Ketika Pengabdian Bertemu Cermin Diri: Resensi Buku “The Untold Story” Karya Astrid Widayani

Kita sering mengenal seseorang dari apa yang terlihat di depan mata. Jabatan, gelar, prestasi, pekerjaan, juga berbagai hal yang berhasil ia capai. Ketika seseorang sudah berada di posisi tertentu, kita cenderung lupa bahwa sebelum sampai di sana, ia pernah menjadi manusia biasa yang belajar, jatuh, lelah, mengambil keputusan, bahkan mungkin pernah ragu dengan jalan yang dipilihnya. Hal semacam itulah yang saya temukan ketika membaca “The Untold Story” karya Astrid Widayani.

Buku terbitan Elex Media Komputindo di awal tahun 2026 ini bercerita tentang perjalanan Astrid, mulai dari keluarga, dunia pendidikan, aktivitas organisasi, hingga akhirnya masuk ke ruang pemerintahan sebagai Wakil Wali Kota Surakarta. Namun, bagi saya, buku ini sebenarnya bukan sekadar cerita tentang bagaimana seseorang menjadi pemimpin. Lebih dari itu, buku ini bercerita tentang seseorang dibentuk jauh sebelum dirinya berada di sebuah kursi kepemimpinan.

Kepemimpinan ternyata tidak muncul begitu saja ketika seseorang dilantik. Ada keluarga utamanya dari sosok bapak yang menempa. Ada pengalaman menjadi aktivis ketika mahasiswa. Ada organisasi yang mengajarkan bagaimana berhadapan dengan banyak karakter manusia. Pengalaman menjadi dosen dan rektor. Selain juga ada kelelahan dan keberanian untuk melepaskan sesuatu yang sudah nyaman. Dari situlah ia perlahan dibentuk.

Dan perjalanan Astrid menjadi menarik karena pada satu titik ia memilih meninggalkan dunia profesional dan akademik yang telah membesarkan namanya untuk kembali ke kota kelahiran dan mengabdi melalui jalur pemerintahan.

Lalu, apa yang sebenarnya membuat seseorang ingin meninggalkan kenyamanan untuk mengabdi? Jawabannya cukup sederhana, yakni kecintaan kepada tempat asal.

Namun, ketika seseorang memilih jalan pengabdian, tantangan sebenarnya baru dimulai. Astrid yang sebelumnya terbiasa mengajar mahasiswa dan memimpin institusi pendidikan kini harus berhadapan dengan ruang yang jauh lebih luas. Ruang kelasnya tidak lagi dibatasi dinding kampus. Seperti salah satu judul subbab dalam buku ini, “Ruang Kelasku Kini Seluas Kota.”

Saya pribadi menyukai gagasan tersebut. Sebab sebuah kota memang bisa menjadi ruang belajar yang jauh lebih rumit daripada ruang kelas. Di kelas, seorang dosen dapat menyiapkan materi sebelum mengajar. Di kota, persoalan bisa datang kapan saja. Warga tidak hadir dengan silabus. Masalah mereka tidak selalu bisa diselesaikan dengan teori yang pernah dipelajari di bangku akademik. Di sana, seorang pemimpin justru dituntut untuk lebih banyak mendengarkan.

Hal tersebut terasa dalam cara Astrid menggambarkan gagasan kepemimpinannya. Ia ingin membawa budaya yang lebih fleksibel dan empatik. Bukan sekadar mempertahankan cara kerja yang kaku. Pengalaman menangani persoalan stunting, misalnya, menunjukkan bagaimana ia berusaha mendekat kepada anak-anak dan keluarga yang mengalami persoalan tersebut. Ketika berada dekat dengan mereka, persoalan yang sebelumnya mungkin hanya terlihat sebagai data berubah menjadi wajah dan cerita manusia.

Di titik itu saya merasa bahwa kepemimpinan memang seharusnya tidak berhenti pada kemampuan mengelola sesuatu. Ia juga tentang kemampuan merasakan.

Sebagai perempuan, Astrid juga membawa gagasan bahwa perempuan tidak seharusnya selalu ditempatkan sebagai pihak yang hanya mengikuti. Perempuan juga mampu mengambil keputusan, memimpin, dan berada di ruang publik. Perjalanan Astrid menjadi Wakil Wali Kota Surakarta menjadi salah satu bentuk pembuktian atas gagasan tersebut.

Namun, justru karena buku ini begitu banyak memperlihatkan sisi positif Astrid, saya merasa perlu mengambil sedikit jarak. Ada beberapa bagian yang membuat saya menangkap kesan, “Ini lho Astrid, dan ini yang bisa saya lakukan.”

Astrid digambarkan sebagai sosok dengan banyak pengalaman, kemampuan, jaringan, dan berbagai kiprah. Dari sisi penulisan, hal tersebut memang membuat pembaca mengenal sosok penulisnya dengan cukup utuh. Cara bertuturnya pun tidak monoton. Pada beberapa bagian, ia bahkan membawa pembaca masuk ke dalam situasi dengan deskripsi yang cukup detail, seperti sedang membaca sebuah novel. Kita seolah diajak hadir di tempat kejadian.

Salah satu cerita yang menurut saya menarik justru bukan cerita besar tentang kepemimpinan, melainkan pengalaman sederhana ketika mengikuti retret kepala daerah di Magelang. Saat hendak mandi, Astrid berusaha kembali lebih dulu ke barak agar tidak perlu mengantre. Ia bahkan mengetahui jalan pintas menuju barak dari informasi seorang kerabatnya.

Cerita kecil semacam ini justru membuat sosok yang selama ini kita kenal sebagai pejabat terasa lebih manusiawi.

Namun, di sisi lain, saya juga bertanya-tanya, “Mengapa buku ini ditulis ketika perjalanan Astrid sebagai Wakil Wali Kota baru saja dimulai??

Baca Artikel Lainnya di Sini!

Jika buku ini ditulis setelah masa pengabdiannya selesai, mungkin akan ada lebih banyak pengalaman yang bisa dibagikan. Akan ada lebih banyak keberhasilan, kegagalan, kritik, keputusan sulit, bahkan mungkin penyesalan yang bisa membuat cerita menjadi lebih matang.

Sebab seseorang yang sedang menjalani perjalanan tentu belum mengetahui seluruh akhir perjalanannya.

Hal lain yang membuat saya berpikir adalah bab terakhir, “Apa Kata Mereka”. Bab ini menghadirkan sejumlah tokoh yang memberikan pandangan mengenai Astrid dan kiprahnya. Kehadiran bab tersebut tentu memberikan perspektif tambahan. Tetapi karena yang ditampilkan dominan berupa penilaian positif, saya kembali bertanya, “Apakah pembaca sedang diajak mengenal Astrid lebih jauh, atau sedang diyakinkan bahwa Astrid memang sosok yang layak dikagumi?”

Pertanyaan itu semakin terasa ketika buku ini juga membawa semangat untuk tetap membumi. Sebab, bagi saya, membumi bukanlah sesuatu yang perlu terlalu banyak dijelaskan.

Membumi justru akan terlihat dari bagaimana seseorang diperlakukan oleh orang-orang yang berada di sekitarnya, bagaimana ia mengambil keputusan ketika tidak ada kamera, dan bagaimana masyarakat merasakan kehadirannya ketika sorotan publik sudah tidak ada.

Tetapi tentu saja, menulis tentang diri sendiri bukan berarti seseorang tidak membumi. Sebuah buku bisa menjadi cara untuk mendokumentasikan perjalanan, membagikan pengalaman, sekaligus meninggalkan pembelajaran bagi orang lain. Hanya saja, sebagai pembaca, saya merasa menarik untuk mempertanyakan batas antara berbagi pengalaman dan membangun citra diri. Pertanyaan-pertanyaan semacam inilah yang membuat “The Untold Story” menarik.

Buku ini membuat saya menyadari bahwa di balik seorang pemimpin selalu ada manusia dengan banyak sisi. Ada perempuan yang ingin membuktikan bahwa dirinya mampu. Ada ibu yang membawa naluri keibuan dalam cara memandang persoalan. Ada akademisi yang terbiasa mengajar. Ada pula pemimpin yang kemudian harus belajar mendengarkan.

Maka, saya tidak membaca “The Untold Story” sebagai kisah seseorang yang telah selesai menjadi pemimpin. Saya justru membacanya sebagai potret seseorang yang sedang menjalani proses menjadi pemimpin. Karena jabatan memang bisa diperoleh dalam satu pelantikan. Namun, dalam menjadi pemimpin tidak pernah selesai dalam satu hari.

Barangkali juga, bab paling penting dari perjalanan Astrid Widayani belum tertulis di buku ini. Bab itu sedang ditulis di luar sana oleh warga yang kelak merasakan langsung seperti apa pengabdian yang ia pilih. Seseorang boleh menulis kisah tentang dirinya sendiri. Namun, masyarakatlah yang akan menulis kesimpulan tentang kepemimpinannya.


✨ Dapatkan penawaran spesial dari Gramedia! Cek promonya di bawah ini agar belanja kamu jadi lebih hemat dan bermakna! ⤵️

Temukan Semua Promo Spesial di Sini!


Penulis: Mukhlis Hamidi