Lagi Butuh Jeda? Ini 5 Spot Baca di Jakarta buat Kabur Sejenak dari Riuh Kota


Grameds, kapan terakhir kali kamu pergi ke perpustakaan bukan karena nugas, melainkan untuk memberi dirimu jeda? 🤔

Di tengah Jakarta yang selalu punya alasan untuk membuat kita terburu-buru, perpustakaan menawarkan satu kemewahan sederhana: tempat untuk berhenti sebentar. Entah untuk membaca, mencari referensi, mendengarkan musik, atau sekadar duduk tanpa harus mengejar apa-apa.

Di Hari Kunjung Perpustakaan yang diperingati setiap 14 September, kamu punya alasan untuk melihat kembali ruang-ruang ini dari sudut yang berbeda.

Sebab, perpustakaan Jakarta punya karakter yang beragam. Ada yang membawa kita menjelajah lintas budaya, ada yang bersembunyi di tengah kawasan bisnis, ada yang menyimpan jutaan koleksi, dan ada pula yang paling pas ditemani secangkir kopi.

Jadi, kali ini bukan soal mana yang paling nyaman. Melainkan, ruang baca mana yang paling cocok dengan mood-mu hari ini? 👀


Perpustakaan Erasmus Huis: Saat Membuka Buku Berarti Membuka Jendela ke Dunia 🌍

Ada perpustakaan yang membuatmu merasa sedang pergi ke tempat lain tanpa perlu meninggalkan Jakarta. Salah satunya adalah Perpustakaan Erasmus Huis.

Berada di kawasan Rasuna Said, Kuningan, perpustakaan ini menghadirkan ruang modern dan terbuka dengan sekitar 15.000 judul buku dalam bahasa Belanda, Inggris, dan Indonesia. Koleksinya mencakup sastra Belanda, sejarah Indonesia, seni dan budaya Belanda-Indonesia, hingga buku anak.

Secara visual, Erasmus Huis terasa seperti jeda kecil yang sengaja diselipkan di tengah riuh Kuningan. Ruang baca yang terang, rak-rak buku tinggi, dan interior putih minimalis membuat suasananya terasa lapang sekaligus tenang.

Di sini, kamu bisa menjelajahi literatur Belanda, mengenal sejarah hubungan Indonesia dan Belanda, atau menemukan buku yang sebelumnya bahkan tidak terpikir untuk dicari.

Tapi, ada satu catatan kecil untuk para pejuang deadline: tempat ini bebas laptop, alias kamu nggak bisa menggunakan laptopmu di sini.

Dan mungkin, justru itu daya tariknya. Untuk beberapa jam, biarkan layar beristirahat. Buka buku, duduk lebih lama, dan lihat ke mana halaman berikutnya membawamu.

Buat Grameds yang ingin berkunjung, Erasmus Huis buka setiap hari Selasa - Sabtu, pukul 10.00-16.00 WIB.

Jadi, kalau sedang ingin kabur sebentar dari rutinitas, kamu tidak perlu benar-benar pergi jauh. Erasmus Huis bisa jadi pilihan yang cocok untuk kamu yang suka literatur lintas budaya, sejarah, seni, dan pengalaman membaca yang lebih tenang. 🌱

View this post on Instagram

A post shared by Oranje Indonesia (@oranjeindo)


Baca juga: Sebab Satu Percakapan Bisa Berarti: Kenapa Kita Perlu Lebih Peduli soal Suicide Prevention?


Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang: Membaca di Tengah Denyut Kota 🏙️

Dari Erasmus Huis, kita tidak perlu pergi jauh. Tinggal bergeser sedikit di kawasan Kuningan, lalu beberapa lantai ke atas, Jakarta punya ruang lain untuk berhenti sejenak.

Perpustakaan Jakarta Nyi Ageng Serang kembali dibuka pada Juli 2026 setelah sempat berhenti beroperasi sejak 2020. Menempati lantai 7 dan 8 Gedung Nyi Ageng Serang, tempat ini hadir bukan hanya sebagai ruang membaca, tetapi juga tempat untuk belajar, berkarya, dan berkolaborasi.

Luasnya sekitar 4.000 meter persegi dengan lebih dari 20.000 koleksi dari berbagai kategori. Ruang bacanya modern dan lapang, dengan berbagai sudut untuk membaca, belajar, berdiskusi, atau sekadar mencari inspirasi.

Tapi kunjunganmu tidak harus berhenti di rak buku.

Kamu bisa mampir ke pameran mini tentang berdirinya Kota Jakarta, melihat pakaian adat Betawi, atau duduk sejenak menikmati musik dari vinyl penyanyi lokal maupun internasional.

Di bawah, Jakarta tetap sibuk. Beberapa lantai di atasnya, kamu bisa memilih untuk tidak ikut terburu-buru.

Kalau kamu ingin berkunjung, perpustakaan ini buka setiap Senin - Minggu, pukul 09.00-22.00 WIB, tempat ini juga cocok untuk kamu yang baru selesai beraktivitas tetapi belum ingin langsung pulang.

Pas buat mahasiswa, pekerja, pemburu bacaan baru, atau siapa pun yang butuh change of scenery tanpa benar-benar meninggalkan kota.

View this post on Instagram

A post shared by a.m (@rissmardiasari)


Baca Kisah Seru Lainnya di Sini!


Perpustakaan Nasional: Ketika Satu Gedung Belum Cukup untuk Menampung Rasa Penasaran 📚

Kalau dua tempat sebelumnya menawarkan pengalaman membaca dengan karakter yang lebih spesifik, sekarang waktunya memperbesar skalanya.

Selamat datang di Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas).

Gedungnya saja sudah cukup untuk membuat penasaran. Dengan 24 lantai dan tinggi 123 meter, gedung layanan Perpusnas RI dikenal sebagai gedung perpustakaan tertinggi di dunia dan telah mendapatkan penghargaan MURI untuk kategori tersebut.

Isinya tidak kalah besar. Perpusnas memiliki sekitar 9,6 juta koleksi dalam format cetak maupun digital. Setiap lantai pun membawa fungsi yang berbeda, mulai dari layanan anak, naskah Nusantara, multimedia, koleksi buku langka, hingga ruang baca dan koleksi budaya Nusantara.

Lokasinya di Jl. Medan Merdeka Selatan No. 11, Jakarta Pusat, dengan jam operasional Senin - Jumat pukul 08.00-19.00 WIB dan Sabtu - Minggu pukul 09.00-15.30 WIB.

Kalau kamu pemburu referensi, mahasiswa, peneliti, pembaca yang gampang penasaran, atau manusia yang kalau sudah tertarik satu topik bisa membuka 17 tab sekaligus, perpustakaan ini cocok banget buat kamu!

Karena di Perpusnas, semakin banyak yang ditemukan, semakin panjang pula rasa penasarannya.

View this post on Instagram

A post shared by Pujasintara Perpusnas RI (@pujasintara.perpusnas)


Baca juga: Rahasia Kelam di Balik Kehidupan Ideal dalam Novel Kebahagiaan Sempurna


Perpustakaan Jakarta & H.B. Jassin: Saat Buku Menyimpan Jejak Sebuah Zaman ✍️

Kalau Perpusnas mengajak kita menyelam ke dunia pengetahuan, kawasan Cikini membawa kita lebih dekat pada sastra dan ingatan.

Perpustakaan Jakarta—Cikini berada di kompleks Taman Ismail Marzuki dengan berbagai layanan, mulai dari koleksi anak, keluarga, dan dewasa hingga ruang referensi serta kegiatan literasi.

Di kawasan yang sama, ada pula Pusat Dokumentasi Sastra H.B. Jassin.

Di sinilah pengalaman berkunjung terasa sedikit berbeda. Kamu tidak hanya datang untuk mencari sesuatu yang ingin dibaca, tetapi juga bisa mendekati jejak orang-orang yang pernah menulis, berpikir, mengkritik, dan membentuk perjalanan sastra Indonesia.

Dan kehidupan literasinya tidak berhenti di balik rak buku.

Berbagai kegiatan masih berlangsung di kawasan ini, mulai dari kelas karya, workshop, peluncuran buku, hingga Night at the Library, tempat kamu bisa menyaksikan talk show bersama figur publik dan menikmati penampilan musisi lokal.

Perpustakaan di sini terasa seperti ruang tempat masa lalu dan masa kini masih saling menyapa. Sebab, kalau buku adalah cara sebuah generasi meninggalkan percakapan untuk generasi berikutnya, Cikini adalah salah satu tempat yang membuat percakapan itu tetap terdengar.

Cocok untuk pembaca sastra, penulis, mahasiswa, pemburu referensi, atau kamu yang penasaran dengan perjalanan literasi Indonesia.

View this post on Instagram

A post shared by Perpustakaan Jakarta (@perpusjkt)


Taksu Book Cafe & Library: Karena Membaca Tidak Selalu Harus Sunyi ☕📖

Empat tempat sebelumnya mungkin membuat kita membayangkan rak buku, meja baca, dan suasana tenang. Lalu kita sampai di Taksu. Dan tiba-tiba ada kopi.

Taksu Book Cafe & Library di Cipete, Jakarta Selatan, menggabungkan coffee shop, toko buku, dan independent library dalam satu ruang. Tempat ini juga menjadi ruang bertemu bagi pembaca, penulis, seniman, dan komunitas.

Koleksinya dikurasi, bukan sekadar mengikuti buku yang sedang ramai. Ada pula agenda komunitas, pameran, lokakarya, hingga Pen Pal Project, tempat kamu bisa mengirim surat secara anonim kepada orang asing atau menjadi penerimanya.

Siapa tahu, kamu datang sendirian untuk membaca, lalu pulang membawa secangkir kopi dan sepucuk surat dari seseorang yang bahkan tidak kamu kenal.

Di sini, membaca tidak harus berarti duduk dalam kesunyian. Bisa membaca, mengobrol, menemukan buku baru, bahkan bertukar cerita dengan orang yang awalnya sama sekali tidak kamu kenal.

Karena terkadang, cara paling menyenangkan untuk kembali dekat dengan buku adalah menemukan bahwa dunia di dalamnya ternyata bisa membawa kita bertemu dengan dunia orang lain.

Cocok untuk pembaca santai, pecinta kopi, book club, komunitas kreatif, atau kamu yang ingin reading date tanpa merasa sedang mengikuti “kegiatan literasi”.

View this post on Instagram

A post shared by makan.apaya (@ri.tastediary)


Kalau Sudah Menemukan Tempatnya, Saatnya Menemukan Ceritanya ✨

Source: Gramedia

Hari Kunjung Perpustakaan mungkin hanya berlangsung satu hari. Tapi satu buku bisa menemanimu jauh lebih lama. Pilih ruang yang paling cocok dengan mood-mu, temukan cerita yang ingin dibawa pulang, lalu biarkan halaman pertama menentukan ke mana perjalanan berikutnya ✨

Dan kali ini, siapa tahu yang kamu bawa pulang bukan cuma bacaan 👀📚

Lewat Program Undian 56 Tahun Penuh Makna, setiap transaksi Rp256.000. berkesempatan mendapat kupon undian dengan hadiah mulai dari mobil BYD, iPhone 17, Honda Stylo, hingga perjalanan ke Jepang! ✈️🌸

Satu buku, satu perjalanan, siapa tahu satu kejutan besar ikut pulang bersamamu!

Cari tahu detail Program Undian 56 Tahun Penuh Makna di sini dan amankan kupon keberuntunganmu sekarang! 🎟️🔥

Temukan Keberuntunganmu di Sini!


✨Jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵

Temukan Semua Promo Spesial di Sini!