Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-kehidupan Setelahnya: Sebuah Percobaan Mengepak Luka dan Sayup-sayup Cinta!
Ada masa ketika hidup terasa berjalan seperti biasa, tetapi diam-diam menyisakan kehilangan kecil yang sulit dijelaskan.
Kehilangan yang tidak selalu datang lewat perpisahan, melainkan lewat rasa takut, penolakan, kenangan, hingga perasaan tidak diterima sepenuhnya oleh dunia. 😔
Perasaan-perasaan itulah yang coba dirangkum oleh Awi Chin lewat buku terbarunya berjudul Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-kehidupan Setelahnya. Sebuah kumpulan cerita yang membawa pembacanya menyusuri luka, cinta, dan identitas dengan cara yang begitu personal sekaligus reflektif.
Nah, kalau kamu penasaran seperti apa kisah yang dihadirkan dalam buku ini, yuk kita bahas bersama, Grameds! 🚀
Ini Buku Tentang Apa Sih?
Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-kehidupan Setelahnya menghadirkan tiga belas cerita yang bergerak di antara kehilangan, ingatan, dan perjuangan untuk tetap hidup di tengah dunia yang terasa asing.
Latar kisahnya berpindah dari Pontianak, Yogyakarta, hingga Bangkok. Setiap tempat membawa atmosfer dan pengalaman emosional yang berbeda. Ada tokoh-tokoh yang mencoba bertahan setelah kehilangan, ada yang mencari pengakuan atas dirinya, dan ada pula yang menyimpan cinta hanya dalam diam dan ingatan.
Buku ini terasa seperti ruang bagi suara-suara yang sering kali luput didengar. Tentang mereka yang dipinggirkan, dikaburkan keberadaannya, hingga dipaksa bertahan dalam sistem yang terasa begitu keras.
Meski membawa tema yang berat, cara bertutur Awi Chin justru terasa puitis dan mengalir. Ia meramu rasa pedih menjadi sesuatu yang tetap hangat untuk diikuti hingga halaman terakhir.
Baca juga: Novel Naoko: Di Antara Duka, Tubuh yang Salah dan Rahasia yang Tidak Masuk Akal
Kumpulan Cerita yang Reflektif dan Sarat Makna
Melalui Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-kehidupan Setelahnya, Awi Chin meramu kisah-kisah yang terasa jauh menjadi begitu dekat dan manusiawi.
Ia menghadirkan cerita tentang kehidupan yang mungkin hanya pernah kita dengar sepintas, tetapi jarang benar-benar kita pahami. Lewat pilihan diksi yang mengalir dan penuh rasa, pembaca seperti diajak masuk langsung ke dalam kehidupan para tokohnya.
Dalam antologi ini, Awi Chin juga menghadirkan eksplorasi yang unik lewat sudut pandang non-antroposentris. Bersama lembaran-lembarannya, kamu akan diajak mendengar pohon dan hewan berbicara tentang hidup mereka, tentang bagaimana mereka memandang manusia beserta berbagai persoalan yang terjadi di dunia.
Selain itu, cerpen-cerpen di dalam buku ini turut membuka ruang yang hangat bagi subjek queer untuk berbicara tentang tubuh, identitas, dan rasa. Semuanya disampaikan dengan lembut, tetapi tetap meninggalkan kesan yang kuat. Reflektif sekaligus kritis dalam waktu yang bersamaan.
Membaca cerita-cerita Awi Chin terasa seperti menikmati manis yang perlahan berubah menjadi getir. Ia menghadirkan cinta yang tumbuh dengan tulus, tetapi kerap terbentur oleh batas-batas yang dibangun manusia sendiri.
Saat hukum, norma, dan egoisme mulai menentukan siapa yang pantas dicintai, makna cinta pun ikut menyempit sedikit demi sedikit. Pedih, hangat, sekaligus nyata. Begitulah dunia yang dibangun Awi Chin dalam buku ini.
Kenalan Lebih Jauh dengan Awi Chin!
Awi Chin merupakan penulis dan penerjemah asal Indonesia yang juga mendirikan Taksu Pustaka serta Taksu Book Café di Jakarta Selatan.
Namanya mulai dikenal luas lewat novel debut Yang Tak Kunjung Usai yang terbit pada tahun 2020. Karyanya dikenal banyak mengangkat tema identitas, kehilangan, queer experience, memori, dan perpindahan budaya.
Awi Chin juga pernah menjadi Emerging Writer di Ubud Writers & Readers Festival serta mengikuti residensi AIR Literature Västra Götaland di Swedia. Selain itu, ia merupakan penerima beasiswa Chevening dan menempuh studi Creative Writing di University of Edinburgh.
Gaya penulisannya yang emosional dan reflektif membuat karya-karyanya terasa dekat, terutama bagi pembaca yang menyukai cerita dengan lapisan emosi yang kuat.
Rekomendasi Bacaan Seru Lainnya!
Nah, kalau kamu menikmati nuansa cerita dalam Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-kehidupan Setelahnya, beberapa buku ini juga bisa masuk ke daftar bacaanmu berikutnya, Grameds!
Yang Tak Kunjung Usai – Awi Chin
Novel ini mengangkat kisah Saul dan Bagas yang tumbuh di tengah benturan budaya, agama, dan ekspektasi lingkungan sekitar. Hubungan mereka berkembang di tengah tekanan keluarga dan masyarakat yang membuat cinta terasa semakin rumit untuk diperjuangkan.
Cerita ini juga menghadirkan konflik tentang identitas, masa depan, dan pilihan hidup yang terasa begitu dekat dengan realitas.
Debur Ombak Memanggilmu Kembali – Awi Chin
Novel ini membawa pembaca mengikuti kisah Alan dan Ing-ing yang dipisahkan keadaan sejak kerusuhan tahun 1998. Bertahun-tahun kemudian, masa lalu kembali datang ketika Alan mendengar kabar tentang cinta pertamanya.
Nuansa nostalgia dan kerinduan dalam novel ini terasa kuat sejak awal hingga akhir cerita.
Simulasi Sakaratul Maut – Titan Sadewo
Buku ini menghadirkan narasi yang absurd, gelap, sekaligus puitis. Titan Sadewo memainkan diksi dengan cara yang unik sehingga setiap halaman terasa seperti potongan mimpi yang ganjil tetapi memikat.
Cocok untuk kamu yang menyukai bacaan reflektif dengan atmosfer surealis.
Seporsi Mie Ayam Sebelum Mati – Brian Khrisna
Lewat tokoh Ale, novel ini berbicara tentang depresi, kesepian, dan keinginan untuk diterima. Meski membawa tema yang emosional, ceritanya tetap terasa hangat dan manusiawi.
Perjalanan Ale sebelum memutuskan mengakhiri hidupnya justru mempertemukannya dengan hal-hal kecil yang perlahan mengubah cara pandangnya terhadap kehidupan.
Corat-coret di Toilet – Eka Kurniawan
Buku karya Eka Kurniawan ini menghadirkan kumpulan cerita satir yang tajam sekaligus jenaka. Di balik gaya penceritaannya yang ringan, tersimpan kritik sosial dan kegelisahan tentang kehidupan manusia yang terasa relevan hingga sekarang.
Undangan untuk Menelusuri Luka yang Tak Selalu Berdarah!
Pada akhirnya, Kematian Kecil yang Kita Pilih dan Kehidupan-kehidupan Setelahnya terasa seperti perjalanan untuk memahami luka-luka kecil yang sering tersembunyi dalam hidup manusia. Tentang kehilangan, cinta, identitas, dan harapan yang tetap bertahan meski dunia tidak selalu berjalan ramah. 💝🩹
Lewat gaya penulisan yang puitis dan intim, Awi Chin berhasil menghadirkan cerita-cerita yang tidak hanya menyentuh, tetapi juga meninggalkan ruang refleksi setelah buku selesai dibaca.
Kalau kamu tertarik mengikuti setiap kisahnya, buku ini sudah bisa kamu dapatkan melalui special offer di Gramedia.com ya, Grameds! Tentu, akan ada bonus juga yang bisa kamu dapatkan kalau kamu memesan bukunya selama tanggal periode berlaku.
So, catat tanggalnya dan jangan sampai ketinggalan ya! 🍃✨
Baca juga: Azhar Nurun Ala dan Karya-Karya Reflektif yang Mampu Memelukmu di Kala Sepi
✨Oh iya, jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya misi koleksimu makin hemat dan bermakna! ⤵