Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori Memicu Milenial Menengok Sejarah

Laut Bercerita Karya Leila S. Chudori Memicu Milenial Menengok Sejarah

Laut Bercerita novel karya Leila S. Chudori yang diluncurkan empat tahun silam kini telah mencapai cetakan ke-19. Mengambil latar belakang sejarah Indonesia tahun 1998, novel ini agaknya tidak kehilangan daya pikat.

Leila bersyukur bahwa karyanya bisa begitu diterima. Dan yang paling membuat ia takjub, pembaca Laut Bercerita setiap tahun semakin luas dari segi usia. Dulu, seingat Leila, saat novelnya baru diluncurkan pada 2017, pembacanya kebanyakan berumur 40 tahun ke atas. Kalangan old school yang memang mengalami transisi Indonesia ke era Reformasi. Seiring tahun, usia pembaca makin muda. Sekarang generasi Z yang lahirnya tahun 2000-an ikut memburu Laut Bercerita.

“Dampak yang paling saya suka, novel ini memantik generasi muda untuk riset. Mencari tahu benar tidak sejarah yang jadi latar novel ini pernah kejadian di Indonesia. Siapa orang-orang asli yang jadi inspirasi karya fiksi saya,” aku Leila penuh semangat di acara Nonton Bareng (Nobar) dan Diskusi Laut Bercerita yang diselenggarakan bersama Penerbit KPG pada Rabu, 18 Agustus 2021.

Dalam acara ini hadir juga narasumber, sutradara Pritagita Arianegara, produser sekaligus sutradara Gita Fara, dan Reza Rahadian pemeran Biru Laut dalam film pendek Laut Bercerita.

Nobar Bersama Reza Rahadian

Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia mengadakan acara nonton bareng dan diskusi secara daring film pendek Laut Bercerita garapan sutradara Pritagita Arianegara dalam rangka mengiringi cetakan ulang ke-19.  Selain itu, kegiatan yang didukung oleh Yayasan Dian Sastrowardoyo dan Cineria Film ini merupakan bagian dari kampanye Kelompok Penerbit dan Retail Gramedia dengan tagar #SahabatTanpaBatas.

Meski telah berulangkali diputar, film yang awalnya hanya dimaksudkan sebagai book teaser atau pendamping peluncuran buku Laut Bercerita saja ini tak pernah kehilangan peminat, bahkan boleh jadi sekarang makin bertambah.

Hal ini terlihat saat pendaftaran Nobar dan Diskusi Laut Bercerita dibuka, hanya dalam 15 menit, 1200 tiket yang tersedia langsung habis terpesan. Dari jumlah tersebut lebih dari 960 orang hadir sebagai peserta zoom menonton dan mengikuti diskusi yang mengiringi pemutaran tersebut.

laut
Sumber foto: twitter.com

Menanggapi antusiasme luar biasa ini, Reza Rahadian yang hadir dalam diskusi malam itu berpendapat,

“Ini membuktikan usia sebuah karya yang baik pasti panjang karena bisa selalu menjadi medium komunikasi dari peristiwa apa pun dan membuka jendela kita semua.”

Pemeran tokoh Biru Laut Wibisono itu berharap buku dan film pendek Laut Bercerita mencelikkan mata banyak generasi muda bahwa kebebasan yang kita nikmati hari ini tidak diterima begitu saja, taken for granted, melainkan hasil perjuangan berdarah-darah dan penuh cucur air mata.

“Inilah kekuatan sebuah cerita yang kemudian bisa sampai dan jadi perhatian sendiri walaupun dalam skema yang terbatas.”

Misi HAM

Laut Bercerita memang tergolong novel yang kental sekali nuansa sejarahnya. Tapi bukan cuma di Laut Bercerita, Leila S. Chudori juga menyuarakan masa-masa kelam yang hilang dari buku sejarah kita lewat novel sebelumnya, Pulang.

Berbekal riset mendalam dan wawancara masif dengan para korban politik Indonesia, pembaca sering mengira bahwa Leila yang punya latar belakang jurnalis memang punya misi kemanusiaan khusus lewat karya-karyanya.

Setiap ditanya begitu, Leila S. Chudori tak menampik. “Ya, kalau mau dikatakan ada misi, kemungkinan ada misi hak asasi manusia (HAM) itu jelas sekali,” ujarnya.

Namun begitu, Leila menegaskan dalam menulis cerita ia tak pernah berikhtiar ingin mendapatkan respons tertentu dari pembaca. “Ketika menulis, kita enggak memperlakukan karya ini sebagai alat.” Sebagai penulis, Leila murni ingin berbagi cerita tentang sosok yang ia anggap menarik. Bonusnya memang, pada diri setiap tokoh yang memikat itu melekat peristiwa-peristiwa bersejarah.

Pada Biru Laut, misalnya, mengalir sejarah kelam Indonesia dengan segala lukanya. Luka yang masih menganga, dan meninggalkan duka pada keluarga dan sanak-saudara, serta handai-taulan yang ditinggalkan dalam ketidakpastian.

“Inspirasi saya waktu itu Nezar Patria, rekan kerja di TEMPO,” tutur Leila. Dalam edisi khusus tentang Soeharto di Majalah TEMPO Februari 2008, Nezar menulis kesaksiannya dalam artikel berjudul Di Kuil Penyiksaan Orde Baru (sekarang artikel ini bisa dibaca melalui Seri Buku TEMPO: Soeharto, Setelah Sang Jenderal Besar Pergi, terbitan KPG & Tempo Publishing, 2018).

Dalam artikel yang menurut Leila ditulis dengan sangat bagus dan detil itu, Nezar menceritakan masa ketika dia diculik dan matanya ditutup. Setiap mendengar pistol dikokang, ia pikir ia pasti mati. Dari situ, Leila pun terpikir suatu saat harus membuat cerita tentang “orang di tubir kematian.” Tentu saja, Biru Laut bukan cerminan langsung Nezar Patria. Ada lebih dari satu narasumber yang karakter dan kisahnya diracik Leila menjadi satu pribadi baru bernama Biru Laut Wibisono.

Film Pendek dari Novel

Pada 2017, film ini diputar pertama kali di auditorium Institut Français Indonesia, Jakarta untuk mengiringi peluncuran novel Laut Bercerita. Rasanya inilah satu-satunya buku yang penerbitannya dirayakan dengan pemutaran film pendek berdurasi 30 menit. Empat tahun bergulir, film ini ternyata masih berdaya pikat.

“Saya menangis dari awal film hingga akhir,” komentar Nora Jasmine dari Banyuwangi, Jawa Timur, salah seorang peserta yang menyaksikan penayangan film pendek ini di Zoom pada Rabu, 18 Agustus 2021.

Sejak awal film, Biru Laut membawa audiens merasakan mirisnya penyiksaan dan suramnya penyekapan yang ia alami di dalam penjara. Penjara itu terletak di bawah tanah, jika melongok ke atas para penghuninya bisa melihat teralis besi mengurung mereka seperti kandang.

Kiri–kanan terhalang tembok, jadi para tahanan tak bisa saling menengok fisik kawan di jeruji sebelah. Mereka hanya bisa berkabar dengan mengabsen, berteriak, dan menghitung hari dengan mengguratkan darah ke tembok membentuk turus.

Ketika film ini diputar perdana dengan mengundang para aktivis 1998 dan keluarga korban penghilangan paksa, mereka pun bereaksi sama seperti Nora Jasmine. “Film ini membawa mereka kembali pada ingatan penyiksaan di penjara pada masa itu.” Sementara bagi keluarga yang masih menunggu kabar 13 aktivis ’98 yang hilang, mereka tak kuasa mengingat momen kebersamaan dengan para korban semasa ada.

Di pengujung film, Aksi Kamisan para keluarga korban penghilangan paksa yang terus menunggu keadilan dari pemerintah di depan Istana Negara, mendapatkan sorotan. Gita Fara, produser dan sutradara film pendek Laut Bercerita, saat sesi diskusi pada 18 Agustus lalu, bersaksi adegan tersebut adalah bagian paling membangkitkan kesadaran baginya selama proses syuting.

“Semangat para keluarga di Aksi Kamisan itu menjadi wake-up call saya bahwa cerita dan orang-orang ini nyata. Mereka bukan cuma nama dan teks yang ada di novel Mbak Leila.”

Momentum ini juga yang diakui Gita menjadi pendorong utama tim produksi film pendek Laut Bercerita selalu semangat membawa karya ini diputar ke mana pun undangan datang. Dan bukan mustahil, ke depan akan dibuat film panjangnya. Hal yang sama juga dirasakan oleh Wisnu Darmawan, produser sekaligus penggagas book teaser ini.

“Ternyata, dari tindakan kecil (membuat film pendek untuk mengawal peluncuran buku), bisa berdampak sebesar sekarang.”

Setiap pemutaran, film ini membuka jendela baru bagi penontonnya. Tanggapan dari para mantan aktivis Reformasi dan keluarga korban, bagi Pritagita Arianegara, sutradara film pendek Laut Bercerita juga membawa pelajaran baru bagi pembuat filmnya.

Masih Ada Kesempatan untuk Ikutan Nobar!

Melihat antusiasme ini, penyelenggara memutuskan untuk membuka Nobar dan Diskusi Laut Bercerita batch #2. Dalam pemutaran kedua, yang akan diselenggarakan Selasa, 31 Agustus 2021, peminat pun tak kalah heboh.

Dalam waktu 5 menit, ludeslah tiket untuk 1.000 peserta nobar dan diskusi batch #2 yang dibuka pada Jumat, 20 Agustus pukul 15.00 WIB. Di Twitter, berburu tiket nobar Laut Bercerita ini sampai menjadi trending tropic. Waktu tiket nobar pertama dibuka juga begitu.

Tapi, masih ada kesempatan untuk kamu mendapatkan tiketnya pada nobar dan diskusi pada batch #2!

Tertarik menyaksikan film pendek dan terlibat dalam diskusi novel Laut Bercerita bersama Leila S. Chudori, Pritagita Arianegara, Gita Fara, dan Dian Sastrowardoyo?

Dapatkan tiket gratis Nobar dan Diskusi Laut Bercerita dengan membeli satu novel Laut Bercerita bertandatangan Leila S. Chudori hanya di Gramedia.com pada Senin, 23 Agustus 2021 mulai pukul 12.00 WIB.

lautBeli Sekarang dan Dapatkan Tiket Nobar!

Segera beli karena persediaan tiket sangat terbatas! Jangan lupa masukan kode voucher "NOBARLB" saat checkout untuk berkesempatan mendapatkan tiket nobar.

Kamu juga bisa koleksi karya lainnya dari Leila S. Chudori. Kamu nggak perlu khawatir, sebagai #SahabatTanpaBatas, Admin kasih diskon spesial untuk kamu koleksi semuanya!

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!

Sekarang, kamu juga bisa pesan lewat chat WhatsApp lho! Ini adalah layanan Pesan Antar terbaru dari Gramedia.com. Kamu juga bisa pilih menggunakan pengiriman instant (khusus Jabodetabek), dan pesananmu akan dikirim lebih cepat! Untuk info lebih lanjut, klik gambar di bawah ini ya.

PesanKlik untuk Info Lebih Lanjut dan Pesan Via Whatsapp!


Penulis: Silviana Dharma & MariaCh - Penerbit KPG

Ilustrator: Della Yulia & Pinahayu Parvati

Sumber foto header: Dok. KPG


Enter your email below to join our newsletter