Masa Depan Pendidikan di Indonesia Harus Seimbang dengan Teknologi

Masa Depan Pendidikan di Indonesia Harus Seimbang dengan Teknologi

. 3 min read

Bagaimana jika dua praktisi pendidikan yang punya dua pandangan berbeda perihal model pendidikan duduk bersama dan berdiskusi mencari jalan tengah? Sebuah seminar pendidikan bertajuk “Pendidikan dalam Kehidupan Termesinkan” diselenggarakan pada Jumat (15/11) di Bentara Budaya Jakarta.

Acara tersebut menghadirkan dua praktisi pendidikan yaitu Pak Iwan Pranoto dan Pak Haidar Bagir. Kedua sama-sama menerbitkan buku berlandaskan pendidikan: Kasmaran Berilmu Pengetahuan karya Pak Iwan Pranoto dan Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia karya Pak Haidar Bagir. Masing-masing memaparkan pandangan tentang sistem pendidikan di Indonesia melalui buku yang mereka tulis.

Pak Iwan Pranoto memulai diskusi dengan menjelaskan isi kandungan bukunya yang rilis pada September 2019 lalu. Ia mengawali dengan membedakan peran guru dan pelajar antara dulu dan sekarang. Dulu, guru adalah subjek dan pelajar adalah objek sehingga modelnya berbentuk instruksi dan penuh penekanan. Sekarang, guru dan pelajar harusnya berkolaborasi menjadi subjek dan kecakapan adalah objeknya.

Kasmaran
Kasmaran Berilmu Pengetahuan karya Iwan Pranoto

Dosen sarjana dan pascasarjana bidang matematika ITB tersebut mengistilahkannya dengan metode drill and kill untuk sistem pendidikan yang masih diterapkan hingga sekarang dan metode thrill and will sebagai pengganti yang diharapkan bisa diterapkan di sistem pendidikan di Indonesia.

“Sistem pendidikan yang melalui drill dan akhirnya membunuh motivasi anak itu untuk belajar. Anak-anak dapat nilai tinggi, tapi sebetulnya jenuh. Yang saya upayakan dalam buku ini sebetulnya thrill and will. Thrill itu seperti orang yang penasaran, ingin coba. Dan juga will yang adalah dorongan dari dalam diri,” terang Pak Iwan.

Menurut Pak Iwan, manusia masih jemawa pada diri mereka yang tidak bisa tergantikan oleh siapa pun. Padahal, seiring perkembangan teknologi, manusia bisa hidup berdampingan dengan mesin. Caranya yaitu dengan memanfaatkannya. Pemanfaatan teknologi inilah yang ditekankan oleh Pak Iwan untuk membantu menyelaraskan kualitas sistem pendidikan di Indonesia.

“Bagaimana menyediakan pendidikan untuk anak-anak yang di sekolah ini dengan kualitas sebaik yang ada di sekolah favorit ibukota? Menurut saya tidak sulit, sudah ada teknologi komunikasi yang begini canggih. Apa susahnya?” ujar Pak Iwan.

Pendidikan Karakter Juga Penting

Pak Haidar Bagir punya pandangan berbeda mengenai pendidikan di Indonesia. Dalam Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia, ia menyertakan sebuah kutipan dari buku How Children Fail karya edukator asal Amerika Serikat bernama John Holt, “…kegagalan akademis siswa bukanlah akibat tidak adanya/kurangnya upaya oleh sekolah, melainkan justru akibat ‘ulah’ sekolah.” Kutipan tersebut amat disetujui oleh Pak Haidar terutama melihat sistem pendidikan di Indonesia.

“Jadi yang merusak anak-anak itu bukan karena anak-anak itu kurang sekolah, tetapi sekolah itulah yang merusak anak-anak. Makanya saya bilang, sekolah sekarang bagi saya itu ban serep yang buruk,” tegas Pak Haidar.

Memulihkan
Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia karya Haidar Bagir

Pandangan Pak Haidar tentang pendidikan adalah suatu kegiatan untuk mengaktualkan potensi manusia sehingga benar-benar menjadi manusia sejati. Ia setuju bila sistem pendidikan harus menyertakan mesin atau teknologi seperti artificial intelligence (AI), tetapi pendidikan karakter untuk manusia itu sendiri lebih penting.

Mendiang Stephen Hawking, ilmuwan populer abad ini, mengatakan bahwa kehadiran AI akan menghancurkan umat manusia. Hanya saja, Pak Haidar berpandangan bahwa bila AI benar-benar terimplementasi dan berjalan, umat manusia tidak akan hancur karena masih memiliki sifat kemanusiaannya. Dan itu yang harus tetap dijaga.

“Manusia akan jadi manusia ketika artificial intelligence sudah mencapai tingkat tertinggi karena ada potensi kemanusiaan yang dahsyat dalam diri manusia yang tidak bisa tergantikan oleh AI yang selama ini diabaikan,” ujar pendiri Yayasan Pendidikan Lazuardi tersebut.

Selain menjaga sifat kemanusiaan, tiga unsur yang harus dikedepankan menurut Pak Haidar dalam pendidikan terutama pendidikan karakter adalah moralitas, spiritualitas, dan terutama imajinasi. Ia lalu menyertakan kutipan dari Albert Einstein tentang imajinasi: “imajinasi lebih penting dari ilmu pengetahuan.” Inventor-inventor ternama memang memulai penemuannya dengan mengandai-andai alias berimajinasi.

Pada akhirnya, Pak Haidar Bagir setuju dengan Pak Iwan Pranoto bahwa mungkin saja pendidikan membutuhkan mesin atau teknologi. Namun, pendidikan karakter pun penting dilakukan. Untuk memahami lebih lanjut tentang pandangan keduanya, baca buku tentang pendidikan karya keduanya.

Dapatkan di Gramedia.com: Kasmaran Berilmu Pengetahuan karya Pak Iwan Pranoto dan Memulihkan Sekolah Memulihkan Manusia karya Pak Haidar Bagir.