkan jejak dalam kehidupan kedua perempuan muda ini? Pada saat dunia sudah meninggalkan kolonialisme dan pascakolonialisme, kita memasuki tahap baru dalam sejarah. Sejarah apakah yang ditulis Lala Bohang dalam buku ini?

bukuBeli Bukunya disini!

Perjalanan Menuju Pulang diawali dari pertemuan Lala Bohang dan Lara Nuberg dalam sebuah lokakarya. Obrolan santai mereka tentang hidangan khas nenek masing-masing, yang berasal dari dua latar budaya yang berbeda, namun ternyata serupa! Yup, masakan kuno dengan nama berbeda itu ternyata adalah masakan yang sama. Mereka menyadari bagaimana hidangan dan sejarah di belakangnya sangat memengaruhi keluarga dan diri mereka sendiri.

Lala dan Lara pun menelusuri asul-usul keluarga mereka, mencoba mengenal mulai dari nenek buyut masing-masing yang nyatanya begitu asing, selain dari foto hitam-putih yang disimpan keluarga mereka sejak lama.

Lala menyadari betapa besar kekosongan informasi yang ia miliki soal nenek buyutnya. Dan dalam penelusuran ini, Lala melihat bahwa asal-usul keluarganya merupakan bagian dari sejarah dunia yang lebih besar, dari yang tak pernah ia kira sebelumnya.

Nenek buyut Lara adalah putri seorang perempuan campuran Indonesia dengan Belanda dan seorang pria Belanda. Namun kemudian terungkap, bahwa ayah Belanda nenek buyut Lara, bukanlah ayah kandungnya. Ayah kandung sang nenek buyut ternyata seorang laki-laki dari Ambon.

Ketika Lara berkunjung ke Indonesia, kebanyakan orang memandang dia sebagai “bule” alias turis. Akar Indonesia yang mengalir dalam darahnya sangat sulit terlihat pada pandangan pertama. Namun, meski dibesarkan di Amsterdam, Lara selalu merasa kurang betah di Belanda, dan lebih nyaman berada di Indonesia.

Membaca penelusuran Lala dan Lara akan asal-usul keluarga mereka, kita semakin menyadari betapa penting peristiwa masa lalu membentuk diri kita yang sekarang.

“Aku percaya warisan nenek moyang kita tidak hanya memengaruhi perangkat keras, seperti nama keluarga dan penampilan fisik, tetapi juga perangkat lunak: kebahagiaan, rasa sakit, trauma, dan kenangan.”

Di masa depan, imperialisme Eropa akan tampak demikian lebih jauh dan dominan, seperti kekaisaran Romawi bagi kita sekarang ini. Pada tahun-tahun mendatang, anak-anak yang dilahirkan pada abad setelah Perang Dunia II, akan memandang sejarah dengan lebih luas dan lebih terang.

Buku ini adalah memoar dari dua perempuan yang di darahnya tidak hanya mengalir Indonesia atau Belanda saja, tapi juga darah beragam nenek moyang. Begitu pun kita, kita tidak hanya bisa berbicara mengenai aliran darah, nyatanya alur dan memori membuat diri kita dibentuk, bukan hanya dari satu muasal darah daging saja.

Buku ini dibuka dengan garis-garis waktu yang saling berkelindan, antara kejadian kolektif yang kita semua tahu dan terpengaruh, sampai garis waktu perseorangan. Membaca bagian ini, seperti naik kapal yang ditepuk tangani untuk terus melaju. Melihatnya membuat kita semakin tersadar, bahwa semua memang tersambung dengan benang merah, yang menghubungkan satu peristiwa dengan peristiwa lainnya.

Nah, bagaimana dengan kamu, pernahkah kamu mencoba mencari tahu asal-usul keluarga kalian sampai ke kakek-nekek buyut kalian?

Penasaran ingin menikmati kisah di buku ini? Mumpung lagi ada diskon hingga 40%, kamu bisa segera miliki buku Perjalanan Menuju Pulang di Gramedia.com. Promo spesial ini hanya untukmu #SahabatKreasi.

PromoKlik untuk Info Promo

Pesan bukunya juga melalui layanan terbaru Gramedia.com, "Pesan Antar". Coba pilih pengiriman instant (khusus Jabodetabek), jadi paketmu lebih cepat sampai. Info lengkap, klik gambar di bawah ini.

PesanKlik untuk Info Lebih Lanjut dan Pesan Via Whatsapp!


Sumber foto header: sunbetweenbooks/instagram.com