Kelu Karya Lau Yee-wa, Horor Sosial tentang Bahasa dan Kekuasaan!

Bagaimana jika bahasa yang kita gunakan sehari-hari justru menjadi alasan bagi orang lain untuk merendahkan kita? ๐Ÿ™‹โ€โ™‚๏ธ

Di tengah lingkungan yang menuntut keseragaman, adanya sedikit perbedaan dalam diri seseorang bisa saja menjadi sumber tekanan, bila itu sampai terdeteksi.

Mereka yang kesulitan mengikuti aturan pun berisiko kehilangan tempat, pekerjaan, bahkan kendali atas hidupnya sendiri.

Situasi mencekam inilah yang diangkat Lau Yee-wa dalam Kelu (Tongueless), novel yang memadukan kisah horor psikologis dengan sentuhan kritik sosial di dalamnya.

Berlatar dunia pendidikan di Hong Kong, kisah dalam novel ini menyoroti tekanan di lingkungan kerja yang kemudian berkembang menjadi teror yang mengusik kehidupan para tokohnya.

Lantas, bagaimana gambaran teror dan kritik sosial coba dihadirkan dalam novel Kelu? Mari kita telusuri bersama dalam artikel ini! ๐Ÿš€


Mulai dari Sinopsisnya Dulu

Temukan Bukunya di Sini!

Kisah ini mengikuti kehidupan dua guru bahasa Mandarin, Wai dan Ling, di sebuah sekolah menengah di Hong Kong.

Keduanya menghadapi tekanan untuk beralih dari penggunaan bahasa Kanton ke Mandarin sebagai bahasa pengantar dalam pembelajaran bahasa Mandarin.

Perubahan ini menuntut mereka menguasai kemampuan berbahasa Mandarin sesuai standar yang ditetapkan, termasuk melalui ujian kualifikasi.

Wai, yang canggung dan kurang disukai rekan-rekannya, berusaha keras menguasai Mandarin. Ia bahkan mulai menggunakannya dalam interaksi sehari-hari di sekolah.

Namun, usahanya tak membuahkan hasil. Setelah gagal dalam ujian kualifikasi, ia kehilangan pekerjaan, mengalami kemunduran kondisi mental, dan akhirnya meninggal akibat bunuh diri.

Sementara itu, Ling memiliki pendekatan berbeda. Ia pandai membaca situasi, menjaga hubungan dengan atasan, dan memanfaatkan kecakapan sosialnya untuk mempertahankan posisi di sekolah.

Ling merasa dirinya mampu melewati tuntutan tersebut tanpa harus menghadapi kesulitan yang sama dengan Wai.

Namun, kematian Wai perlahan mengusik kehidupan Ling. Bayang-bayang tragedi itu terus menghantuinya, sementara beban pekerjaan dan tekanan dari pihak sekolah semakin berat.

Hubungannya dengan rekan-rekan kerja pun mulai memburuk. Ling akhirnya harus menghadapi kenyataan bahwa kecerdikan dan kemampuannya menyesuaikan diri tak selalu cukup untuk melindunginya.

Di tengah lingkungan yang terus mengubah aturan bertahan hidup, mampukah Ling menemukan jalan keluar sebelum dirinya mengalami nasib serupa?


Bahasa Kanton dan Tekanan Sosial di Hong Kong

Seperti yang telah disinggung di atas, salah satu konflik utama dalam Kelu berangkat dari tuntutan penggunaan bahasa Mandarin dalam pembelajaran bahasa Mandarin di sekolah Hong Kong.

Kebijakan ini menempatkan para guru dalam situasi sulit karena mereka harus menyesuaikan kemampuan berbahasa sekaligus memenuhi standar institusi tempat mereka bekerja.

Bagi Wai, tuntutan tersebut berkembang menjadi obsesi yang menggerogoti kehidupannya. Kesulitan menguasai bahasa Mandarin membuatnya semakin terasing dari lingkungan kerja.

Sementara itu, Ling berusaha mempertahankan posisinya melalui kecakapan sosial dan kemampuannya membaca keinginan orang-orang yang memiliki kuasa atas kariernya.

Melalui kedua tokoh ini, Lau Yee-wa memperlihatkan bagaimana bahasa dapat menjadi alat untuk menentukan siapa yang dianggap kompeten, siapa yang layak dipertahankan, dan siapa yang akhirnya tersingkir.

Bahasa Kanton sendiri merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Hong Kong, sedangkan Mandarin atau Putonghua memiliki kedudukan penting dalam konteks nasional Tiongkok.

Ketegangan di antara keduanya membuat persoalan bahasa dalam novel ini bersinggungan dengan sejarah, identitas budaya, dan perubahan politik Hong Kong.


Baca juga: Lampuki dan Tanah Surga Merah: Novel Arafat Nur yang Kaya Akan Konflik hingga Pergulatan Politik


Ketika Kekejaman Berbalik Menghantui Pelakunya

Kengerian dalam Kelu tumbuh melalui suasana yang perlahan terasa semakin ganjil. Setelah kematian Wai, berbagai hal di sekitar Ling mulai memantulkan kembali tragedi yang menimpa rekannya itu.

Citra cermin yang berulang dalam cerita turut memperkuat kesan bahwa Ling sedang berhadapan dengan sesuatu yang selama ini enggan untuk ia akui.

Ling sebelumnya merasa mampu menghindari kesulitan dengan menjaga citra dan menyenangkan orang-orang yang berkuasa.

Namun, ketika keadaan berubah, strategi yang selama ini diandalkannya mulai kehilangan daya. Ia pun merasakan keterasingan yang dahulu dialami Wai.

Di sinilah horor sosial dalam novel ini bekerja. Teror muncul dari lingkungan yang membiarkan tekanan, persaingan, dan perlakuan kejam terus berlangsung demi mempertahankan tatanan yang ada.

Ketakutan dalam novel ini tumbuh dari sesuatu yang terasa dekat dengan kehidupan sehari-hari, yaitu keinginan untuk diterima dan bertahan di tengah lingkungan yang terus menghakimi.

Ketika setiap orang sibuk menyelamatkan diri, penderitaan orang lain mudah diabaikan sampai akhirnya dampak kekejaman itu merambat ke mana-mana.

Melalui kisah Wai dan Ling, Lau Yee-wa setidaknya mengajak kita untuk melihat bagaimana sistem yang menuntut kepatuhan dapat memengaruhi hubungan antarmanusia.

Baca Artikel Lainnya di Sini!


Dapatkan Kisah Kelu Lewat Special Offer!

Ingin mengikuti kisah Wai dan Ling hingga akhir? Kamu bisa mendapatkan novel Kelu melalui program Special Offer yang sedang berlangsung di Gramedia.com!

Selama periode promonya bergulir, kamu berkesempatan untuk mengikuti kelunya kisah Wai dan Ling dan mendapatkan bonus berupa tanda tangan dari penulis dan penerjemah novel Kelu.

Nah, biar nggak kelewatan dengan kesempatan ini, kamu bisa langsung kunjungi halaman promonya dan cek informasi lengkapnya di sini ya!

Temukan Resepnya di Sini!


Rekomendasi Buku Lainnya!

Kamu tertarik membaca kisah yang mengangkat keterasingan, diskriminasi, dan tekanan sosial dari sudut pandang berbeda?

Berikut beberapa rekomendasi yang bisa masuk daftar bacaanmu selanjutnya, Grameds! ๐Ÿ“š

The Vegetarian โ€” Han Kang

Temukan Bukunya di Sini!

Seperti Kelu, novel ini memperlihatkan bagaimana keputusan dan perilaku yang menyimpang dari harapan lingkungan dapat memicu penolakan dan konflik yang semakin dalam.

Ceritanya mengikuti Kim Young-hye, yang mulai mengubah pola makannya setelah mengalami mimpi buruk yang terus menghantuinya. Keputusannya menjadi vegetarian memicu konflik dengan suaminya dan keluarganya.

Seiring waktu, penolakannya terhadap daging berkembang menjadi perubahan yang semakin ekstrem, mengusik hubungan antartokoh sekaligus mengguncang pemahaman mereka tentang tubuh dan kehidupan.

Melalui kisah yang kelam dan mencekam, Han Kang mengeksplorasi kekerasan, kebebasan, serta tekanan sosial terhadap tubuh seseorang. ย 


No Longer Human โ€” Osamu Dazai

Temukan Bukunya di Sini!

Oba Yozo merasa dirinya tidak mampu memahami manusia dan menemukan tempat di tengah masyarakat.

Sejak kecil, ia menyembunyikan keterasingannya dengan berpura-pura menjadi sosok yang lucu dan menyenangkan.

Kebiasaan tersebut terus terbawa hingga dewasa, sementara kesulitan membangun hubungan yang tulus membuatnya semakin terasing dari dunia di sekitarnya.

Melalui pengakuan Yozo yang muram dan terus terang, Osamu Dazai menggambarkan pergulatan batin seseorang yang berusaha menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial.

Novel ini cocok bagi pembaca yang tertarik menyelami dampak tekanan sosial terhadap identitas dan cara seseorang memandang dirinya sendiri.


The Ocean Would Paint Me Blue โ€“ Zoulfa Katouh

Temukan Bukunya di Sini!

Sejak ibunya meninggal, Jihad Dabbagh kehilangan kemampuan untuk melihat warna seperti sebelumnya. Ayahnya kemudian mengirim Jihad ke Braxton Academy agar ia bisa memulai kehidupan baru.

Namun, di sekolah tersebut, nama dan keyakinannya justru membuatnya menjadi sasaran perundungan. Di tengah situasi itu, Jamie hadir sebagai sosok yang tetap mendukungnya.

Jihad kemudian menemukan cara untuk mengungkapkan kesedihan dan pengalamannya melalui mural yang terinspirasi dari buku sketsa peninggalan ibunya.

Ketika mural tersebut muncul secara ajaib di berbagai dinding New York, karyanya menarik perhatian banyak orang sekaligus membawanya menghadapi persoalan baru.

Novel Zoulfa Katouh ini mengangkat diskriminasi, identitas, kehilangan, dan keberanian untuk menyuarakan diri.


Mieko Kawakami โ€” Heaven

Temukan Bukunya di Sini!

Seorang anak lelaki empat belas tahun dirundung karena bermata juling. Alih-alih melawan, ia memilih menanggung derita dalam diam.

Satu-satunya orang yang mengerti apa yang dialaminya adalah teman sekelasnya, Kojima, siswi yang juga mengalami perlakuan serupa dari para pengganggunya.

Saling memberikan penghiburan saat mereka sangat membutuhkan, kedua remaja ini semakin dekat dari hari ke hari. Namun, kedekatan mereka turut membawa keduanya pada pertanyaan tentang kekerasan, moralitas, dan alasan seseorang harus menanggung penderitaan.

Melalui hubungan kedua remaja ini, Mieko Kawakami menggambarkan dampak perundungan serta perjuangan mencari makna di tengah lingkungan yang kejam.


Metamorfosis โ€” Franz Kafka

Temukan Bukunya di Sini!

Suatu pagi, Gregor Samsa terbangun dan mendapati dirinya telah berubah menjadi serangga raksasa. Perubahan tersebut membuatnya tak lagi mampu bekerja untuk menopang keluarganya.

Perlahan, sikap keluarga yang sebelumnya bergantung kepadanya pun berubah. Gregor semakin dijauhi dan diperlakukan sebagai beban.

Melalui kisah yang ganjil dan penuh simbol, Franz Kafka mengangkat persoalan keterasingan, identitas, dan nilai seseorang di mata masyarakat. ย 


Pada akhirnya,

Kelu membawa pembaca menyusuri dunia kerja yang dipenuhi tuntutan, persaingan, dan ketakutan akan kehilangan tempat menjalani karier. ๐Ÿ˜จ

Melalui kisah Wai dan Ling, Lau Yee-wa memperlihatkan bagaimana tekanan institusi dapat merembes ke hubungan antarmanusia, sementara bahasa menjadi penanda kemampuan sekaligus identitas.

Kisah ini juga meninggalkan renungan tentang cara kita memperlakukan orang-orang yang kesulitan memenuhi standar lingkungan.

Di balik aturan dan tuntutan untuk terus menyesuaikan diri, ada manusia yang berusaha mempertahankan harga diri dan tempatnya di dunia.

Kalau kamu tertarik pada kisah yang memadukan horor psikologis dengan kritik sosial, rasanya Kelu layak untuk masuk ke dalam daftar bacaanmu berikutnya, Grameds!

Segera dapatkan bukunya di Gramedia.com dan rasakan pengalaman membaca yang cukup mengusik, tapi tetap memantik rasa penasaranmu! ๐Ÿ“–๐Ÿ‘€

Temukan Resepnya di Sini!


Baca juga: 5 Suguhan Komik Horor untuk Temani Oktober Malam yang Spooky! Yakin Berani Baca Sendiri?


โœจOh iya, jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! โคต

Temukan Semua Promo Spesial di Sini!