5 Sastrawan Indonesia yang Karyanya Menarik Hati Kids Zaman Now

5 Sastrawan Indonesia yang Karyanya Menarik Hati Kids Zaman Now

. 3 min read

“Kami putra dan putri Indonesia mengaku menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”

Kutipan ikrar terakhir dari Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 di atas menjadi muasal alasan ditetapkannya Oktober sebagai bulan Bahasa. Hingga kini dan nanti, sumpah akan tetap menjadi sumpah, sebab kata “Kami putra dan putri Indonesia” di dalamnya.

Tanpa mengesampingkan kekayaan bahasa daerah dari Sabang hingga Merauke, bahasa Indonesia tampil sebagai bahasa persatuan, penghubung bagi tiap bahasa yang diampu masing-masing daerah.

Menyoal bahasa, tentu erat kaitannya dengan sastra yang serupa tapi tak sama. Keduanya berkomunikasi dengan cara yang berbeda, dan sastra mengomunikasikannya dengan pilihan kata yang maknanya lebih luas dan mendalam.

Puisi menjadi salah satu bentuk karya sastra yang hingga kini tetap digaungi. Mustahil rasanya kalau kamu, kerabat, atau temanmu tidak pernah mengutip salah satu larik dari sebuah puisi. Atau bahkan menjadikan buku puisi sebagai objek foto dengan angle yang begitu instagramable.

Fenomena itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa kita sebenarnya bersenang-senang lewat majas, juga ambiguitas yang dihadirkan puisi.

Dan inilah mereka, 5 sastrawan Indonesia yang kata-kata indahnya mampu menembus dunia modern hingga mampu menarik hati kids zaman now.

1. Theresia Rumthe & Weslly Johannes

Cara-cara-tidak-kreatif

“membaca buku elektronik
tak ubahnya teleponan kala rindu:
segalanya berlangsung tanpa cium,
tanpa sentuh, hanya mata dan telinga
yang tahu, tapi kita pun sama-sama tahu
bahwa untuk mengenyangkan rindu,
tahu kadang tak cukup, kau dan aku
butuh tempel pipi.”

(Rindu-rindu Digital dalam Cara-cara Tidak Kreatif untuk Mencintai)

Setelah Tempat Paling Liar di Muka Bumi sukses dicintai penikmat sastra dengan gaya bahasanya yang explicit, Theresia Rumthe & Weslly Johannes hadir kembali dengan gaya khas kumpulan puisi berbalasnya yang lebih sederhana, yang menurutnya jauh dari kreatif.

Kata yang terukir di dalamnya hanyalah sebuah cara untuk menikmati tiap-tiap hal kecil yang akan dirasakan pasangan yang sudah lama menjalin hubungan, sekecil mencuci kolor pasangan, katanya mengumpamakan.

2. Avianti Armand

“Tanpa menyentuhku ia telah menciumku dan berbisik di ambang pintu yang tak pernah tertutup. “Kita belum selesai”

(Di Ambang Pintu dalam Buku Tentang Ruang)

Puisi kini menjelma menjadi kumpulan kata yang begitu bebas, tidak ada kaidah yang mengikat untuk selalu membuat bait-bait panjang, sama halnya seperti yang dilakukan Avianti, selama pilihan katamu istimewa, selama ia ber-rima, kamu berpuisi.

Avianti Armand juga menorehkan catatan-catatan kecilnya yang tidak melulu indah dalam Museum Masa Kecil.

3. Joko Pinurbo

“Puisi telah memilihku menjadi celah sunyi
di antara baris-barisnya yang terang.
Dimintanya aku tetap redup dan remang”

(Memo dalam Selamat Menunaikan Ibadah puisi)

Buku-buku dari Joko Pinurbo seolah mengingatkan kita bahwa segala yang terjadi sepanjang hari bisa menjadi indah untuk disyukuri lewat puisi, bahkan ia pun pernah berpuisi tentang Celana. Sesederhana itu, tapi tetap memiliki daya tarik untuk mereka yang tahu bagaimana menikmati lelucon dalam sastra.

4. M. Aan Mansyur

“Di bawah langit yang sama, ada dua dunia berbeda.
Jarak yang membentang di antaranya menciptakan bahasa baru untuk kita.
Tiap kata yang kau ucapkan selalu berarti ‘kapan’. Tiap kata yang aku kecupkan melulu berarti ‘akan’.

(Bahasa Baru dalam Tidak Ada New York Hari Ini)

Di balik puisi indah Rangga dalam film Ada Apa Dengan Cinta 2 adalah Aan Mansyur. Ia begitu pandai mengolah sedikit kata menjadi penuh makna. Betapa pilihan kata dan susunannya begitu berarti untuk membangun sebuah puisi.

5. Sapardi Djoko Damono

“Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
Aku ingin mencintaimu dengan sederhana:
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan
awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”

(Aku Ingin dalam Hujan Bulan Juni)

Tentu Sapardi tidak berpuisi sebagai ajakan untuk galau berjamaah. Karena penting diketahui jika bahasa yang digunakan dalam berpuisi untuk mengungkapkan makna yang ingin disampaikan seringkali berbeda dengan bahasa percakapan sehari-hari.


Lalu, sedalam apa kalian dapat berpuisi?

Selamat merayakan Bulan Bahasa. Selamat menikmati sastra!


Header image source: Liputan6.com