Poin Penting dalam Memahami Generasi Milenial

. 2 min read

Setelah generasi baby boomers dan generasi X, kini giliran generasi Y atau yang lebih ngetren dengan sebutan milenial yang menduduki eranya, yaitu mereka dengan tahun kelahiran 1981-2000.

Meskipun sekarang merupakan era bagi generasi Z, namun generasi mileniallah yang dianggap akan menentukan wajah Indonesia ke depannya, bahkan dunia. Hal ini dikarenakan segala hal dengan aroma teknologi dimulai dari generasi milenial, sehingga potensi yang dimiliki generasinya pun sedemikian mengikuti.

Penjelasan dalam buku terbaru berjudul dalam buku Millennial Nusantara ini padat berisi dalam memberikan pemahaman tentang milenial terutama di Indonesia. Buku ini menjabarkan 6 poin penting dalam memahami generasi milenial.

1. Populasi Milenial

Sebagai menu pembuka, anda akan dihadapkan dengan perbedaan Karakteristik generasi milenial dibandingkan generasi sebelumnya, serta mengulas populasi generasi milenial di Indonesia berdasarkan data demografi yang didapatkan oleh riset penulis.

2. Milenial dan Internet

Mengupas kebiasaan generasi milenial yang secara aktif selalu Bercengkrama dengan smartphone. Menjabarkan bagaimana media sosial seakan telah menjadi bagian tiap menjalani hari-hari dan hampir mirip statusnya seperti kebutuhan primer. Media Sosial menjadi salah satu hal yang menjadi pembeda dari generasi milenial dengan generasi sebelumnya dari segi pola komunikasi yang terjadi.

3. Karakter Milenial

Untuk memahami generasi milenial, telah dijabarkan dalam buku ini bahwa generasi milenial memiliki 3 karakter utama. Creative, cenderung berpikir out of the box. Salah satu bukti yang menunjukkan adalah tumbuhnya Industri startup dan industri kreatif lain yang dimotori anak muda. Confidence, sangat percaya diri mereka berani mengemukakan pendapat, bahkan berdebat di media sosial. Connected, pandai bersosialisasi yang dilihat dari kefasihan mereka di banyak media sosial.

4. Milenial dan Keuangan

Lebih dalam lagi, penulis dalam buku ini membedah pula mengenai pola generasi milenial dalam menginvestasikan uangnya. Generasi yang mulai terbiasa dengan cashless dibandingkan uang tunai. Sehingga menjadi potensi pasar yang menggiurkan dengan pola konsumsi berbasis internet.

5. Milenial dan Politik

Dilanjutkan kepada bahasan mengenai politik. Sejauh mana generasi milenial peduli terhadap keadaan politik? Pemahaman generasi milenial terhadap proses politik di Inonesia akan dijabarkan pada bab ini, berikut dengan posisinya sebagai target konstituen.

6. Milenial dan Religiositas

Bagian terakhirnya membahas khusus mengenai dihadapkannya generasi milenial dengan dua kutub keberagamaan yang saling bertentangan, membuat penulis merasa ingin lebih jauh menelisik menyoal religiositas dari kacamata mereka.

Pada bagian akhir, buku ini menyuguhkan epilog mengenai generasi Z yang merupakan anak kandung Internet. Dalam artian, mereka yang hadir pada generasi ini, telah mengenal internet bahkan dari sebelum lahir ke dunia.


Photo by Julián Gentilezza / Unsplash

Secara komprehensif, buku ini ditulis berbasis data kualitatif dari eksplorasi lapangan, observasi serta wawancara mendalam. Ditambah dengan hasil riset kuantitatif yang didapat melalui survei di 34 provinsi di Indonesia dengan kaidah statistik yang dapat dipertanggungjawabkan keakuratannya oleh sang penulis yang keduanya sudah berpengalaman dibidang riset dan statistika.

Adalah Hasanuddin Ali penulis buku ini, yang merupakan seorang kolumnis yang telah mendedikasikan 15 tahun karirnya dibidang riset, yang juga pendiri dari Alvara Research Center. Ia berduet dengan kawannya, Lilik Purwandi, yang merupakan seorang lulusan statistika dan kini bekerja sebagai periset di Alvara.

Millennial Nusantara akan menjawab segala pertanyaan bagi mereka yang ingin berkenalan lebih jauh dengan generasi milenial. Dengan membaca buku ini pula kita akan diajak menelisik generasi milenial sampai mengetahui pengaruh, sampai mengetahui betapa besar potensi yang dimilikinya untuk dapat membawa Indonesia kepada era yang lebih baik dimasa mendatang.

Jika berkenalan saja masih belum cukup, memahaminya akan menjadi cara yang lebih baik untuk bisa mendapatkan simpatinya.