Between Shades of Gray: Kisah Deportasi Massal yang Jarang Dibahas dalam Perang Dunia II
Grameds, kamu mungkin familiar dengan film The Boy in the Striped Pajamas yang dibintangi oleh aktor Asa Butterfield. 🎬🧵
Banyak orang mengenal film tersebut sebagai salah satu karya yang paling membekas tentang dampak Perang Dunia II.
Lewat persahabatan dua anak kecil, film itu memperlihatkan bagaimana perang mampu merenggut masa kanak-kanak, keluarga, hingga kemanusiaan.
Namun, tahukah kamu bahwa pada periode yang hampir sama, ada tragedi lain yang tak kalah memilukan, tetapi jauh lebih jarang dibicarakan?
Bukan terjadi di kamp konsentrasi Nazi, melainkan di bawah rezim Uni Soviet pimpinan Joseph Stalin. Ribuan keluarga di kawasan Baltik dipisahkan dari rumah mereka, diangkut menggunakan gerbong ternak, lalu dibuang ke kamp kerja paksa di Siberia. Banyak di antara mereka tidak pernah kembali.

Peristiwa inilah yang menjadi titik berangkat Between Shades of Gray, novel karya Ruta Sepetys yang mengangkat salah satu bab sejarah paling kelam sekaligus paling terlupakan dalam Perang Dunia II.
Lalu, seperti apa kisah yang dihadirkan novel ini? Mari kita bahas lebih lanjut! 🚀
Sinopsis Between Shades of Gray
Kisah Between Shades of Gray membawa pembaca ke Lithuania pada tahun 1941 melalui sudut pandang Lina, gadis berusia lima belas tahun yang gemar menggambar dan menjalani kehidupan sederhana bersama keluarganya.
Kehidupan itu seketika berubah hanya dalam satu malam. Tepatnya, ketika aparat Soviet datang tanpa peringatan, menyeret Lina, ibu, dan adiknya keluar dari rumah, sementara sang ayah dipisahkan tanpa penjelasan.
Bersama ribuan warga lainnya, mereka dipaksa menempuh perjalanan panjang menuju kamp kerja paksa di Siberia.
Perjalanan itu bukan sekadar perpindahan tempat; mereka harus menghadapi hawa dingin yang membekukan, kelaparan, penyakit, kerja paksa, hingga ketidakpastian tentang nasib orang-orang yang mereka cintai.
Di tengah situasi yang nyaris merenggut harapan, Lina tetap menggambar. Setiap sketsa yang ia buat menjadi cara untuk menyimpan kesaksian atas apa yang mereka alami.
Gambar-gambar itu juga menjadi harapan kecil bahwa suatu hari nanti seseorang akan mengetahui kebenaran tentang penderitaan mereka. Â
Ketika Seni Menjadi Bentuk Perlawanan
Yang membuat kisah Lina terasa begitu kuat bukanlah karena ia mampu melawan para tentara Soviet. Sebaliknya, Lina hampir tidak memiliki kuasa apa pun.
Ia tidak membawa senjata, tidak memimpin pemberontakan, dan tidak mampu mengubah nasib keluarganya. Satu-satunya hal yang masih bisa ia lakukan adalah menggambar.
Di tangan Lina, pensil berubah menjadi alat untuk melawan lupa. Setiap gambar menjadi bukti bahwa mereka pernah hidup, pernah dipisahkan dari keluarga, dan pernah mengalami penderitaan yang tidak boleh dihapus begitu saja dari sejarah.
Lewat cara yang sederhana namun emosional, Ruta Sepetys memperlihatkan bahwa seni tidak selalu mampu menghentikan kekerasan. Akan tetapi, seni mampu menjaga ingatan tetap hidup ketika segala hal lain berusaha menghapusnya.
Baca Kisah Seru Lainnya di Sini!
Kisah Bertahan Hidup yang Menyentuh Banyak Pembaca
Alasan Between Shades of Gray begitu membekas bukan semata karena latar sejarahnya, melainkan karena Ruta Sepetys memilih menceritakan tragedi besar itu melalui kehidupan seorang remaja.
Alih-alih menghadirkan perang dalam skala politik dan militer, ia memperlihatkan bagaimana sebuah keluarga kehilangan rumah, bagaimana seorang ibu tetap berusaha melindungi anak-anaknya, dan bagaimana harapan terus bertahan meski keadaan terasa mustahil.
Pendekatan tersebut membuat pembaca tidak hanya memahami fakta sejarah, tetapi juga merasakan beban emosional yang dialami para korban deportasi. Ketakutan, kehilangan, dan ketidakpastian hadir secara perlahan, menjadikan kisah Lina terasa begitu dekat dan manusiawi.
Tragedi yang Benar-Benar Terjadi
Meski menghadirkan tokoh dan alur fiksi, Between Shades of Gray berangkat dari salah satu tragedi nyata yang terjadi pada masa Perang Dunia II. Bahkan, banyak pembaca baru mengetahui peristiwa ini setelah membaca novel karya Ruta Sepetys tersebut.
Semuanya bermula pada 23 Agustus 1939, ketika Jerman Nazi dan Uni Soviet menandatangani Pakta Molotov–Ribbentrop.
Di balik perjanjian non agresi tersebut, terdapat protokol rahasia yang membagi Eropa Timur ke dalam wilayah pengaruh kedua negara. Bagi negara-negara Baltik seperti Lithuania, Latvia, dan Estonia, kesepakatan itu menjadi awal dari hilangnya kemerdekaan mereka.
Pada Juni 1940, Uni Soviet menduduki Lithuania. Tak lama kemudian, pemerintah Soviet mulai melakukan nasionalisasi, penangkapan terhadap tokoh masyarakat, hingga pengawasan ketat terhadap siapa pun yang dianggap berpotensi melawan rezim. Guru, dokter, pegawai negeri, pengusaha, tentara, akademisi, bahkan keluarga mereka dapat dicap sebagai "musuh negara" tanpa proses pengadilan yang jelas.
Puncaknya terjadi pada malam 13–14 Juni 1941. Dalam satu operasi besar yang dijalankan oleh polisi rahasia Soviet atau NKVD, sekitar 34.000 warga Lithuania dipaksa meninggalkan rumah mereka.
Banyak keluarga dibangunkan tengah malam, diberi waktu hanya beberapa menit untuk mengemasi barang, lalu diangkut menggunakan gerbong kereta khusus menuju Siberia dan berbagai wilayah terpencil di Uni Soviet.

Di sepanjang perjalanan, laki-laki dewasa umumnya dipisahkan dari istri dan anak-anak. Sebagian besar dikirim ke kamp kerja paksa atau gulag, sementara perempuan, anak-anak, dan lansia ditempatkan di permukiman pengasingan dengan kondisi yang sama beratnya.
Mereka harus menghadapi musim dingin ekstrem, kekurangan makanan, wabah penyakit, serta kerja paksa yang menguras tenaga. Tidak sedikit yang meninggal sebelum sempat kembali ke tanah kelahirannya.
Deportasi ini bukan hanya terjadi di Lithuania. Operasi serupa juga dilakukan di Latvia dan Estonia, sehingga puluhan ribu warga Baltik mengalami nasib yang sama.
Selama bertahun-tahun, kisah mereka nyaris tenggelam di balik narasi besar Perang Dunia II yang lebih banyak berpusat pada Holocaust dan pertempuran antara Sekutu dan Blok Poros.
Baru setelah Lithuania memperoleh kembali kemerdekaannya pada 1990, berbagai arsip mulai dibuka dan kesaksian para penyintas semakin banyak dipublikasikan.
Kini, setiap 14 Juni diperingati sebagai Day of Mourning and Hope di Lithuania untuk mengenang para korban deportasi sekaligus menghormati mereka yang berhasil bertahan hidup.

Rekomendasi Buku Bertema Sejarah yang Sama Menggugahnya
Kalau kamu menyukai tema yang diangkat dalam Between Shades of Gray, masih ada beberapa novel dan karya nonfiksi lain yang sama-sama mengangkat sisi kemanusiaan di tengah perang, konflik, dan penindasan. Berikut rekomendasinya:
Salt to the Sea – Ruta Sepetys
Masih dari Ruta Sepetys, Salt to the Sea mengisahkan empat pengungsi yang dipertemukan di atas kapal Wilhelm Gustloff pada penghujung Perang Dunia II. Masing-masing membawa rahasia dan harapan untuk memulai hidup baru, sebelum sebuah tragedi besar mengubah segalanya.
Novel ini terinspirasi dari tenggelamnya Wilhelm Gustloff, bencana maritim dengan korban jiwa terbesar dalam sejarah. Lewat sudut pandang yang bergantian, Ruta kembali menghadirkan kisah yang emosional sekaligus membuka lembar sejarah yang jarang diketahui banyak orang.
The Poppy War – R. F. Kuang
Mengambil inspirasi dari sejarah Tiongkok modern, The Poppy War memadukan unsur sejarah, fantasi, dan peperangan dalam satu kisah yang intens. Tokoh utamanya, Rin, harus bertahan di tengah konflik yang perlahan mengubah dirinya.
Meski berlatar dunia fiksi, novel ini banyak mengambil inspirasi dari Perang Tiongkok-Jepang dan berbagai tragedi sejarah nyata. Cocok untuk pembaca yang menyukai kisah perang dengan balutan fantasi gelap.
As Long as the Lemon Trees Grow – Zoulfa Katouh
Novel ini membawa pembaca ke tengah perang saudara Suriah melalui kisah Salama, seorang mahasiswi farmasi yang harus memilih antara tetap bertahan di tanah kelahirannya atau pergi demi menyelamatkan keluarganya.
Dengan sentuhan realistis dan emosional, buku ini memperlihatkan bagaimana perang memengaruhi kehidupan sehari-hari, harapan, serta pilihan-pilihan yang harus diambil demi bertahan hidup.
Catatan Kaki dari Gaza – Joe Sacco
Berbeda dari novel, buku ini merupakan karya jurnalisme grafis yang mendokumentasikan penyelidikan Joe Sacco terhadap pembantaian warga sipil Palestina pada 1956.
Melalui kombinasi reportase dan ilustrasi, Sacco menghadirkan kisah-kisah yang sering luput dari perhatian dunia. Hasilnya adalah dokumentasi yang kuat sekaligus refleksi tentang bagaimana sejarah sering kali menyisakan suara-suara yang terlupakan.
Man's Search For Meaning – Viktor E. Frankl
Ditulis berdasarkan pengalaman pribadi Viktor Frankl sebagai penyintas kamp konsentrasi Nazi, buku ini menjadi salah satu karya paling berpengaruh tentang makna hidup di tengah penderitaan.
Melalui gagasan logoterapi, Frankl menunjukkan bahwa manusia mungkin tidak selalu dapat mengendalikan keadaan, tetapi tetap memiliki kebebasan untuk menentukan sikap dalam menghadapinya.
Na Konets,
Between Shades of Gray mengingatkan bahwa Perang Dunia II tidak hanya menyisakan kisah tentang Holocaust atau pertempuran di medan perang. 🕯🕊
Di baliknya, ada ribuan keluarga yang kehilangan rumah, identitas, bahkan masa depan akibat deportasi massal yang dilakukan rezim Stalin.
Lewat tokoh Lina, Ruta Sepetys menghadirkan sejarah dalam bentuk yang terasa dekat dan personal. Novel ini tidak hanya berbicara tentang penderitaan, tetapi juga tentang harapan, kasih sayang keluarga, dan keberanian mempertahankan kemanusiaan di tengah situasi yang paling gelap.
Kalau Grameds tertarik mengenal salah satu bab sejarah yang jarang dibahas sekaligus menikmati novel historical fiction yang emosional, Between Shades of Gray bisa kamu dapatkan melalui Special Offer yang sedang berlangsung di Gramedia.com. 🤩
Temukan Promo Spesialnya di Sini!
Oh iya, selama periode promonya berlangsung, tersedia juga bonus menarik yang bisa kamu dapatkan. Terkait informasi detailnya bisa kamu lihat di bawah ini ya. Â
✨Oh iya, jangan lupa cek promo spesial lainnya di Gramedia.com supaya belanjamu makin hemat dan bermakna! ⤵
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Bukunya di Sini!
Temukan Semua Promo Spesial di Sini!