Dari Gresik ke Berlin: Perjalanan Evan Haydar, dari Anak Nakal hingga Jadi HR Tesla

Bekerja di Tesla, perusahaan otomotif raksasa milik Elon Musk, bagi banyak orang terdengar seperti mimpi yang terlalu jauh untuk diraih. Apalagi, jika titik awalnya adalah sebuah kota kecil, dengan segala keterbatasan dan cerita masa kecil yang jauh dari kata sempurna. Namun, dari sanalah kisah Evan Haydar bermula. 🌟🔨

Kisahnya merangkum hal-hal tentang rasa penasaran yang terus dijaga, kegagalan yang dihadapi tanpa disangkal, serta keberanian untuk tetap melangkah, meski arah hidup sempat terasa kabur.

Kamu sudah siap untuk terinspirasi, Grameds? Mari kita telusuri lika-liku perjalanannya dalam artikel ini! 🚗✨


Perjalanan Dimulai dari Gresik!

Kisah Evan menjadi HR di perusahaan Tesla tak ditempuh hanya dalam semalam, serupa Bandung Bondowoso membangun candi buat Roro Jonggrang. Ia memulai semua itu dari Gresik, kota yang menjadi tempat kelahiran, sekaligus titik awal dari hidupnya.

Di kota itu, ia tumbuh dengan kehidupan yang ala kadarnya. Semua serba terbatas. Meski begitu, keterbatasan itu tidak memadamkan rasa ingin tahunya. Sepeda Polygon, gitar listrik, dan tumpukan komik menjadi “dunia kecil” yang menemaninya tumbuh, sekaligus menjadi ruang bagi imajinasi dan rasa penasaran berkembang.

Dari sanalah Evan mulai menyadari bahwa dirinya tidak sepenuhnya sama dengan anak-anak lain. Ia selalu aktif, penuh ide, dan sulit diam.

“Dari kecil aku memang berbeda. Aku nggak bisa diam. Selalu gerak. Selalu mikir. Kepalaku penuh ide dan rasa penasaran yang nggak ada habisnya.”


Dari Ruang Penasaran, Hingga Bolak-Balik Ruang BK

Semasa sekolah, predikat “anak bandel” adalah hal yang akrab dengannya. Ruang BK bukan tempat asing baginya. Menurutnya, sikap itu muncul karena ia merasa tidak cocok dengan sistem pendidikan yang menuntut keseragaman. Energinya besar, tapi belum menemukan jalur yang tepat.

Seiring berjalannya waktu, ia mulai menyadari, bahwa yang ia butuhkan bukan hukuman, melainkan arahan. Dari fase inilah Evan pelan-pelan belajar mengenali dirinya sendiri, memahami cara berpikirnya, dan mulai menata langkah hidupnya dengan lebih sadar.


Kepikiran Jerman Sejak Bangku Sekolah

“Aku selalu punya keinginan untuk pergi jauh. Untuk menjelajah dan melihat dunia di luar sana.”

Meski berasal dari keluarga sederhana, Evan tidak pernah berhenti menengok dunia di luar lingkaran hidupnya. Ia mencari informasi, membaca, dan membuka kemungkinan baru. Hingga suatu hari, pencariannya itu menemukan satu fakta: pendidikan tinggi di Jerman dapat diakses nyaris tanpa biaya kuliah. Informasi, yang menjadi titik balik besar dalam hidupnya.

"Waktu itu SMA kelas 3 kesempatannya datang waktu aku tahu kalau ternyata kuliah di Jerman itu biayanya hampir bisa dibilang gratis, 0 rupiah, cuma ada biaya administrasi aja, dan kurang lebih cuman Rp 6 juta per semester, tapi itu juga udah termasuk biaya transportasi, biaya perpustakaan dan lain-lain. Jadi yang waktu itu karena orang tuaku support, akhirnya ayahku pinjam uang untuk bisa memberangkatkan aku ke Jerman."

Keputusan berangkat ke Jerman pun ia ambil. Namun, realita hidup di negeri orang tidak selalu indah. Evan harus menjalani pekerjaan serabutan, menghadapi lingkungan yang keras, dan bergulat dengan tekanan mental yang tidak ringan. Di fase ini, ia bahkan sempat kehilangan jati diri dan gagal menyelesaikan studinya.

Itu adalah masa yang sunyi. Masa ketika keraguan dan kelelahan kembali menyelimuti dirinya


Baca juga: Dilan ITB 1997: Reformasi, Bandung yang Bergolak, dan Milea yang Kembali


Lalu, Bagaimana Ia Sekarang?

Dari titik terendah itulah ketahanan Evan terbentuk. Ia belajar bertahan, menyesuaikan diri, dan membaca peluang dari pengalaman yang tidak mudah. Semua proses itu akhirnya membawanya ke posisi yang kini ia jalani sebagai HR Specialist Tesla di Berlin.

Bagi Evan, pencapaian ini tidak pernah ia anggap sebagai bukti kehebatan pribadi, melainkan hasil dari konsistensi dan keberanian untuk terus melangkah, meski perlahan.

“Aku bukan yang paling hebat. Aku bukan yang paling pintar. Tapi, aku mulai dari bawah dan terus melangkah hingga sampai di titik ini. Perjalananku panjang, dan ini bukti bahwa siapa pun bisa, asal mau kerja keras.”

Let’s Survive It Your Way!

Pengalaman hidup itulah yang kemudian dituangkan Evan dalam bukunya, Survive Your Way. Sebuah refleksi tentang kerasnya hidup dan beragam cara manusia bertahan di dalamnya.

“Hidup itu keras. Dan tidak semua orang tahu caranya bertahan.”

Lewat kisah hidup di negeri orang, pekerjaan kasar, dan hari-hari yang penuh ketidakpastian, Evan mencoba menyelipkan pesan, bahwa setiap orang punya jalannya sendiri untuk bertahan. Semua orang bisa terus melangkah, dengan temponya masing-masing.

Buku ini mengajak pembaca untuk berdamai dengan proses, menumbuhkan ketahanan, dan tetap bergerak maju dengan cara yang paling jujur serta relevan untuk diri sendiri.

Temukan Kisahnya di Sini!


Bekali Dirimu dengan Bacaan! 📚🍽

Grameds, dunia ini tak selalu ramah. Ada hari-hari berat yang harus dijalani sendirian. Karena itu, penting untuk tetap sadar, membuka diri, dan membekali diri dengan hal-hal yang bisa membuat kita lebih kuat, salah satunya lewat bacaan.

Di bawah ini, Gramin udah siapin beberapa buku yang bisa jadi bekal kamu untuk terus survive dan menemani langkahmu untuk terus maju!

1. Limitless – Nadhira Afifa

Perjalanan Nadhira Afifa dimulai dari satu momen yang terasa meruntuhkan segalanya. Kegagalan lulus mata kuliah yang memaksanya menunda wisuda dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Rasa percaya diri yang ambruk membuatnya menarik diri hampir sebulan penuh. Namun, justru dari fase terendah itu, Nadhira menemukan ruang refleksi—tentang diri, tentang proses belajar, dan tentang keberanian untuk bangkit. Perlahan, langkahnya kembali mantap hingga mengantarkannya pada kesempatan besar melanjutkan studi ke Harvard University.

Babak baru itu membawa tantangan yang sama sekali berbeda. Hidup di Amerika Serikat menuntutnya membagi peran sebagai anak, istri, dan pelajar ambisius di tengah lingkungan akademik yang sangat kompetitif. Limitless mengajak pembaca menyusuri proses jatuh-bangun tersebut dengan jujur dan hangat, sekaligus mengingatkan bahwa kepercayaan pada diri sendiri sering kali tumbuh dari kegagalan yang berani dihadapi.

Temukan Kisahnya di Sini!


2. Rehat Sejedak – Danang Giri Sadewa

Lewat Rehat Sejedak, Danang Giri Sadewa membuka ruang aman bagi mereka yang lelah menghadapi hidup dengan segala tuntutannya. Buku ini hadir dengan nada yang tenang, seolah mengajak pembaca duduk sebentar, menarik napas, lalu mengakui bahwa tidak semua hari berjalan sesuai rencana. Ceritanya dekat dengan pengalaman banyak orang. Pengalaman tentang jatuh, kecewa, dan pertanyaan-pertanyaan sunyi yang sering muncul saat ekspektasi tak bertemu kenyataan.

Dari sana, pembaca diajak memahami bahwa luka sering kali berasal dari harapan yang terlalu keras pada diri sendiri. Buku ini menuntun kita untuk berdamai dengan ritme hidup masing-masing, melepaskan kontrol yang melelahkan, dan kembali fokus pada arah. Pelan-pelan, Rehat Sejedak menegaskan bahwa langkah kecil tetap berarti, dan keberadaanmu tetap punya dampak meski belum berada di sorotan utama.

Temukan Kisahnya di Sini!


3. From Zero to Survive: Seni Menang dalam Hidup dengan Realistis – Theo Derick

Theo Derick merangkum perjalanan hidupnya dalam buku ini dengan sudut pandang yang jujur dan membumi. Berangkat dari kondisi yang jauh dari kata ideal, ia menghadapi berbagai tantangan sejak awal hidupnya, hingga akhirnya menemukan cara pandang baru yang lebih lapang terhadap realita. Proses itu membawanya pada penerimaan, kelegaan, dan sikap hidup yang membuatnya terus bertumbuh, melaju tanpa kehilangan kerendahan hati.

Melalui From Zero to Survive, Theo membagikan pengalaman praktis tentang mengelola hidup, bisnis, dan momentum secara realistis. Mulai dari membangun jaringan, mengembangkan personal branding, hingga menyiapkan fondasi hidup dan keuangan yang kuat, semuanya disampaikan lewat cerita personal yang mudah dicerna. Buku ini ditujukan bagi siapa pun yang memulai dari “nol” dan ingin terus melangkah dengan kesadaran bahwa setiap orang punya jalannya sendiri untuk bertahan dan berkembang.

Temukan Kisahnya di Sini!


4. Il Principe (Sang Pangeran) – Niccolò Machiavelli

Ditulis pada tahun 1513, Il Principe adalah karya Niccolò Machiavelli yang hingga kini terus memancing perdebatan. Mulanya, buku ini dipersembahkan kepada keluarga Medici dan berisi panduan bagi penguasa tentang cara merebut serta mempertahankan kekuasaan. Machiavelli menuliskannya dengan pendekatan yang lugas dan realistis, menyoroti praktik politik yang apa adanya, tanpa banyak pertimbangan moral ideal.

Di antara seluruh karyanya, Il Principe menjadi yang paling dikenal karena gagasannya kerap dianggap melegitimasi tipu daya, kelicikan, dan kekerasan demi stabilitas kekuasaan. Pengaruh buku ini begitu luas hingga dibaca oleh banyak tokoh besar dunia, dari Napoleon Bonaparte hingga Benito Mussolini. Lebih dari sekadar teks politik klasik, Il Principe menawarkan cermin tajam tentang relasi antara kekuasaan, manusia, dan realitas sosial.

Temukan Kisahnya di Sini!


5. Jangan Sampai Ada dan Tiadamu di Dunia Ini Sama Saja – Ahmad Rifai Rifan

Ahmad Rifai Rifan mengajak pembaca merenungi ulang makna kontribusi lewat buku ini. Ia menyoroti kegelisahan yang sering muncul ketika hidup terasa berjalan di tempat, sementara orang lain tampak melesat dengan pencapaian besar. Padahal, dampak tidak selalu lahir dari hal-hal megah; sering kali, ia tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan dengan niat tulus dan konsisten.

Buku ini mengingatkan bahwa hidup yang bermakna tidak selalu diukur dari popularitas atau pengakuan. Nilainya justru hadir dalam kebaikan sehari-hari, karya sederhana, dan kehadiran yang membawa manfaat bagi sekitar. Pada akhirnya, yang tersisa bukan seberapa dikenal nama kita, melainkan seberapa banyak hati yang pernah disentuh oleh kebaikan yang kita tebarkan dengan ikhlas.

Temukan Kisahnya di Sini!


Di tengah dunia yang kian keras dan bergerak semakin cepat, kemampuan untuk bertahan menjadi bekal yang penting. Kisah Evan Haydar menunjukkan bahwa bertahan bukan berarti menunggu keadaan membaik, melainkan berani mencari celah, belajar dari kegagalan, dan membuka kemungkinan baru. 🛣🔓

Dengan menemukan cara sendiri untuk menyambung hidup, peluang pun perlahan terbuka. Dan dari Gresik hingga Berlin, perjalanan Evan menjadi pengingat bahwa rasa penasaran yang dirawat dengan konsisten bisa membawa seseorang melangkah jauh, bahkan ke tempat yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.

Well, buat Grameds yang ingin mendapatkan inspirasi lebih cerah dari kisahnya, kamu bisa segera mendapatkan bukunya lewat pre-order Survive Your Way yang sedang berlangsung di gramedia.com!

Lihat Promonya di Sini!!


Baca juga: Quality Time bersama anak: Momen Anak Memahami Emosi


✨ Oya, jangan lupa juga buat dapetin penawaran spesial dari Gramedia! Cek promonya di bawah ini agar belanja kamu jadi lebih hemat! ⤵️

Temukan Semua Promo Spesial di Sini!