Bukan Nenek Biasa! Michelle Yeoh Jadi Rubik Player di Film Komedi It’s My Time

Kita rasanya memang nggak pernah benar-benar tahu apa yang menunggu di masa depan. Entah akan sesukses apa hidup kita nantinya, atau justru berakhir di jalan yang sama sekali nggak pernah kita bayangkan.

Hal serupa juga berlaku ketika kita mulai memikirkan masa pensiun, mencari kesibukan baru, atau mengambil keputusan yang mungkin terasa terlalu berani untuk dilakukan ketika usia sudah nggak lagi muda.

Berangkat dari gagasan tersebut, It’s My Time, film komedi hangat asal Cina, mengajak kita mengikuti perjalanan seorang nenek berusia 70 tahun yang tinggal di panti jompo. Hidupnya perlahan berubah ketika ia menemukan kemampuan yang sama sekali nggak disangka sebelumnya, menyelesaikan Rubik’s Cube.

“The moment you pick up the Cube, it’s just you and the cube, nothing else.”

Dengan durasi 107 menit, film garapan Xue Bai ini membawa cerita tentang usia, kesempatan kedua, persahabatan, dan keberanian untuk mencoba sesuatu yang baru.

Lantas, apa yang membuat perjalanan nenek 70 tahun ini menarik untuk diikuti? Yuk, kita bahas dalam artikel ini! 🚀🎬


Ketika Nenek 70 Tahun Menantang Dunia Rubik

“If I had accepted my fate, I should have died a year ago!”

It’s My Time mengikuti Zhao Yanhong (Michelle Yeoh), perempuan berusia 70 tahun yang tinggal di sebuah panti jompo. Zhao punya karakter yang cukup kuat. Ia berani, blak-blakan, dan punya cara sendiri dalam menjalani kehidupan tanpa terlalu memikirkan penilaian orang lain.

Di tempat lain, Wu Youwei (Liu Haoran) sedang menghadapi fase sulit dalam hidupnya. Ia merupakan mantan juara Rubik’s Cube yang kini kehilangan arah setelah berbagai hal dalam hidupnya berantakan.

Pertemuan Zhao dan Wu kemudian membawa keduanya pada sebuah kemungkinan yang tak terduga. Zhao ternyata mampu menyelesaikan Rubik’s Cube dalam waktu yang ditentukan Wu. Kemampuan tersebut membuat Wu melihat potensi yang bisa dikembangkan lebih jauh.

Mereka kemudian mulai mempersiapkan Zhao untuk mengikuti kompetisi Rubik’s Cube dengan metode blindfolded, yaitu menyelesaikan rubik setelah menghafalkan posisi setiap warna tanpa melihatnya saat proses penyelesaian berlangsung.

Dibantu Wu dan orang-orang di sekitarnya, Zhao menjalani latihan demi latihan. Dari sinilah perjalanan mereka berkembang. Target awalnya memang sebuah kompetisi, tetapi proses menuju ke sana perlahan membuka kembali kepercayaan diri, semangat, dan keinginan Zhao untuk menentukan arah hidupnya sendiri.


Tidak Ada Kata Terlambat untuk Mencoba Lagi!

“With your current physical state, can’t you just accept reality?”

Hal menarik dari It’s My Time terletak pada cara film ini memandang usia. Zhao berada di fase kehidupan ketika banyak orang mungkin mulai menganggap rutinitas sebagai sesuatu yang wajar. Namun, ia justru mendapatkan kesempatan untuk mencoba hal yang sama sekali baru.

Lewat sosok Zhao, It’s My Time memberikan sudut pandang menarik lewat sosok perempuan berusia 70 tahun yang memutuskan untuk mengejar sesuatu yang mungkin terlihat mustahil bagi orang lain.

Perjalanan Zhao juga terasa semakin menarik karena Rubik’s Cube punya hubungan yang kuat dengan gagasan tentang kehidupan. Enam sisi dengan warna berbeda harus disusun melalui langkah-langkah tertentu hingga semuanya berada di tempat yang tepat. Begitu pula dengan hidup Zhao yang perlahan ia susun kembali.

Setiap latihan memberinya ruang untuk mengenali kemampuan diri sendiri. Setiap kesalahan menjadi bagian dari proses belajar. Dan ketika satu per satu warna mulai berada di tempatnya, Zhao pun perlahan menemukan kembali rasa percaya diri serta keinginan untuk menentukan pilihannya sendiri.


Baca juga: Bikin Venice Standing Ovation 12 Menit, Kapan Live-Action Look Back Tayang di Indonesia?


Diambil dari Kisah Nyata

Usut punya usut, cerita It’s My Time sendiri ternyata memiliki akar dari dunia nyata lho, Grameds. Film ini terinspirasi dari kisah seorang guru pensiunan asal Zhejiang, Cina, yang mulai mengasah kemampuan bermain Rubik’s Cube ketika usianya sudah mencapai 70 tahun.

Kisah tersebut kemudian dikembangkan menjadi cerita film dengan menghadirkan karakter Zhao Yanhong dan Wu Youwei. Adaptasi ini memberikan ruang bagi film untuk mengeksplorasi hubungan antar generasi sekaligus mempertemukan dua karakter yang sama-sama sedang mencari arah dalam hidup.

Menariknya, Rubik’s Cube di sini terasa seperti titik temu bagi keduanya. Zhao menemukan tantangan baru dalam hidupnya, sementara Wu mendapatkan kesempatan untuk kembali menggunakan pengalaman dan kemampuannya.

Dari hubungan tersebut, lahir perjalanan yang menggabungkan komedi, kehangatan, dan semangat untuk bangkit.


Michelle Yeoh Membawa Sisi Berani Zhao Yanhong

Source: TIFF

Kehadiran Michelle Yeoh menjadi daya tarik lain dari It’s My Time. Aktris yang dikenal lewat berbagai film seperti Crazy Rich Asians, Crouching Tiger, Hidden Dragon, dan Everything Everywhere All at Once ini mendapat kesempatan memainkan karakter dengan energi yang berbeda.

Sebagai Zhao Yanhong, Yeoh membawa sosok nenek yang berani mengambil keputusan dan punya kepribadian kuat. Karakter tersebut membuat perjalanan menuju kompetisi terasa lebih hidup karena Zhao punya rasa ingin tahu dan semangat yang terus mendorongnya untuk mencoba.

Pertemuannya dengan Wu Youwei yang diperankan Liu Haoran juga menjadi bagian penting dari dinamika film. Keduanya datang dari generasi dan pengalaman yang berbeda, tetapi sama-sama menemukan alasan untuk kembali bergerak maju.

Baca Kisah Seru Lainnya di Sini!


Kisah Lainnya Tentang Mereka yang Menolak Menyerah!

Kalau kamu suka cerita tentang karakter yang terus berusaha mengejar sesuatu meski keadaan terasa sulit, ada beberapa bacaan yang bisa menemani setelah menonton It’s My Time, Grameds.

The White Book — Han Kang

Temukan Kisahnya di Sini!

Lewat warna putih, Han Kang mengajak kita menyelami luka, kehilangan, dan usaha manusia untuk tetap bertahan. Seorang narator tanpa nama mencoba memahami tragedi kematian kakak perempuannya melalui potongan-potongan kisah liris tentang benda-benda sederhana, dari ASI hingga salju yang perlahan mencair.

Lembut sekaligus menusuk, The White Book menjadi perenungan tentang rapuhnya kehidupan, kegigihan jiwa, dan bagaimana sesuatu yang indah masih bisa tumbuh dari kehancuran.


The Old Man and The Sea — Ernest Hemingway

Santiago adalah nelayan tua yang sudah kenyang pengalaman, tetapi 84 hari berlalu tanpa seekor ikan pun berhasil ia tangkap. Dianggap sebagai orang paling sial, ia justru memilih kembali melaut dan menghadapi pertarungan besar yang menguji keberanian, ketekunan, serta harga dirinya.

Temukan Kisahnya di Sini!

Dengan gaya bercerita yang sederhana tetapi kuat, The Old Man and The Sea menunjukkan bahwa perjuangan bukan selalu soal menang atau kalah, melainkan tentang keberanian untuk terus mencoba ketika keadaan terasa mustahil.


Sang Alkemis (The Alchemist) — Paulo Coelho

Temukan Kisahnya di Sini!

Seorang anak gembala dari Spanyol, Santiago, meninggalkan kehidupan yang nyaman demi mengejar mimpi tentang harta karun di Piramida Mesir.

Dalam perjalanannya, ia bertemu orang-orang yang perlahan membantunya memahami arti mimpi, keberanian, dan suara hati. Yang awalnya tampak seperti perjalanan mencari harta duniawi justru berubah menjadi perjalanan menemukan dirinya sendiri.

Sederhana, penuh makna, dan menggugah, Sang Alkemis mengingatkan kita bahwa terkadang harta paling berharga justru tersembunyi di dalam diri.


Man's Search for Meaning — Viktor E. Frankl

Temukan Kisahnya di Sini!

Bagaimana seseorang bisa terus melangkah ketika hampir semua alasan untuk hidup telah direnggut darinya? Viktor E. Frankl menjawab pertanyaan itu melalui pengalamannya bertahan hidup di kamp-kamp konsentrasi Nazi, sementara istri dan saudara laki-lakinya tewas di sana.

Dari pengalaman yang begitu kelam, Frankl menemukan bahwa manusia tetap memiliki satu hal yang sulit dirampas, yaitu kemampuan untuk mencari makna dalam hidupnya. Man's Search for Meaning pun menjadi refleksi kuat tentang harapan, ketahanan, dan alasan untuk terus maju di tengah penderitaan.


Perjalanan Mustahil Samiam dari Lisboa – Zaki Yamani

Temukan Kisahnya di Sini!

Samiam Nogueira hanyalah pedagang rempah dari Lisboa sampai sebuah peta dan sosok bayangan misterius membawanya pada pencarian ayah kandung yang konon seorang pangeran di Jawa. Namun, perjalanannya segera berubah menjadi jauh lebih rumit ketika ia terseret ke dalam konspirasi organisasi pemberontak Porto de Graal, bahkan sampai mendapat misi untuk membunuh Paus.

Di tengah intrik politik, pengkhianatan, dan perjalanan yang semakin jauh dari tujuan awal, Samiam justru menemukan bahwa kunci untuk menemukan sang ayah mungkin juga menjadi jalan untuk memahami siapa dirinya sebenarnya.


Pada akhirnya,

Kehidupan memang selalu penuh dengan lika-liku yang menyertainya. Bersamaan dengan itu, di situ pula letak seninya, yang membuat hidup jadi seru. Sebuah kebuntuan, justru bisa menghendaki adanya gebrakan baru.

Lewat Zhao Yanhong, film ini mengajak kita melihat usia dari sudut pandang yang lebih luas. Memulai sesuatu, menemukan kegemaran baru, bertemu orang baru, atau mengejar sebuah tujuan bisa hadir di berbagai fase kehidupan.

Dan mungkin, seperti Rubik’s Cube yang menjadi bagian penting dalam cerita ini, hidup memang sesekali perlu diacak kembali. Setelah itu, kita bisa mulai menyusun semuanya dari awal dengan cara yang berbeda.

Buat kamu yang sedang mencari tontonan ringan dengan pesan positif tentang usia, mimpi, dan keberanian untuk mencoba kembali, film ini bisa masuk daftar tontonan.

Film ini sudah bisa kamu nikmati mulai 11 September 2026 di bioskop seluruh Indonesia ya, Grameds.

So, kalau kamu benar tertarik untuk menyaksikan keseruan dan hangatnya peran Michelle Yeoh di dalamnya, maka segeralah meluangkan waktu sebelum layarnya keburu turun! 🤗


Baca juga: Lagi Butuh Jeda? Ini 5 Spot Baca di Jakarta buat Kabur Sejenak dari Riuh Kota


Jangan lupa cek berbagai promo menarik lainnya di Gramedia.com supaya pengalaman belanjamu makin seru dan hemat! ⤵

Temukan Semua Promo Spesial di Sini!