Pikiran, cerita, dan gagasan tentang buku dengan cara yang berbeda.

Emergency Stories: Mengintip Luka dan Harapan yang Tertinggal di Ruang Gawat Darurat

Emergency Stories: Mengintip Luka dan Harapan yang Tertinggal di Ruang Gawat Darurat

Grameds, apa yang pertama kali terbersit di kepala kamu saat mendengar kata Instalasi Gawat Darurat (IGD)?

IGD sering kali hadir sebagai ruang yang penuh ketegangan. Tempat di mana waktu terasa menyempit, keputusan harus diambil dalam hitungan detik, dan setiap tindakan membawa konsekuensi besar bagi nyawa seseorang. 🩺🏥

Di sana, tenaga kesehatan bergerak cepat. Mereka meredakan nyeri, menahan panik, dan berusaha menjaga harapan tetap hidup. Namun, di balik ritme yang serba cepat itu, ada cerita-cerita yang diam-diam tinggal lebih lama. Cerita yang tidak ikut pulang bersama pasien, tapi menetap di kepala mereka yang menyaksikan.

Dan lewat buku Emergency Stories: Tubuh Menyimpan Luka yang Bukan Miliknya, dr. Iki atau yang akrab disapa Dokbuckets merangkai potongan kisah dari ruang gawat darurat menjadi satu refleksi yang utuh.

Setiap cerita menghadirkan potret manusia yang rapuh, keputusan yang tertunda, serta hal-hal kecil yang membawa dampak besar.

Kira-kira seperti apa isi bukunya? Yuk, kita periksa lebih dalam bersama artikel ini! 🧐


Kita Cek dari Gambaran Umum Bukunya Dulu!

emergencyTemukan Bukunya di Sini!

Buku ini membawa kamu untuk melihat gambaran di balik pintu Instalasi Gawat Darurat yang ternyata menyimpan banyak kisah yang jarang terdengar.

Kisah tentang bayi prematur yang pulang tanpa cukup pelukan, tentang anak perempuan yang dipaksa dewasa terlalu cepat, serta ibu hamil yang mesti kehilangan nyawa karena mempercayai cara yang keliru.

Berisi 10 kisah nyata dari IGD dari yang menyayat hati, sampai melahirkan harapan, buku ini membawa kita melihat dunia kegawatdaruratan dari sudut pandang seorang dokter.

Dari sana terlihat jelas bahwa banyak tragedi bukan semata terjadi karena takdir, tapi bisa juga karena kurangnya informasi, tekanan lingkungan, dan keterbatasan akses kesehatan.


Salah Satu Kisah Menarik yang Bisa Kamu Temukan

Rasanya, semua kisah yang terangkum dalam buku ini punya daya tariknya masing-masing. Tapi, kalau ada satu yang bisa Gramin bagikan, itu adalah cerita dari pojokan di bab VIII.

Well, mendengar kata pojokan saja auranya sudah terasa agak horor ya. Tapi, ini bukan kisah tentang hantu, Grameds. Meski begitu, kisah ini tetap menyisakan rasa yang bikin merinding dengan caranya sendiri.

Diceritakan bahwa di sudut IGD, ada kursi yang hampir tak pernah kosong. Kursi itu diisi oleh sepasang suami istri muda yang menunggu giliran.

Usia mereka belum genap tiga puluh, tapi hidup sang istri sudah akrab dengan rutinitas cuci darah setiap minggu akibat menderita gagal ginjal stadium akhir.

Sesekali, ia masuk IGD karena mual hebat atau tekanan darah yang turun. Di setiap momen itu, sang suami selalu ada. Menemani tanpa banyak kata, menjaga tanpa lelah—tetap hadir seperti penopang yang diam, tapi kokoh.

Hingga suatu hari, sang istri kembali datang dalam kondisi tak sadar. Belakangan diketahui, ia sengaja makan soto kikil dan minum es teh manis. Saat ditanya, jawabannya singkat, padat, tapi terasa berat. Ia lelah. Tubuhnya mulai menyerah. Ia juga melihat suaminya yang kian kurus, dan tahu bahwa lelah itu tidak ia rasakan sendirian.

Cerita itu mencapai puncaknya pada satu malam yang hening, sekitar pukul dua pagi. Sang istri mengembuskan napas terakhirnya. Di sampingnya, sang suami tetap menggenggam tangannya yang mulai dingin, lalu berbisik pelan,

“Terima kasih sudah bertahan. Kamu pulang duluan ya, nanti aku nyusul.”

Kisah ini tidak hadir dengan dramatisasi yang berlebihan. Ia berjalan pelan, tapi meninggalkan ruang hening yang panjang. Dan justru di situlah, cerita ini terasa begitu dekat.


Membuka Mata akan Urgensi yang Tak Boleh Diabaikan

Disampaikan dengan bahasa yang jujur dan hangat, setiap cerita dalam buku ini terasa mengalir tanpa jarak. Tidak terasa menghakimi, tapi tetap meninggalkan kesan yang kuat.

Dari sana, perlahan terlihat bahwa keputusan sederhana, kepercayaan yang diwariskan, hingga waktu yang terlewat, semuanya punya peran besar dalam menentukan arah sebuah hidup.

Di titik ini, buku ini terasa meluas. Ia tidak lagi berhenti pada kisah pasien, tapi bergerak mendekat ke kehidupan kita sendiri.

Ia mengajak kita melihat ulang cara kita merespons tubuh. Seberapa peka kita membaca tanda-tanda yang muncul. Seberapa sigap kita mencari pertolongan saat sesuatu terasa berbeda.

Di saat yang sama, buku ini juga menyentuh satu hal penting, yaitu keberanian untuk memilih pengetahuan, meski itu berarti keluar dari kebiasaan yang sudah lama terasa akrab.

kumpulanTemukan Bacaan Seru Lainnya di Sini!


Tertarik untuk Menyimak Keseluruhan Kisahnya?

Kalau jawabannya adalah iya, maka Gramin punya kabar baik nih buat kamu.

Kabar baiknya itu, kamu bisa mendapatkan buku ini dengan harga lebih hemat lewat special offer Emergency Stories yang sedang berlangsung di Gramedia.com.

halamanTemukan Promonya di Sini!

So, kalau kamu penasaran dan ingin langsung punya bukunya, kamu bisa langsung menemukan promonya di sini ya, Grameds!


Kisah Lain dari Dunia Medis yang Nggak Kalah Menarik!

Kalau kamu ingin melihat sudut lain dari dunia medis, ada juga beberapa bacaan yang bisa kamu jelajahi, Grameds.

Lewat cerita-cerita ini, kamu akan menemukan beragam pengalaman tentang sakit, bertahan, dan cara manusia memaknai hidup di tengah kondisi yang tidak mudah.

Niken Saya Bukan Dokter – Niken Tantyo Sudharmono

emergencyTemukan Bukunya di Sini!

Perjalanan Niken dimulai dari titik yang tidak mudah. Ia didiagnosis lupus, gangguan tiroid, hingga kanker tiroid dalam waktu yang berdekatan. Situasi itu sempat membuat dunianya runtuh, tapi justru dari sana ia mulai mencari jawaban lebih dalam tentang tubuhnya sendiri.

Lewat pendekatan functional medicine, Niken menemukan cara pandang baru soal kesehatan. Ia tidak hanya fokus pada gejala, tapi mencoba memahami akar masalahnya. Pengalaman itu kemudian ia bagikan dengan gaya yang ringan dan personal, membuat pembaca merasa ditemani, bukan diajari.


The Doctor and the Soul – Viktor E. Frankl

emergencyTemukan Bukunya di Sini!

Buku ini mengajak kita melihat manusia dari sisi yang lebih utuh. Viktor E. Frankl memperkenalkan logoterapi, sebuah pendekatan yang menempatkan makna sebagai inti dari kehidupan manusia.

Lewat berbagai contoh kasus, pembaca diajak masuk ke ruang percakapan antara dokter dan pasien. Dari sana terasa bahwa penyembuhan bukan hanya soal fisik, tapi juga tentang menemukan alasan untuk tetap bertahan, bahkan di tengah penderitaan.


Silent Fight: Memoar di Antara Langit dan Lupus – Ginna Leviana Elda

emergencyTemukan Bukunya di Sini!

Memoar ini berjalan pelan, tapi dalam. Ia tidak hanya menceritakan penyakit, tapi juga menggambarkan kesunyian yang datang bersamanya. Ada rasa takut, lelah, dan kehilangan yang tidak selalu terlihat dari luar. Akan tetapi, di balik itu, ada juga harapan yang tumbuh diam-diam.

Buku ini terasa seperti pelukan yang hangat, mengingatkan bahwa bahkan dalam kondisi paling sunyi, manusia tetap punya ruang untuk bertahan dan menemukan cahaya.


Jiwa-Jiwa Bermesin: Memoar Para Pasien Cuci Darah – Petrus Hariyanto

emergencyTemukan Bukunya di Sini!

Lewat kisah para pasien cuci darah, buku ini memperlihatkan sisi lain dari perjuangan hidup. Salah satunya adalah cerita tentang seseorang yang harus menerima kenyataan menjalani hemodialisis seumur hidup.

Alih-alih menyerah, kisah-kisah di dalamnya justru dipenuhi semangat untuk terus hidup. Ada dukungan keluarga, ada harapan yang dipelihara, dan ada keyakinan bahwa sakit bukan akhir dari segalanya.


Satu Setengah Meter (Five Feet Apart) – Rachael Lippincott, Mikki Daughtry, Tobias Iaconis

emergencyTemukan Bukunya di Sini!

Di balik kisah romansa remaja, buku ini menyimpan realitas tentang hidup dengan penyakit kronis. Stella dan Will harus menjaga jarak demi bertahan hidup, bahkan saat perasaan mereka justru ingin saling mendekat.

Cerita ini terasa hangat sekaligus menyayat. Ia mengingatkan bahwa terkadang, hal paling sederhana seperti berada dekat dengan orang yang kita sayang bisa menjadi sesuatu yang sangat mahal.


Mengakar dari bilik gawat darurat, kisah-kisah dalam Emergency Stories ini hadir seperti jeda kecil di tengah hidup yang serba cepat. Terasa seperti mengajak kita berhenti sejenak, mendengarkan tubuh sendiri, dan lebih peka terhadap tanda-tanda yang sering kita abaikan. 🥰

Dari sana, kita belajar bahwa menjaga kesehatan bukan soal menunggu sakit datang; tapi tentang kesadaran untuk memahami, keberanian untuk mencari bantuan, dan kemauan untuk tidak menunda hal-hal yang sebenarnya penting.

Karena di balik setiap cerita di IGD, selalu ada satu hal yang sama

keinginan sederhana untuk tetap hidup.

Dan mungkin, setelah membaca ini, kita bisa mulai merawat hidup itu sedikit lebih baik dari sebelumnya. 🤗


✨Oh iya, jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!


Enter your email below to join our newsletter