Karya Iksaka Banu dan Irma Agryanti Menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019

Karya Iksaka Banu dan Irma Agryanti Menang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019

. 2 min read

Pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 diumumkan pada Rabu malam (16/10). Teh dan Pengkhianat karya Iksaka Banu menjadi pemenang untuk kategori prosa dan Anjing Gunung karya Irma Agryanti pemenang untuk kategori puisi.

Penghargaan kali ini adalah penghargaan kedua Iksaka Banu setelah sebelumnya sudah memenangkan Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 untuk kategori prosa untuk karyanya Semua untuk Hindia.

Kusala Sastra Khatulistiwa kali ini hanya memberikan dua kategori penghargaan yaitu prosa dan puisi saja. Berbeda dari Kusala Sastra Khatulistiwa 2018 lalu yang memberikan tambahan satu kategori yaitu kategori karya pertama atau kedua. Penghargaan tersebut dimaksudkan bagi para pengarang yang baru menerbitkan karya perdana atau keduanya.

Acara yang diselenggarakan di Atrium Plaza Senayan Jakarta tersebut turut mengundang para pengarang finalis Kusala Sastra Khatulistiwa 2019 dari kedua kategori yang disebutkan. Beberapa di antaranya adalah Henny Triskaidekaman yang karyanya Cara Berbahagia Tanpa Kepala masuk ke daftar pendek kategori prosa dan Rieke Sasraswati yang karyanya Catatan-catatan dari Bulan masuk ke daftar pendek kategori puisi.

Kusala Sastra Khatulistiwa adalah ajang penghargaan kesusastraan Indonesia yang diadakan tahunan. Karya-karya sastra yang dipilih adalah yang terbit pada rentang waktu satu tahun. Kusala Sastra Khatulistiwa yang sudah diselenggarakan sejak tahun 2001 dan didirikan oleh Richard Oh.

Selamat untuk Iksaka Banu dan Irma Agryanti!


Sinopsis Teh dan Pengkhianat karya Iksaka Banu

Teh
Teh dan Pengkhianat karya Iksana Banu

Dari penulis karya sastra pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2014 kategori prosa, Semua untuk Hindia, hadir kembali tiga belas cerita pendek berlatar kolonial. Dalam Teh dan Pengkhianat kita diajak bertamasya lagi ke masa silam: ketika awal mula sepeda dipakai kaum bumiputra di Hindia Belanda, sewaktu wabah cacar mengancam sementara sarana dan prasarana transportasi masih terbatas, saat globe masih merupakan produk pencerahan budi yang mewah, tatkala rekayasa foto tidak bisa lain kecuali dilakukan dengan cara manual yang merepotkan, dan seterusnya.

Iksaka Banu menampilkan sejarah sebagai pergulatan manusia berikut susah-senang maupun kekecewaan dan harapan yang meliputi. Kebebalan ataupun nalar tiap generasi.


Sinopsis Anjing Gunung karya Irma Agryanti

Anjing
Anjing Gunung karya Irma Agryanti

Anjing Gunung adalah bentuk hubungan antara tangkapan visual dan teks. Hubungan ini membuatku merasa seakan-akan ada sesuatu yang muncul di tengah kesimpangsiuran; sebuah pemahaman bahwa puisi sesungguhnya merayakan apa-apa yang hadir dari segala ruang sekaligus menampakkan detail-detail lain. Detail-detail yang cenderung klise dan bukan perkara yang diperhitungkan. Tapi puisi memunculkannya sehingga kebermaknaannya memiliki peluang yang lebih luas.

“Puisi bagiku adalah keberartian non praktis, seperti kerlip bintang atau warna ungu pada bunga putri malu.” –Irma Agryanti