People We Meet on Vacation: Mengapa Kita Menemukan Diri yang Paling Jujur Saat Liburan?
“Like a good book or an incredible outfit, being on vacation transports you into another version of yourself.”
Grameds, jujur aja pernah nggak sih kamu merasa “hidup” saat lagi travelling? Lebih spontan, lebih yakin dengan keputusan sendiri, lalu begitu pulang… semuanya kembali seperti biasa. Kita bertemu lagi dengan teman lama bernama rutinitas, deadline, dan versi diri yang lebih “tertata.”
People We Meet on Vacation mungkin terlihat seperti film tentang dua sahabat, yaitu Poppy dan Alex yang janjian untuk ketemu buat liburan bersama tiap tahun. Tapi kalau kita geser fokusnya sedikit, ini sebenarnya cerita tentang satu hal yang jauh lebih personal: kenapa kita sering menemukan diri kita yang paling jujur saat sedang jauh dari kehidupan sehari-hari.
Dan kenapa timing sering terasa seperti “penjahat” yang diam-diam ikut dalam perjalanan liburan kita.
Nah, apakah ini juga termasuk kamu, Grameds? 👀
Kenalan Yuk dengan Brunette Rapunzel & Uptight Flynn Rider (Versi Modern)!
Meet Poppy, our female lead a.k.a the extrovert drama queen yang energik dan suka dengan petualangan. Muncul Alex, our introvert king yang kalem, pemilih dan sedikit controlling. Mereka berdua bagaikan kutub yang berlawanan arah. Keduanya tidak langsung klop saat pertama kali bertemu, tapi tidak menyampingkan bahwa keduanya bisa bersahabat dekat.
Poppy tidak ingin menetap (settle down) dan ingin mengalami pengalaman baru yang berbeda di hidupnya. Sedangkan Alex ingin menetap di rutinitas yang sama: tinggal di lingkungan masa kecilnya dan bermimpi untuk berkeluarga. Di tengah perbedaan itu, mereka bisa mengambil jalan tengah. Tiap tahun mereka selalu janjian untuk liburan musim panas bersama. Hingga akhirnya, liburan musim panas dua tahun lalu mengubah pertemanan mereka untuk selamanya.
People We Meet on Vacation atau yang disebut juga You and Me on Vacation adalah novel New York Times Best Seller karangan Emily Henry. Buku ini juga sudah diadaptasi menjadi serial televisi oleh Netflix yang sudah tayang sejak 9 Januari 2026 lalu.
Penasaran dengan cuplikan trailer-nya? Kamu bisa cek di sini!
Setiap Tempat Baru, Satu Versi Diri
Ada sesuatu tentang travelling yang bikin kita jadi lebih autentik. Di kota yang bukan kita tinggali, tidak ada yang tahu kita siapa. Tidak ada label. Tidak ada reputasi yang harus dijaga. Kita seperti login ke mode incognito versi kehidupan. Coba pikirkan perjalanan-perjalanan penting dalam hidupmu. Ada satu kota tempat kamu merasa paling bebas. Ada tempat yang bikin kamu sadar apa yang sebenarnya kamu mau. Ada perjalanan yang justru bikin kamu sadar apa yang sebenarnya kamu mau.
Di novel ini, setiap perjalanan bukan hanya backdrop estetik untuk foto-foto. Setiap kota seperti membuka sisi baru dari karakter dari Poppy dan Alex. Mereka tertawa lebih lepas. Mengakui keresahan yang mungkin sulit diucapkan di ruang yang “terlalu familiar.” Berani ngomong hal-hal yang biasanya dipendam (misalnya masih kepikiran chat tahun 2020 dari somebody used to know 😝)
Kita Berubah dan itu Bukan Masalah
Setelah liburan, ada momen kecil ketika kita duduk di kamar dan merasa… kosong. Bukan karena liburannya kurang lama. Tapi karena kita harus kembali ke versi diri yang “lama”. Dan mungkin yang bikin kita nyaman bukan pekerjaan atau rutinitas. Tapi fakta bahwa kita tahu ada versi diri lain yang lebih jujur, lebih ringan yang berani muncul saat kita jauh dari semuanya. Pertanyaannya adalah kenapa versi itu hanya muncul saat liburan?
Banyak orang menyalahkan orang lain ketika sesuatu tidak berjalan mulus. Tapi kalau dilihat lebih dalam, sering kali yang jadi “musuh” bukan orangnya. “Waktu” adalah musuhnya. Timing itu unik: tidak terlihat namun dampaknya nyata. Kamu bisa berada di tempat yang tepat dengan orang yang tepat, tapi…. Fase hidupnya belum sejajar. Atau kamu bisa punya mimpi besar, tapi keberanianmu masih setengah jalan.
People We Meet on Vacation mengingatkan bahwa terkadang yang kita butuhkan bukan destinasi baru, tapi ruang untuk mendengarkan diri sendiri. Kita jarang berhenti, jarang evaluasi, jarang bertanya, “Aku masih mau ini nggak sih?” Liburan memaksa kita melambat. Dan dalam kelambatan itu, kita mendengar hal-hal yang biasanya tenggelam oleh kebisingan sehari-hari. Kita mulai berpikir dan berubah. Tidak ada yang salah dengan hal itu.
People We Meet on Books
Satu hal yang menarik dari People We Meet on Vacation adalah bagaimana karakter-karakternya tidak stagnan. Mereka “tumbuh”. Kadang ke arah yang sama atau kadang menjauh. Dan ini yang sering kita lupakan dalam hidup: kita berubah dari waktu ke waktu. Dan itu adalah suatu proses normal yang terjadi di setiap manusia.
Nah, bagi kamu yang masih merasa susah untuk menerima suatu proses, penulis dengan senang hati merekomendasikan buku-buku yang juga bisa menemani proses pertumbuhanmu!
1 . The Midnight Library – Matt Haig
Kisah ini dimulai ketika Nora Seed, wanita muda berumur 35 tahun yang merasa gagal dalam karier, hubungan, dan kehidupan pribadi. Setelah memutuskan bunuh diri, ia terdampar di perpustakaan mistis antara hidup dan mati. Di situ, ia bisa mencoba berbagai kehidupan lain berdasarkan keputusan yang berbeda.
The Midnight Library mengeksplorasi bagaimana satu keputusan bisa mengubah hidup. Penuh refleksi tentang makna hidup, penyesalan, dan suatu peluang. Buku ini mengajak pembaca berpikir, “Apakah kita bahagia karena pilihan yang kita buat, atau karena cara kita melihatnya?” Cocok untuk pembaca yang suka berpikir tentang versi diri di alternate universe.
2. Eleanor Oliphant is Completely Fine – Gail Honeyman
Tokoh utama kita kali ini adalah Eleanor, wanita penyendiri yang hidupnya kaku dan terisolasi akibat trauma masa lalu. Dia hidup dengan rutinitas yang sangat teratur. Kemudian semuanya berubah ketika ia berteman dengan Raymond. Ia adalah rekan kerja kikuk yang membantunya membuka diri, mengatasi kesepian, dan menyembuhkan luka batin.
Novel ini bukan sekadar romansa. Tapi mengajarkan tentang apa artinya bertahan, membuka diri, dan akhirnya melihat dunia dengan perspektif yang lebih segar. Cocok untuk kamu pembaca yang relate pada self-discovery tanpa plot twist yang bombastis.
3. The Storied Life of A.J. Fikry – Gabrielle Zevin
Hidup A.J. Fikry jauh dari yang diharapkannya. Setelah istrinya meninggal, hidupnya hancur. Pemilik toko buku di Pulau Alice ini menjadi sinis dan terisolasi hingga sebuah paket misterius mengubah pandangannya, memulihkan cintanya pada buku, dan memberinya tujuan hidup.
Novel karangan Gabrielle Zevin ini menyoroti unsur perubahan hidup karena peristiwa tidak terduga. Tentang bagaimana hidup bisa berubah secara acak dan bagaimana kita meresponnya. Cocok yang suka cerita hangat yang reflektif tanpa fokus ke romansa.
4. Funny Story – Emily Henry
Funny Story bercerita ketika Daphne ditinggalkan oleh tunangannya, Peter, yang lebih memilih sahabat masa kecilnya, Petra. Terdampar di kota baru, Daphne terpaksa berbagi apartemen dengan Miles, mantan kekasih Petra. Demi menyelamatkan “reputasi malang” keduanya berpura-pura berkencan untuk membalas dendam dan menyembuhkan patah hati. Tapi, skema pura-pura pacaran mereka perlahan menjadi nyata.
Novel terbaru dari Emily Henry ini menyoroti hubungan yang hangat dan healing session setelah patah hati. Bergenre komedi dan slice-of-life, cocok untuk pembaca yang suka romansa dengan banter ringan, tapi emosinya tetap berbobot.
Jadi, Siapa yang Sebenarnya Kita Temui Saat Liburan?
Judulnya People We Meet on Vacation. Tapi mungkin orang paling penting yang kita temui bukan orang lain. Tapi diri kita sendiri… dengan membaca buku habis check-out di Gramedia.com !😝
Psst, Grameds, promo buku 70% masih berlaku sampai 17 Februari 2026 loh. Yuk, check out buku favoritmu sebelum ketinggalan! 🔥 🚀
Beli di Sini!
Beli di Sini!
Beli di Sini!
Beli di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!