One Last Mission! Film Heart of the Beast Sajikan Kisah Survival Brad Pitt dan Anjing Tempur di Alam Liar Alaska
Belum lama ini, kita terpapar kisah tentang perjalanan pulang melalui sosok Odysseus dalam film Odyssey garapan Christopher Nolan.
Setelah bertahun-tahun menjalani peperangan di Troya, perjalanan untuk kembali ke rumah menjadi bagian penting dari kisah epik yang mengikuti Raja Ithaca tersebut.
Kalau kamu masih terngiang dengan cerita semacam itu, kini kisah dengan nuansa serupa juga hadir dalam Heart of the Beast, film terbaru karya sutradara David Ayer. Bedanya, kali ini perjalanan tersebut membawa kita mengikuti seorang mantan tentara bersama partner setianya, Odin, seekor anjing tempur yang sudah pensiun.
Diperankan oleh Brad Pitt, film ini memadukan drama, petualangan, dan survival dalam sebuah perjalanan yang menyoroti hubungan antara manusia dan hewan. Perjalanan mereka pun terasa seperti misi yang penuh tantangan, terutama ketika keduanya harus bertahan di tengah kondisi alam yang keras.
Lantas, seperti apa perjalanan pulang yang harus dilalui Brad Pitt dan Odin dalam Heart of the Beast? Apa saja yang membuat film ini menarik untuk masuk daftar tontonan? Yuk, kita bahas lebih jauh, Grameds! 🦮🎬
Pesawat Jatuh, Alam Liar Menanti
“One last mission, I’ll take you home.”
Kisah dalam film Heart of the Beast mengikuti James Belmont, seorang mantan prajurit Special Forces yang masih membawa trauma dari masa lalunya.
Dalam sebuah perjalanan bersama Odin, anjing tempur yang pernah menjadi partnernya, James mengalami kecelakaan pesawat di tengah belantara Alaska.
Setelah kecelakaan tersebut, James dan Odin harus mencari cara untuk bertahan hidup di lingkungan yang serba ekstrem. Mereka berhadapan dengan medan alam yang sulit, suhu dingin, dan perjalanan panjang untuk menemukan jalan kembali ke peradaban.
Berada dalam kondisi seperti itu, kemampuan bertahan hidup James tentu mendapat ujian besar. Perjalanan tersebut kemudian menjadi inti cerita antara keduanya. James dan Odin harus saling mengandalkan untuk melewati berbagai rintangan yang menghadang.
Mungkinkah mereka akan survive dan kembali menemukan rumah yang dituju? Sebelum menemukan jawabannya dalam film, kamu bisa menyaksikan terlebih dulu trailer-nya di bawah ini.
Ketika Alam Liar Menjadi Ruang untuk Berdamai dengan Masa Lalu
Di balik cerita survival-nya, Heart of the Beast membawa tema tentang trauma, ketahanan diri, kepercayaan, dan ikatan antara manusia dengan hewan.
Bersama latar suasana alam yang ganas, hubungan keduanya menjadi bagian penting dari perjuangan mereka untuk tetap bertahan dan menemukan jalan pulang.
James datang ke alam liar dengan pengalaman panjang sebagai prajurit, termasuk berbagai kejadian yang masih membekas dalam dirinya.
Kehadiran Odin kemudian menjadi bagian penting dalam perjalanan tersebut. Hubungan mereka sudah terbentuk dari pengalaman sebagai partner, sehingga situasi ekstrem yang mereka hadapi terasa seperti ujian terhadap kepercayaan dan kedekatan yang sudah terbangun.
Pendekatan ini membuat alam liar punya fungsi lebih besar dalam cerita. Hutan, pegunungan, cuaca dingin, dan perjalanan panjang menjadi ruang yang mempertemukan James dengan berbagai hal yang selama ini ia bawa dalam dirinya.
David Ayer menggambarkan film ini sebagai sebuah kisah yang memiliki hubungan emosional kuat antara seorang mantan prajurit dan anjing yang menjadi partnernya.
Baca juga: Bukan Nenek Biasa! Michelle Yeoh Jadi Rubik Player di Film Komedi It’s My Time
5 Alasan Heart of the Beast Layak Masuk Radar
Berikut beberapa hal menarik yang menjadi keunikan dari film Heart of the Beast.
1. Reuni Brad Pitt dan David Ayer
Keduanya pernah bekerja sama dalam Fury pada 2014, film perang yang menempatkan Pitt sebagai Don “Wardaddy” Collier. Setelah lebih dari satu dekade, keduanya kembali berkolaborasi dengan skala cerita yang jauh lebih intim.
Buat penggemar karya Ayer atau penampilan Brad Pitt dalam film-film bernuansa aksi dan survival, reuni ini tentu menarik untuk diikuti. Apalagi, pendekatan Heart of the Beast memberi ruang lebih besar untuk melihat sisi emosional dari karakter Pitt.
2. Peran Penting Odin dalam Film
Odin tentu memainkan peran penting sebagai salah satu pengikat emosional dalam film Heart of the Beast. Karakternya dalam film ini diperankan oleh Uber, seekor anjing yang sebelumnya berpengalaman dalam pekerjaan pencarian dan penyelamatan di pegunungan.
Dalam proses penggarapannya, Ayer dan tim produksinya mencari anjing yang punya kemampuan sekaligus karakter yang cocok untuk menghadapi kebutuhan syuting di medan berat.
Menariknya, Ayer bahkan menyebut Odin sebagai karakter yang benar-benar harus terasa hidup di layar. Brad Pitt pun mengatakan bahwa bekerja bersama Uber menjadi pengalaman yang sangat spesial.
3. Shooting di Lanskap New Zealand
Walaupun cerita Heart of the Beast berlangsung di Alaska, proses shooting untuk film ini ternyata dilakukan di Aotearoa New Zealand, terutama di wilayah South Island.
Lanskap pegunungan, gletser, dan kawasan alam yang luas dimanfaatkan untuk menghadirkan nuansa Alaska sekaligus memperkuat atmosfer survival dalam perjalanan James dan Odin.
Di sisi lain, pilihan lokasi ini juga membuat proses shooting-nya memiliki tantangan tersendiri. Sejumlah lokasi berada di kawasan terpencil dengan akses yang cukup sulit, sementara tim produksi harus beradaptasi dengan kondisi alam yang berat dan tetap memperhatikan lingkungan selama proses pengambilan gambar.
4. Ikatan Manusia dan Hewan yang Kuat
James dan Odin harus saling mengandalkan ketika berada dalam situasi sulit.
James punya pengalaman sebagai prajurit, sedangkan Odin punya kemampuan dan instingnya sendiri sebagai anjing tempur yang sudah melewati banyak pengalaman bersama manusia.
David Ayer mengatakan bahwa hubungan keduanya menjadi inti cerita. Ia melihat kisah ini sebagai hubungan antara dua makhluk yang sudah melewati banyak hal bersama dan memiliki ikatan yang dalam.
5. David Ayer Membawa Sisi yang Lebih Personal
Selama ini, Ayer cukup dikenal lewat film-film dengan energi aksi yang kuat dan karakter-karakter yang keras.
Heart of the Beast masih membawa ketegangan dan survival, tetapi pendekatannya terasa lebih personal karena cerita bertumpu pada James dan Odin.
Brad Pitt sendiri menggambarkan James sebagai sosok yang masih bergulat dengan masa lalu. Perjalanan ke alam liar kemudian menjadi bagian dari prosesnya untuk menghadapi berbagai luka yang ia bawa.
Dengan kombinasi tersebut, Heart of the Beast punya ruang untuk menghadirkan adegan penuh ketegangan sekaligus momen yang lebih emosional.
Siap Ikut Brad Pitt dan Odin Mencari Jalan Pulang?
Heart of the Beast menawarkan cerita survival yang mempertemukan alam liar, trauma masa lalu, dan hubungan manusia dengan hewan.
Premisnya memang terkesan sederhana untuk dipahami, tetapi ruang yang ditawarkan cukup luas untuk menghadirkan ketegangan sekaligus momen emosional.
Kehadiran Brad Pitt dan David Ayer menjadi daya tarik tersendiri, sementara Odin menjadi tali pengikat yang menjadi penghubung emosional dalam perjalanan tersebut.
Film Heart of the Beast sendiri dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 23 September 2026 dan memiliki durasi sekitar 101 menit.
Kalau kamu suka film survival, petualangan, atau cerita tentang ikatan kuat antara manusia dan hewan, jangan lewatkan kesempatan untuk ikut menembus dinginnya alam Alaska bersama James dan Odin ya, Grameds! 🐕❄️
Rekomendasi Buku Bertema Survival 📚
Kisah antara James dan Odin membawa unsur survival yang terasa kental. Kalau kamu suka dengan tema tersebut, mungkin kamu juga akan cocok dengan cerita yang ada dalam buku-buku berikut ini!
Proyek Hail Mary (Project Hail Mary) — Andy Weir
Ryland Grace terbangun sendirian di pesawat luar angkasa, jauh dari Bumi, tanpa ingatan jelas tentang siapa dirinya dan kenapa ia ada di sana. Sedikit demi sedikit, ingatannya kembali dan membawanya pada satu kenyataan besar. Ia sedang menjalankan misi mustahil demi menyelamatkan umat manusia dari kepunahan.
Andy Weir meracik cerita ini dengan kombinasi sains, humor, dan ketegangan yang bikin halaman demi halaman terasa sulit dilewatkan. Di balik perjalanan luar angkasa yang penuh misteri, ada juga kisah persahabatan tak terduga yang memberi warna hangat di tengah situasi genting. Seru, emosional, dan penuh rasa takjub sejak awal sampai akhir.
Life of Pi — Yann Martel
Setelah kapal yang ditumpanginya tenggelam di Samudra Pasifik, Pi Patel harus bertahan hidup di atas sekoci kecil bersama seekor harimau Bengal bernama Richard Parker. Dari situ dimulailah perjalanan panjang yang dipenuhi rasa takut, harapan, dan perjuangan melawan alam yang terasa begitu luas sekaligus ganas.
Novel ini bukan cuma soal bertahan hidup di tengah lautan. Di balik petualangannya, ada cerita tentang iman, keberanian, dan cara manusia memaknai kehidupan ketika berada di titik paling rapuh.
Yann Martel mengemas semuanya dengan gaya penceritaan yang magis dan penuh imajinasi, membuat kisahnya terasa indah sekaligus membekas lama setelah halaman terakhir selesai dibaca.
Moby Dick — Herman Melville
Lewat sudut pandang Ishmael, pembaca diajak mengikuti pelayaran kapal Pequod yang dipimpin Kapten Ahab, seorang pemburu paus dengan obsesi besar terhadap Moby Dick, paus putih legendaris yang pernah merenggut kakinya. Apa yang awalnya tampak seperti ekspedisi laut biasa perlahan berubah menjadi perjalanan penuh ambisi, dendam, dan bahaya yang semakin sulit dikendalikan.
Herman Melville membangun kisah ini dengan atmosfer laut yang megah sekaligus mencekam. Di balik perburuan paus raksasa, tersimpan cerita tentang obsesi manusia yang mampu mengaburkan akal sehat dan menyeret semua orang ke dalam kehancuran. Petualangannya terasa epik, emosional, dan tetap memikat meski sudah menjadi salah satu novel klasik paling terkenal sepanjang masa.
The Old Man and the Sea — Ernest Hemingway
The Old Man and the Sea berkisah tentang Santiago, seorang nelayan tua yang berpengalaman. Namun di suatu waktu, ia melewatkan delapan puluh empat hari tanpa menangkap seekor ikan pun. Di masyarakat, ia kemudian disebut sebagai salao, yaitu bentuk terburuk dari ketidakberuntungan.
Bertahun-tahun kisah ini dikenang orang sebagai karya sastra klasik versi baru karena gaya penulisannya yang khas. Buku ini dianggap membawa pengaruh yang sangat kuat terhadap gaya penulisan fiksi dalam dunia sastra pada abad 20 sehingga layak menjadi rujukan hingga kini.
Odysseus — Menelaos Stefanides
“Odysseus masih hidup dan akan pulang kembali.”
Cepat, lambat, semua orang Akhaia lain yang tak meregang nyawa di medan laga Troya atau diamuk samudra berhasil kembali, sementara Odysseus yang paling merindukan rumah dan istrinya tak kunjung pulang.
Aneka marabahaya, kekecewaan, dan kepedihan dengan tabah dilewatinya demi kembali ke pelukan Penelope yang cantik, Telemakhos yang ditinggalkannya saat masih bayi, Laertes sang ayah yang terus menanti; serta kampung halaman Ithaca yang berbatu namun subur.
Odysseus adalah kisah petualangan tentang keinginan yang begitu kuat untuk pulang sampai mengetuk hati para dewa.
Semua buku yang direkomendasikan di atas bisa kamu temukan di Gramedia.com ya, Grameds.
Yuk, segera dapatkan bukunya dan rasakan sensasi mendebarkan dalam setiap kisahnya! 🤩🚀
Baca juga: Bikin Venice Standing Ovation 12 Menit, Kapan Live-Action Look Back Tayang di Indonesia?
Jangan lupa cek berbagai promo menarik lainnya di Gramedia.com supaya pengalaman belanjamu makin seru dan hemat! ⤵