Hilang Tanpa Kabar, Ini Dampak Ghosting pada Mental Seseorang

Hilang Tanpa Kabar, Ini Dampak Ghosting pada Mental Seseorang

. 4 min read

Jangankan untuk melakukan move on, korban ghosting bahkan tidak tahu akan apa alasan dibalik ia ditinggalkan. Fenomena ghosting yang saat ini kerap diperbincangkan, ternyata memiliki dampak buruk terhadap psikologi atau mental seseorang.

Ghosting adalah ketika seseorang ditinggal begitu saja tanpa ada penjelasan. Pelaku ghosting biasanya menghilang tiba-tiba dengan memutus komunikasi dalam suatu hubungan. Hal ini membuat korban ghosting merasa bingung, overthinking, sehingga ia merasa tak punya lagi kepercayaan diri dan merasa tak pantas.

Pelaku ghosting biasanya memilih cara ini karena sulit untuk mengkomunikasikan sesuatu dan takut menyakiti perasaan pasangannya, untuk menghindari komitmen, atau memang sudah merasa tak tertarik lagi. Walaupun begitu, perilaku ini tetap tidak baik untuk dilakukan. Terlebih bisa memberikan dampak psikologis yang buruk terhadap korbannya.

Lalu, apa saja dampak buruk dari terkena ghosting?

Merasa Tidak Pantas dan Tak Berharga

Ketika hubungan terasa tidak ada masalah dan baik-baik saja, namun tiba-tiba ditinggalkan tanpa alasan, tentu membuat korban bingung bahkan merasa dirinya tak berharga.

dampak
Sumber foto: lifestyle.okezone.com

Dikutip dari Kompas.com (07/03/21), otak kita memiliki sistem pemantauan sosial yang menggunakan suasana hati, orang, dan isyarat lingkungan untuk melatih diri merespon kondisi tertentu. Tapi pada ghosting, sistem ini menjadi hilang dan membuat korban mempertanyakan diri sendiri serta merasa tak punya harga diri. Hal ini yang membuat kepercayaannya pun hilang, karena merasa diri tak pantas, ditolak, dan tak berharga sehingga ia ditinggalkan secara tiba-tiba.

Overthinking Hingga Trauma

“Apa yang kurang dari aku?”, “apa salah aku sampai dia meninggalkan?”, “apa aku melakukan hal buruk sampai dia nggak balas chat aku?”

Kira-kira seperti itu hal-hal yang mengganggu pikiran korban ghosting. Bingung dan cemas akan apa yang terjadi, merasa ada yang salah dengan diri sendiri, padahal bisa saja karena pelaku yang tak ingin menjalani komitmen lanjutan dengan cara pergi begitu saja.

dampak
Sumber foto: spicy.robadadonne.it

Perasaan ditinggalkan, ditolak, dan dianggap tak berharga untuk mendapatkan penjelasan, membuat korban ghosting bisa merasakan trauma. Semangat hidupnya pun menjadi redup hingga suasana hati kian memburuk. Rasa sakit yang dirasakan akan berbekas dan sulit untuk dihilangkan. Trauma ini akan timbul saat akan menjalin hubungan baru dengan orang lain lagi, karena takut diperlakukan hal yang sama.

Sakit Namun Tak Berdarah

Dikutip dari IDNTimes (27/07/20), dalam jurnal berjudul “Psychological Correlates of Ghosting and Breadcrumbing Experiences: A Preliminary Study among Adults”, ghosting masuk dalam perilaku “emotional cruelty” atau kekejaman emosional.

dampak
Sumber foto: Shutterstock

Menurut psikolog dan konselor Indonesia Association Counseling, Nuzulia Rahma, perasaan tidak diinginkan atau ditolak oleh seseorang dapat menimbulkan rasa kesepian, cemas, gangguan mood, menurunnya kepercayaan diri, merasa tidak berharga, merasa dibuang, frustasi, hingga depresi (detikHot, 07/03/21).

Penolakan sosial ini sama rasa sakitnya dengan sakit fisik. Bagi korban, perlu waktu untuk bisa kembali berdamai dan menerima apa yang telah terjadi.

Dalam menghadapi duka lara, membaca buku bisa membantu kamu dalam memperbaiki mood. Buku-buku pengembangan diri bisa membantu untuk menyembuhkan hati yang luka, mengembalikan rasa percaya diri, dan menghilangkan pikiran-pikiran negatif. Yuk, saatnya kamu coba!

Luka Tapi Tidak Berdarah: Tetap Bahagia Meski Berkali-Kali Disakiti

lukaBaca untuk Self-Healing

Luka yang mengalirkan air mata, menciptakan kemuraman, bahkan menghancurkan masa depan. Seberapapun dahsyat luka yang menggores perasaan, sesungguhnya kita telah dibekali Tuhan berupa kemampuan untuk mengelolanya.

Dari buku ini, kamu akan dibantu dan dimotivasi untuk melepaskan diri dari duka lara. Kamu juga akan dibantu menegakkan kepala, menegapkan dada, dan menguatkan kaki-kaki agar tetap mampu berdiri, serta melangkah ke depan dengan bahagia.

Healing and Recovery

healingBaca untuk Self-Healing

Cemas, ketakutan, keresahan, rasa sakit, penderitaan, dan depresi. Dalam buku ini kamu akan mempelajari mengapa banyak penyakit tidak bisa disembuhkan melalui metode medis. Dr. Hawkins, saintis dan mistikus modern, memberikan instruksi dan pedoman khusus, yang didasarkan pada "Peta Kesadaran".

Nah, peta ini untuk memperoleh kesembuhan total di level fisik, mental, dan spiritual dari penyakit apa pun. Pentingnya menjalani praktik spiritual dalam program penyembuhan dan pemulihan secara mandiri ini dijelaskan dengan detail, dan memungkinkan kita untuk mendapat kehidupan yang sehat, memuaskan, serta bahagia lahir-batin.

Mental Therapeutics

mentalBaca untuk Self-Healing

Dari buku ini, kamu akan diajarkan mengobati diri sendiri. Penjelasannya berdasarkan pada fakta-fakta ilmiah kuat dan bukan imajinasi yang kabur. Sehingga, terapi mental dapat dilakukan untuk pencegahan dan penyembuhan penyakit fisik dengan mengandalkan kekuatan pikiran. Walaupun kadang ternyata pikiran kita sendiri yang menyebabkan penyakit, buku ini akan membantu kita dalam pencarian untuk meringankan rasa sakit dan penderitaan seseorang.

Jiwa-Jiwa yang Lelah

jiwaBaca untuk Self-Healing

Depresi bukan masalah sepele. Dari buku ini kamu akan diajak mengupas semuanya dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami tentang depresi. Kita juga akan diajak memahami depresi secara lebih personal, sehingga kita tahu apa yang harus dilakukan ketika kamu atau ada keluarga dan teman yang mengalami depresi.

Berdamai Dengan Kehilangan

berdamaiBaca untuk Self-Healing

Ada kalanya kita harus bersiap kehilangan atas sesuatu.  Tentunya, menjalani hidup setelah mengalami kehilangan tidak akan pernah mudah, tapi harus diingat bahwa hidup harus dilanjutkan dan diperjuangkan. Nah, buku ini akan menemani kamu dalam menjalani hari-hari setelah mengalami kehilangan, mengajarkan bagaimana caranya mengikhlaskan, dan menemukan kebahagiaan kembali setelah mengalami masa-masa yang sulit.

Untuk kamu yang merasa sedang di posisi ini, jangan pernah merasa sendiri dan menyalahkan diri sendiri. Kamu berhak atas kebahagiaanmu sendiri!❤


Sumber foto header: Unsplash