Kokuho: Ambisi, Warisan, dan Kerasnya Dunia Kabuki
“You were born into a family of actors so your family blood will always protect you.”
Grameds, pernah nggak sih kamu merasa hidup ini kayak audisi tanpa hasil pengumuman? Kita latihan, kita tampil, kita senyum. Tapi tetap bertanya dalam hati, “Aku ini dipilih karena layak… atau karena kebetulan?”
Kalau dengar kata nepo baby, yang kebayang biasanya ada dua kubu. Yang satu teriak, “Iya deh, yang privilege!”. Yang lain bilang, “Iri aja lo!” Tapi gimana kalau ternyata... dua-duanya sama-sama lelah dengan ekspektasi?
Lewat Kokuho, film drama sensasional Jepang, kita nggak hanya disuguhkan dengan drama kabuki yang megah dan penuh tradisi. Kita dikasih kaca besar. Dan refleksinya agak bikin kita tidak nyaman. Karena ini bukan hanya soal seni. Ini soal siapa yang pantas berdiri di panggung. Dan yang lebih dalam lagi: siapa yang paling butuh standing ovation.
Nah, sudah siapkah kamu untuk berdansa anggun dengan Kokuho? Mari kita bahas selengkapnya di bawah ini! 🌸
Sinopsis Kokuho: Ketika Warisan dan Ambisi Bertabrakan
Buat kamu yang lagi cari sinopsis Kokuho, ceritanya berpusat pada Kikuo Tachibana (Ryo Yoshizawa), anak seorang yakuza yang kemudian diadopsi oleh keluarga besar aktor kabuki ternama, Kabuki Tanba-ya. Di rumah barunya, Kikuo dengan talenta menarinya mulai berlatih bersama Shunsuke Ōgaki (Ryusei Yokohama), putra Hanai Hanjiro II (Ken Watanabe), sekaligus pewaris sah keluarga tersebut. Mereka tumbuh bersama. Latihan bersama. Dipuji bersama. Dan dibanding-bandingkan setiap hari. Sampai Hanai Hanjiro II memilih Kikuo daripada putra kandungnya sebagai pewarisnya.
Kabuki di novel ini bukan sekadar seni pertunjukan tradisional Jepang, melainkan sebuah institusi. Panggung sakral yang diwariskan turun-temurun. Nama keluarga bisa lebih penting daripada bakat. Di satu sisi, Shunsuke bisa dibilang nepo baby. Ia punya nama, garis keturunan, dan tiket masuk VIP ke dunia kabuki. Di sisi lain, Kikuo adalah self-made yang literally harus berjuang sampai berdarah-darah untuk diakui.
Ryo Yoshizawa membawakan karakter Kikuo dengan intensitas fisik dan emosional yang kuat. Lee Sang-il sebagai sutradara menangkap setiap detail gerak tubuh sang aktor dengan intim dan presisi. Kokuho juga mendapatkan nominasi Academy Awards dalam kategori Best Makeup and Hairstyling. Sekarang kamu sudah bisa saksikan Kokuho di bioskop sejak 18 Februari 2026. Namun, karena beberapa adegan mengandung unsur kekerasan dan adegan intim, film berdurasi 2 jam 55 menit ini sebaiknya ditonton setelah buka puasa ya.
Penasaran dengan trailer-nya? Kamu bisa cek di sini!
Kamu pasti juga suka: Keberuntungan, Ilusi, dan Api Ambisi: Menguak Rahasia ‘The Art of Sarah’ di Momen Imlek!
Nepo Baby vs Self-Made: Siapa yang Lebih Tertekan?
Di era media sosial, debat soal nepo baby itu tidak ada habisnya. Kita dengan gampang menilai dari luar, “Enak ya punya koneksi.” atau sebaliknya, “Kalau nggak punya nama, ya lebih makin banting tulang.” Tapi review Kokuho yang menarik justru ada di celah abu-abu ini. Shunsuke tumbuh sebagai ekspektasi berjalan. Ia simbol kelanjutan keluarga. Ia harus tampil sempurna dan membuktikan bahwa ia bukan sekadar pewaris kosong.
Sementara Kikuo hidup dengan dorongan konstan untuk membuktikan diri. Setiap pujian adalah oksigen. Setiap kritik adalah ancaman identitas. Satu dibebani nama. Satu lagi dibebani kekosongan nama. Kalau dipikir-pikir, dua-duanya berat. Dan disinilah Kokuho terasa relevan dengan dunia kerja modern. Entah kamu anak orang dalam, career switcher yang masuk industri baru tanpa orang dalam, semua tekanan untuk terlihat “layak” itu nyata.
Hustle Culture dalam Balutan Kimono
Sekarang kita masuk ke pertanyaan berikut: apakah ambisi dalam dunia seni itu murni tentang cinta pada karya? Atau sebenarnya tentang cinta pada pengakuan? Dalam Kokuho, latihan dilakukan dengan disiplin ekstrem dan dedikasi nyaris fanatik. Dan semakin tinggi posisi Kikuo, semakin terasa ada jarak antara dirinya dan orang-orang di sekitarnya. Ambisi itu netral. Tapi ketika identitas digantungkan sepenuhnya pada panggung, semuanya jadi rapuh.
Kalau kamu perhatikan Kokuho dengan kacamata modern, film ini seperti kritik halus terhadap hustle culture. Kikuo adalah personifikasi kerja keras tanpa jeda. Ia rela mengorbankan relasi personal, perasaan, bahkan kehangatan, demi posisi tertinggi di dunia kabuki. Lalu satu pertanyaan pun muncul, “Kalau kita dapat semuanya, tapi kehilangan diri sendiri, masihkah kita anggap itu kemenangan?”
Dalam dunia yang memuja produktivitas dan pencapaian, film Kokuho seakan berbisik pelan ke telinga dan mengingatkan kita, “Kamu bukan hanya sekadar CV berjalan.”
Kenapa Kokuho Layak Ditonton?
Hubungan Kikuo dan Shunsuke bukan sekadar kompetisi. Ada lapisan emosi yang lebih kompleks seperti kagum, iri, takut kalah, dan takut tidak cukup. Kadang rival terbesar kita bukan orang yang tidak kita sukai. Tapi orang yang paling ingin kita kalahkan agar kita bisa merasa cukup. Dan hal ini relate dengan kehidupan sehari-hari.
Kalau kamu lagi cari bacaan yang lebih sekadar drama tentang ambisi dalam dunia seni dan dunia kerja modern, penulis dengan senang hati memberikan beberapa rekomendasi buku-buku di bawah ini!
1. Germinal - Émile Zola
Étienne Lantier, seorang pemuda miskin, bekerja di tambang batu bara Prancis dan menyaksikan kerasnya eksploitasi buruh. Ia pelan-pelan menjadi bagian dari gerakan perlawanan yang meledak jadi pemogokan besar.
Walau bukan tentang seni, Germinal sama-sama bicara soal sistem yang lebih besar dari individu. Di Kokuho, sistemnya dunia kabuki dan garis keturunan. Di sini, sistemnya adalah kapitalisme industri. Novel karangan Émile Zola ini realistis, brutal, dan penuh tekanan sosial.
2. No Longer Human - Osamu Dazai
Yozo Oba tumbuh dengan perasaan tidak pernah benar-benar “menjadi manusia”. Ia memakai topeng humor untuk menutupi keterasingannya, terjerumus dalam relasi yang destruktif, dan makin jauh dari identitas diri.
No Longer Human ini mirip dengan Kokuho, tapi lebih ke sisi psikologisnya. Kalau Kikuo berjuang menjadi “layak” dalam sistem seni elit, Yozo berjuang untuk merasa “layak” sebagai manusia.
3. Seperti Dendam, Rindu Harus Dibayar Tuntas - Eka Kurniawan
Ajo Kawir, seorang jagoan jalanan, mengalami trauma yang membuatnya impotensi. Ia menjalani hidup penuh kekerasan, absurditas, dan cinta yang rumit.
Walau temanya jauh dari kabuki, novel karangan Eka Kurniawan ini sama-sama soal harga diri dan maskulinitas yang retak. Dua-duanya terjebak pada standar “kejantanan” dan reputasi di lingkungan masing-masing. Dan dua-duanya menunjukkan bahwa identitas sering dibangun dari luka.
4. Yellowface - R.F. Kuang
June Hayward, penulis yang kariernya stagnan, mencuri manuskrip temannya yang meninggal dan menerbitkannya sebagai karya sendiri dengan identitas rasial yang ambigu.
Yellowface mirip dengan Kokuho karena eksplisit soal ambisi dalam dunia seni. Kikuo ingin diakui dalam sistem tradisional dan June ingin diakui dalam industri modern. Dua-duanya mempertaruhkan moral dan relasi demi spotlight. Novel ini adalah satir pedas tentang industri penerbitan, identitas, dan etika kreatif.
5. An Artist of the Floating World - Kazuo Ishiguro
Masuji Ono, seorang pelukis tua di Jepang pasca-Perang Dunia II, merefleksikan masa lalunya dan peran seninya dalam propaganda nasionalis. Ia mulai mempertanyakan reputasi dan warisan yang ia tinggalkan.
Novel karangan Kazuo Ishiguro ini paling dekat dengan dunia seni tradisional Jepang, reputasi dan warisan, serta refleksi atas ambisi masa lalu. Jika Kokuho memperlihatkan fase menuju puncak, Ishiguro memperlihatkan fase setelah puncak dan ketika kamu menoleh ke belakang dan bertanya, “Apakah semua ini worth it?”
Baca juga: Dead Mount Death Play: Saat Mantan 'Final Boss' Cuma Ingin Hidup Damai di Tokyo!
Jadi, Siapa yang Menang?
Tanpa spoiler detail, Kokuho tidak memberi kemenangan yang terasa megah. Yang ada adalah rasa getir. Posisi tertinggi bisa diraih dan pengakuan bisa didapat. Tapi harga yang dibayar sering kali tidak kecil. Tapi ada satu hal yang bisa kamu dapatkan tanpa harga setinggi itu, yaitu…promo Dunia Fiksi Februari! 😝
Dapatkan diskon hingga 40% untuk semua buku fiksi terbitan Elex, M&C dan BIP. Periode ini hanya berlaku dari tanggal 11-24 Februari 2026 ya, Grameds! So, tunggu apalagi? Amankan buku favoritmu sekarang juga! 🚀
✨ Oh ya, jangan lupa juga buat dapetin penawaran spesial dari Gramedia.com! Cek promonya di bawah ini agar belanja kamu jadi lebih hemat! ⤵️
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!