Lelah Berpetualang Tapi Tak Tahu Jalan Pulang? Temukan Makna 'Rumah' Bersama J.S. Khairen
I have climbed the highest mountains. I have run through the fields. But I still haven't found what I'm looking for. β U2
Bayangin deh, Grameds, kalau kamu itu merupakan seorang petualang yang telah menaklukkan hampir setiap sudut dunia. Luas samudra sudah kamu arungi, puncak-puncak gunung telah kamu jejaki. Paspor penuh cap, koper penuh cerita, dan langkahmu seolah tak pernah kehabisan arah. π»πββοΈ
Dengan segala kemapanan itu, kamu juga akrab dengan kemewahan. Kamu akrab menghadiri pesta meriah di kota-kota besar, menginap di tempat paling prestisius, hingga berdiri di titik-titik yang sulit dijangkau manusia lain. Semuanya tampak memesona, seperti hidup yang dirangkai dari potongan kartu pos terbaik.
Namun, di suatu hari yang sunyi, kamu tersadar, tak satu pun dari semua tempat itu memanggilmu untuk kembali. Tak ada alamat yang benar-benar kamu rindukan.
Di situlah kamu menyadari, selama ini kamu belum pernah memiliki satu ruang pun yang bisa kamu sebut rumah. Tempat yang semestinya menjadi ranjang ternyaman untuk berpulang, tempat bagi hati yang lelah boleh beristirahat kapan saja.
Itulah kira-kira premis yang coba dibawakan J.S. Khairen dalam novel terbarunya, Rumah. Lewat tokoh utama bernama Ria, kamu akan diajak ikut menyusuri perjalanannya untuk mendefinisikan kembali arti sebuah rumah.
Sebelum ikut melangkah lebih jauh bersama Ria, mari kita intip sekilas apa saja yang akan kamu temukan di halaman-halaman bukunya! ππ
Sekilas Kisah dalam Novel Rumah
Perjalananmu sudah terlalu jauh. Pulanglah. Rumah memanggilmu. Kalau tak punya, temukan atau bangun sendiri.
Ria adalah seorang luxury travel planner, pekerjaan yang membuatnya terbiasa berpindah dari satu negeri ke negeri lain. Kota-kota gemerlap, tempat-tempat terpencil, dan pengalaman kelas dunia menjadi rutinitasnya. Ia bisa membeli barang-barang mewah dan menorehkan destinasi impian di peta hidupnya, namun di tengah semua itu, ada satu hal yang tak pernah ia temukan: rumah.
Bagi Ria, pulang bukanlah sesuatu yang ia nantikan. Rumah justru menjadi ruang yang dipenuhi amarah dan luka terhadap ibu serta ayahnya. Kenangan masa lalu menumpuk seperti koper yang tak pernah benar-benar ia buka, membuatnya memilih terus melangkah daripada berhenti dan menatap kembali.
Baca juga: Mari Melangkah dan Jadi Versi Terbaik Diri Kamu bersama Better Me & Better You!
Rumah, Terkadang Memang Tak Ramah
Rumah adalah tempat di mana kamu boleh lelah tanpa perlu berpura-pura kuat. Tempat kamu boleh salah, marah, bahkan runtuh, tanpa takut dihakimi. Dalam kisah Ria, rumah tak selalu digambarkan sebagai ruang yang ramah; kadang ia justru menjadi sumber luka. Namun, dari situlah keberanian untuk berdamai tumbuh perlahan.
Saat perjalanan terasa terlalu panjang dan langkahmu mulai goyah, Rumah mengingatkan bahwa pulang selalu menjadi pilihan. Ambil selimut, seduh segelas teh hangat, dan beri waktu pada dirimu untuk bernapas. Ketika kamu siap, dunia akan menunggu kembali, dan rumah, dengan segala kekurangannya, tetap setia membuka pintu untuk menyambut kepulanganmu.
Ini adalah perjalanan memaafkan. Perjalanan menemukan rumah, dalam arti sebenarnya maupun dalam arti keluarga
Koleksi J. S. Khairen Lainnya!
Masih pengen baca karya seru dari J. S. Khairen? Ini dia rekomendasi bukunya yang wajib kamu cek!
1. Dompet Ayah Sepatu Ibu
Di punggung Gunung Singgalang, Zenna tumbuh sebagai anak keenam dari sebelas bersaudara, ditempa oleh kehidupan yang tak pernah benar-benar memberi jeda. Setiap pagi ia menyusuri jalan naik-turun gunung dengan sepatu rombeng, membawa jagung rebus untuk dijual demi membantu keluarga. Di antara lelah dan harapan, satu janji tentang sepatu baru yang sederhana dari Abaknya, menjadi cahaya kecil yang ia simpan dalam hati. Namun, takdir memutuskan janji itu lebih dulu, meninggalkan Zenna belajar berdiri sendiri, memeluk kesedihannya, dan melanjutkan langkah dengan kemandirian yang tumbuh dari kehilangan.
Di sisi lain, di lereng Gunung Marapi, Asrul dan adiknya Irsal membantu Umi bertahan setelah keluarga mereka terpisah. Bapak yang sesekali datang membawa uang juga meninggalkan sepotong kayu manis di dompetnya, sebuah isyarat kecil yang diam-diam disimpan Asrul sebagai mimpi tentang rumah yang kelak ingin ia bangun untuk Umi. Ketika Zenna dan Asrul bertemu di bangku kuliah, dua perjalanan hidup yang penuh luka dan tekad itu saling menguatkan. Bersama, mereka belajar bahwa cinta, keluarga, dan harapan tak selalu membuat hidup lebih mudah, tetapi selalu memberi alasan untuk terus melangkah.
2. Melangkah
Listrik padam di seluruh Jawa dan Bali secara misterius. Ancaman nyata kekuatan baru yang hendak menaklukkan Nusantara. Pada saat yang sama, empat sahabat mendarat di Sumba, hanya untuk mendapati nasib ratusan juta manusia ada di tangan mereka! Empat mahasiswa ekonomi ini harus bertarung melawan pasukan berkuda yang bisa melontarkan listrik! Semua dipersulit oleh seorang buronan tingkat tinggi bertopeng pahlawan yang punya rencana mengerikan.
Ternyata pesan arwah nenek moyang itu benar-benar terwujud. βAkan datang kegelapan yang berderap, bersama ribuan kuda raksasa di kala malam. Mereka bangun setelah sekian lama, untuk menghancurkan Nusantara. Seorang lelaki dan seorang perempuan ditakdirkan membaurkan air di lautan dan api di pegunungan. Menyatukan tanah yang menghujam, dan udara yang terhampar.β
Kisah tentang persahabatan, tentang jurang ego anak dan orangtua, tentang menyeimbangkan logika dan perasaan. Juga tentang melangkah menuju masa depan. Bahwa, apa pun yang menjadi luka masa lalu, biarlah mengering bersama waktu.
3. Bungkam Suara
Di luar peta dunia yang dikenal, berdiri Negara Kesatuan Adat Lemunesia (NKAL), sebuah negeri dengan kecanggihan yang timpang dan sistem kepemimpinan yang unik. Dua kepala memimpin satu negara: Raja Utama yang dipilih para raja, dan Pemangku Adat yang dipilih langsung oleh rakyat. Keseimbangan kekuasaan ini awalnya dirancang sebagai simbol persatuan, namun perlahan berubah menjadi sumber gesekan yang merambat dari akar hingga pucuk pemerintahan.
Puncak ketegangan muncul pada Hari Bebas Bicara, satu hari dalam setahun ketika rakyat boleh bersuara tanpa takut konsekuensi hukum. Alih-alih menjadi ruang kebebasan, hari itu justru memantik fitnah, perpecahan, dan konflik yang mengancam fondasi negara. Bungkam Suara mengajak pembaca menyelami labirin kekuasaan, kebebasan, dan tanggung jawab, sembari mempertanyakan: sampai di mana suara boleh dibiarkan bergema sebelum ia berubah menjadi senjata?
4. Rinduku Sederas Hujan Sore Itu
Di bawah hujan yang jatuh tanpa pernah lupa pada bumi, dua hati terjebak dalam jarak yang tak terlihat. Mereka berada begitu dekat, namun tak bisa saling menyapa, apalagi bertukar cerita. Di setiap tetes hujan, cemas dan rindu berbaur, menciptakan perasaan yang lebih besar dari kata-kata. Menunggu satu senyum, satu tatapan, satu momen kecil yang mungkin mengubah segalanya.
Lewat rangkaian prosa dan puisi, buku ini merayakan pertemuan yang tak selalu dramatis, cinta yang hadir tanpa perlu dicari, dan kehadiran yang diam-diam menjaga terang siang serta gelap malam. Rinduku Sederas Hujan Sore Itu adalah ruang bagi pembaca untuk berhenti sejenak, mengenang, dan merasakan bahwa dalam kesederhanaan, rindu bisa tumbuh menjadi sesuatu yang hangat dan menenangkan.
Menemukanmu
Bukan di bias paling terang.
Bukan pula di remang paling gelap.
Bukan di keramaian.
Bukan pula di sudut paling sunyi.
Menemukanmu, tak perlu sedramatis itu.
Karena engkau memang sudah disiapkan, oleh Sang Mahapasti.
Menemukanmu, aku bingung.
Ternyata, aku tak perlu mencarimu.
Engkau sudah berdiri begitu saja, di sampingku.
Untuk hadir menjaga terangnya hari.
Merawat gelapnya malam.
Melambaikan tangan di keramaian.
Memeluk rapat di sudut kesunyian
5. Hal yang Tak Kau Bawa Pergi Saat Meninggalkanku
Hal yang Tak Kau Bawa Pergi Saat Meninggalkanku adalah sebuah kumpulan cerita tentang cinta dan kenangan. Terdiri dari dua puluh delapan cerita, buku ini akan membuat Anda berbunga-bunga dalam kebahagiaan maupun terlarut dalam kesedihan.
Daftar Hal yang Tak Kau Bawa Pergi Saat Meninggalkanku:
No. 119: Aroma parfum di kerah baju. Aromanya hinggap tak sampai satu detik, lenyapnya butuh waktu seumur hidup.
No. 071: Kantong berisi tumpukan karcis bioskop. βBiar jadi kenang-kenangan.β
No. 029: Hasil foto-foto di photo box.
No. 015: Fotokopian catatan Statistika Lanjutan. Gara-gara kamu aku ngulang mulu, nih!
No. 009: Harapan melihat sepatumu terhenti di pintu rumah. Kau masuk dan menyalami kedua orang tuaku, lalu: βOm, Tante, bolehkah aku memanggilmu Papa dan Mama?β
Pada akhirnya,
Novel Rumah akan membawamu bertemu Ria, seorang travel planner yang akan mengajakmu melakukan perjalanan menelusuri arti tentang pulang, luka, dan keberanian untuk berdamai dengan masa lalu. ππ¦
Kalau kamu sudah penasaran dengan kisah Ria dan perjalanannya menemukan arti tentang rumah, buku Rumah karya J.S. Khairen sudah bisa kamu dapatkan melalui pre-order mulai 23 Januari hingga 31 Januari 2026 ini!
Dengan harga Rp109.000, kamu berkesempatan mendapat bonus berupa tanda tangan penulis, postcard, dan notes berbentuk paspor untuk setiap pembeliannya.
Pra Pesan Novel Rumah di Sini!
π Jadi, jangan sampai ketinggalan ya!
Baca juga: Lady Whistledown: Penulis Gosip Setajam Silet di Dunia Bridgerton
β¨ Oh ya, jangan lupa juga buat dapetin penawaran spesial dari Gramedia.com! Cek promonya di bawah ini agar belanja kamu jadi lebih hemat! ‡οΈ
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Telusuri Kisahnya Di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!