Bernegosiasi dengan Anak Tanpa Menaikkan Volume Suara dan Ancaman

Bernegosiasi dengan Anak Tanpa Menaikkan Volume Suara dan Ancaman

. 3 min read
Haruskah kita, sebagai orangtua, bernegosiasi dengan anak?

Tahukah ayah bunda, bahwa taktik negosiasi bisa diterapkan dalam menghadapi anak-anak. Negosiasi antara orangtua dan anak merupakan pengalaman penting bagi mereka. Proses ini dapat menjadi cara orangtua mengajarkan anak untuk menghadapi masalah dengan baik. Dengan negosiasi, ayah bunda bisa menciptakan batas sekaligus memberi anak-anak ruang kebebasan.

Negosiasi berarti anak dan orangtua sama-sama memiliki hak untuk menyuarakan keinginan sekaligus kewajiban untuk mendengarkan. Bernegosiasi dengan anak juga tidak perlu melibatkan segala macam teriakan yang hanya akan menimbulkan perdebatan sengit. Tidak ada yang mau menjadi “musuh” di mata anak-anak, bukan? Berikut beberapa taktik negosiasi yang bisa ayah bunda terapkan di rumah.

Semuanya Membutuhkan Alasan dan Penjelasan

Anak membutuhkan penjelasan yang membuat dirinya paham dan dapat diterima oleh logika berpikirnya. Di rumah, ayah bunda pasti sering melihat anak menunjukkan perilaku yang membuat kesal, misalnya saja menginginkan barang tertentu dan tidak mau diganti dengan barang baru; memainkan benda-benda penting yang mungkin tidak butuhkan, sementara anak kekeuh tidak mau menyerahkannya; atau memegang, meraih, dan memainkan benda berbahaya.

Jika ayah bunda menghadapi situasi seperti ini, langkah pertama yang wajib dibiasakan adalah menghindari bersikap reaktif. Sebaliknya, sikap tenang adalah modal utama bagi Anda untuk berpikir lebih sehat dan cenderung melahirkan solusi.

seni
Sumber foto: sheknows.com

Setelah kemarahan anak mereda, kita baru menjelaskan dengan bijak. Misalnya, jika anak memainkan benda-benda penting yang akan kita perlukan, seperti laptop, buku, ponsel kunci motor atau mobil, sementara ia bersikeras tidak mau menyerahkannya, carilah benda pengganti yang memungkinkan untuk mengalihkan perhatiannya.

Tegaskan kepada anak bahwa benda yang kita sodorkan betul-betul menarik dan membuatnya penasaran. Intinya, lakukan sebuah usaha untuk merayunya. ayah bunda, ada banyak pilihan kata yang bisa digunakan untuk bernegosiasi dengan anak.

Menghadapi anak yang merengek

ayah bunda, kita sering kali menghadapi anak yang merengek. Merengek bisa timbul sebagai bentuk ekspresi menginginkan sesuatu yang sebetulnya sederhana, seperi ingin jajan, membeli mainan, mengganti barang lama dengan baru, ingin makanan yang dimakan orang lain, dan berbagai keingian sederhana lainnya.

seni
Sumber foto: jpnn.com

Namun, keinginan sederhana itu tidak lagi sederhana ketika mereka terus mengungkapkannya tanpa henti. Bagaimana kita, orangtua, dalam menyikapi perilaku anak seperti ini?

  1. Pastikan kondisi hati kita dalam keadaan tenang dan tidak gelisah agar tidak terpancing emosi.
  2. Cukup didengarkan dan tanggapi ala kadarnya. Jika anak terus berulang meminta sesuatu untuk dikabulkan, tanggapi saja dengan kata “iya”, “oke”, atau “baik” sehingga pada akhirnya anak akan bosan. Langkah seperti ini untuk menyakinkan kita bahwa anak yang merengek tidak selamanya bersifat mendesak, bisa jadi karena sebuah ekspresi saja.
  3. Bicara empat mata. Jika ia tidak berhenti merengek dan cenderung mendesak, bahkan sampai tantrum, kita bisa mengajaknya ke kamar, lalu sampaikan kepadanya bahwa apa yang telah dilakukannya itu tidak baik. Lakukan ini dengan merendahkan tubuh kita agar sepadan dengan tinggi tubuhnya, pegang telapak tangannya, tatap matanya lekat-lekat, datarkan ekspresi kita—alias tanpa ada senyum, tapi tidak marah.
  4. Janjikan sesuatu yang membuatnya termotivasi. Cukup katakan bahwa kita mengerti dan paham dengan tingkahnya yang merengek. Janjikan kepadanya untuk membelikan mainan baru, diajak jalan, dibuatkan makanan unik yang ada di resep, dan sebagainya. Namun, perlu ayah bunda ingat, tidak semua janji bisa dijadikan senjata bagi anak yang tengah merajuk. Jika mereka terpaku pada janji, dikhawatirkan mereka banyak berharap dan kita sendiri yang akan menjadi repot untuk memenuhi semuanya.

Keputusan akhir tetap berada di tangan ayah dan bunda karena itulah kita menjadi orangtua, untuk mendidik dan membimbing anak. Mau belajar lebih lanjut cara bernegosiasi dengan anak? Cek dan beli buku di bawah ini!

SeniBeli Sekarang!

Spesial untuk kamu yang baru saja membaca artikel ini, kamu dapat voucher diskon 20% untuk pembelian buku terbitan penerbit Gramedia (GPU, Elex Media Komputindo, BIP, Grasindo, KPG, dan M&C!) di Gramedia.com tanpa minimum transaksi. Silakan dimanfaatkan dengan klik gambar di bawah ini!

voucherKlik untuk Dapatkan Vouchernya!


Oleh: Marina Ariyani, Editor Bhuana Ilmu Populer

Sumber foto header: Dok. Bhuana Ilmu Populer