Apa Arti Buku Dongeng di Novel Penaka? Cek Q&A dengan Penulisnya, Altami N.D.

Apa Arti Buku Dongeng di Novel Penaka? Cek Q&A dengan Penulisnya, Altami N.D.

Grameds, pastinya tahu soal buku Penaka yang lagi laris di Gramedia? Buku dengan kisah drama rumah tangga yang dibumbui dengan sentuhan fantasi yang seru!

Buat kamu yang belum tahu, Penaka adalah buku yang menceritakan pernikahan Sofia yang berantakan sejak suaminya kecanduan game online. Laksana, suaminya, beberapa kali sampai membahayakan anak mereka tanpa sadar akibat kecanduannya terhadap game. Di sisi lain, Sofia perlahan mulai melihat semua perempuan di sekitarnya kian bertumbuh dan berkembang di saat dirinya makin tertinggal menjadi ibu rumah tangga yang tidak di-support suami.

Karena tidak mau terjebak terlalu lama, Sofia meminta cerai. Ia bertekad mewujudkan impiannya agar tidak lagi merasa ketinggalan dari orang-orang di sekelilingnya. Namun, sehari setelah berikrar siap menjadi single parent, Sofia terbangun dan menyadari dirinya berubah menjadi... botol minum!

Sofia panik. Ia tiba-tiba berubah menjadi kucing, anjing, atau orang asing. Situasi ini membingungkan! Apalagi ketika ia menemukan rahasia-rahasia tak terduga dari orang-orang terdekatnya. Lalu, bagaimana dengan rencana-rencana hidupnya? Bagaimana nasib anak semata wayangnya yang masih balita? Sofia harus segera menemukan cara untuk bisa kembali ke wujud asalnya.

Penaka menjadi buku yang terpilih untuk diterbitkan melalui Gramedia Writing Project. Keberhasilan buku ini diterbitkan bukanlah tanpa alasan. Buku ini mengangkat tema cerita yang relevan dan menarik untuk diulik, dengan bahasa yang mudah dipahami dan tentunya konflik bertubi-tubi yang terkesan sepele padahal dalam!

Buku ini ditulis oleh seorang perempuan hebat yang juga terlibat dalam peran sebagai seorang ibu dan istri, sama seperti Sofia di dalam novel Penaka. Dalam waktu yang singkat, Penaka memenangkan hati banyak pembaca baru. Hanya dalam waktu beberapa bulan, Penaka sudah masuk ke dalam deretan buku terlaris di Gramedia!

Nah, buat kamu yang sudah jadi fans buku Penaka, ini adalah waktu yang pas buat mengulik Penaka lebih dalam karena tim Gramedia punya kesempatan buat mengobrol dengan penulisnya langsung yakni Altami N.D. Yeayyyy!!! ^_^

Bagaimana? Penasaran bukan dengan alasan di balik tema yang dipilih Kak Altami, tantangan menulis, dan misteri-misteri yang tersimpan di balik cerita Penaka?! Yuk, simak sesi tanya jawab tim Gramedia dengan Kak Altami di bawah ini! :)


Q: Penaka itu bercerita soal apa, sih, Kak? Boleh diceritakan sedikit?

A: Jadi, Penaka itu bercerita soal pasangan muda bernama Sofia dan Laksana yang sama-sama punya peran baru di usia muda, khususnya di pernikahan mereka. Penaka menceritakan kisah mereka yang harus beradaptasi dengan peran baru di rumah tangga. Katanya, kan, 7 tahun pertama itu terberat, ya? Nah, Penaka ini menjadi representasi masalah rumah tangga yang dihadapi pasangan muda ini. Aku menulis buku ini dengan bahasa ringan dan mengangkat topik besar tentang inner child, patriarki, kesetaraan gender, dan masih banyak lagi!


Q: Wah, aku sendiri udah baca bukunya, sih, Kak, dan memang seru banget. Tapi, kalau mungkin bisa diperjelas, 'penaka' sendiri artinya apa, sih, Kak?

A: Penaka itu artinya adalah “seolah-olah” atau “seandainya”. Jadi, kata ini diambil dari perjalanan Sofia dan Laksana juga yang seolah-olah melihat vulnerability mereka lewat sudut pandang benda atau orang lain.


Q: Wah, menarik banget, ya, Kak! Aku sendiri suka banget dengan tema dan cerita yang diangkat dari novel Kak Altami yang satu ini. Aku bisa nyelesaiin novel ini cuma dalam waktu semalam, Kak, saking ringan dan serunya. Tapi, aku penasaran, Kak... sebenarnya apa, sih, alasan Kak Altami mengangkat topik ini buat diceritakan ke dalam novel?

A: Alasan untuk bikin cerita ini sebenarnya terinspirasi dari pengalaman pribadi di mana aku sendiri sudah menikah dan mendengar sendiri sharing dari teman-teman yang sudah menikah. Awalnya aku merasakan keresahan dari tingginya angka perceraian di Indonesia. Dan, biasanya komunikasi menjadi faktor perceraian yang sering terjadi, seperti yang berusaha aku ceritakan di novel ini.

Indonesia ‘kan mendapatkan dampak bonus demografi ya sejak beberapa tahun ini. Nah, kalau tidak dimanfaatkan akan jadi sesuatu yang buruk untuk bangsa di masa depan. Padahal, pernikahan atau keluarga itu unit terkecil di masyarakat yang punya peran penting untuk memajukan generasi bangsa. Jadi, bagaimana generasi penerus bangsanya bisa cemerlang kalau unit terkecilnya (keluarga) malah runtuh?  Jadi itu, sih alasan aku mengangkat topik ini. Aku ingin menunjukkan kalau untuk mendapatkan generasi emas, dibutuhkan usaha dari keluarga dan pernikahan orangtuanya itu sendiri.


Q: Betul banget, Kak. Keluarga itu memegang peran penting untuk menjadikan anak-anaknya generasi penerus yang cemerlang. Tapi, ya, Kak, aku masih penasaran Kak Altami kan menuliskan berbagai peran dan sisi yang berbeda. Mulai dari sudut pandang botol minum hingga sudut pandang anak kecil yang broken home juga. Sebenarnya, inspirasi karakter yang Kak Altami tulis itu bagaimana, sih, dikembangkannya?

A: Jadi, cara aku mengembangkan banyak karakter itu adalah dengan tulis aja dulu apa saja isu yang relevan di dalam pernikahan, khususnya di kondisi sekarang. Aku juga banyak baca artikel, konten keluarga, dan baca-baca jurnal juga untuk memperkaya point of view di buku ini. Yang paling penting aku juga sharing bareng sesama teman yang senasib seperjuangan alias mereka yang sudah menikah. Dari situ aku jadi tau sudut pandang yang bermacam-macam juga.


Q: Oke, jadi sharing sangat membantu Kak Altami juga ya untuk memperbanyak pengetahuan tentang sudut pandang. Kalau insight masalah parenting-nya, nih, Kak. Kak Altami, kan menulis banyak banget masalah keluarga dan itu juga melibatkan peran dan perasaan anak juga di dalamnya. Kak Altami sendiri mengambil inspirasi parenting dari mana, sih, Kak?

A: Aku, sih, melihat masalah soal parenting adalah ketika nyatanya sosok orangtua bukan hanya akan mewarisi uang dan harta kepada anak, ya. Aku juga melihat bahwa orangtua juga bisa mewarisi luka batin kepada anak. Nah, aku mau menyadarkan orang-orang kalau ini adalah isu yang jarang diperhatikan. Inner child seorang Ibu atau Ayah yang belum selesai akan jadi lantai yang berputar dan anak kita akan seperti kita juga. Jadi, masalah pola asuh yang ingin aku tekankan di sini adalah peran orangtua untuk menyadari kalau kita harus siap untuk tidak mewarisi luka batin kepada anak kita.


Q: Wah, menarik banget, Kak. Nah, untuk proses penulisan buku Penaka sendiri itu bagaimana sih Kak?

A: Jadi, awalnya buku Penaka ini aku persiapkan untuk lomba. Aku awalnya gabung di komunitas menulis. Terus aku lanjutin naskah ini buat aku masukin ke dalam The Writer’s Show. Waktu itu deadline-nya adalah satu bulan, jadi aku menyelesaikan naskah ini dalam waktu sebulan tersebut. Tapi, karena proses sunting itu tidak bisa sebentar jadi tetap aku baru bisa menerbitkan bukunya setelah sekian bulan naskah diselesaikan.


Q: Wah, terbilang cepat, ya, Kak. Pastinya ada tahap editing juga untuk menerbitkan buku berkualitas. Nah, aku penasaran, kenapa, sih, Kak memilih premis cerita dengan tokoh yang berubah wujud ke bentuk benda mati dan orang lain?

A: Sebenarnya, perwujudan tubuh Sofia bermaksud ingin membuat Sofia selangkah lebih dekat dengan dirinya sendiri. Sebelumnya, dia tidak mengetahui apa maunya dan identitas dirinya sendiri. Dia juga gampang meledak-ledak dan bicara semaunya. Perwujudan dia ke benda mati membuat Sofia cuma bisa melihat tanpa berbicara, ini menggambarkan proses penyelesaian masalah internal karakter. Setelah jadi botol minum, Sofia bisa berpikir lebih jernih dan tidak meledak-ledak.

Sewaktu Sofia berubah jadi hewan dan cuma bisa mendengar orang lain tanpa berkomunikasi, Sofia jadi menyadari bahwa berbicara dan berkomunikasi dengan baik bersama orang itu ternyata underated blessing.

Jadi, aku ingin menggambarkan bahwa terkadang sudut pandang dari benda mati dan orang lain justru mungkin lebih banyak meng-embrace human vulnerability. Katanya, kan, manusia itu paling sempurna, ya? Nyatanya, manusia itu lebih banyak gak tau. Semakin tau malah semakin gak tau. Bisa jadi, pintu kamar orangtua kita bisa lebih tau perasaan orangtua kita karena dia menyaksikan orangtua kita lebih lama. Sudut pandang ini memungkinkan kita melihat human vulnerability itu.


Q: Wah, menarik banget maknanya. Memang dari awal aku baca cerita ini aku sadar kalau premisnya cukup dalam. Kak, kalau boleh tahu, aku penasaran, deh, kenapa, sih, turning point mereka adalah buku dongengnya Raisa?

A: Jadi, buku dongeng di dalam cerita ini menggambarkan keajaiban-keajaiban kecil yang mungkin saja bisa terjadi di hidup kita. Kadang, di hidup kita kan ada aja, ya, keajaiban yang tidak kita sadari apalagi saat kita sedang dilanda masalah. Buku dongeng di sini bermaksud menggambarkan hal tersebut. Buku dongeng ini juga selalu datang kepada siapapun yang sedang punya masalah, makanya epilog dari buku ini juga menggambarkan keadaan seperti itu.


Q: Lagi-lagi memang sedalam itu, ya, makna yang mau disampein Kak Altami di buku ini. Kalau menurut Kakak sendiri, bagian paling sulit menulis Penaka tuh bagian apa, Kak?

A: Bagian yang paling sulit dalam menulis Penaka adalah saat aku menulis tentang kehilangan. Karena ini relate dengan keadaan aku saat itu juga. Apalagi Sofia harus dealing dengan masalah di dalam dirinya sendiri. Hal ini juga aku rasain waktu Ayahku baru aja sakit. Jadi, menulis momen kehilangan di waktu itu terasa really tough buatku.


Q: Nah, kalau tantangannya sendiri, Kak Altami menghadapi tantangan apa, Kak, selama menulis Penaka?

A: Tantangan terberat aku dalam menulis Penaka adalah waktu, ya. Pembagian waktu untuk menulis yang kejar-kejaran sama deadline. Pas menulis buku adalah saat-saat pandemi di mana suami harus WFH dan anak harus sekolah di rumah. Jadi, sulit untuk mempersiapkan waktu khusus untuk menulis saat dari pagi aku udah bekerja membagi waktu buat mengurus keluarga.


Q: Wah, pastinya sulit banget buat bagi waktu karena peran seorang Ibu tetap berjalan, ya, Kak, walau kita punya kesibukan yang lain. Nah, aku penasaran nih, Kak, dengan tantangan yang seperti itu apakah Kak Altami sudah ada rencana untuk menulis buku selanjutnya?

A: Rencana menulis itu sudah ada, tetapi mungkin bukan di tahun ini karena proses editing kan lama, ya. Meskipun aku bisa selesaikan Penaka dalam satu bulan, tapi proses editing bisa memakan waktu yang sangat lama. Yang pasti aku akan menulis lagi, kok, karena menulis itu hobi yang menyenangkan untuk aku.


Q: Wah, ditunggu, ya, Kak, buku barunya nanti! Aku pastinya bakal nungguin banget. Nah, mungkin ini pertanyaan terakhir untuk menutup Q&A kita hari ini, Kak. Apa, sih, harapan Kak Altami untuk apra pembaca kalau membaca buku Penaka?

A: Harapannya adalah semoga para pembaca bisa mengambil keputusan yang baik setelah membaca buku Penaka. Semoga buku Penaka bisa membuka lebih banyak ruang diskusi di luar sana entah itu tentang komunikasi di keluarga, tentang pola asuh, dan inner child orangtua, dan khususnya bahwa keluarga memegang peran penting untuk membesarkan generasi cemerlang.

QNABeli di Sini!

Nah, itu dia Grameds, pesan yang disampaikan Kak Altami untuk teman-teman pembaca! Buat kamu yang sudah baca, pastinya dapat lebih banyak insight tentang buku Penaka, bukan? Buat kamu yang belum baca, pastinya makin kepo, gak, sih buat baca bukunya? Kalian bisa langsung checkout bukunya di Gramedia.com, ya!

Bukan cuma itu, buku ini juga tersedia dalam bentuk ebook dan bisa diakses secara digital melalui Gramedia Digital, lho! Untuk membacanya, klik di sini, ya! >> Penaka.

Selain itu, Gramedia.com juga selalu menghadirkan promo menarik untuk kamu yang hobi baca buku! Jangan lupa untuk temukan berbagai promo menarik agar belanja jadi lebih hemat dan maksimal! Langsung klik di bawah ini untuk ketahui semua promonya.

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!


Sumber foto header: Gramedia

Penulis: Shaza Hanifah


Enter your email below to join our newsletter