Pikiran, cerita, dan gagasan tentang buku dengan cara yang berbeda.

Saat Dunia Terasa Abu-Abu, The Ocean Would Paint Me Blue Bantu Temukan Warnamu Kembali

Saat Dunia Terasa Abu-Abu, The Ocean Would Paint Me Blue Bantu Temukan Warnamu Kembali

Grameds, kalau kamu pernah membaca As Long as the Lemon Trees Grow, nama Zoulfa Katouh mungkin sudah nggak asing lagi di telinga kamu.

Novel yang menandai debutnya tersebut berhasil mencuri perhatian lewat kisah Salama yang berusaha mempertahankan harapan di tengah perang Suriah. Karya itu juga bahkan terpilih menjadi finalis Governor General’s Award dan masuk nominasi Yoto Carnegie Medal.

Setelah sukses dengan buku pertamanya itu, kini Zoulfa kembali dengan karya baru yang berjudul The Ocean Would Paint Me Blue. Sebuah novel yang akan membawa pembacanya ke cerita yang terasa lebih personal, penuh warna, sekaligus memiliki kesan magis.

Kali ini, ia mengajak kita mengikuti perjalanan seorang remaja bernama Jihad Dabbagh yang sedang berusaha memahami kehilangan, identitas, dan tempatnya di tengah dunia yang terasa semakin asing.

Lalu, bagaimana kisah itu akan diutarakan? Mari kita bahas soal karya terbaru penulis asal Suriah itu di sini! 🚀


Begini Sinopsisnya!

Dalam The Ocean Would Paint Me Blue, Jihad Dabbagh digambarkan sebagai gadis Syrian American berusia 17 tahun yang memiliki kemampuan unik dalam melihat warna.

Perempuan-perempuan yang terlahir di keluarganya mewarisi semacam berkah magis yang membuat mereka dapat merasakan warna dari emosi, manusia, tumbuhan, hingga berbagai benda di sekitarnya. Namun, kemampuan itu juga bisa ikut berubah mengikuti kondisi hati yang sedang Jihad alami.

theTemukan Bukunya di Sini!

Setelah sang ibu meninggal karena kanker, dunia Jihad seolah kehilangan seluruh warnanya. Semuanya berubah menjadi abu-abu, sementara dirinya sendiri masih terjebak dalam duka yang sulit dipahami orang-orang di sekitarnya.

Sang ayah kemudian mengirim Jihad ke Braxton Academy untuk menyelesaikan tahun terakhir sekolahnya. Hal itu dilakukan dengan harapan agar Jihad bisa melanjutkan hidup dan mengejar impiannya untuk masuk ke sekolah seni.

Masalahnya, Braxton ternyata punya tantangan tersendiri. Sebagai satu-satunya siswa Muslim di sekolah tersebut, nama dan hijab Jihad membuatnya menjadi sasaran prasangka hingga perlakuan diskriminatif.

Di tengah situasi itu, ia menemukan sebuah buku sketsa tua yang berasal dari kampung halaman ibunya di Suriah. Dari sanalah, perjalanan Jihad perlahan berubah ketika gambar-gambar yang ia buat mulai muncul sebagai mural di berbagai sudut New York.


Yang Real dan Magis di Balik Buku Sketsa Jihad

Perpaduan antara realisme dan elemen magis menjadi salah satu daya tarik The Ocean Would Paint Me Blue. Zoulfa Katouh menggunakan unsur magis untuk menggambarkan perjalanan emosional Jihad, terutama melalui warna, lukisan, dan mural yang menjadi cara lain bagi Jihad untuk menyampaikan kesedihan, ingatan, dan keberaniannya.

Dalam cerita, Jihad memiliki kemampuan untuk melihat dunia berdasarkan warna yang berkaitan dengan kondisi emosinya. Ketika mentalnya memburuk, warna-warna tersebut perlahan menghilang hingga dunia di sekitarnya terasa abu-abu. Namun, semuanya mulai berubah ketika Jihad menemukan sebuah buku sketsa tua dan kembali menggambar kisah perjalanan ibunya di Suriah.

Yang menarik, gambar-gambar Jihad kemudian muncul secara ajaib sebagai mural di berbagai sudut New York. Karyanya pun viral dan menarik perhatian publik, bahkan membuat Jihad harus berhadapan dengan konsekuensi hukum akibat mural-mural tersebut.

Lewat perpaduan antara pengalaman Jihad yang begitu personal dan kejadian-kejadian magis tersebut, The Ocean Would Paint Me Blue menghadirkan cerita yang terasa dreamy sekaligus emosional.

Dunia yang penuh warna di dalam novel ini akhirnya menjadi cara Zoulfa untuk membicarakan kehilangan, trauma, ingatan, dan keberanian untuk kembali menemukan warna dalam hidup.


Sebuah Kanvas untuk Pulang

Di balik elemen magisnya, The Ocean Would Paint Me Blue tampil dengan tema besar tentang grief atau duka.

Dalam kisah ini, Jihad diperlihatkan sedang berusaha memahami kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidupnya, sementara kenangan tentang sang ibu menjadi salah satu cara untuk tetap merasa dekat dengannya.

Seni kemudian hadir sebagai ruang bagi Jihad untuk mengeluarkan perasaan yang sulit ia ungkapkan lewat kata-kata.

Cerita ini kemudian berkembang ke persoalan identitas dan rasa memiliki. Jihad hidup sebagai seorang Syrian American dan mengenal Suriah terutama melalui cerita-cerita yang diturunkan ibunya.

Ketika ia menggambar kembali kisah tersebut, masa lalu keluarganya perlahan terasa lebih dekat. Ia pun mulai berhadapan dengan pertanyaan tentang siapa dirinya, dari mana ia berasal, dan bagaimana ia ingin dilihat oleh dunia.

Dalam buku ini, Zoulfa turut membawa isu Islamofobia, prasangka, dan pengalaman diaspora ke dalam perjalanan Jihad. Semua itu serempak membuat proses Jihad menemukan kembali warna dalam hidupnya terasa semakin personal.

Bersama perjalanannya, ia belajar bahwa menerima diri sendiri terkadang membutuhkan keberanian untuk berhenti mengecilkan diri demi membuat orang lain merasa nyaman.


Kombinasi Cerita yang Menambah Daya Tarik

Kalau kamu suka novel young adult dengan karakter yang punya perjalanan emosional kuat, The Ocean Would Paint Me Blue bisa jadi pilihan yang menarik.

Ceritanya punya kombinasi antara coming-of-age, magical realism, persahabatan, romance, seni, dan pencarian identitas. Banyak elemen yang bergerak bersamaan, tetapi semuanya tetap berpusat pada perjalanan Jihad untuk memahami dirinya sendiri.

Daya tarik lainnya terletak pada cara Zoulfa mengolah seni sebagai bagian penting dari cerita. Pembaca diajak melihat bagaimana sebuah lukisan bisa menjadi tempat seseorang menyimpan kenangan, menyuarakan pengalaman, bahkan merebut kembali kendali atas cerita tentang dirinya.

Konsep yang dibangun itu sekaligus membuat hubungan Jihad dengan seni terasa lebih dalam daripada sekadar hobi atau cita-cita menjadi seorang seniman.

Di saat yang sama, cerita Jihad punya banyak ruang untuk membuat pembaca ikut berpikir dan merenungi beberapa hal, terutama tentang kehilangan yang membutuhkan waktu, tentang identitas yang terus berkembang, dan tentang keberanian untuk menunjukkan diri apa adanya.


Rekomendasi Buku Lainnya!

As Long as the Lemon Trees Grow – Zoulfa Katouh

theTemukan Bukunya di Sini!

Perang Suriah membuat Salama kehilangan ibu, ayah, dan Hamza. Kini, ia harus menjaga Layla, kakak iparnya yang sedang hamil, sambil mencari cara agar mereka bisa selamat dari perang. Pergi ke Eropa menjadi pilihan paling aman, tetapi Salama diliputi rasa bersalah karena meninggalkan tanah air dan orang-orang yang masih berjuang di sana.

Di tengah dilema tersebut, Salama bertemu Khawf, sosok yang terus mendorongnya untuk pergi, dan Kenan, pemuda yang memilih bertahan demi negaranya. Salama pun harus menentukan pilihan antara bertahan di Suriah atau memenuhi janjinya kepada Hamza untuk menyelamatkan Layla dan bayinya.  


Between Shades of Gray – Ruta Sepetys

theTemukan Bukunya di Sini!

Pada 1941, Lina yang berusia 15 tahun bersama ibu dan adiknya dipaksa meninggalkan rumah oleh aparat Soviet. Mereka kemudian dikirim ke kamp kerja paksa di Siberia dan harus bertahan dari kelaparan, suhu ekstrem, serta kekejaman rezim Stalin. Sementara itu, Lina terpisah dari sang ayah dan tak tahu apakah mereka akan bertemu lagi.

Untuk merekam apa yang terjadi, Lina diam-diam menggambar kehidupan para deportan dan menggunakannya untuk mengirim pesan kepada ayahnya. Lewat perjuangan Lina dan keluarganya, novel Between Shades of Gray menghadirkan kisah tentang kehilangan, ketahanan, serta harapan di tengah salah satu periode kelam dalam sejarah.  


Putri Cina – Sindhunata

“Kita datang ke dunia ini sebagai saudara, tapi mengapa kita mesti diikat pada daging dan darah, yang ternyata hanya memisahkan kita?”

theTemukan Bukunya di Sini!

Putri Cina mengangkat pergulatan manusia yang ingin mencintai tanah tempat ia berpijak, tetapi harus berhadapan dengan penolakan dan perbedaan. Sindhunata merangkai kisah ini melalui perpaduan mitos Jawa dan Cina, filsafat, babad, serta sejarah.

Di tengah persinggungan antara mitos dan kenyataan historis, hadir kisah cinta yang turut terseret dalam tragedi. Novel ini mengajak pembaca merenungkan identitas, persaudaraan, penerimaan, dan hubungan manusia dengan tanah airnya.  


Dunia Anna – Jostein Gaarder

theTemukan Bukunya di Sini!

Pada 2082, Nova menerima surat misterius dari nenek buyutnya, Anna, yang ditulis 70 tahun sebelumnya ketika Anna juga berusia 16 tahun. Anehnya, surat tersebut seolah mengetahui nama Nova sekaligus keresahan yang sedang ia rasakan tentang kondisi bumi.

Saat membaca surat itu, Nova menemukan kisah tentang bumi yang berubah, spesies yang punah, daratan yang tenggelam, hingga kutub yang mencair. Semua petunjuk kemudian mengarah pada sebuah cincin rubi milik Anna yang dipercaya berkaitan dengan keseimbangan bumi.


Project Hail Mary – Andy Weir

theTemukan Bukunya di Sini!

Ryland Grace terbangun di sebuah pesawat antariksa jutaan kilometer dari Bumi tanpa mengingat nama, tugas, maupun alasan dirinya berada di sana. Ia hanya tahu bahwa kedua anggota kru lainnya telah meninggal dan dirinya harus menjalankan sebuah misi yang berkaitan dengan nasib umat manusia.

Saat ingatannya kembali sedikit demi sedikit, Ryland mulai memahami persoalan sains yang harus dipecahkannya. Dengan waktu yang terbatas dan hanya mengandalkan dirinya sendiri, ia harus menemukan cara menyelamatkan Bumi. Hingga akhirnya, sebuah pertemuan tak terduga memberinya harapan baru.  


Pada Akhirnya,

The Ocean Would Paint Me Blue membawa kita pada satu perjalanan yang terasa lembut sekaligus emosional. 🌊

Jihad mungkin memulai kisahnya dengan dunia yang serba abu-abu, tetapi langkah demi langkah ia menemukan kembali warna melalui kenangan, seni, persahabatan, dan keberanian untuk menerima dirinya sendiri. Setiap warna dalam cerita ini terasa seperti bagian dari proses tumbuh dewasa.

Jadi, kalau kamu sedang mencari novel yang punya sentuhan magical realism sekaligus membawa tema tentang grief, identitas, dan keberanian untuk menemukan suara sendiri, The Ocean Would Paint Me Blue sangat layak masuk daftar bacaanmu, Grameds.

Momennya pas banget nih! Buku ini sudah bisa kamu ikuti masa Pre-Order-nya di Gramedia.com dengan beragam bonus spesial selama periode pemesanan berlangsung. ✨

theTemukan Promonya di Sini!

So, jangan lupa untuk catat tanggalnya, lalu siapkan hati, buka halaman pertamanya, dan lihatlah sendiri warna apa yang akan muncul dari kisah Jihad. 🎨


Jangan lupa juga untuk mengecek berbagai promo menarik lainnya di Gramedia.com supaya pengalaman belanjamu semakin hemat dan menyenangkan! ⤵

kumpulanTemukan Semua Promo Spesial di Sini!


Enter your email below to join our newsletter