Kalatidha: Saat Kegilaan Terasa Seperti Cara Bertahan Hidup

Dinamika gambaran kehidupan manusia yang terus-menerus berubah menyebabkan sebagian manusia tidak mengindahkan lagi, mana yang harus dilakukan mana yang dilarang.

Grameds, kalau kamu mulai merasa dunia di hari ini seperti makin susah dipahami, bisa jadi kamu sedang berdiri di tengah “kalatidha” alias “zaman gila”. 💥😲

Ini tuh merupakan fase ketika pertanyaan terasa lebih banyak muncul daripada jawaban, dan hal-hal ganjil justru tampak seperti sesuatu yang… seakan diwajarkan perlahan-lahan.

Di titik ini, rasanya kita seperti terseret dalam pusaran yang membingungkan. Realitas jadi terasa absurd, kebenaran makin kabur, dan batas antara waras dan tidak, seakan memudar.

Dalam dunia fiksi, Seno Gumira Ajidarma mengajak kita masuk lebih dalam ke lanskap itu.

Melalui novelnya yang berjudul Kalatidha, ia membawa pembacanya merangsek ke dalam sebuah potret zaman yang retak, tapi terasa dekat.

Bahkan, mungkin terlalu dekat dengan kehidupan yang sedang kita jalani sekarang. 👀


Kalatidha, Mengisahkan Tentang Apa?

Kisah dalam novel ini mengikuti pergulatan seorang pembobol bank yang harus mendekam di penjara setelah aksinya itu terbongkar.

Di dalam sel, ia menghabiskan waktu dengan membaca kembali kliping koran dari tahun 1965. Dari sana, ingatannya kemudian bergerak liar, membuka kembali lapisan masa lalu yang tak pernah benar-benar selesai.

Temukan Bukunya di Sini!

Dalam kisahnya, tokoh ini hidup dalam lebih dari satu realitas. Dunia nyata bercampur dengan dunia batin yang sulit dibedakan. Dari mistik, politik, cinta, hingga bencana yang hadir silih berganti.

Semua terasa nyata, sekaligus ganjil dalam saat yang bersamaan. Seolah pembaca diajak masuk ke pikiran yang terus berusaha memahami dunia yang tidak lagi masuk akal.


Latar Zaman Gila dalam Kalatidha

“Mengalami zaman gila. Hati gelap kacau pikiran. Mau ikut gila, tak tahan. Jika tidak ikut, tak kebagian”

Istilah kalatidha sendiri merujuk pada “zaman gila”, yang diambil dari pemikiran Ranggawarsita.

Gambaran ini terasa hidup dalam cerita. Manusia seperti kehilangan arah, nilai-nilai yang pernah diajarkan jadi kabur, dan banyak orang tak lagi peduli pada batas antara benar dan salah.

Di tengah kekacauan itu, ketakutan dan kegelisahan tumbuh, keadilan terasa jauh, dan kebebasan seperti ilusi.

Dalam kondisi seperti ini, sebagian orang memilih berlindung di dunia khayalnya sendiri. Dunia yang mungkin tidak nyata, tapi memberi rasa aman yang tidak mereka temukan di kehidupan sehari-hari.

Kalatidha menggambarkan bagaimana seseorang bisa “memenjarakan” dirinya dalam realitas yang ia ciptakan sendiri. Bukan karena ingin lari, tapi karena dunia luar terasa terlalu kejam untuk dihadapi.

Pada titik tertentu, kegilaan mungkin saja tidak lagi tampak seperti penyimpangan; tapi muncul sebagai salah satu bentuk bertahan hidup.


Fragmen Kelam Masa Silam

"Berapa lama kami semua mendapatkan pelajaran sejarah yang ternyata kini hanya bisa dibaca sebagai pelajaran cara berbohong?"

Dengan gaya khasnya, Seno memadukan realisme dan surealisme dalam dua lapisan waktu, masa kini dan masa lalu.

Tokoh utama yang kini berada di penjara perlahan mengungkap fragmen masa silam melalui kliping koran yang ia simpan diam-diam.

Dari situlah cerita mengarah pada salah satu luka sejarah Indonesia, yaitu peristiwa Gerakan 30 September 1965. Peristiwa ini meninggalkan trauma panjang, penuh cerita yang tak pernah benar-benar tuntas dibicarakan.

Novel ini menampilkan sisi kelam dari tragedi tersebut melalui kisah seorang gadis yang kehilangan keluarganya secara brutal. Ia selamat, tapi harus hidup dengan luka yang tak nampak.

Dalam kegilaannya, ia menyimpan dendam, sekaligus menghadapi kekerasan baru dari lingkungan sekitarnya.

Di titik ini, pertanyaan besar muncul, siapa sebenarnya yang gila? Individu yang kehilangan akal karena trauma, atau masyarakat yang membiarkan kekejaman terus terjadi?

Rasanya, Kalatidha tidak memberi jawaban pasti; ia justru memancing pembaca untuk ikut merenung dan mencari seluk beluk kebenarannya sendiri.


Baca juga: Nonton Project Hail Mary Saja Nggak Cukup! Ini 3 Hal Besar yang Kamu Lewatkan di Versi Bukunya


Lebih Jauh Tentang Seno Gumira Ajidarma

source: https://www.kompas.id/

Sebagai penulis, Seno Gumira Ajidarma dikenal lewat keberaniannya mengangkat isu sosial dan politik lewat pendekatan yang unik.

Ia lahir di Boston, Amerika Serikat, pada 19 Juni 1958, dan tumbuh besar di Indonesia hingga akhirnya menjadi salah satu suara penting dalam sastra Indonesia modern.

Ia menulis cerpen, novel, esai, hingga naskah drama. Gayanya khas, memadukan realitas dengan elemen yang terasa sureal, tapi tetap relevan. Selain itu, ia juga aktif sebagai jurnalis dan pernah menggunakan nama samaran Mira Sato untuk menulis puisi di awal kariernya.

Karya-karyanya sering menghadirkan potret manusia dalam situasi ekstrem. Penceritaannya kerap membuka ruang diskusi tentang sejarah, kekuasaan, dan kemanusiaan.

Lewat tulisan-tulisannya, Seno seperti mengajak pembaca untuk melihat kembali realitas dari sudut pandang yang tak selalu nyaman, tapi penting untuk dipahami.


Kini Tiba Potongan Harga untuk Kalatidha

Nah, kalau kamu tertarik dengan kisah dalam buku ini, Kalatidha bisa kamu dapatkan dengan harga spesial nih, Grameds.

Terbit ulang dengan cover baru, Kamu bisa mendapatkan buku ini seharga Rp75.000 selama periode 10 hingga 24 April 2026.

Bukan hanya mendapatkan keseruan kisahnya aja, kamu juga berkesempatan untuk mendapatkan tanda tangan penulisnya selama periode ini berlangsung.

Jadi, tunggu apa lagi, Grameds? Kalau berminat, kamu bisa langsung melakukan Pre-Order di sini ya!

Temukan Promonya di Sini!


Karya Lainnya dari Seno Gumira Ajidarma!

Kalau kamu sudah mulai tenggelam dalam dunia Kalatidha, ada banyak pintu lain yang bisa kamu buka dari karya-karya Seno Gumira Ajidarma.

Masing-masing menawarkan pengalaman yang berbeda, mulai dari yang puitis sampai yang politis, tapi tetap dengan ciri khas yang tajam dan reflektif.

Yuk, lanjutkan perjalanan bacamu lewat beberapa judul berikut!

Sepotong Senja untuk Pacarku

Temukan Bukunya di Sini!

Dalam cerita utama buku ini dituliskan tentang Sukab yang mengirimkan sekerat senja dalam amplop, kepada orang yang dicintainya, yaitu Alina.

Buku yang berisi kumpulan cerpen tentang senja ini sangat populer. Seno menuliskan cerita tentang senja, yang disukai para pembacanya dan digunakan sebagai isi surat cinta, untuk mengejar cinta dari pujaan hatinya.

Setelah satu dekade berlalu, keindahan senja yang diabadikan Seno ternyata banyak dijadikan bagian dari surat cinta untuk memenangkan hati para gadis di dunia nyata.


Tiga Drama

Temukan Bukunya di Sini!

Politik kekerasan yang berlangsung menjelang Reformasi 1998, mendorong Seno Gumira Ajidarma untuk menulis Mengapa Kau Culik Anak Kami? (1999), yang kelak disusul sekuelnya, monolog Ibu yang Anaknya Diculik Itu (2008); dan Jakarta 2039 (2000).

Dari tahun ke tahun ketiganya telah terus-menerus dipentaskan.

Gejala Kontra-Reformasi membuat naskah-naskah ini terbit dalam edisi baru. Susunannya diperbarui sehingga membentuk satu kesatuan yang semakin solid.

Hasilnya adalah potret dramatis tentang luka sejarah yang masih terasa gaungnya hingga hari ini.


Iblis Tidak Pernah Mati

Temukan Bukunya di Sini!

Kumpulan cerita Iblis Tidak Pernah Mati pertama kali terbit pada 1999. Isinya ditulis dari tahun 1994 sampai 1999.

Artinya, kronologi penulisan cerita-cerita dalam buku ini melalui momen historis Reformasi 1998, rangkaian peristiwa yang menjadi penanda peralihan zaman.

Sastra menjadi dunia alternatif dari realitas faktual, tetapi realitas faktual tak terhindarkan keberadaannya dalam ruang imajinasi.

Jika hubungan sastra, politik, dan sejarah perlu diperiksa, Iblis Tidak Pernah Mati menawarkan perbincangan yang selalu kontekstual.


Kentut Kosmopolitan: Obrolan Urban

Temukan Bukunya di Sini!

Di buku ini, Seno tampil lebih santai lewat kumpulan kolom yang mengangkat kehidupan urban dengan gaya yang ringan tapi tetap tajam.

Buku ini merupakan sekuel dari buku Affair: Obrolan Urban yang sudah terbit pada awal tahun 2020.

Dari segi isi tentu kolom-kolom yang ditulis Seno Gumira Ajidarma sangatlah menarik.

Walaupun buku ini dulu pernah diterbitkan, namun pada edisi kali ini atau yang disebut edisi kedua ini banyak dilakukan pembaruan agar konteks yang dibicarakan tetap sesuai dengan keadaan sekarang.

Selain itu, pada edisi kedua ini juga terdapat penambahan kolom yang tidak terdapat pada edisi sebelumnya.


Film Dan Pascanasionalisme: 17 Esai Dalam Dua Bagian

Temukan Bukunya di Sini!

Buku ini mengajak pembaca melihat film dari sudut pandang yang lebih luas, sebagai medium yang membawa beban ideologi dan identitas.

Seno membahas perjalanan film Indonesia sejak era awal, masa Orde Baru, hingga periode setelah reformasi.

Melalui esai-esainya, ia membuka diskusi tentang bagaimana film menjadi arena pertarungan wacana.

Pertanyaan tentang identitas nasional, makna “film Indonesia”, hingga kemungkinan melampaui batas-batas itu dibahas dengan mendalam.

Bacaan ini cocok buat kamu yang ingin memahami hubungan antara budaya, politik, dan media dengan cara yang lebih kritis.


Wal akhir,

Kalatidha memang bukan bacaan yang ringan. Akan tetapi, itu tidak serta merta menghilangkan esensi menarik yang muncul dari novelnya.

Kehadirannya, justru terasa seperti cermin yang retak. Tidak selalu nyaman untuk dilihat, tapi memantulkan sesuatu yang jujur tentang dunia dan manusia di dalamnya.

So, kalau kamu siap untuk menyelami cerita yang penuh lapisan dan pertanyaan, buku ini bisa memberikan sensasi pengalaman membaca yang berbeda.

Barangkali, di tengah “zaman gila”, kamu justru menemukan cara baru untuk memahami realitas.


Baca juga: Saksi Bisu dari Gaza: Kisah Keteguhan Kakek Jamil Menjaga Harapan di Bawah Pohon Jeruk


✨Jangan lupa juga untuk cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵

Temukan Semua Promo Spesial di Sini!