Menyelami Sejarah Kelam G30S/PKI lewat 5 Novel Best Seller Ini

Menyelami Sejarah Kelam G30S/PKI lewat 5 Novel Best Seller Ini

. 3 min read

Gerakan 30 September 1965 atau lebih dikenal sebagai G30S/PKI merupakan peristiwa kelam bagi sejarah Bangsa Indonesia. Peristiwa yang terjadi tepat tengah malam di penghujung September 53 tahun silam tersebut hingga kini masih menyisakan luka mendalam, sebab masih terkesan “abu-abu”.

Namun seperti yang dikatakan oleh Soekarno, Jasmerah “Jangan Melupakan Sejarah”, masih terasa hingga kini. Nyata adanya karena sampai saat ini, pemberontakan PKI masih terdengar dalam balutan literasi sastra modern.

Seolah kejadian itu masih nyata dalam bayangan, 5 novel best seller dari penulis muda Indonesia ini mengusung latar tragedi berdarah G30S/PKI.

1. Pulang

Novel dari Leila S. Chudori ini merupakan salah satu novelnya yang lahir dengan pemberontakan G30S/PKI sebagai latar hingga berpuncak pada reformasi 1998. Referensinya sungguh kaya.

Buku ini juga menautkan keindahan sastra dengan banyaknya kutipan dan referensi dari sastrawan terkenal seperti Chairil Anwar, Lord Byron, T.S. Elliot, George Orwell, James Joyce. Pulang terus dicetak ulang dan masih menjadi incaran para penikmat sastra.

Semua bermula dari empat sekawan mantan wartawan yang menjadi buronan akibat pada masa itu, wartawan adalah sesuatu yang menyinggung sentimentil politik. Akibat tidak mau nasibnya serupa dengan temannya yang tertangkap dan dinyatakan tewas, mereka meninggalkan Indonesia, dan memulai hidupnya di Paris.

Namun hidup tidak selurus itu, meski penuh ketidakadilan, Indonesia ternyata memiliki hal yang akan terus dirindukan.

2. Ronggeng Dukuh Paruk

Ingat salah satu film layar lebar yang berjudul Sang Penari? Film tersebut merupakan alih wahana dari novel Ronggeng Dukuh Paruk karya Ahmad Tohari. Begitu melegendanya novel ini hingga diterjemahkan ke berbagai bahasa.

Dengan latar waktu tahun 1960-an, cerita rakyat Ronggeng Dukuh Paruk menyajikan kegetiran dari desa kecil yang dirundung kemiskinan. Secara jelas pola pikir dan budaya masyarakat yang dipengaruhi oleh keadaan ekonomi dan tingkat pendidikan digambarkan secara jelas.

Tetap dalam balutan politik 1965 yang menjadi malapetaka untuk dukuh yang dibuat hancur sampai ke akarnya.

3. Cantik itu Luka

Dengan riset yang kaya dan gaya bercerita yang lengkap dengan bumbu unsur-unsur magis, Eka Kurniawan menorehkan kisah dengan latar pemberontakan 1965 dengan begitu apik.

Atas novelnya ini, Eka meraih beberapa penghargaan termasuk World Readers pada 2016. Dengan alur maju-mundur ia begitu piawai dalam menuturkan kepahitan masa pemberontakan kala itu.

Lewat novel ini, Eka mengisahkan nasib anak-anak manusia yang telah menjadi korban kekuasaan dan kutukan karma. Tentang seorang perempuan cantik keturunan Belanda bernama Dewi Ayu yang menjadi korban kekejaman perang dan perebutan kekuasaan. Eka berusaha mengajak pembaca untuk menertawakan kesatiran dari kemalangan yang bertubi-tubi di masa itu.

4. Amba

Mengalir dari persoalan cinta, Amba sesungguhnya akan membawamu kepada persoalan politik berlatarkan 1965. Novel ini dikisahkan begitu padat dan kompleks oleh seorang Laksmi Pamuntjak.

Dari tangannya, novel ini telah mendunia, ia bahkan mendapat penghargaan sebagai keynote speaker dalam festival bergengsi di Jerman. Mulanya novel ini diterbitkan di tahun 2012 dalam bahasa Inggris dengan judul The Question of Red, barulah kemudian terbit dalam versi bahasa Indonesia.

Amba merupakan kisah tragedi yang disampaikan melalui kisah cinta, dari Amba dan Bhisma di hari-hari mencekam di bulan September 1965. Di mana hingga satu juta orang yang dituduh sebagai Komunis di Indonesia dibantai. Laksmi mengajak kita memahami yang sebenarnya terjadi, dari sudut pandang mereka yang tidak sepenuhnya mengerti bahwa pulau Buru mungkin adalah saksi bisu mereka yang diburu.

5. Gadis Kretek

Yang terakhir adalah Gadis Kretek. Sebuah novel dari Ratih Kumala yang juga mengusung tema PKI dengan gaya penyampaian yang lebih ringan bila dibandingkan empat novel di atas.

Selain dilatari kisah cinta dari Gadis Kretek, adu sikut para pengusaha kretek juga turut mewarnai rangkaian peristiwa pasca G30S ini. Masa di mana partai Komunis dan semua jaringan di dalamnya ditangkap, ditembak, dan dibuang tanpa ampun.

Diiringi Soeraja, pembaca akan diajak melihat kembali bahwa seorang yang buta politik pun dapat menjadi korban keganasan penduduk dan aparat yang tidak terima dengan PKI.


Karena bahkan hingga kini perihal PKI masih selalu menarik untuk dibicarakan, berkenalan kembali dengan sejarah tidak lagi membosankan karena novel-novel di atas siap menjadi mesin waktu yang membawamu kembali kepada suasana menegangkan di mana tumpah darah sungguh masih terjadi, bahkan setelah Indonesia telah merdeka sekalipun.

Tertarik untuk mengenali sejarah Indonesia dengan cara yang lebih menyenangkan? Cek langsung buku-bukunya di Gramedia.com!