(Author's Interview) Fakhrisina Amalia: Menulis Habis-Habisan itu Perlu

(Author's Interview) Fakhrisina Amalia: Menulis Habis-Habisan itu Perlu

. 3 min read

Menjadi pekerja lepas di sebuah platform konseling berbasis aplikasi. Itulah kesibukan Fakhrisina Amalia atau yang kerap disapa Iis beberapa waktu belakangan ini. Iis adalah pengarang novel remaja yang telah menerbitkan lima buku: Confession (2014), Happiness (2015), All You Need is Love (2015), Persona (2016), dan Represi (2018). Iis juga berkontribusi dalam sembilan buku antologi yang diterbitkan secara mayor maupun indie.

Pada bagian pertama Author's Interview bersama Fakhrisina Amalia, Iis menceritakan kenapa ia mendedikasikan dirinya untuk menulis novel bergenre remaja dan mengangkat isu kesehatan mental. Selain karena jarang yang menuliskannya, Iis yang seorang lulusan magister psikologi profesi pun merasa perlu karena ia paham dengan isu kesehatan mental.

Saat ditanya tentang apakah seseorang yang tidak punya latar belakang psikologi dapat menulis karya fiksi dengan isu kesehatan mental, Iis menyetujuinya. Ia menyampaikan bahwa siapa saja bisa menulis tentang psikologi. “Pertanyaannya adalah apakah mereka bisa menyampaikannya sesuai ilmunya atau Cuma berdasarkan observasi saja,” tukas Iis.

Seseorang mungkin bisa saja menulis seputar gejala-gejala psikologis hanya melalui observasi. Hanya saja, ia perlu sekali untuk mencari tahu bagaimana penanganan dari gangguan psikologis tersebut yang tentu tidak cukup hanya dengan observasi. Dibutuhkan riset dan bertemu dengan psikolog atau psikiater untuk mendapatkan jawabannya.

Iis memang sudah tertarik untuk mempelajari ilmu psikologi sejak SMP. Kala itu, ia merasa emosinya tidak stabil sehingga mudah sekali tersinggung. Iis berpikir mungkin dengan belajar psikologi ia dapat mengatasi ketidak-stabilan emosinya. Saat studi S-1, ia malah merasa kecolongan karena lulusannya masih belum bisa mendiagnosis dan memberi terapi. Ia masih harus mengambil studi S-2 psikologi profesi dan menjadi psikolog untuk melakukannya. Untungnya, Iis bisa meraih cita-citanya tersebut.

Pada masa studi S-2 itulah Iis merasa jatuh cinta pada bidang psikologi yang semakin ditekuninya. Ia mengatakan bahwa poin jatuh cintanya adalah ketika mulai menangani orang yang membutuhkan bantuannya dan kembali padanya saat sudah baikan.

“…Kemudian orang itu datang ke kita dengan bilang ia sudah merasa lebih baik. Itu sesuatu yang—oh ternyata ilmu ini perlu karena nggak semua orang bisa mendengarkan dan menyimak,” kata Iis.

Buku-Buku
Buku-Buku Fakhrisina Amalia

Habis-Habisan dalam Menulis

Dalam menulis, Iis punya pedoman untuk bisa meniupkan ruh pada karyanya yaitu dengan cara habis-habisan. Menurutnya, hal tersebut esensial agar pembaca merasakan apa yang ingin penulis sampaikan. Iis mencontohkannya seperti ketika adegan yang punya rasa emosional yang tinggi, maka penulis pun harus benar-benar mengalami perasaan-perasaan itu juga.

“Sehingga output-nya adalah ketika nanti pembaca membaca buku itu, ia juga bisa mengalami perasaan yang sama. Itu prinsip menulis,” tegas Iis.

Cara habis-habisan dalam menulis memang terlihat seperti memforsir diri sendiri karena penulis harus mengalami emosi dalam setiap adegan yang ditulisnya. Namun, Iis menandaskan bahwa habis-habisan ini bisa menjadi self-therapy untuk dirinya. Seperti ketika ia menulis untuk karya terakhirnya Persona. Iis mengakui bahwa saat menuliskannya, ia sedang mengalami permasalahan internal.

“Karena itu (menulis Persona) merupakan self-therapy buat saya, jadi yang habis-habisannya itu waktu, tenaga, hingga emosi. Semua saya keluarkan karena saya tahu dengan habis-habisan itu saya akan merasa lebih baik,” ujarnya.

Sebagaimana teknis menulis, penulis juga punya situasi dan kondisi menulis yang berbeda. Iis harus menulis di tempat yang sepi. Ia bahkan tidak pernah melakukannya di kafe—selalu di dalam kamar dan tidak boleh ada camilan. Pernah saat sedang menulis Happiness ada adegan tokoh utama yang muntah, dirinya pun ikutan muntah.

“Jadi aku tidak bisa ada apa-apa, karena terlalu gimana ya…. Kalau misalnya dia (tokoh ciptaannya) menangis, aku menangis juga,” ujar iis.

Iis mengakhiri percakapan dengan sebuah petuah: Tulislah ketakutanmu. Sebagaimana yang dilakukannya pada Persona dan Represi, Iis merasa lebih baik secara psikologis setelahnya. Itu karena masih ada hubungannya dengan self-therapy. Selain itu, menuliskan ketakutan itu yang bikin kita manusia.

Baca bagian pertama Author's Interview bersama Fakhrisina Amalia di sini.