Invasi Monster di Oscar 2026: Saat Idol K-Pop dan Vampir Blues Berjaya di Panggung Tertinggi!


Kalau melihat film-film yang ramai dibicarakan tahun ini, ada satu pola cukup menarik loh, Grameds. Beberapa film memenangkan hati penonton lewat drama yang menguras emosi atau yang lain lewat kisah inspiratif tentang tokoh besar.

Namun di tahun 2026 ini, ada juga film-film yang memilih cara yang sedikit lebih tidak biasa. Mereka membawa demon, vampir, dan berbagai makhluk yang biasanya lebih akrab dengan dunia horor. Dan ternyata pendekatan itu justru membawa mereka ke musim penghargaan paling bergengsi di dunia, Academy Awards atau biasa yang disebut dengan Penghargaan Oscar.

Fenomena ini membuat Oscar tahun ini sedikit berbeda. Bukan hanya karena filmnya spektakuler, tetapi juga karena genre yang dulu sering dianggap sekadar hiburan kini semakin diakui kualitasnya.

Jadi, bagaimana sebenarnya film-film monster ini bisa mendominasi percakapan Oscar tahun ini? Yuk, kita bahas selengkapnya di sini! πŸ‘ΊπŸ§›


KPop Demon Hunters: Ketika Idol Jadi Pemburu Iblis

Jika biasanya idol K-pop tampil di atas panggung dengan lampu sorot dan koreografi memukau, K-Pop Demon Hunters mengambil konsep itu dan menambahkan satu elemen yang tidak kalah dramatis: perburuan iblis.

Film animasi ini mengisahkan sekelompok idol K-Pop (Rumi, Mira, & Zoey), yang memiliki identitas rahasia sebagai pemburu demon. Di siang hari mereka tampil sebagai bintang pop yang memikat penggemar, tetapi di balik layar mereka juga bertugas melindungi dunia dari ancaman makhluk supranatural.

Premis ini mungkin terdengar seperti campuran yang tidak biasa, tetapi justru di situlah daya tariknya. Film yang berhasil meraih Best Animated Feature Film di Oscar 2026 juga menggabungkan dunia musik pop Korea yang penuh warna dengan cerita aksi fantasi yang seru.

Selain konsepnya yang unik, visual animasi yang dinamis juga menjadi salah satu kekuatan utama film ini. Adegan pertarungan melawan demon terasa penuh energi, sementara elemen musiknya membuat cerita tetap terasa ringan dan menghibur. Salah satunya adalah Golden yang ditulis oleh EJAE yang berhasil memenangkan Best Original Song di Penghargaan Oscar tahun ini.

Tidak heran jika film ini dengan cepat menjadi bahan perbincangan di kalangan penonton dan kritikus. KPop Demon Hunters membuktikan bahwa cerita monster tidak selalu harus gelap atau menyeramkan. Kadang, tampil dalam bentuk yang penuh warna, enerjik, dan sangat pop culture.

Ingin membasmi demon dengan Rumi, Mira dan Zoey? Kamu bisa intip rutinitas trio Huntrix di sini!


Baca juga: Hell Teacher Nube: Bukan Sekadar Guru SD Biasa, Tapi Perisai Nyata dari Teror Tangan Iblis!


Sinners: Ketika Vampir Bertemu Musik Blues

Jika K-Pop Demon Hunters menawarkan monster dalam balutan dunia pop yang cerah, maka Sinners membawa pendekatan yang jauh lebih gelap dan atmosferik.

Sinners dibuka dengan kisah dua saudara kembar yang kembali ke kampung halaman mereka di Mississippi. Mereka mencoba membuka sebuah klub musik blues sebagai cara untuk memulai hidup baru. Namun, rencana tersebut berubah menjadi mimpi buruk ketika mereka menyadari bahwa kota kecil itu menyimpan rahasia yang mengerikan. Di balik kehidupan malam dan dentingan musik blues, ada ancaman vampir yang perlahan muncul ke permukaan.

Film Sinners menjadi salah satu kejutan besar di musim penghargaan tahun ini. Film vampir garapan Ryan Coogler ini mencetak rekor dengan 16 nominasi di Academy Awards, jumlah terbanyak yang pernah diterima satu film dalam sejarah Oscar.

Dari nominasi tersebut, Sinners berhasil membawa pulang beberapa penghargaan penting, termasuk Best Original Screenplay untuk Ryan Coogler, Best Original Score untuk Ludwig Goransson, Best Cinematography yang dimenangkan oleh Autumn Durald Arkapaw, juga sang bintang utama, Michael B. Jordan yang berhasil memenangkan kategori Aktor Terbaik (Best Actor in a Leading Role) di Oscar tahun 2026.

Yang membuat Sinners terasa menonjol bukan hanya karena elemen horornya, tetapi juga karena cara film ini menggabungkan berbagai lapisan cerita. Musik blues, sejarah komunitas lokal, dan kisah keluarga berpadu dengan atmosfer supernatural yang mencekam.

Pendekatan seperti inilah yang membuat film genre semakin mendapat tempat di panggung penghargaan. Horor dan fantasi tidak lagi hanya dianggap sebagai hiburan semata, tetapi juga sebagai medium untuk bercerita tentang pengalaman manusia.

Tertarik memasuki dunia vampir di tahun 1930-an? Kamu bisa cek trailer-nya di sini!


Dari Eksperimen Ilmiah hingga Horor Psikologis

Selain dua film tersebut, Oscar tahun ini juga diramaikan oleh film-film lain yang mengangkat makhluk ikonik dalam dunia monster. Salah satunya adalah Weapons, sebuah film horor yang menghadirkan atmosfer misterius dengan karakter-karakter yang terasa mengganggu sekaligus memikat.

Film ini banyak dibicarakan karena pendekatan horornya yang lebih psikologis, membuat penonton terus menebak-nebak apa yang sebenarnya terjadi di balik cerita. Weapons juga berhasil menyabet Best Actress in a Supporting Role yang dimenangkan oleh Amy Madigan dengan karakter ikonik yang mencekamnya, Aunt Gladys.

Sementara itu, adaptasi terbaru dari kisah klasik Frankenstein juga kembali mendapat perhatian dalam adaptasi baru yang mengangkat kembali tema eksperimen manusia dan konsekuensi moral dari penciptaan kehidupan. Film ini juga ikut mencuri perhatian dengan memenangkan Best Costume Design untuk Kate Hawley, Best Makeup and Hairstyling untuk Mike Hill, Jordan Samuel, dan Cliona Furey, serta Best Production Design untuk Tamara Deverell and Shane Vieau.

Film monster modern tidak lagi sekadar tentang makhluk menyeramkan yang mengejar manusia di layar. Vampir bisa menjadi metafora tentang kekuasaan atau keabadian. Demon sering kali merepresentasikan konflik batin manusia. Sementara karakter seperti Frankenstein mengangkat pertanyaan tentang etika, ilmu pengetahuan, dan tanggung jawab pencipta.

Ketika film-film ini ditulis dan diproduksi dengan pendekatan yang kuat, hasilnya adalah cerita yang bukan hanya menegangkan, tetapi juga penuh makna. Dan terkadang menarik perhatian ke juri penghargaan-penghargaan bergengsi πŸ‘


Baca juga: The Bride!: Ketika Monster Bride of Frankenstein Bangkit Kembali Lewat Jessie Buckley


Monster di Film, Monster di Buku

Buat kamu yang menyukai cerita dengan sentuhan monster seperti di film-film di atas, dunia literatur sebenarnya sudah lama menjadi rumah bagi kisah-kisah unik tersebut loh. Jika kamu menikmati film-film seperti Sinners atau KPop Demon Hunters, kemungkinan besar kamu juga akan menemukan banyak cerita menarik dalam bentuk buku-buku seperti ini!

1. Dracula – Bram Stoker

Temukan Bukunya di Sini!






Novel klasik karya Bram Stoker ini mengikuti seorang pengacara muda bernama Jonathan Harker yang melakukan perjalanan ke kastil misterius milik Count Dracula di Transylvania. Perlahan, Harker menyadari bahwa tuan rumahnya bukan manusia biasa, melainkan vampir yang memiliki rencana gelap untuk menyebarkan teror ke Inggris.

Kisah ini menjadi salah satu fondasi cerita vampir modern dan sangat relevan dengan film seperti Sinners, yang juga menghadirkan vampir sebagai pusat konflik cerita. Cocok untuk kamu yang menyukai kisah horor klasik, atmosfer gothik yang mencekam, serta cerita tentang makhluk malam yang penuh misteri.

2. Jujutsu Kaisen – Gege Akutami

Temukan Bukunya di Sini!


Manga karya Gege Akutami ini mengikuti perjalanan Yuji Itadori, seorang remaja yang tak sengaja terlibat dalam dunia para penyihir yang melawan kutukan dan makhluk supranatural.

Cerita ini memiliki energi aksi yang tinggi serta menghadirkan berbagai monster modern yang kreatif, sehingga terasa selaras dengan film seperti KPop Demon Hunters yang juga memadukan dunia pop dengan perburuan makhluk supranatural. Cocok untuk kamu yang suka cerita aksi, dunia fantasi gelap, dan pertarungan melawan makhluk misterius.

3. Frankenstein – Mary Shelley

Temukan Bukunya di Sini!








Ditulis oleh Mary Shelley, novel ini menceritakan ilmuwan Victor Frankenstein yang berhasil menciptakan makhluk hidup melalui eksperimen ilmiah. Namun, ciptaan tersebut justru berubah menjadi sosok yang ditakuti dan terasing dari dunia manusia.

Cerita ini tidak hanya menghadirkan monster ikonik dalam sejarah, tapi juga mengangkat pertanyaan tentang tanggung jawab manusia terhadap teknologi dan ilmu pengetahuan. Tema ini terasa selaras dengan fenomena film monster di Oscar tahun ini, dimana makhluk supranatural sering digunakan untuk menggambarkan konflik manusia yang lebih kompleks. Cocok untuk kamu yang suka kisah klasik dengan nuansa gelap sekaligus reflektif.

4. The Picture of Dorian Gray – Oscar Wilde

Temukan Bukunya di Sini!






Novel karya Oscar Wilde ini mengikuti kehidupan Dorian Gray, seorang pemuda tampan yang secara misterius tetap awet muda sementara potret dirinya justru menua dan menampilkan kerusakan moral yang ia lakukan.

Meski tidak menampilkan monster secara fisik seperti vampir atau makhluk ciptaan ilmuwan, cerita ini menghadirkan β€œmonster” dalam bentuk sisi gelap manusia. Tema tersebut terasa sejalan dengan banyak film monster modern yang menggunakan elemen supranatural untuk mengeksplorasi moralitas dan identitas. Cocok untuk kamu yang suka cerita klasik dengan nuansa filosofis, satire sosial, dan konflik psikologis yang mendalam.

5. Dr. Jekyll and Mr. Hyde – Robert Louis Stevenson

Temukan Bukunya di Sini!




Karya klasik dari Robert Louis Stevenson ini berkisah tentang dr. Henry Jekyll, seorang ilmuwan yang menciptakan ramuan untuk memisahkan sisi baik dan sisi gelap dalam dirinya. Eksperimen tersebut justru melahirkan sosok Mr. Hyde, pribadi brutal yang perlahan mengambil ahli alih kehidupannya.

Kisah ini menjadi salah satu cerita paling terkenal tentang dualitas manusia dan bagaimana sisi gelap dapat muncul dalam bentuk yang menakutkan. Tema tersebut sangat relevan dengan banyak film monster modern yang menggunakan makhluk supranatural sebagai simbol konflik batin manusia. Cocok untuk kamu yang suka cerita klasik pendek dengan atmosfer misteri dan psikologi yang kuat.


Ketika Diskon Menguasai Panggung Liburanmu ✨

Oscar 2026 mungkin tidak menampilkan monster sungguhan yang berjalan di atas karpet merahnya. Namun, melihat betapa dominannya mereka di daftar pemenang, jelas bahwa tahun ini adalah milik para makhluk supranatural yang telah resmi 'menginvasi' dunia perfilman.

Menariknya, dunia buku sebenarnya sudah jauh lebih dulu menjadi 'habitat asli' bagi para monster ini. Puluhan hingga ratusan tahun sebelum mereka naik ke panggung penghargaan, para vampir, monster hasil eksperimen, hingga sisi kelam manusia sudah lebih dulu 'meneror' imajinasi pembaca melalui halaman-halaman novel klasik.

Jika setelah membaca ini kamu mulai penasaran ingin menjelajahi sisi gelap dunia supranatural, momennya sangat pas. Karena dalam rangka merayakan ulang tahunnya, Gramedia Pustaka Utama sedang mengadakan Promo HUT GPU 52 dengan spesial diskon hingga 52% untuk berbagai buku pilihan dengan harga yang lebih bersahabat.

Periode promo ini hanya berlangsung singkat, dari 15 hingga 31 Maret 2026. Anggap saja ini kesempatanmu untuk 'menjemput' mereka. Bedanya, di sini kamu bisa menghadapi para monster ini dengan ritme yang lebih tenang: cukup dengan membuka halaman bukunya. Tenang saja, mereka tidak akan menyerangmu... selama bukunya belum kamu buka. πŸ˜‰

Jadi tunggu apalagi, Grameds? Yuk, cek promonya di sini sebelum kesempatan ini ikut β€œmenghilang” seperti monster yang kembali ke bayang-bayangnya πŸ‘€πŸ“š

Yuk Borong Buku-Buku GPU!