Ketika Masa Lalu Masih Membayangi Republik: Catatan Ariel Heryanto dalam Nasib Publik dalam Republik
"Orde Baru sudah tamat. Tapi yang tidak mati-mati: semangatnya, bahasanya, logikanya; juga hantu-hantu dan takhayulnya."
Belakangan ini muncul anggapan bahwa Indonesia sedang bergerak mundur, seperti kembali ke arah Orde Baru. Terpilihnya Prabowo Subianto sebagai Presiden ke-8 kerap dibaca sebagai tanda kembalinya bayang-bayang masa lalu itu, terutama karena kedekatannya dengan lingkaran kekuasaan era Soeharto.
Perbandingan dengan masa sebelum dan sesudah Reformasi 1998 pun kembali ramai dibicarakan. Akan tetapi, pertanyaannya: sejauh mana kemiripan itu benar-benar terjadi? Apakah kita pernah sepenuhnya lepas dari pola pikir lama? Atau justru sebagian warisan itu tetap hidup dalam bentuk baru?
Pertanyaan-pertanyaan inilah yang mengantar pembaca pada buku Nasib Publik dalam Republik, kumpulan tulisan yang merekam dinamika Indonesia lintas zaman. 📝
Nasib Publik Dalam Republik, Buku tentang Apa?
Nasib Publik dalam Republik memuat seratus kolom pilihan yang ditulis Ariel Heryanto selama lebih dari empat dekade. Melalui tulisan-tulisan tersebut, ia menelusuri bagaimana wacana publik dibentuk, dipertahankan, dan diperdebatkan dalam ruang sosial-politik Indonesia. Isu yang dibahas beragam, mulai dari nasionalisme, identitas, sensor, hingga cara negara dan masyarakat memaknai ancaman.
Buku ini diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia dan menjadi bagian dari rangkaian karya Ariel yang telah lebih dulu hadir. Melalui kumpulan kolom ini, pembaca diajak melihat kembali peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi, sekaligus merefleksikan pola yang mungkin terus berulang.
Ketika Buku Dianggap Ancaman
"Ketidaktahuan merupakan sumber ketakutan. Ketakutan sering memicu kekerasan. Dan kekerasan yang memasyarakat, bukan hanya menghancurkan kesehatan tubuh dan jiwa, tapi juga kemungkinan bertumbuhnya akal sehat dan kecerdasan bangsa."
Salah satu bahasan menarik dalam Nasib Publik dalam Republik adalah kecenderungan aparat penegak hukum menjadikan buku sebagai barang bukti saat razia atau penindakan. Dalam sejumlah peristiwa, teks dan simbol diperlakukan sebagai tanda bahaya yang dianggap cukup untuk memicu kecurigaan.
Ariel menyebut gejala ini sebagai bentuk ketakutan sosial yang diwariskan. Ketakutan tersebut tumbuh subur dalam iklim politik yang represif, seperti pada masa Orde Baru, ketika ekspresi dan wacana publik diawasi ketat. Dalam situasi seperti itu, benda sehari-hari pun bisa dimaknai sebagai ancaman.
Fenomena serupa pernah digambarkan oleh sastrawan Idrus dalam karya Surabaya yang terbit pada 1948. Latar revolusi kemerdekaan menampilkan suasana kacau, ketika kecurigaan terhadap simbol warna atau atribut tertentu dapat berujung pada tindakan berlebihan. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa logika ketakutan tidak lahir dari satu era saja, melainkan bisa muncul dalam berbagai konteks sejarah.
Mitos Tentang “Yang Asli”
"Di zaman pasca-modern seperti ini, tidak ada lagi komunitas yang 'asli' dalam pengertian lahir, tumbuh, dan mati di sebuah lokasi yang terisolasi total dari pengaruh luar. Makhluk pribumi dan asli mungkin hanya tersisa sebagai fiksi, misalnya dinosaurus di taman Jurasik."
Isu lain yang diangkat adalah obsesi publik dalam mencari keaslian dalam identitas kebangsaan. Dalam pembacaan Ariel, bangsa modern tidak berdiri di atas kemurnian darah atau garis keturunan. Ia lahir dari proses sejarah, kesepakatan politik, dan kerja birokrasi modern.
Organisasi seperti Perhimpoenan Indonesia yang berdiri di Belanda pada 1922 menjadi salah satu tonggak awal artikulasi gagasan kebangsaan Indonesia. Bahkan, istilah “Indonesia” dan “Republik” sendiri berasal dari bahasa Eropa. Peristiwa Sumpah Pemuda yang terjadi pada 1928 pun berlangsung dalam konteks kolonial, dengan dinamika wacana yang tak lepas dari pengaruh pendidikan dan bahasa Belanda.
Melalui paparan ini, Ariel mengajak pembaca memahami bahwa identitas nasional adalah proyek kolektif yang terus dibentuk. Etnisitas dipandang sebagai konstruksi sosial dan politik yang bisa berubah sesuai konteks sejarah. Di tengah dunia yang saling terhubung, gagasan tentang komunitas yang sepenuhnya terisolasi hampir tak memiliki pijakan faktual.
Baca juga: Manifestasi Jalur Langit: Rahasia Menerapkan Law of Attraction Sesuai Al-Qur’an
Siapa Itu Ariel Heryanto?

Ariel Heryanto lahir di Malang pada 1954 dan dikenal sebagai sosiolog Indonesia yang lama berkiprah di dunia akademik internasional. Ia pernah menjadi profesor di School of Culture, History and Language, Australian National University. Selain itu, ia juga mengajar dan memegang posisi akademik di University of Melbourne, National University of Singapore, serta Monash University, tempat ia menjabat sebagai Herb Feith Professor untuk Studi Indonesia sejak 2017.
Di ranah sastra Indonesia, Ariel pernah terlibat dalam penggagas gerakan Sastra Kontekstual di Surakarta pada 1980-an. Kiprahnya memperlihatkan konsistensi dalam membaca hubungan antara budaya, kekuasaan, dan masyarakat. Sebelum menerbitkan Nasib Publik dalam Republik, ia pernah menerbitkan beberapa buku, yaitu: Identitas dan Kenikmatan (2015) dan Perlawanan dalam Kepatuhan (2000).
Catatan-catatan Lain Terkait Nasib Publik
Kalau kamu ingin memahami lebih dalam bagaimana isu publik dan kebangsaan dibahas dari berbagai sudut pandang, deretan buku berikut bisa menjadi pintu masuk yang tepat buat kamu. Yuk, intip daftarnya!
1. Naar de Republiek Indonesia: Menuju Republik Indonesia – Tan Malaka
Ditulis sekitar seratus tahun lalu saat berada di pengasingan, Naar de Republiek Indonesia memuat gagasan besar tentang Indonesia merdeka. Tan Malaka menyuarakan kemerdekaan penuh tanpa syarat serta hak politik menyeluruh bagi seluruh rakyat, baik laki-laki maupun perempuan. Di masa ketika banyak negara besar pun belum mengakui kesetaraan ras dan gender dalam politik, pandangannya terasa jauh melampaui zamannya.
Buku ini memaparkan dasar pemikiran tentang arti kemerdekaan yang lebih luas, termasuk kebebasan warga dari dominasi kekuasaan yang menindas. Seratus tahun setelah ditulis, gagasan Tan Malaka tetap relevan untuk membaca persoalan ketimpangan dan bentuk penjajahan gaya baru yang masih terjadi hari ini.
2. Mengapa Negara Gagal (Why Nations Fail) – Daron Acemoglu, James A. Robinson
Mengapa ada negara yang kaya dan ada yang terus tertinggal? Mengapa kesenjangan antara negara maju dan berkembang begitu lebar? Dalam buku ini, Daron Acemoglu dan James A. Robinson menelusuri akar persoalan tersebut lewat analisis sejarah dan politik dari berbagai belahan dunia.
Mereka berargumen bahwa kunci utamanya terletak pada institusi politik dan ekonomi. Negara dengan institusi yang inklusif cenderung menciptakan pertumbuhan dan kesejahteraan, sementara institusi yang ekstraktif membuka jalan pada kemiskinan dan instabilitas. Namun, pembahasannya tidak berhenti pada teori sederhana, karena penulis juga menunjukkan kompleksitas faktor sejarah dan dinamika kekuasaan yang membentuk perjalanan sebuah bangsa.
3. Buruh dan Negara di Indonesia – Vedi R. Hadiz
Melalui buku ini, Vedi R. Hadiz mengulas dampak industrialisasi masif sejak akhir 1960-an terhadap lahirnya kelas pekerja industri di Indonesia. Dengan pendekatan materialisme historis dan perbandingan internasional, ia membedah peluang sekaligus keterbatasan gerakan buruh di tengah struktur politik dan ekonomi yang menekan.
Terbit pertama kali pada 1997, menjelang runtuhnya Orde Baru, buku ini menangkap dinamika perlawanan buruh di tengah represi negara. Hadiz menunjukkan bahwa kelas buruh adalah aktor aktif yang merespons kondisi sejarah dan ikut terlibat dalam proses demokratisasi. Lebih dari dua dekade setelah reformasi, analisisnya tetap penting untuk memahami tantangan dan arah perjuangan buruh hari ini.
4. Anak Semua Bangsa – Pramoedya Ananta Toer
Sebagai bagian kedua dari Tetralogi Buru, Anak Semua Bangsa mengikuti perjalanan Minke saat ia mulai turun langsung melihat realitas rakyat pribumi yang hidup dalam bayang-bayang kekuasaan kolonial. Kekagumannya pada peradaban Eropa perlahan diuji oleh pengalaman lapangan, pertemuan dengan aktivis Tionghoa Khouw Ah Soe, korespondensi dengan keluarga Eropa liberal, serta nasihat tajam Nyai Ontosoroh.
Dari proses itu, kesadaran Minke tumbuh. Ia mulai memahami posisi bangsanya dalam struktur kolonial dan menemukan panggilan untuk menulis dalam bahasa Melayu demi bangsanya sendiri. Novel ini merekam pergulatan batin, identitas, dan kebangkitan kesadaran nasional melalui perjalanan personal yang intens.
5. 2045 Hz: Frekuensi Masa Depan Indonesia – Fahd Pahdepie
2045 Hz menawarkan gagasan tentang bagaimana bangsa ini bisa menyetel diri menuju Indonesia 2045 yang lebih matang dan penuh harapan. Fahd Pahdepie menulis dengan gaya reflektif dan simbolik, mengajak pembaca membangun imajinasi kolektif tentang masa depan yang ingin dicapai, terutama oleh generasi muda yang akan menjadi penopang utama Indonesia satu abad merdeka.
Buku ini memadukan filsafat, spiritualitas, dan strategi kebangsaan, dilengkapi berbagai studi kasus praktik dari dalam dan luar negeri. Fahd menekankan pentingnya kesadaran kolektif yang menjadi energi batin bangsa agar tidak kehilangan arah. Lewat narasi ini, ia mengajak pembaca merawat dan menguatkan resonansi kebangsaan untuk menghadapi masa depan.
Lewat Nasib Publik dalam Republik, Ariel Heryanto tidak menawarkan jawaban tunggal; Ia justru membuka ruang refleksi tentang bagaimana kita membaca masa lalu, memahami masa kini, dan membayangkan masa depan. 🔎🛣
Buku ini menjadi arsip pemikiran yang membantu pembaca menelusuri jejak wacana publik Indonesia selama puluhan tahun. Nasib Publik dalam Republik tampil merangkum puluhan tahun pemikiran yang saling terhubung. Isunya luas, dari politik hingga persoalan sosial, ekonomi, dan kebudayaan yang membentuk kehidupan bersama.
Dengan lebih dari 500 halaman, buku ini menghadirkan bacaan yang padat dan kaya sudut pandang, cocok untuk kamu yang ingin menyelami dinamika Indonesia secara lebih mendalam.
Kalau kamu tertarik memilikinya, kamu bisa mendapatkannya dengan promo Special Offer Nasib Publik dalam Republik yang sedang berlangsung di Gramedia.com. Selama 3–12 Maret 2026, kamu berkesempatan menelusuri isi bukunya lebih dalam dengan potongan harga 15%, Grameds!
Yuk, dapatkan bukunya segera di Gramedia. Jangan lupa juga untuk siapkan waktu dan ruang baca yang nyaman agar setiap esainya bisa kamu nikmati dengan lebih khidmat dan fokus! 🤗
Baca juga: No Longer Human: Pengakuan Pahit tentang Gagalnya Menjadi Manusia
✨Oh iya, jangan lupa cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵
Temukan Bukunya Di Sini!
Temukan Bukunya Di Sini!
Temukan Bukunya Di Sini!
Temukan Bukunya Di Sini!
Temukan Bukunya Di Sini!
Temukan Bukunya Di Sini!
Simak Bahasannya Lebih Hemat!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!