Ekonomi dan Rasionalitas Manusia

Ekonomi dan Rasionalitas Manusia

Apakah ilmu ekonomi rasional? Rasional. Bisa dibilang begitu. Ilmu ekonomi mainstream bekerja dengan angka, logika, rasionalitas. Kalau permintaan naik, harga naik. Kalau penawaran naik, harga turun. Kalau suku bunga naik, orang menabung. Kalau suku bunga turun, orang mengambil kredit. Presisi, logis, bisa diprediksi. Bisa meramal masa depan: kalau Anda menabung 10% gaji Anda tiap bulan, nanti ketika pensiun Anda punya uang untuk biaya hidup.

Lalu, kenapa manusia tetap saja mengalami masalah ekonomi? Di situlah bedanya: ilmu ekonomi mainstream itu rasional. Manusia-nya tidak.

Keresahan itu membuat ahli ekonomi peraih Hadiah Nobel, Richard Thaler, sejak 1970-an, mempertanyakan apakah tepat menggunakan ilmu ekonomi yang logis–rasional untuk menjelaskan keadaan manusia. Pengalaman Thaler dituangkan dalam autobiografinya, Misbehaving: Terbentuknya Ekonomi Perilaku (GPU, 2020).

Awalnya, Thaler mengumpulkan berbagai anomali: fakta yang seharusnya tidak terjadi jika manusia berperilaku sesuai ilmu ekonomi rasional. Ternyata manusia cukup sering berperilaku “keliru”, tak seperti diprediksi ilmu ekonomi. Misalnya, lebih memilih membeli sepeda motor dengan kredit berjangka panjang dibanding jangka pendek atau membeli tunai sekalian—padahal pembeli akan membayar total lebih mahal jika membeli kredit jangka panjang, untuk suatu barang yang nilainya turun seiring waktu.

Alasannya adalah ilmu ekonomi mainstream didasari anggapan bahwa manusia adalah makhluk rasional, logis, jago menghitung, tak beremosi, berpandangan jauh—gambaran yang disebut “Ekon”, suatu sosok yang banyak muncul di buku, teori, dan model ekonomi, tapi tak ditemukan di dunia nyata. Yang ada di dunia nyata adalah Manusia sungguhan, yang punya emosi, tidak selalu bisa menghitung, dipengaruhi berbagai naluri, dan lebih cenderung berpandangan jangka pendek. Ilmu ekonomi mainstream mungkin tidak keliru, tapi mungkin berlakunya bukan untuk Manusia.

Itulah sebabnya kita sebagai manusia sering sekali sukar berperilaku rasional dalam membuat keputusan ekonomi. Oke, kita diberitahu agar menyisihkan 10% pendapatan kita untuk ditabung atau diinvestasikan demi masa depan. Selain untuk simpanan hari tua, uang tabungan (atau investasi) bisa ditumbuhkan sehingga kelak uang kita makin banyak. Faktanya? Kita sukar menolak godaan belanja hari ini dan mengorbankan kesempatan bisa belanja lebih banyak pada masa depan. Alhasil, gaji habis. Tidak tersisa untuk tabungan atau investasi. Rasional? Tidak. Kalah dengan kehendak sesaat. Kesenangan yang dekat terasa lebih kuat daripada kesenangan masa depan yang lebih besar, padahal secara rasional seharusnya kesenangan lebih besar pada masa depan itu lebih memuaskan.

richard
Richard Thaler (Sumber foto: RealClearMarkets)

Atau, kita melihat barang yang harganya sedang didiskon besar, lalu langsung membelinya karena merasa itu tawaran menguntungkan. Kita kena efek jangkar dan pembingkaian. Biasanya kita baru sadar ketika minggu depannya atau bulan depannya melihat barang yang sama, dengan harga diskon yang sama. Lalu tahun depannya harganya tetap harga diskon. Ternyata memang itu harga aslinya.... Rasional? Tidak. Harga asli yang ditampilkan seolah “harga diskon” membuat perhitungan kita melenceng, menimbulkan rasa mendapat untung ketika menemukan “harga diskon”, padahal mau dibeli kapanpun, harganya sebegitu juga.

Thaler menemukan contoh-contoh itu sepanjang kariernya: rasa tak suka rugi, rabun jauh, masalah pengendalian diri, dan lainnya. Bersama beberapa ahli lain, Thaler lantas mengembangkan cabang baru ekonomi, ekonomi perilaku (behavioural economics), yang bertujuan menjelaskan fenomena ekonomi dengan memandang manusia bukan sebagai Ekon yang rasional melainkan Manusia sebagaimana adanya—dengan segala biasnya.

Sepanjang buku, Thaler mengisahkan silang pendapatnya dengan pemikiran para ahli ekonomi aliran mainstream, termasuk di antaranya Milton Friedman dan Benjamin Graham. Thaler juga berkolaborasi dengan ahli-ahli psikologi Amos Tversky dan Daniel Kahneman (penulis Thinking Fast And Slow) yang memberinya ilham mengenai bias psikologis manusia. Kolaborator lainnya adalah profesor hukum Cass Sunstein; Thaler dan Sunstein kemudian bersama-sama menulis Nudge, yang di antaranya menggunakan prinsip-prinsip ekonomi perilaku untuk merancang kebijakan publik dan arsitektur pilihan.

bukuBeli Sekarang!

bukuBeli Sekarang!

Kemunculan ekonomi perilaku dalam semesta keilmuan yang lebih luas, menurut saya, adalah bagian tren umum gelombang kedua di ilmu-ilmu non-sains menjadi lebih realis. Awalnya, banyak ilmu berpendekatan idealis: ekonomi, sosiologi, psikologi, bahkan sains seperti biologi. Banyak yang berangkat dari asumsi ada keadaan ideal yang harus dicapai, prinsip-prinsip utama yang dasarnya logika, rasionalitas, keteraturan, bahkan gagasan filosofis tertentu seperti kesakralan atau kesempurnaan. Paradigma itu mungkin berakar di matematika (yang dasarnya aksioma), fisika klasik (dengan hukum alam yang pasti), dan filsafat ideal Plato. Paradigma ideal itu telah membentuk peradaban manusia sampai kira-kira menjelang akhir abad ke-20, dan utamanya membuat manusia memiliki harapan akan keadaan ideal, yang mengarah ke berbagai hal baik dan juga buruk.

Namun sejak perkembangan sains (terutama fisika modern dan biologi) menunjukkan bahwa dunia nyata tidak sesuai dengan idealisme gagasan manusia, muncul paradigma baru yang lebih realis di dunia ilmu. Berbagai cabang ilmu mempertanyakan kembali premis-premis dasarnya, mengecek kesesuaiannya dengan realitas, dan melibatkan temuan terbaru. Psikologi melibatkan neurologi dan genetika; sejarah melibatkan biologi dan geografi.

Kegunaan ilmu ekonomi adalah memahami kegiatan ekonomi manusia, dan satu di antara berbagai tujuannya adalah memberikan kemakmuran material kepada manusia. Keampuhan suatu ilmu tentu berkaitan dengan kemampuannya memahami realitas fenomena yang dipelajarinya. Misbehaving menceritakan perubahan paradigma di ilmu ekonomi sebagaimana dilihat dan diusahakan Richard Thaler, dari ilmu ekonomi mainstream yang idealis-rasional ke pendekatan ekonomi perilaku yang diharapkan bisa menjelaskan fenomena ekonomi dengan lebih realistis, lalu membantu ilmu ekonomi mencapai tujuannya, mendatangkan kemakmuran bagi kita semua. Perubahan itu layak dicermati siapa pun yang berkecimpung di berbagai cabang ilmu ekonomi.

Penasaran? Mau tahu lebih detail? Cek langsung pada bukunya!

Misbehaving: Terbentuknya Ekonomi Perilaku

bukuBeli dan Ketahui Paradigma Ilmu Ekonomi

Mau beli buku-bukunya dengan isi dompet tetap aman? Bisa dong! Spesial untuk kamu yang baca artikel ini, kamu dapat diskon 20% untuk pembelian di Gramedia.com. Beli sekarang dan gunakan vouchernya, yuk!

voucherKlik untuk Dapatkan Vouchernya!


Oleh: Zia Anshor, Penerjemah

Sumber foto header: Unsplash


Enter your email below to join our newsletter