Kenapa Warga Afghanistan Takut dengan Taliban

Kenapa Warga Afghanistan Takut dengan Taliban

. 4 min read

Ketika Taliban kembali berkuasa, banyak warga Afghanistan kembali dihantui trauma lama. Agustinus Wibowo, seorang traveller dan photographer yang menulis buku best seller Jalan Panjang untuk Pulang, pernah melakukan perjalanan di Afghanistan selama beberapa tahun. Ia mengatakan,

Ketakutan masih terasa karena sampai sekarang Taliban belum pernah menunjukkan sebaliknya,

Memang saat ini seperti kita banyak baca di media, Taliban menjanjikan banyak hal. Tetapi rasa takut yang sudah muncul sejak lama masih dirasakan orang. “Masih banyak orang yang belum percaya terhadap Taliban,” tambah Agus.

Lalu, apa alasan warga Afghanistan takut dengan Taliban? Berikut Admin bahas dalam kacamata Agustinus Wibowo.

Alasan Kenapa Warga Afghanistan Takut dengan Taliban

Kekejaman Terhadap Perempuan

Di masa kekuasaannya beberapa dekade lalu, Taliban menerapkan aturan yang sangat ekstrem, seperti larangan mendengarkan musik dan menonton televisi, larangan perempuan keluar rumah, atau larangan perempuan bersekolah dan bekerja. Taliban mewajibkan perempuan mengenakan burqa yang menutup sekujur mereka, dan keluar rumah selalu ditemani anggota keluarga yang laki-laki. Taliban bahkan melarang perempuan terdengar suara sepatunya.

Selain larangan, Taliban juga menerapkan hukuman seperti; Pencuri dipotong tangannya, dan perempuan yang dituduh berzina dilempari batu sampai mati atau ditembak. Pelaksanaan hukuman ini biasanya diadakan setiap Jumat di stadion, dan ditonton beramai-ramai oleh masyarakat. Itu adalah memori mengerikan yang berjalan selama Taliban berkuasa.

Kisah perjuangan perempuan di Afghanistan diceritakan panjang lebar oleh Agustinus Wibowo dalam buku best seller-nya yang lain, Selimut Debu. Di salah satu babnya Agustinus Wibowo mengisahkan wawancaranya dengan salah satu anggota RAWA (Revolutionary Association of the Women of Afghanistan). Bahkan untuk mewawancarainya pun Agus memerlukan perjuangan berat karena kerahasiaan yang mereka terapkan demi alasan keamanan.

Kaum Hazara yang Teraniaya

Selain kaum perempuan, etnik minoritas di Afghanistan juga memendam trauma mendalam terhadap Taliban. Terutama etnik Hazara. Kebanyakan pengungsi Afghanistan di luar negeri adalah etnik Hazara, yang melarikan diri dari persekusi Taliban.

Orang Hazara memiliki karakteristik fisik Mongoloid yang cukup kuat, dan menganut aliran Islam Syiah. Pada tahun 1998, ketika laskar Taliban menduduki kota Mazar-e-Sharif, mereka melakukan razia dari rumah ke rumah, lalu membunuh semua orang Hazara yang mereka temukan, termasuk anak-anak dan bayi.

Ada pula terjadi, orang-orang Hazara dimasukkan ke dalam kontainer, lalu dijemur di bawah matahari sampai semua orang dalam kontainer itu mati. Bahkan orang Hazara yang berada di kamp-kamp pengungsian di Pakistan pun masih menjadi target serangan bom Taliban.

Keamanan yang Tercipta karena Rasa Takut

Ada juga warga Afghanistan yang merasa bahwa masa kekuasaan Taliban di masa lalu sebenarnya adalah masa-masa aman. Tindak kriminal turun drastis. Di salah satu bab, Agustinus menulis tentang seorang warga bernama Amin. Ia adalah salah satu dari sekian banyak orang yang merindukan keamanan yang ditawarkan oleh Taliban.

”Zaman Taliban dulu, kamu tidak akan takut berjalan dengan uang ribuan dolar. Tak ada rampok.”

Taliban memang berhasil menumpas kegiatan rampok-merampok di selatan Afghanistan, di jalan raya yang menghubungkan Kabul, Ghazni, Kandahar, Helmand, dan

Herat, yang memang sudah terkenal sejak ratusan tahun lalu. Tanpa ampun, perampok yang tertangkap langsung dipenggal. Ada rasa aman tercipta, tetapi sepenuhnya dibangun atas dasar ketakutan.

Kisah lengkap perjalanan Agustinus Wibowo di Afghanistan dapat kamu baca di buku Selimut Debu yang diterbitkan oleh Penerbit Gramedia Pustaka Utama. Kamu akan mengikuti perjalanan Agustinus ke setiap sudut negeri Afghanistan, termasuk Kandahar yang menjadi markas Taliban.

Agustinus menjelaskan secara detail mengenai kehidupan yang ia rasakan di sana. Ditambah dengan foto-foto yang bisa membawamu ikut merasakan realitas hidup di Afghanistan.

Segera hilangkan rasa penasaranmu dengan membaca buku Selimut Debu. Kamu bisa dapatkan langsung di Gramedia.com atau langsung klik gambar di bawah ini.

afghanistan
Kenali Afghanistan, Beli Bukunya di Sini!

Masih ada buku-buku best seller lainnya dari Agustinus Wibowo yang bisa kamu coba baca. Seperti Garis Batas yang menjadi buku kedua setelah Selimut Debu. Selain di Afghanistan, buku ini juga mengajak kamu berkelana mengelilingi negeri Asia Tengah yang misterius, yaitu Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan, dan Turkmenistan.

afghanistan
Kenali Afghanistan, Beli Bukunya di Sini!

Buku ketiganya yaitu Titik Nol, menjelaskan bahwa perjalanan bukan sekadar jarak, tapi bagaimana kita ikut terhubung dan merasakan hidup di tanah negara-negara tersebut. Dan menghargai arti rumah, sebagai titik nol dari semua perjalanan kita.

afghanistan
Kenali Afghanistan, Beli Bukunya di Sini!

Terakhir, buku terbaru dari Agustinus Wibowo yang rilis awal tahun 2021 lalu, Jalan Panjang untuk Pulang. Buku yang masuk jajaran buku paling diburu pada Gramedia.com pada bulan Maret lalu ini, menceritakan tentang seluruh perjalanannya di daerah perbatasan dan wilayah yang penuh konflik. Bukan sekadar perjalanan fisik, tapi kamu juga akan merasakan berbagai dimensi dalam sebuah perjalanan.

afghanistan
Kenali Afghanistan, Beli Bukunya di Sini!

Karena kamu adalah #SahabatTanpaBatas, Admin berikan diskon spesial untuk mengoleksi seluruh buku Agustinus Wibowo. Beli sekarang, kenali Afghanistan lebih lanjut, dan rasakan perjalanannya!

PromoKlik untuk Info Promo

Kamu juga bisa pesan buku lewat layanan terbaru Gramedia.com, Pesan Antar. Tinggal pesan lewat chat WhatsApp, kamu bisa pilih pengiriman instant (khusus Jabodetabek), paketmu pun akan lebih cepat sampai. Untuk info lebih lanjut, klik gambar di bawah ini.

PesanKlik untuk Info Lebih Lanjut dan Pesan Via Whatsapp!


Penulis: Bagus Adam - Gramedia Digital Content Manager

Sumber foto header: Jim Huylebroek/The New York Times