Notes from the Underground, Novel Klasik Rusia yang Membuatmu Terus Memikirkan Isinya!
"Aku orang sakit. Aku orang pendendam. Aku orang yang tidak menarik. Aku yakin hatiku mengidap penyakit."
Sulit rasanya melupakan kalimat pembuka seperti itu. Baru membaca satu baris, Fyodor Dostoevsky sudah berhasil menarik pembaca masuk ke dalam pikiran seseorang yang dipenuhi kegelisahan, kemarahan, dan pertanyaan tentang hidup.
Kalimat ikonik tersebut berasal dari Notes from the Underground (Catatan dari Bawah Tanah), salah satu karya paling berpengaruh dalam sejarah sastra Rusia. Meski hanya setebal sekitar dua ratus halaman, novel ini kerap disebut sebagai pelopor sastra eksistensial modern dan menjadi inspirasi bagi banyak pemikir besar, seperti Friedrich Nietzsche, Albert Camus, hingga Jean-Paul Sartre.
Namun, jangan membayangkan novel ini sebagai bacaan yang penuh aksi atau konflik besar. Justru sebaliknya, sebagian besar ceritanya berlangsung di dalam kepala sang tokoh utama. Ia berbicara kepada pembaca tentang dirinya, dunia, dan berbagai pertentangan yang terus berputar di benaknya.
Semakin jauh kamu membaca, semakin terasa bahwa kegelisahan tokoh tersebut masih sangat dekat dengan kehidupan saat ini.
Lantas, seperti apa sebenarnya isi catatan bawah tanah tersebut, dan mengapa novel ini tetap dibicarakan lebih dari satu abad setelah pertama kali diterbitkan? 🤷♀️📝
Yuk, kita bahas bersama! 🚀
Mengenal Manusia Bawah Tanah yang Sulit Dilupakan
Tokoh utama dalam novel ini tidak pernah diperkenalkan dengan nama. Dostoevsky hanya menyebutnya sebagai Manusia Bawah Tanah (Underground Man), seorang mantan pegawai negeri yang memilih mengasingkan diri dari kehidupan sosial dan menghabiskan waktunya dengan menulis catatan tentang apa yang ia pikirkan dan rasakan.
Melalui catatan-catatan tersebut, pembaca diajak menyelami pikirannya yang penuh kontradiksi. Di satu sisi, ia ingin dihargai dan dipahami. Di sisi lain, ia justru menolak kedekatan dengan orang lain dan sering kali menyabotase kebahagiaannya sendiri.
Bagian pertama novel lebih banyak berisi perenungan sang tokoh mengenai kebebasan, kehendak manusia, logika, hingga kebahagiaan. Ia mempertanyakan banyak hal yang selama ini dianggap benar, bahkan tidak segan mengkritik cara manusia memandang dirinya sendiri.
Memasuki bagian kedua, cerita bergeser ke masa lalunya. Pembaca mengikuti berbagai pengalaman yang membentuk kepribadiannya, mulai dari rasa terhina oleh seorang perwira di kedai biliar, hubungan yang canggung dengan teman-teman lamanya, hingga pertemuannya dengan Liza, seorang perempuan muda yang perlahan membuka sisi paling rapuh dalam dirinya.
Alih-alih menjadi kisah tentang kemenangan atau perubahan hidup, Notes from the Underground justru menghadirkan potret seseorang yang terus bergulat dengan pikirannya sendiri.
Dari situlah kekuatan novel ini muncul. Pembaca diajak menyaksikan bagaimana ego, rasa malu, kesepian, dan keinginan untuk diterima bisa saling bertabrakan dalam diri satu orang.
Baca juga: Naomi: Potret Obsesi dan Cinta dalam Karya Junichiro Tanizaki
Kenapa Catatan dari Bawah Tanah Masih Terasa Dekat dengan Pembaca Masa Kini?
Meski pertama kali diterbitkan pada tahun 1864, banyak gagasan dalam novel ini masih terasa relevan hingga sekarang.
Pernah merasa terlalu banyak berpikir sampai akhirnya tidak melakukan apa-apa? Atau pernah menyadari bahwa keputusan yang diambil justru bertentangan dengan apa yang sebenarnya kamu inginkan? Pergulatan seperti itulah yang terus muncul sepanjang cerita.
Dostoevsky menggambarkan manusia sebagai sosok yang tidak selalu bertindak berdasarkan logika. Ada ego, luka batin, rasa takut, gengsi, dan emosi yang sering kali mengambil alih setiap keputusan.
Hal inilah yang membuat Notes from the Underground terasa begitu dekat dengan kehidupan modern. Meskipun latarnya berada di Rusia abad ke-19, pergulatan yang dialami tokoh utamanya masih bisa ditemukan dalam kehidupan banyak orang hingga hari ini.
Novel ini memang tidak menawarkan jawaban atas berbagai pertanyaan tentang hidup. Sebaliknya, Dostoevsky justru mengajak pembaca untuk duduk bersama kegelisahan itu dan mencoba memahaminya dari sudut pandang yang berbeda.
Apa yang Membuat Novel Ini Begitu Berpengaruh?
Banyak kritikus sastra menyebut Notes from the Underground sebagai salah satu fondasi lahirnya sastra eksistensial modern.
Sebelum novel ini terbit, tokoh utama dalam banyak karya sastra sering digambarkan sebagai sosok yang memiliki tujuan jelas dan berkembang menuju penyelesaian tertentu.
Sementara itu, Dostoevsky menghadirkan sesuatu yang berbeda. Ia menciptakan tokoh yang penuh kontradiksi, sulit ditebak, dan bahkan sering kali bertindak melawan kepentingannya sendiri.
Lewat sosok Manusia Bawah Tanah, Dostoevsky mempertanyakan keyakinan bahwa manusia selalu bersikap rasional. Baginya, manusia juga bisa memilih sesuatu yang merugikan dirinya sendiri hanya karena dorongan emosi, gengsi, atau keinginan untuk membuktikan bahwa ia benar-benar bebas menentukan pilihannya.
Gagasan-gagasan inilah yang kemudian banyak memengaruhi perkembangan filsafat dan sastra modern. Tak heran jika nama-nama besar seperti Friedrich Nietzsche, Albert Camus, hingga Jean-Paul Sartre kerap dikaitkan dengan pengaruh pemikiran Dostoevsky.
Bahkan hingga sekarang, Catatan dari Bawah Tanah masih menjadi salah satu novel yang sering dibahas dalam kelas sastra, filsafat, maupun psikologi karena berhasil menggambarkan kompleksitas manusia dengan cara yang terasa begitu jujur.
Kalau Kamu Menyukai Novel-Novel Ini, Besar Kemungkinan Catatan dari Bawah Tanah Juga Cocok Buatmu
Kalau membaca Catatan dari Bawah Tanah, jangan berharap menemukan cerita dengan alur yang penuh aksi atau kejutan di setiap bab.
Daya tarik novel ini justru terletak pada percakapan panjang antara tokoh utama dengan dirinya sendiri.
Semakin lama membaca, semakin terasa bahwa kita sedang diajak masuk ke dalam kepala seseorang yang terus mempertanyakan segala hal. Oleh karena itu, novel ini biasanya terasa lebih dekat bagi pembaca yang menyukai cerita-cerita dengan tema psikologis, filsafat, dan pencarian makna hidup.
Misalnya, kalau kamu menyukai The Stranger karya Albert Camus, kamu akan menemukan nuansa yang serupa. Keduanya sama-sama mengangkat tokoh yang terasa terasing dari lingkungan sekitarnya dan mempertanyakan berbagai nilai yang dianggap wajar oleh masyarakat.
Kalau No Longer Human karya Osamu Dazai menjadi salah satu novel favoritmu, kemungkinan besar kamu juga akan menikmati pergulatan batin Manusia Bawah Tanah. Meski lahir dari budaya yang berbeda, kedua tokoh sama-sama bergulat dengan rasa keterasingan, kebencian terhadap diri sendiri, dan kesulitan membangun hubungan dengan orang lain.
Sementara itu, pembaca The Catcher in the Rye mungkin akan melihat kesamaan dari cara kedua tokoh utama memandang dunia. Mereka sama-sama sinis, kritis terhadap lingkungan sekitar, dan sering kali terjebak dalam pikiran mereka sendiri, meski latar cerita serta persoalan yang dihadapi tentu berbeda.
Meski memiliki kemiripan dengan karya-karya tersebut, Catatan dari Bawah Tanah tetap menawarkan pengalaman membaca yang unik. Sebab, Dostoevsky tidak berusaha membuat pembacanya merasa nyaman. Sebaliknya, ia mengajak kita menghadapi pertanyaan-pertanyaan yang sering kali dihindari, bahkan ketika jawabannya terasa tidak menyenangkan.
Siapa Sebenarnya Fyodor Dostoevsky?
Di balik novel yang begitu kompleks ini, ada sosok penulis yang kehidupannya juga dipenuhi berbagai peristiwa besar.
Fyodor Mikhailovich Dostoevsky lahir di Moskow pada tahun 1821 dan dikenal sebagai salah satu penulis paling berpengaruh dalam sejarah sastra dunia. Karya-karyanya banyak mengangkat sisi psikologis manusia, konflik moral, kepercayaan, hingga pertanyaan tentang makna hidup.
Perjalanan hidupnya sendiri jauh dari kata mudah. Pada tahun 1849, Dostoevsky ditangkap karena tergabung dalam Kelompok Petrashevsky, sebuah komunitas intelektual yang dianggap menyebarkan gagasan-gagasan politik yang bertentangan dengan pemerintah Rusia saat itu.
Ia bahkan sempat dijatuhi hukuman mati. Di hadapan regu tembak, hukuman tersebut dibatalkan hanya beberapa saat sebelum dieksekusi dan diganti menjadi kerja paksa di Siberia selama beberapa tahun. Pengalaman itulah yang kemudian membentuk cara pandangnya terhadap manusia.
Setelah bebas, karya-karyanya menjadi jauh lebih gelap, reflektif, sekaligus penuh pertanyaan tentang rasa bersalah, penderitaan, kebebasan, dan harapan. Tak heran jika hingga kini Dostoevsky masih dianggap sebagai salah satu penulis yang paling berhasil menggambarkan rumitnya isi hati manusia.
Biar Makin Akrab dengan Dostoevsky, Baca Karya Lainnya Juga!
Nah, kalau Notes from the Underground membuatmu penasaran dengan dunia yang dibangun Dostoevsky, masih ada banyak karya lain yang layak masuk daftar bacaanmu.
Masing-masing menghadirkan tema yang berbeda, tetapi tetap membawa ciri khasnya dalam mengupas sisi paling rumit dari manusia. Berikut beberapa karya lainnya yang bisa kamu ikuti:
The Brothers Karamazov
Kalau banyak orang menyebut satu karya sebagai mahakarya Dostoevsky, jawabannya hampir selalu The Brothers Karamazov.
Novel ini mengikuti kisah tiga bersaudara yang harus menghadapi konflik keluarga setelah ayah mereka terbunuh. Namun, di balik cerita misterinya, Dostoevsky membahas pertanyaan-pertanyaan besar tentang iman, moralitas, kebebasan, dan hubungan manusia dengan Tuhan.
Kalau kamu menyukai novel yang mengajak berpikir sekaligus menghadirkan drama keluarga yang kuat, buku ini wajib masuk daftar bacaanmu.
Crime and Punishment
Bagaimana rasanya hidup setelah melakukan kejahatan yang menurutmu benar?
Lewat tokoh Rodion Raskolnikov, Dostoevsky mengajak pembaca mengikuti pergulatan batin seorang mahasiswa yang percaya bahwa dirinya berhak melanggar aturan demi tujuan yang lebih besar.
Alih-alih berfokus pada proses penyelidikan, novel ini justru mengeksplorasi rasa bersalah, penyesalan, dan beban psikologis yang terus menghantui pelakunya. Inilah salah satu karya yang paling sering direkomendasikan bagi pembaca yang baru ingin mengenal Dostoevsky.
White Nights
Kalau ingin melihat sisi Dostoevsky yang lebih lembut, White Nights bisa menjadi pilihan.
Novel pendek ini bercerita tentang seorang pria penyendiri yang bertemu dengan seorang perempuan dalam empat malam musim panas di St. Petersburg. Pertemuan singkat tersebut perlahan berkembang menjadi kisah yang hangat sekaligus menyayat hati.
Meski lebih ringan dibanding karya-karyanya yang lain, novel ini tetap dipenuhi renungan tentang kesepian, harapan, dan cinta yang tak selalu berjalan sesuai keinginan.
The Idiot
Lewat tokoh Pangeran Myshkin, Dostoevsky mencoba menjawab satu pertanyaan sederhana sekaligus sulit: apa yang terjadi ketika seseorang yang benar-benar baik hidup di dunia yang penuh kepentingan?
Kepolosan dan ketulusan Myshkin justru membawanya ke dalam berbagai konflik yang menguji nilai-nilai kemanusiaan. Novel ini menjadi refleksi menarik tentang kebaikan, cinta, dan masyarakat yang sering kali memandang kelembutan sebagai sebuah kelemahan.
Cerita-Cerita Muram
Kalau ingin mengenal Dostoevsky dalam format yang lebih singkat, Cerita-Cerita Muram bisa menjadi titik awal yang menarik.
Kumpulan cerpen ini menghadirkan berbagai potret kehidupan manusia biasa yang bergulat dengan rasa malu, harapan, kemiskinan, hingga keputusan-keputusan kecil yang mengubah hidup mereka.
Lewat cerita-cerita tersebut, Dostoevsky kembali menunjukkan kepiawaiannya membaca sisi paling rapuh dari manusia, sesuatu yang selalu menjadi kekuatan utama dalam hampir seluruh karya-karyanya.
Sebagai Catatan Akhir…
Membaca Notes from the Underground mungkin tidak selalu terasa nyaman. Tokoh utamanya sering kali membuat pembaca kesal, bingung, bahkan ingin membantah setiap pemikirannya. Namun, justru di situlah kekuatan novel ini.
Dostoevsky tidak berusaha menghadirkan sosok yang sempurna atau cerita dengan jawaban yang mudah. Ia mengajak pembaca masuk ke dalam labirin pikiran manusia yang penuh kontradiksi, tempat ego, rasa takut, penyesalan, dan harapan saling bertabrakan.
Lebih dari satu abad setelah pertama kali diterbitkan, karya ini tetap terasa relevan karena membahas sesuatu yang tidak pernah benar-benar berubah, yaitu manusia itu sendiri.
Kalau kamu sedang mencari novel klasik yang mampu mengajak berpikir jauh setelah halaman terakhir ditutup, buku ini layak menjadi salah satu bacaan berikutnya.
Kabar baiknya, kamu juga bisa mendapatkan karya ini lewat pre-order yang sedang berlangsung di gramedia.com. Tak hanya itu, ada juga bonus spesial yang bisa kamu dapatkan selama periode pre-order berlangsung.
Sangat menarik, bukan? Jadi, pastikan kamu tidak melewatkan kesempatan ini ya, Grameds! 😉🌟
Baca juga: Melihat Kehidupan dari Sudut Pandang Kematian! Sebuah Kisah dari Novel Terbaru Brian Khrisna
✨ Oh iya, jangan lupa juga cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya pengalaman belanjamu makin hemat, seru, dan penuh makna! ⤵