No Longer Human: Redupnya Kehidupan dan Pengakuan Gamblang tentang Rasa Gagal Menjadi Manusia
Grameds, pernah nggak sih kamu melihat seseorang yang tampak ceria sepanjang waktu? Ia mudah tertawa, gemar melontarkan lelucon, dan terlihat menikmati hidupnya tanpa sedikitpun beban yang bersarang di pundaknya. 🤷♀️
Dari luar, semuanya tampak baik-baik saja. Seolah tak ada luka atau kegelisahan yang ia simpan. Akan tetapi, suasananya bisa berubah drastis ketika ia sendirian dan tak lagi harus memainkan peran di hadapan orang lain.
Lewat No Longer Human, Osamu Dazai menghadirkan potret batin yang jujur tentang pergulatan seperti itu. Novel ini mengajak kita menyelami kehidupan Yozo Oba, seorang pria yang merasa gagal memahami dunia sekaligus dirinya sendiri.
Dengan gaya penceritaan yang intim dan reflektif, Dazai menunjukkan bagaimana seseorang bisa kehilangan arah, bahkan saat ia masih mampu tersenyum dan menghibur banyak orang.
Sebelum masuk lebih dalam ke kisah Yozo yang penuh gejolak, yuk kita kenalan dulu dengan sosok penulis di balik karya yang hingga kini terus diperbincangkan dan dibaca lintas generasi ini! 🖐🤩
Mari Berkenalan dengan Osamu Dazai
Osamu Dazai lahir pada tahun 1909 dengan nama Shūji Tsushima di Prefektur Aomori, Jepang, dari keluarga terpandang yang cukup berada. Ketertarikannya pada dunia tulis-menulis sudah terlihat sejak remaja. Saat masih duduk di bangku sekolah menengah, ia telah menulis cerita-cerita pendek yang dimuat di majalah sastra sekolahnya. Bakat itu tumbuh seiring waktu, membawanya menjadi salah satu suara penting dalam sastra Jepang modern.
Perjalanan hidup Dazai sendiri diwarnai berbagai gejolak. Ia beberapa kali melakukan percobaan bunuh diri sejak akhir 1920-an, bergulat dengan kecanduan, serta menghadapi relasi keluarga dan percintaan yang rumit. Upaya bunuh diri pertamanya terjadi pada 1929, disusul percobaan-percobaan lain di tahun berikutnya. Pada 1948, ia meninggal dunia setelah bunuh diri bersama kekasihnya, Tomie Yamazaki. Peristiwa itu sekaligus menutup riwayat hidupnya yang penuh turbulensi.
Pengalaman pahit tersebut sangat memengaruhi karya-karyanya. Dazai dikenal berani mengangkat tema penderitaan, alienasi, kritik sosial, dan kecenderungan merusak diri yang kerap dianggap tabu. Ia sering memadukan unsur autobiografi dengan fiksi, menciptakan tokoh-tokoh yang terasa intim dan rapuh. Dari seluruh karyanya, No Longer Human kerap disebut sebagai mahakarya yang paling merepresentasikan pergulatan batin dan pandangan hidupnya.
No Longer Human, Menceritakan Tentang Apa?
"Seorang sarjana lemah serta kere seperti diriku selamanya ditakdirkan menjadi orang gagal dan bahan tertawaan."
No Longer Human mengisahkan kehidupan Yozo Oba, seorang pria yang merasa dirinya tak mampu menjadi manusia seperti sebagaimana mestinya. Sejak kecil, ia merasa terasing dari orang di sekitarnya, seperti ada jarak yang memisahkan antara ia dan dunia.
Sebagai bentuk coping mechanism-nya, ia memilih bersembunyi di balik tawa dan humor. Ia menjadi badut di hadapan orang lain, menutupi kegelisahan dengan kepura-puraan.
Namun, kehidupan yang dijalani dengan topeng itu perlahan menghancurkannya. Ia kehilangan arah, terjerat rasa bersalah, dan semakin jauh dari kasih sayang yang sebenarnya ia rindukan, hingga akhirnya meyakini sepenuhnya bahwa dirinya tidak lagi seperti seorang manusia.
Baca juga: Jangan Percaya Matamu: ‘Teka-teki Gambar Aneh’ Siap Mengacak-acak Perspektifmu!
Potret Mendalam Tentang Orang yang Kehilangan Arah
“Setiap kali aku ditanya apa yang kuinginkan, dorongan pertamaku adalah menjawab, ‘Tidak ada.’ Pikiran itu terlintas begitu saja di benakku bahwa semuanya tidak ada bedanya, bahwa tak ada satu pun yang akan membuatku bahagia.”
No Longer Human bukan semata kisah kehancuran, melainkan potret mendalam tentang seseorang yang kehilangan arah hidup dan rasa keberhargaan diri. Dazai memperlihatkan bagaimana keterasingan dapat tumbuh ketika seseorang merasa tidak diterima, baik oleh lingkungan maupun oleh dirinya sendiri. Dari sana, muncul kehampaan yang bukan hanya emosional, tetapi juga eksistensial.
Buku ini mengingatkan bahwa kebahagiaan dan keterpurukan bukan dua hal yang saling meniadakan, melainkan dua sisi dari pengalaman manusia yang sama. Kebahagiaan hanya memiliki makna ketika ada pengakuan terhadap ketidakbahagiaan; memahami sisi gelap kehidupan justru membantu kita melihat betapa rapuh dan berharga rasa tenang yang sering kita anggap biasa.
Kisah Lainnya yang Hadir dengan Emosi Mendalam!
Kalau kamu tertarik pada kisah yang menggali sisi terdalam manusia, beberapa buku berikut bisa jadi pilihan
1. Norwegian Wood – Haruki Murakami
Dalam Norwegian Wood, Toru Watanabe tiba-tiba terseret kembali ke masa lalu saat mendengar lagu dari The Beatles yang berjudul sama. Lagu itu membawanya pada kenangan tentang Naoko, cinta pertamanya, yang juga pernah menjadi kekasih sahabatnya, Kizuki. Dari situ, ia mengingat kembali masa-masa kuliah di Tokyo pada akhir 1960-an, periode yang penuh gejolak emosi, kehilangan, pencarian jati diri, dan hubungan yang rumit.
Di tengah duka yang belum sembuh, Toru terjebak dalam pusaran relasi yang intens dan rapuh. Naoko hadir dengan luka batin yang dalam, sementara Midori muncul dengan sikap yang lebih berani dan terbuka pada kehidupan. Novel karya Haruki Murakami ini merangkai kisah tentang cinta, kesedihan, dan kehampaan dengan nada melankolis yang sunyi, memperlihatkan bagaimana manusia belajar hidup berdampingan dengan kehilangan yang tak pernah benar-benar usai.
2. Kitchen – Yoshimoto Banana
“Tempat yang paling kusukai di dunia ini adalah dapur.”
Lewat kisah-kisah tentang tokoh-tokoh yang ditinggalkan orang tercinta, novel Kitchen berbicara tentang kesepian yang datang setelah kematian dan bagaimana seseorang mencoba tetap bertahan di tengah ruang kosong yang terasa asing.
Dapur menjadi simbol kehangatan, tempat untuk kembali menata diri ketika dunia terasa runtuh. Dengan gaya bertutur yang lembut dan jernih, Kitchen menelusuri proses berduka, kecemasan, dan ketakutan akan dianggap rapuh. Di balik kesederhanaannya, tersimpan perenungan tentang keseimbangan hidup dan mati, serta harapan kecil yang tumbuh perlahan dari rutinitas sehari-hari.
3. A Little Life – Hanya Yanagihara
Empat sahabat lulusan kampus kecil di Massachusetts pindah ke New York dengan mimpi besar dan kondisi serba pas-pasan. Ada Willem yang ingin menjadi aktor, JB sang pelukis ambisius, Malcolm si arsitek yang gelisah, dan Jude, sosok cerdas sekaligus misterius yang menjadi pusat gravitasi pertemanan mereka. Bersama, mereka membangun karier, menghadapi kegagalan, dan mencoba bertahan di kota yang keras.
Seiring waktu, persahabatan mereka diuji oleh kesuksesan, kecanduan, ego, dan luka masa lalu. Di tengah semuanya, Jude menyimpan trauma kelam yang perlahan menggerogoti hidupnya hingga dewasa. Lewat novel karya Hanya Yanagihara ini, pembaca diajak menyelami arti persahabatan, cinta, dan penderitaan yang begitu dalam, sekaligus melihat bagaimana trauma bisa membentuk dan menghancurkan seseorang sepanjang hidupnya.
4. Kotak Pandora – Osamu Dazai
Kotak Pandora karya Osamu Dazai menghadirkan kisah tentang masa pemulihan di Jepang pascaperang melalui sudut pandang yang reflektif. Cerita berpusat pada seorang pemuda yang menjalani perawatan di sanatorium, jauh dari hiruk-pikuk dunia luar yang sedang berusaha bangkit dari kehancuran.
Di ruang yang terbatas itu, ia mengamati kehidupan, harapan, dan semangat orang-orang di sekitarnya. Novel ini memadukan humor tipis dengan renungan mendalam tentang arti bertahan dan membangun kembali diri setelah trauma. Lewat karakter-karakternya yang rapuh sekaligus hangat, Dazai menyuguhkan potret kemanusiaan yang jujur dan penuh perasaan.
5. Metamorfosis – Franz Kafka
Suatu pagi, Gregor Samsa terbangun dan mendapati dirinya berubah menjadi serangga raksasa. Sebagai penjual keliling yang selama ini menjadi tulang punggung keluarga, perubahan itu langsung menghancurkan hidupnya. Ia tak lagi bisa bekerja, tak mampu berkomunikasi dengan normal, dan perlahan tersingkir dari kehidupan rumah yang dulu ia topang sepenuhnya.
Terisolasi di dalam kamar, Gregor menghadapi rasa takut, penolakan, dan beban finansial yang kini menimpa keluarganya. Novel karya Franz Kafka ini menggambarkan keterasingan manusia dengan cara yang absurd sekaligus menyakitkan. Lewat kisah yang sederhana namun mengguncang, Metamorfosis menyoroti rasa terasing, harga diri, dan rapuhnya hubungan ketika seseorang tak lagi dianggap berguna.
Pada akhirnya,
No Longer Human terasa sebagai pengakuan yang sangat personal tentang rapuhnya jiwa manusia. Kisah Yozo Oba memperlihatkan bagaimana seseorang bisa menyimpan luka dan rasa malu yang dalam, sambil tetap berusaha terlihat baik-baik saja di hadapan dunia. 🏃♂️🍃
Lewat gaya I-Novel atau watakushi shōsetsu yang intim, Osamu Dazai menipiskan batas antara pengalaman pribadi dan fiksi. Ia menuliskan keterasingan, kegagalan untuk memercayai orang lain, serta kesepian yang sunyi dengan cara yang tenang namun menghantam. Membacanya seperti diajak duduk berhadapan dengan pengakuan yang jujur, tanpa banyak hiasan.
Kalau kamu tertarik untuk menyelami kisahnya lebih jauh, bukunya sudah tersedia melalui pre-order di Gramedia.com ya. Dengan harga Rp59.000, kamu juga akan mendapatkan bonus menarik berupa bolpoin, stiker, serta bookmark yang sayang untuk dilewatkan.
Periode pre-order ini berlangsung dari 28 Februari sampai 8 Maret 2026 aja ya, Grameds. Jadi, jangan sampai ketinggalan! 😉
Baca juga: Ketika Anak-Anak Pergi: Saat Dunia Dewasa Menyentuh Petualangan Mi, Ma, Mo, dan Nona Gigi!
✨Oh iya, jangan lupa cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri kisahnya di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!