Kenangan Manis N.H. Dini, dari Awal Mula Hingga Menutup Mata

Kenangan Manis N.H. Dini, dari Awal Mula Hingga Menutup Mata

Tepatnya 4 Desember 2018, pemilik nama lengkap Nurhayati Sri Hardini Siti Nukatin atau yang lebih dikenal dengan nama N.H Dini, menutup usia. Lahir di Semarang, 29 Februari 1936, wanita berdarah Bugis ini dipanggil Yang Maha Kuasa di usianya ke-82 akibat kecelakaan lalu lintas yang menimpanya di ruas tol KM 10 Kota Semarang.

Awal mula menulis

N.H Dini merupakan anak bungsu dari lima bersaudara, ia tumbuh menjadi sosok yang mandiri dan enggan untuk menjadi beban orang lain. Ketertarikannya dengan dunia menulis sudah ia sadari sejak duduk di bangku Sekolah Dasar. Ia pun mulai menulis, bermula dengan mencurahkan isi pikiran di halaman buku pelajarannya.

Ketertarikannya bisa jadi merupakan warisan yang diturunkan ibundanya. Selain seorang pembatik, Ibu Dini juga seorang yang pandai bercerita. N.H Dini pun mengakui bahwa sang ibu merupakan pengaruh terbesarnya dalam membentuk watak serta pemahamannya akan lingkungan.

Bakatnya dalam menulis kemudian semakin terasah ketika N.H Dini SMA. Ia rajin mengisi majalah dinding sekolahnya dengan sajak dan cerita pendek. Selain itu, di usianya yang ke-15 tahun, ia pun sempat membacakan sajak dan prosa karyanya di RRI Semarang. Setelahnya menjadi semakin konsisten mengirimkan sajak-sajaknya dalam acara Tunas Mekar di RRI Semarang kala itu.

Penghargaan yang diraih

N.H Dini kemudian tumbuh tidak hanya sebatas seorang sastrawan yang kita kenal, tapi juga seorang feminis, melenceng dari cita-cita kecilnya yang ingin menjadi masinis.

NH DINI
Source: Femina

Semasa hidupnya, ia telah meraih banyak penghargaan, seperti Hadiah Seni untuk Sastra dari Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pada 1989, dan juga Bhakti Upapradana Bidang Sastra dari Pemerintah daerah Jawa Tengah pada 1991.

Di kancah internasional, N.H Dini juga meraih penghargaan dari Pemerintah Thailand pada 2003, yaitu SEA Write Award di bidang sastra, serta Hadiah Francophonie pun telah ia raih pada 2008.

Setelahnya di 2011, ia juga mendapat Award dari Achmad Bakrie Award. Yang terbaru dan yang terakhir, N.H Dini mendapat penghargaan Sepanjang Masa atau Lifetime Achievement Award dalam malam pembukaan Ubud Writers and Readers Festival 2017.

Karya-karya feminis

Predikat sastrawan Indonesia telah melekat pada diri N.H Dini, meski sebenarnya ia merasa hanyalah seorang pengarang yang menuangkan realita dari pengalaman pribadinya dan kepekaannya terhadap lingkungan dalam tulisan-tulisannya. Pendiri Pondok Baca N.H Dini ini telah melahirkan puluhan karya yang condong kepada sastra feminis.

Beberapa karya dari N.H Dini yang kerap menjadi best seller bahkan berulang kali dicetak ulang pada masanya, yaitu; Pada Sebuah Kapal, La Barka, Namaku Hiroko, Orang-Orang Tran, Pertemuan Dua Hati, dan Hati yang Damai. Karya-karyanya ini bercerita tentang wanita serta kemarahannya kepada kaum lelaki.

Terlepas dari pro-kontra masyarakat, ia tetap kukuh pada pendiriannya yang tidak ingin wanita terus-menerus menerima ketidakadilan gender, yang seringkali merugikan perempuan.

Karya paling barunya yang terbit pada 2003, Dari Parangakik ke Kamboja pun mengisahkan tentang perilaku suami yang tidak mengenakkan terhadap istrinya.

Bukan sekadar bercerita, karya yang dilahirkan N.H Dini memerlukan proses yang cukup memakan waktu. Ia mengaku bahwa mengetik naskah cerita hanya perlu waktu sebulan, namun mengumpulkan cacatan, penggalan adegan serta gagasan, dapat menyita waktunya hingga sepuluh tahun lamanya. Hal ini ia rasakan pada salah satu bukunya, Pada Sebuah Kapal.

Ia begitu telaten dalam mengumpulkan catatan-catatan penting, hasil amatan juga pendengarannya untuk merangkai kisah di kemudian hari, jika dirasa datanya sudah cukup mumpuni.

Dini tidak hanya menulis di sepanjang hidupnya, pada 1956 ia sempat bekerja di Garuda Indonesia Airways (GIA) di Bandara Kemayoran dan tetap menulis dan menerbitkan buku.

N.H. Dini dan keluarga kecilnya

Pada 1960, Dini melangsungkan pernikahan dengan Yves Coffin, seorang diplomat Konsul Prancis di Kobe, Jepang. Ia pun memiliki dua orang anak dari hasil pernikahannya tersebut. Marie Claire Lintang (lahir pada 1961) dan Pierre Louis Padang (lahir pada 1967). Anak sulungnya kini menetap di Kanada, dan anak bungsunya menetap di Prancis.

NH DINI
N.H. Dini dan keluarga kecilnya (Source: CNN Indonesia)

Pierre Louis Padang, kini dikenal sebagai sutradara dari film Minions dan Despicable Me, sementara Marie Claire Lintang merupakan seorang jurnalis.

Semasa hidup dengan suaminya, ia berpindah-pindah tempat tinggal karena mengikuti tugas suaminya sebagai seorang diplomat. Di Paris, N.H Dini tercatat sebagai anggota Les Amis dela Natura (Green Peace).

Akhir hayat dan wasiat N.H. Dini

Syahdan, hidup memang tak selamanya mudah. Perkara menjadi penulis pun bukanlah hal yang mudah. Selama hampir 60 tahun menulis, barulah dua tahun terakhir ini Dini menerima royalti honorarium yang bisa menutupi biaya hidup sehari-harinya setelah tidak lagi bersama suaminya.

NH DINI
Saat-saat terakhir sebelum jenazah N.H. Dini dikremasi. (Source: Antara Foto)

Ia pun tidak ingin terus-menerus menjadi parasit untuk teman-temannya yang telah banyak membantu untuk biaya pengobatan dirinya. Sampai suatu hari ia memutuskan untuk mengisvestasikan barang-barangnya, dan mengukuhkan diri untuk tinggal di Panti Wreda Harapan Asri Banyumanik karena tidak ingin merepotkan siapapun.

Dilansir dari Tempo (5/12), N.H Dini pernah menitipkan dua wasiat, yang pertama, ia pernah mengatakan, “tolong kalau saya dipanggil, nanti disemayamkan di sini, wisma lansia ini”.

Yang kedua, N.H Dini meminta agar jenazahnya diperabukan dan dilarung di laut. Pada 5 Desember 2018 kemudian N.H Dini dikremasi dan abunya diserahkan kepada keluarga untuk dilarung.

Terima kasih dan selamat jalan N.H Dini.
Namamu akan abadi bersama karya-karyamu yang melegenda hingga di akhir masa.


Header image source: Radar Cirebon


Meutia Ersa Anindita

Meutia Ersa Anindita

Content Writer for Gramedia.com

Enter your email below to join our newsletter