Hari Kartini: Di Antara Banyaknya Pahlawan Wanita, Mengapa Kartini?

Hari Kartini: Di Antara Banyaknya Pahlawan Wanita, Mengapa Kartini?

. 3 min read

Ibu kita Kartini
Putri sejati
Putri Indonesia
Harum namanya

Ibu kita Kartini
Pendekar bangsa
Pendekar kaumnya
Untuk merdeka

Kira-kira begitulah kutipan lagu “Ibu Kita Kartini”, yang membuat kita berkenalan dengan beliau sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Seorang wanita pendekar bangsa, pendekar kaum wanita. Tapi pernahkah Anda berpikir, dari sekian banyak pahlawan wanita di Indonesia, mengapa harus Kartini?

Tanpa mengurangi rasa hormat kepada Kartini, mari simak beberapa kisah masa juang pahlawan wanita yang tak kalah besar kontribusinya bagi Indonesia.

Rohana Kudus

Sama halnya dengan Kartini, Rohana Kudus pula memperjuangkan pendidikan wanita Indonesia. Idenya ia sebarkan secara terbuka melalui radio dan koran, yang membuatnya tercatat sebagai Jurnalis wanita pertama di Indonesia. Tak sampai disitu, ia bahkan mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916) di tanah Minang.

Dewi Sartika

Sebelum Rohana, Dewi Sartika pun memiliki pemikiran yang tak kalah majunya dengan Kartini. Dewi Sartika berhasil mendirikan sekolah yang dinamakan Sakola Kautamaan Istri (1910) di kota kelahirannya, Bandung. Sekolah ini pun menjadi sekolah perempuan pertama se-Hindia Belanda.

Christina Martha Tiahahu

Christina Martha Tiahahu juga merupakan perjuang wanita dari Maluku. Beliau telah menginjakkan kakinya di medan perang melawan kolonial Belanda sejak usianya masih 17 tahun. Meskipun masa juangnya hanya setahun, ia tetaplah wanita muda yang telah ikut berjuang memerdekakan Indonesia bukan?

Cut Nyak Dhien

Lalu bagaimana dengan Cut Nyak Dhien? Wanita pemberani yang pula ikut angkat senjata berperang mengusir Belanda dari tanah Aceh. Diikuti dengan wanita-wanita Aceh lain yang tak kalah beraninya seperti Tengku Fakinah, Cut Meutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah. Bahkan sebelum era Cut Nyak Dhien dan sebelum Belanda datang ke Indonesia, Kerajaan Aceh memiliki Panglima Angkatan Laut wanita pertama, yakni Malahayati.

Namun Raden Ajeng Kartini berbeda, dan inilah alasan kenapa Kartini diangkat menjadi tokoh utama pahlawan wanita di Indonesia. Kartini adalah sosok pahlawan yang secara spesifik menginginkan kemerdekaan hak kaum wanita, jauh sebelum nama-nama pahlawan wanita diatas.

Sosok yang tetap kritis berpikir untuk wanita Indonesia yang harus memiliki pendidikan, tanpa diskriminasi, dan setara dengan laki-laki. Yang tetap memperjuangkan hak-hak wanita di tengah tekanan yang mengharuskannya menjadi wanita Jawa seutuhnya dengan bersikap manis dan penurut.


Karena popularitasnya pula, beberapa buku tentang Kartini diterbitkan. Bahkan pada 2017 tahun lalu, kisah hidup R.A. Kartini difilmkan dan diperankan oleh Dian Sastrowardoyo. Berikut dua dari banyak buku yang menyoroti pahlawan wanita yang lahir di Jepara, Jawa Tengah ini.

Buku Saku Tempo: Kartini

for-blog-fixed---kartini-tempo
Buku serial ini mengangkat, mengupas, dan mengisahkan sisi lain kehidupan tokoh-tokoh yang memiliki peran besar pada setiap zamannya. Kali ini Kartini. Meski hidupnya hanya 25 tahun, surat-surat Kartini sungguh menggambarkan perjuangan panjang di “ruang dalam” yang belum selesai sekalipun kemerdekaan di “ruang luar” sudah tercapai.

Buku ini menceritakan kembali kisah kartini yang cerdas, namun lemah hati. Menyerap ide masyarakat barat, namun tetap pada adatnya. Ia yang membawa wanita kepada fase baru, fase keadilan untuk pendidikan. Namun apakah sebatas itu saja perjuangan Kartini? Akan ada banyak hal yang dikupas dalam buku ini yang dapat dijadikan referensi untuk lebih mengenal Kartini.

Di Balik Layar Kartini

for-blog-fixed---kartini-film
Pada April 2017 lalu, film Kartini sukses mewarnai perfilman Indonesia yang diperankan oleh Dian Sastrowardoyo. Anda yang masih rindu dengan adegan demi adegan yang digarap oleh Hanung Bramantyo dapat bernostalgia kembali dengan buku yang berisikan kumpulan foto dalam kisah "Kartini".

Memperingati Hari Kartini, mari sama-sama meneruskan perjuangan beliau yang belum tuntas untuk membebaskan wanita dari diskriminasi, tanpa melupakan pahlawan wanita Indonesia lainnya yang telah membuat penjajah hengkang dari Indonesia.

Selamat Hari Kartini!