Kisah Gina S. Noer Melahirkan Dua Garis Biru

. 4 min read

Bima dan Dara bercanda dan tertawa di dalam kamar. Tubuh mereka pun makin berdekatan di atas ranjang. Potongan adegan pacaran Bima (Angga Yunanda) dan Dara (Adhisty Zara alias Zara JKT48) dalam trailer film Indonesia terbaru Dua Garis Biru ini sempat memicu kontroversi pada April lalu. Padahal, film karya debut Gina S Noer sebagai sutradara itu baru beredar di bioskop pada Kamis, 11 Juli 2019.

"Dari melihat trailernya yang sepenggal, mungkin ada reaksi ketakutan yang membuat adanya kontroversi tersebut," ujar Gina setelah jumpa pers film Dua Garis Biru di Kuningan pada akhir Juni 2019, seperti dikutip antaranews.com.

"Saya berharap ketika menonton nanti penonton bisa terhibur, bisa relate dengan karakter-karakternya, kontroversi tersebut bisa hilang," lanjut perempuan kelahiran 33 tahun lalu ini.

Film yang kisahnya juga mengangkat isu hamil di luar nikah itu jadi kontroversi setelah muncul petisi online berjudul "Jangan Loloskan Film yang Menjerumuskan! Cegah Dua Garis Biru di Luar Nikah!" dalam situs Change.org. Menurut petisi yang digagas Gerakan Profesionalisme Mahasiswa Keguruan Indonesia itu, klip adegan dalam trailer Dua Garis Biru telah melampaui batas, sehingga dinilai mereka dapat merusak generasi muda Indonesia.

Film
Zara JKT48 dan Angga Yunanda berperan sebagai orang tua muda. (Sumber foto: Dua Garis Biru)

Kontroversi memang makin sering muncul di era daring. Sebagian orang merasa mudah mengeluarkan uneg-uneg, protes, kecaman, bahkan petisi lewat platform daring. Hasilnya, ada kontroversi yang mampu memicu perdebatan publik yang bermutu. Ada pula yang muncul selewat saja dan terkesan mengada-ada, seperti yang sempat menimpa Dua Garis Biru ini.

Kontroversi itu pun tidak berlangsung lama. Pada 5 Mei 2019, petisi ini akhirnya telah ditarik oleh penggagasnya. Sementara itu, muncul petisi lain yang justru mendukung Dua Garis Biru dan berpendapat sebaliknya dari petisi sebelumnya.

Di luar kontroversi tersebut, Gina sendiri berharap film Dua Garis Biru (yang juga sudah diadaptasi jadi novel berjudul sama ini) dapat membuat penonton jadi lebih memahami tentang pentingnya edukasi seks kepada anak. Menurutnya, membicarakan hal-hal sulit dan tabu seperti seks bisa dimulai dari lingkup keluarga.

“Saya harap yang nonton, mereka menjadi punya hubungan yang lebih dekat sebagai keluarga dan karena itu bisa membicarakan hal-hal yang sulit dengan keluarga,” ucap Gina, yang juga menulis skenario Dua Garis Biru, seperti dilansir Viva.co.id.

Sebelum menyutradarai Dua Garis Biru, Gina lebih dikenal sebagai salah satu penulis skenario papan atas di Indonesia. Dari tangannya telah lahir film-film box office dan pemenang Piala Citra FFI (Festival Film Indonesia). Sebut saja Ayat-ayat Cinta (2008), Habibie & Ainun (2012), {rudy habibie} (2016), Posesif (2017), Kulari ke Pantai (2018), hingga Keluarga Cemara (2019).

Film
Syukuran sebelum syuting Dua Garis Biru. (Sumber foto: Dua Garis Biru)

Lewat skenario-skenarionya tersebut, bukan kali ini saja Gina membicarakan isu-isu sulit dan sensitif. Salah satunya adalah Perempuan Berkalung Sorban yang menggelinding jadi topik panas dan kontroversi dalam perbincangan di publik begitu beredar di bioskop pada awal 2009.

Meskipun masuk dalam jajaran 10 besar film Indonesia terlaris tahun 2009 (jumlah penontonnya mencapai sekitar 790 ribu orang), Perempuan Berkalung Sorban sempat diprotes oleh sejumlah pemuka agama Islam, seperti Kiai Ali Mustofa Yakub, Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta saat itu. Menurutnya, film yang disutradarai Hanung Bramantyo ini menyesatkan dan memuat fitnah terhadap Islam. Ia pun meminta film ini ditarik dari peredaran untuk direvisi.

Sekalipun jadi kontroversi, Perempuan Berkalung Sorban tetap bisa diapresiasi dan menginspirasi penonton. Dalam wawancara pada Mei 2017, Gina teringat pada seorang perempuan yang setelah menonton film tersebut akhirnya memutuskan untuk meninggalkan suaminya yang berperilaku abusif.

“Film bagus atau jelek itu relatif banget. Tapi merasa karya lo ada gunanya buat orang lain itu membuat lo punya tujuan untuk bekerja lebih baik,” ujar Gina, seperti dikutip Jurnal Ruang.

Terlepas sebuah film menjadi kontroversi ataupun tidak, dalam proses penulisan skenario, Gina mengaku bakal selalu mencari metode penceritaan yang pas. "Tipe penceritaan gue adalah penceritaan yang jelas ke penonton," ujar peraih Piala Citra FFI 2013 sebagai penulis skenario terbaik lewat film Habibie & Ainun ini.

"Apa pun metode penceritaannya, yang selalu dipegang adalah tema dan karakter. Apa yang mau lo omongin (temanya) dan story argument apa yang mau lo bawa dalam ceritanya. Kedua, karakter-karakternya. Plot, dialog dan lain-lain akan ikutin dua hal itu. Bagi gue, cerita itu adalah karakter yang tumbuh. That's why I love story so much," lanjut Gina.

Film
Film Perempuan Berkalung Sorban yang skenarionya ditulis Gina S Noer juga membuat kontroversi pada 2009.

Ketertarikan Gina pada film dan skenario bermula sejak lama. Ketika SMA, dia membuat film pendek bersama Angga Dwimas Sasongko (sutradara Cahaya dari Timur: Beta Maluku, Filosofi Kopi, Surat dari Praha) dan ikuti Close Up Planet Movie Competition. Pada 2006, Lentera Merah yang ditulis Gina dirilis. Skenario film panjang perdananya itu disutradarai Hanung Bramantyo. Kini, Dua Garis Biru menjadi karya ke-16 Gina sebagai penulis skenario sekaligus sutradara.

"Dua Garis Biru ini pertama kali ditulis sekitar tahun 2009. Nah pas 2010 saya selesai menulis skenario draf pertamanya. Akhirnya stop di situ, berhenti menulis selama delapan tahun," kata Gina, seperti dikutip Kompas.com. "Akhirnya pada akhir tahun 2018 mulai nulis lagi untuk naskah film ini."

Setelah 13 tahun menjadi penulis skenario dan juga produser (Mencari Hilal, Keluarga Cemara), bagaimana rasanya merilis film sebagai sutradara? Pada 27 Juni lalu, mengutip Kompas.com, Gina bilang, "Rasanya kayak melahirkan, lebih stres daripada mau nikah."


Sumber foto header: Dua Garis Biru