Pikiran, cerita, dan gagasan tentang buku dengan cara yang berbeda.

Kawasan Bebas Stres: Cara Elegan Melarikan Diri dari Kenyataan di ‘Capek Sih, Tapi Ya Sudah Jalanin Aja!’

Kawasan Bebas Stres: Cara Elegan Melarikan Diri dari Kenyataan di ‘Capek Sih, Tapi Ya Sudah Jalanin Aja!’


Grameds, semalam Indonesia punya alasan untuk berteriak lebih keras dari biasanya. 🔥

Setelah 120 menit yang bikin jantung ikut lembur, Timnas Indonesia akhirnya menjuarai FIFA ASEAN Cup 2026 lewat adu penalti melawan Thailand. Trofi pertama edisi perdana turnamen ini pun resmi dibawa pulang Garuda.

Euforianya masih terasa. Namun, setelah sorak-sorai reda, kehidupan tetap meminta kita melakukan hal-hal biasa: bangun, bekerja, membalas chat, menghadapi manusia, serta berusaha melewati hari dengan energi yang entah kenapa sudah tinggal beberapa persen.

Pada titik tertentu, target hari ini mungkin bukan lagi menjadi manusia paling produktif. Melainkan cukup melewati hari tanpa kehilangan kewarasan. 😭

Dan mungkin, kalimat “ya sudah, jalanin aja” memang punya tempat tersendiri dalam kehidupan kita.

Semangat itulah yang dibawa Artzzil dalam karya Capek Sih, Tapi Ya Sudah Jalanin Aja!, buku ilustrasi pengembangan diri yang mengajak kita melihat berbagai kekacauan kecil kehidupan manusia modern melalui karakter Gwakmon.

Karena, tidak semua hari harus dimenangkan. Kadang, berhasil melewatinya saja sudah cukup. 🌬


Hidup Terasa Terlalu Ramai? Kenalan dengan Gwakmon 🐧🦆

Dok. Gramedia


“Daripada buang-buang waktu untuk menyesal, lebih baik makan satu potong ayam goreng lagi!”

Perut buncit, lengan dan kaki kurus, serta ekspresi linglung membuat Gwakmon sekilas terlihat seperti penguin yang sedang menjalani hari dengan energi seadanya.

Ternyata, ia adalah seekor bebek yang berpura-pura menjadi penguin karena malas terbang.

Karakter unik ini menjadi wajah dari Capek Sih, Tapi Ya Sudah Jalanin Aja! karya Artzzil, tim yang terdiri atas tiga desainer: Kwak Yu-mi, Kim Woo-ri, dan Do Kyung-ah. Melalui Gwakmon, mereka menerjemahkan berbagai emosi rumit dan situasi yang dekat dengan kehidupan manusia modern ke dalam ilustrasi yang menggemaskan. Mulai dari lelah menghadapi relasi antar manusia hingga hiruk-pikuk kehidupan sosial, Gwakmon hadir bukan untuk mengajari kita cara menjalani hidup dengan sempurna. Ia justru menemani kekacauan kecil yang sering datang tanpa diundang.

Dan ternyata, seekor bebek pun punya alasan untuk berhenti terbang.

Ia sedang capek menjadi dirinya sendiri. 👀


Baca juga: Merasa Hampa di Balik Rutinitas: Pelajaran Menemukan Keajaiban Hidup di 'The Life Impossible’


Gwakmon Ternyata Punya Dunia Sendiri ✨

Dok. Gramedia

Gwakmon ternyata tidak berhenti di halaman buku. Karakter ini sudah meluas ke berbagai medium, mulai dari merchandise resmi, animasi, hingga stiker KakaoTalk melalui dua seri emotikon resmi populer 아찔한 감정표현 오리, 꽉몬! (The Dizzyingly Expressive Duck) dan 빡센 사회 속 자낳괴 오리, 꽉몬!. (A Duck Turned “Capitalism-Obsessed Monster” in a Cutthroat Society).

Kini, edisi Indonesianya hadir untuk membawa dunia kecil tersebut kepada pembaca lokal. Kesan jenaka itu langsung terasa dari sampulnya. Latar hitam menjadi panggung bagi tiga karakter berwarna cerah, lengkap dengan kaki kuning, ekspresi datar, dan doodle warna-warni yang berserakan di sekeliling mereka.

Di tengahnya, gelembung percakapan kuning menampilkan judul buku dengan huruf besar, berdampingan dengan tagline-nya yang ikonik: “Seni Tetap Waras di Dunia yang Tak Pernah Puas”.

Cerah, absurd, dan sedikit lelah. Persis seperti hidup yang sedang kita jalani. ☀️😆

bukuTemukan Bukunya di Sini!


Dari Stres Berkarya, Lahir Gwakmon yang Berani Bicara 🎨🐧

Dok. Gramedia

Perjalanan Gwakmon ternyata berawal dari sesuatu yang sangat sederhana: rasa lelah.

Dalam wawancaranya dengan DDP Design Store, Kwak Yu-mi (desainer Artzzil) bercerita bahwa Gwakmon lahir saat ia mencari cara untuk melepaskan stres dari proses berkarya yang menyita banyak tenaga. Gwakmon kemudian menjelma menjadi “suara” untuk hal-hal yang sering cuma berani kita simpan dalam hati.

Dari corat-coret pelepas stres, Artzzil kini berkembang menjadi brand karakter besar yang menggarap komik, merchandise, hingga komisi pembuatan karakter untuk berbagai institusi.

Nama Artzzil sendiri diambil dari kata “아찔” sebagai perasaan pusing atau pening di tengah himpitan hidup modern. Mereka berhasil mengubah relasi rumit dan rasa capek menjadi karya humor yang relatable.  

Jadi, Gwakmon bukan sekadar karakter yang terlihat lelah. Ia memang lahir dari rasa capek itu sendiri.

Barangkali, itulah alasan kita mudah merasa dekat dengannya. Karena pada akhirnya, kita semua pernah ada di titik ingin berhenti sebentar dan berkata, “Ya sudah, hari ini segini dulu.” 🤙


kumpulanBaca Artikel Lainnya di Sini!


Lanjutan Amunisi Bertahan Hidup: Lima “Obat” yang Wajib Masuk Rakmu 📚

Kalau kamu merasa nyambung dengan dunia Gwakmon, lima “obat” ini bisa menjadi teman baca untuk menghadapi hari-hari yang energinya sedang tidak penuh-penuh amat.

Intip rekomendasinya di bawah! ✨


I’m Not Lazy, I’m on Energy Saving Mode — Dancing Snail

bukuTemukan Bukunya di Sini!

Pernah merasa ingin melakukan banyak hal, tetapi tubuh dan pikiran sepakat untuk masuk mode hemat energi? Buku ini membahas rasa lelah, kemalasan, overthinking, dan berbagai kekacauan kecil dalam kehidupan sehari-hari melalui tulisan singkat dan ilustrasi yang ringan.

Alih-alih mengomeli pembaca supaya lebih produktif, buku ini justru memberi ruang untuk mengakui bahwa tidak setiap hari harus diisi dengan pencapaian besar. Cocok untuk kamu yang sering merasa bersalah karena sedang tidak produktif dan siapapun yang butuh teman duduk sambil bilang, “hari ini kita pelan-pelan aja.”


Nyaman Tanpa Beban — Kim Suhyun

bukuTemukan Bukunya di Sini!

Hidup sudah cukup ramai tanpa harus menambahkan suara-suara dari ekspektasi orang lain. Melalui tulisan pendek, kutipan, dan ilustrasi, Kim Suhyun mengajak pembaca melihat kembali berbagai hal yang sering membuat kita terbebani— mulai dari pekerjaan, hubungan, keluarga, hingga tuntutan untuk selalu menjadi versi terbaik dari diri sendiri.

Buku ini tidak menawarkan resep untuk menjalani hidup dengan sempurna. Sebaliknya, ia mengajak kita belajar merasa nyaman dengan diri sendiri, termasuk bagian-bagian yang belum selesai. Cocok untuk kamu yang sering memikirkan pendapat orang lain, gampang merasa tertinggal, atau sedang belajar menjalani hidup tanpa membawa koper berisi ekspektasi semua orang.

Ini Aku! — @Wantja

bukuTemukan Bukunya di Sini!

Ada kalanya mengenali diri sendiri terasa lebih rumit daripada membaca petunjuk penggunaan benda elektronik. Ini Aku! Menghadirkan pembahasan tentang kesehatan mental dan pengembangan diri melalui narasi ringan serta ilustrasi doodle yang membuat topiknya terasa lebih dekat.

Alih-alih menggunakan bahasa yang berat, buku ini mengajak pembaca memahami emosi, mengenali diri, dan menghadapi berbagai persoalan sehari-hari dengan cara yang lebih santai.


Kerja Selain Kantoran — Saenggang

bukuTemukan Bukunya di Sini!

Dunia kerja punya banyak cerita. Ada rapat yang sebenarnya bisa jadi satu pesan, pekerjaan yang tiba-tiba muncul lima menit sebelum pulang, sampai pertanyaan klasik: “sebenarnya aku mau ke mana dengan karier ini?”

Kerja Selain Kantoran membahas kehidupan dari dunia kerja melalui ilustrasi penuh warna serta humor yang dekat dengan pengalaman pekerja masa kini. Buku ini juga menyentuh berbagai pertanyaan tentang pilihan karier dan kehidupan profesional, termasuk kemungkinan menjalani jalan yang berbeda dari rutinitas kantor.


The Things You Can See Only When You Slow Down — Haemin Sunim

bukuTemukan Bukunya di Sini!

Di tengah dunia yang terus meminta kita bergerak lebih cepat, Haemin Sunim justru mengajak pembaca berhenti sejenak. Buku ini membahas berbagai sisi kehidupan, mulai dari hubungan, pekerjaan, cinta, hingga cara memperlakukan diri sendiri, ditemani ilustrasi yang membuat setiap refleksi terasa lebih hangat.

Cocok untuk kamu yang sedang lelah mengejar banyak hal sekaligus, merasa hidup berjalan terlalu cepat, atau sekadar membutuhkan satu buku yang bisa dibaca pelan-pelan tanpa target menyelesaikan sekian halaman per hari.


Baca juga: Menembus Tiga Dunia Clarissa Goenawan: Rahasia Kelam di Balik Cover yang Baru


Satu Buku Lagi, Boleh Lah… 😌✨

Kalau Gwakmon mengajarkan satu hal, mungkin itu adalah: hidup sudah cukup melelahkan, jadi setidaknya pilih bacaan yang bisa menemani kita menjalaninya ✨

Nah, buat kamu yang sedang ingin menambah teman baca, momen Promo 10.10 di Gramedia bisa jadi waktu yang pas untuk berburu buku! 📚

Selama 1-10 Oktober 2026, kamu bisa menikmati diskon hingga 70% untuk buku terbitan Gramedia! 🔥

Siapa tahu, dari satu buku yang awalnya cuma ingin dibeli karena diskon, kamu malah menemukan cerita yang menemani sampai halaman terakhir 📖

🛍️Yuk, waktunya isi keranjang bacaan di sini sebelum promonya ikut pamit 🛒

promoTemukan Promonya di Sini!

✨Jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna!

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!


Laura Saraswati

Laura Saraswati

In a world full of Ushers, I'd thrive to be Annabel Lee with a little fairy dust on my hands. Actively writing about books, pop culture, everyday life, and anything that refuses to leave my head.

Enter your email below to join our newsletter